
Maira berjalan dengan tergesa gesa menuju kelas nya. Tangan nya sejak tadi masih terus memeluk botol jus nya. Sungguh, Maira sudah seperti anak anak yang tidak pernah melepaskan botol minum itu sekarang.
Dan memang benar, jus kiwi itu adalah tenaga untuk Maira. Karena ketika dia merasa mual, Maira langsung meminum jus itu hingga dengan cepat pula rasa mual nya berkurang.
Saat ini, Maira benar benar panik, karena dia melupakan salad buah bekal dari dokter Danar. Entah kenapa Maira bisa lupa. Padahal pagi tadi dia sudah berniat untuk memakan nya.
Maira berjalan tergesa menyusuri setiap koridor menuju kelas nya. Untung saja kelas nya bukan dilantai dua, jadi dia tidak akan turun tangga.
"Sabar ya Dedek utun, bentar lagi kita bakalan makan bekal dari ayah ganteng" gumam Maira seraya mengusap perut nya dengan lembut.
"Ngapain Lo senyum senyum begitu, udah gila" sahut seseorang yang tiba tiba sudah berdiri didepan Maira.
Maira terkesiap, langkah nya langsung terhenti dan memandang Erika yang ternyata baru datang dari lobi.
Dia menghela nafasnya dengan jengah, semoga saja Erika tidak mencari gara gara.
Maira berusaha untuk mengabaikan nya, dan ingin kembali berjalan. Namun tangan nya langsung dicekal oleh Erika.
"Kayak nya udah lama gak ketemu, Lo udah berubah banget deh. Lo frustasi banget ya karena gue sama Ervan udah tunangan " ucap Erika begitu sinis.
"Percaya diri banget sih Lo" dengus Maira, dia kembali ingin melangkah. Tapi lagi lagi Erika menarik pakaian nya.
"Bentar dulu dong, gue belum siap ngomong juga" ucap Erika dengan wajah angkuh nya itu.
"Apaan sih Rik, gak kapok apa Lo dirumah sebulan. Baru masuk udah cari gara gara aja" gerutu Maira.
Namun Erika malah tertawa sinis mendengar itu.
"Emang gue takut? gak tuh. Gue itu cuma heran aja lihat Lo. Udah berubah jadi alim begini setelah putus dari Ervan. Kayak nya Lo kesambet setan galau ya. Miris banget gue lihat nya" remeh Erika.
Maira menghela nafas kembali.
"Gak ada hubungan nya sama Ervan atau sama hubungan kalian " sahut Maira.
"Masak sih? Bahkan gue lihat Lo udah jarang masuk. Sekali nya masuk penampilan berubah, bahkan bukan cuma Lo aja, temen Lo juga. Kalian mau memperbaiki nama yang udah jelek. Percuma.." ucap Erika.
"Kalian itu udah dicap sebagai cewe cewe nakal. Gak usah sok munafik mau berubah jadi baik. Gak bakal ada yang percaya" kata Erika lagi.
"Kita berubah bukan untuk cari kata orang atau memperbaiki nama baik. Kita berubah untuk jadi lebih baik. Gak usah ngejudge orang sembarang deh. Udah ah, mual gue lihat Lo lama lama" balas Maira yang langsung pergi meninggalkan Erika.
"Heh... jangan bilang Lo berubah karena mau ngedapetin hati Ervan sama orang tua nya lagi" seru Erika.
Langkah Maira langsung terhenti mendengar itu. Dia membalikkan tubuh dan memandang Erika dengan senyum manis nya.
"Kenapa Lo takut" tanya Maira.
Erika langsung berubah raut wajah nya.
"Tenang aja, apa yang udah gue lepas, gak akan gue ambil lagi." ucap Maira. Dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Erika.
Erika memandang Maira dengan penuh arti, namun dia mengernyit saat melihat Maira yang lagi lagi mengusap perut nya. Dan botol itu, botol apa???
__ADS_1
Kenapa Maira seperti.....
..
Maira langsung mendudukkan tubuh nya dikursi nya. Mood nya jadi buruk lagi karena Erika.
Ya Allah, kenapa susah sekali untuk menahan emosi. Padahal sudah sangat bagus sebulan Erika tidak masuk, dan sekarang lihatlah, baru hari pertama bertemu sudah membuat perut nya mual, dan kepala nya bertambah pusing.
Maira bahkan tidak berhenti berhenti meminum jus kiwi nya sekarang. Tangan nya masih terus mengusap perut nya yang mual.
Dirumah dia bosan, tapi jika kuliah, dia pasti akan menahan emosi setiap hari. Apa itu baik untuk janin nya?
Ya, semoga saja.
"Maira" panggil Nindi. Dia baru datang bersama Putri menyusul Maira.
"Kenapa wajah Lo kusut begitu?" tanya Putri pula.
Maira cemberut, dia memakan salad buah bekal nya dengan penuh nafsu.
"Baca doa dulu kali Mai" ujar Nindi.
Maira terdiam, dia langsung menengadahkan tangan nya sejenak dan berdoa, lalu kembali memakan salad nya setelah mengusap wajah.
"Tadi gue lihat ada Erika diujung gedung, Lo ketemu dia?" tanya Putri yang kini duduk di depan Maira
Sedangkan Nindi berdiri disamping Maira seraya mencomot salad buah itu.
"Kenapa gak Lo muntahin aja sekalian di muka nya" ujar Putri.
"Husss.... gak boleh gitu" sahut Nindi seraya menampar tangan Putri yang ada diatas meja.
Maira langsung terkekeh mendengar itu.
"Kan gue udah tobat Put" ucap Maira dengan mulut nya penuh.
"Enak juga ini salad" ucap Nindi yang menarik kursi dan duduk disebelah Maira.
"Untung dibawain banyak sama ayah ganteng Dedek utun" ucap Maira.
Putri langsung meringis mendengar pernyataan itu.
"Geli banget gue" gumam Putri.
Nindi tertawa dan menyodorkan satu tusuk buah kemulut Putri.
"Enak kan" tanya Nindi.
"Enak lah, rasa buah" jawab Putri.
"Iya lah, emang Lo kira bisa berubah jadi rasa rendang" sungut Nindi.
__ADS_1
Putri hanya mengendikan bahu nya dengan acuh.
"Eh Mai.. Nanti boleh gak main kerumah baru Lo. Penasaran gue" ucap Nindi.
"Iya, mertua Lo udah pulang kan" sahut Putri pula. Dia jadi ikut ikutan menyomot salad buah Maira sekarang.
Maira mengangguk
"Udah kok, kalau kalian mau siang ini kerumah aja. Biar gue gak usah dijemput lagi. Kasihan mas Danar lagi kerja" kata Maira.
"Oke deh" jawab Nindi dengan cepat.
"Emang dimana alamat nya, jauh gak dari rumah lama?" tanya Putri.
"Lumayan jauh, di jl. Cendana" jawab Maira
Uhuk uhuk
Putri dan Nindi langsung tersedak mendengar itu.
"Kenapa sih?" tanya Maira.
"Jl. Cendana kan komplek perumahan mewah Mai" ucap Nindi.
"Bener disitu?" tanya Putri pula.
Maira langsung mendengus mendengar pertanyaan kedua sahabat nya.
"Iya lah, ngapain juga gue bohong. Gak percaya kan kalian. Gue bahkan sampai pingsan waktu pertama kali dibawa kesana" ungkap Maira
Nindi langsung terbahak mendengar perkataan Maira.
"Lebay deh Lo" ucap Nindi
"Gak percaya banget, siapa yang nyangka coba punya suami orang kaya. Dari rumah sepetak, malah di ajak pindah kerumah mewah." ungkap Maira.
"Sekelas rumah Ervan, mungkin lebih" bisik Maira
"Serius Lo Mai?" tanya Nindi
Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Berarti dokter Danar bukan cuma dokter doang pastinya" kata Putri seraya memandang Maira dengan lekat.
Maira mengangguk, meminum jus kiwi nya sejenak
"Ternyata dia yang punya showroom mobil tempat kak Dika kerja" jawab Maira
"Wow.. keren banget" gumam Nindi
Namun Putri masih terdiam. Dia rasa usaha dokter Danar bukan hanya itu saja. Pasti ada yang lain, yang pastinya lebih hebat.
__ADS_1
Dan ini pasti berkaitan dengan masalah Maira dan Erika waktu itu.