Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kerumah Baru Maira


__ADS_3

Nindi dan Putri terperangah takjub melihat rumah baru Maira yang benar benar mewah dan besar. Bahkan rumah orang tua mereka saja kalah jauh dengan rumah milik dokter Danar ini.


Bahkan berkali kali Nindi sampai menggeleng kan kepala nya karena benar benar tidak menyangka jika dokter Danar ternyata sekaya ini.


Selama ini dia terlihat sederhana dan seperti para dokter yang lain.


"Ya Allah... besar banget ini rumah. Gue berasa kayak mimpi deh Mai" gumam Nindi seraya menghempaskan tubuh nya disofa ruang tamu itu. Bersamaan dengan Maira dan Putri.


Maira bahkan langsung merebahkan tubuhnya. Dia benar benar merasa lelah.


"Gue juga" sahut Maira.


"Ternyata dokter Danar tajir melintir. Ini sih jauh lebih bagus dari rumah Ervan" ucap Nindi lagi.


Sementara Putri terlihat masih terdiam dan memandangi ruang tamu itu. Desain nya seperti desain rumah modern zaman sekarang, hanya saja dilengkapi seperti furniture klasik. Dan yang membuat rumah ini enak dipandang adalah, semua bernuansa putih dan terkesan estetik. Hingga rumah ini terlihat begitu bersih dan sangat segar.


Sesuai dengan karakter dokter Danar.


"Gue kayak dapat hadiah luar biasa tahu gak." ucap Maira


Membuat Putri dan Nindi langsung memandang kearah nya.


"Dapet suami baik, Soleh, taat, penyayang, kaya lagi. Masha Allah.... kadang gue malu banget sama Allah" ungkap Maira.


Nindi mendengus senyum mendengar itu.


"Lo harus banyak bersyukur sekarang Mai. Lo udah susah dari gadis, selalu dicaci sama Erika dan orang tua Ervan. Tapi Allah kasih Lo yang lebih baik sekarang. Dan dokter Danar berhasil angkat derajat Lo dan buat diri Lo jauh lebih baik" ujar Nindi.


Maira langsung mengangguk setuju.


"Bener Nin, gue memang bersyukur banget" jawab Maira.


"Tapi kalau gue ngelihat semua ini, gue jadi inget tentang masalah Lo sama Erika kemarin Mai" sahut Putri yang sejak tadi dia hanya diam.


"Kenapa" tanya Nindi


"Gue rasa ini ada hubungan nya sama orang yang udah buat Erika dirumahkan selama sebulan, dan malah kita yang gak dihukum sama sekali. Apa kalian gak berfikir kalau ini memang ada campur tangan dokter Danar?" tanya Nindi lagi.


Maira langsung tertegun mendengar itu.


"Gue bahkan lupa tentang itu" gumam Maira.


"Masih itu aja yang di ingat" sahut Nindi pula.


Putri menghela nafasnya sejenak.


"Kita salah waktu itu, tapi kita yang gak dihukum. Aneh kan. Gue gak bisa lupa sama hari itu. Coba aja kalian bayangin kalau kita yang dirumah kan sebulan. Bisa habis nilai kita yang cuma secuil itu" kata Putri dengan wajah ketus nya.


Nindi langsung terbahak melihat putri.


"Bener juga sih Put. Nanti gue tanyak deh sama mas Danar. Kayak nya ini memang ada hubungan nya sama dia." jawab Maira.

__ADS_1


"Kemungkinan besar dokter Danar memang temen nya bos besar yang punya kampus" sahut Nindi


Putri dan Maira langsung mengangguk setuju.


"Non Maira udah pulang ya. Maaf bibi tadi dibelakang, jadi gak denger" sapa bi Ijah yang datang dan mengejutkan mereka.


Maira tersenyum dan mengangguk.


"Gak apa apa bi" jawab Maira.


"Ini temen temen non mau minum apa, biar bibi siapin, sekalian kalau mau makan juga udah ada" kata bi Ijah lagi.


"Gak usah repot-repot bi, kita udah makan tadi" jawab Nindi


"Iya Bu, nanti juga mereka ambil sendiri" sahut Maira.


Namun bi Ijah langsung terbahak mendengar itu.


"Jangan dong, nanti kalau mau apa apa panggil bibi aja ya non. Bibi dibelakang" ujar bibi


"Siap bi" sahut Nindi.


Bu Ijah pun langsung kembali kebelakang.


"Enak banget ya udah punya pembantu" goda Nindi


Maira tertawa dan mengangguk.


"Selagi masih ada dokter Danar, Lo gak akan bisa macem macem Mai" sahut Putri.


Nindi dan Maira langsung tertawa dan mengangguk mendengar itu.


"Eh, udah dhuhur nih. Gue numpang shalat ya Mai" ucap Nindi.


"Oh iya, ya Allah, gue lupa. Yaudah yuk kita ke atas aja. Di atas ada tempat shalat" ajak Maira.


Putri dan Nindi langsung mengangguk. Dan beranjak mengikuti Maira kelantai atas dimana ada ruang shalat disana, tepat disamping kamar nya.


Dan hari itu, Putri dan Nindi berada dirumah Maira sampai sore hari. Banyak hal yang mereka cerita, bahkan terkadang mereka sama sama belajar tentang agama dan cara memperbaiki diri lagi bersama sama.


Hingga saat dokter Danar pulang, barulah mereka juga pamit pulang.


Namun saat akan pulang, ternyata Dika datang kerumah dokter Danar untuk mengantar berkas berkas showroom yang memang harus mendapatkan persetujuan dokter Danar.


"Kalian disini" sapa Dika saat melihat Putri dan Nindi yang sudah ingin pulang.


"Kenapa memang nya?" tanya Putri


"Dimana ada Putri, disitu ada kak Dika ya" goda Maira.


Dika tertawa, namun tidak dengan Putri. Dia hanya mendengus saja mendengar nya.

__ADS_1


"Kebetulan Put, malam ini malam terakhir kamu periksa tangan kamu kan. Sekalian aja ya sama aku" ajak Dika.


"Kamu modus?" tanya dokter Danar.


Maira dan Nindi langsung tertawa melihat wajah canggung Dika.


"Enggak kok mas. Beneran ini hari terkahir Putri kontrol. Tugas terkahir saya juga, bukan modus. Ya kan Put" kini Dika beralih pada Putri.


"Aku bareng Nindi" sahut Putri


Maira kembali mendengus tawa melihat wajah kecewa Dika.


"Bareng kak Dika aja lah Put. Biar gak capek lagi gue nganter loe" ujar Nindi pula.


"Nah bener itu" kata Dika dengan cepat. Sepertinya dia terlalu bersemangat. Namun saat melihat tatapan mata dokter Danar, Dika kembali meringis takut.


"Kok gitu sih, kan Deket doang, biasa nya juga Lo gak pernah protes" gerutu Putri.


"Biasanya kan gak ada yang nganter lo. Kalau sekarang kan udah ada." jawab Nindi dengan senyum penuh arti nya.


"Yauda deh, gue duluan ya. Mai gue pamit. Dokter, saya pulang dulu. Jangan kapok kalau saya kemari lagi" pamit Nindi pada Maira dan dokter Danar.


"Ok, hati hati Nin, udah malem ini" ucap Maira.


"Hati hati, jangan ngebut" kata dokter Danar pula


"Siap, bye semua" seru Nindi seraya melambaikan tangan nya dan pergi menuju mobilnya. Meninggalkan Putri yang nampak mendengus kesal melihat sahabatnya yang satu itu.


Hingga akhirnya, mau tidak mau, dia pun pulang bersama Dika. Yang sepertinya memang modus saja. Karena terlihat dari wajah nya dia yang begitu bahagia.


"Jangan macam macam Dik, antar sampai depan rumah" ujar dokter Danar


"Siap mas. Aman" jawab Dika dengan senyum simpul nya.


Putri menghela nafas pelan dan menggeleng.


"Pamit dulu dokter" ucap Putri


"Ya, jika dia macam macam, segera hubungi saya" ujar dokter Danar.


"Dia sih memang macam macam terus kerjaan nya" jawab Putri.


"Kamu fitnah itu, satu macam doang, itu juga belum ada jawaban" sahut Dika


Maira kembali terbahak melihat Putri dan Dika.


"Gas terus kak sampai dapat" goda Maira


"Apa nya yang di gas?" tanya dokter Danar


"Mobil nya" sahut Maira

__ADS_1


Dan kali ini Dika yang terbahak seraya berjalan menuju mobilnya diikuti oleh Putri.


__ADS_2