
Maira terdiam dengan kepala yang tertunduk, sementara dokter Danar masih fokus mengemudikan mobilnya. Wajah dokter Danar begitu datar dan dingin. Maira benar benar takut untuk melihat nya. Baru kali ini dia melihat dokter Danar berwajah seperti ini. Apa dokter Danar benar benar marah karena melihat Maira berpelukan dengan Ervan tadi?
Mungkin saja.
Bahkan tadi dokter Danar langsung menarik Maira masuk kedalam mobil, sedangkan Ervan ditarik oleh Putri untuk tidak lagi mendekati Maira dan dokter Danar. Untung saja karena gedung kampus yang mulai ramai karena mahasiswa nya mulai pulang, jadi dokter Danar tidak berkata apa apa lagi.
Bahkan sampai saat ini.
"Dokter" panggil Maira begitu pelan. Namun seperti waktu itu, jika sedang tidak enak hati dokter Danar hanya diam tanpa ingin menjawab. Maira jadi bingung sekarang.
"Padahal baru semalam saya bilang pada kamu untuk menjaga jarak dengan lelaki lain" ucap dokter Danar tiba tiba. Maira sampai terkesiap mendengar itu. Dia mau menjawab???
"Apa kamu memang tidak ingin melanjutkan pernikahan kita Maira?" tanya dokter Danar begitu serius.
Maira langsung memandang dokter Danar dengan lekat.
"Dokter, saya dan Ervan ...." perkataan Maira langsung terhenti saat ternyata mereka sudah berhenti didepan pagar rumah.
"Masuklah kedalam. Kamu belum shalat dhuhur kan. Fikirkan dimana salah kamu, dan saya akan memikirkan dimana salah saya sebagai suami" ucap dokter Danar.
Matanya masih fokus memandang kedepan tanpa ingin memandang pada Maira.
"Dokter... saya..." perkataan Maira kembali terhenti. Karena dia bingung mau mulai berbicara dari mana. Ada rasa ragu dihatinya untuk mengungkapkan semua, apalagi jika mengingat sikapnya yang ketus pada dokter Danar selama ini.
Maira ingin berkata jika dia menerima dokter Danar dan telah meninggalkan Ervan, tapi bagaimana caranya, dia masih benar benar ragu.
"Turun" ujar dokter Danar yang ternyata telah membukakan pintu mobil Maira.
Maira sampai terkejut karena dia tidak menyadari dokter Danar yang ternyata telah keluar.
Maira keluar dari mobil dan memandang dokter Danar yang sepertinya memang begitu kesal melihat nya dipeluk Ervan tadi.
__ADS_1
"Dokter mau kemana?" tanya Maira begitu pelan.
"Saya mau kerumah sakit. Pergilah masuk" ujar dokter Danar
"Tapi dokter belum mendengarkan penjelasan saya" ucap Maira.
Dokter Danar memandang Maira dengan lekat. Bahkan begitu dalam hingga membuat Maira tidak berani menatap mata nya yang entah kenapa menjadi tajam seperti ingin menembus jantung Maira. Bahkan sedikit senyum pun tidak lagi Maira lihat diwajah tampan nya.
"Saya akan mendengarkan semua nya jika kamu sudah yakin Maira. Bahkan saat ini kamu masih ragu dengan pilihan kamu hingga kamu masih membiarkan tubuhmu dipeluk oleh lelaki lain" ungkap dokter Danar.
Maira memandang dokter Danar dengan sendu.
"Bukan seperti yang dokter lihat" kata Maira.
Dokter Danar menggeleng pelan dan mengusap kepala Maira sekilas.
"Pergilah masuk" ujar dokter Danar. Dia bahkan langsung masuk kedalam mobilnya tanpa ingin melihat Maira lagi.
Maira memandang kepergian dokter Danar dengan sendu, bahkan matanya sudah berkaca kaca sekarang.
Maira sudah memutuskan untuk melepaskan Ervan, tapi kenapa dokter Danar malah seperti ini? Apa dia tidak tahu jika hati Maira sedang begitu sedih.
Maira mengusap air matanya dan langsung beranjak untuk masuk kedalam rumah. Bahkan rasanya untuk membuka pintu pagar itu saja dia sudah tidak bertenaga. Hari ini benar benar menguras energi nya. Ya Allah, kenapa disaat dia mulai pasrah, semua nya jadi rumit seperti ini.
...
Malam hari nya....
Maira baru saja selesai shalat isya, dia melirik jam yang ada diatas meja, sudah pukul setengah sembilan malam. Tapi kenapa dokter Danar belum pulang juga.
Hati Maira kembali tidak tenang sekarang. Maira meraih ponsel nya yang dia silent sejak siang tadi. Sudah ada berpuluh puluh panggilan tidak terjawab dari Ervan. Tapi entah kenapa, kehilangan Ervan tidak lagi dia ingat, tapi kemarahan dokter Danar membuat hatinya cemas dan tidak tenang. Ada apa sebenarnya dengan hatinya ini??? Apa karena dokter Danar suami nya???
__ADS_1
Maira menghela nafasnya sejenak dan memandangi ponselnya lagi, dia duduk lemas dilantai dan bersandar pada tempat tidurnya. Ingin menghubungi dokter Danar, tapi dia takut. Bukan takut karena apa, tapi takut jika dokter Danar masih marah padanya. Selama ini dokter Danar tidak pernah marah. Dia selalu menunjukkan wajah teduh nya pada Maira. Jikapun kesal dokter Danar pasti hanya diam dan shalat, tapi sekarang, dia bahkan pergi dan belum pulang. Apa dia begitu kecewa? atau bahkan memang marah?
Maira memejamkan matanya seraya memeluk ponselnya, mungkin dia harus menunggu sebentar lagi. Siapa tahu dokter Danar sedang ada pekerjaan dan dia harus lembur. Meski selama ini dokter Danar selalu bilang apapun hal yang dia lakukan. Bahkan jika terlambat pulang setengah jam saja dia langsung menghubungi Maira. Tapi kali ini, tidak ada lagi.....
Dan tanpa sadar, Maira akhirnya ketiduran karena sungguh hari ini benar benar membuat lelah hati dan fikiran nya.
...
Keesokan paginya...
Maira terbangun dan membuka matanya perlahan. Dia bahkan terkesiap saat ternyata dia tidur dilantai satu malaman. Astaga.
"Ya ampun... gue ketiduran" gumam Maira. Dia melihat jam dimeja dan ternyata sudah jam lima pagi. Buru buru Maira membuka mukenah yang dia kenakan, dan berlari kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Setelah menyelesaikan shalat subuhnya Maira kembali memandang ponsel nya. Dan lagi sama sekali tidak ada panggilan dari dokter Danar.
"Apa dia bener bener marah. Kan gue juga gak tahu Ervan bakalan meluk. Kenapa gak pulang coba" gumam Maira seraya berdecak kesal.
Maira benar benar kesal dengan hatinya. Kenapa bisa secemas ini. Dia takut dokter Danar pergi, padahal selama ini dia ingin dokter itu pergi dari kehidupan nya. Tapi sekarang, dia sudah tidak pulang satu malam saja sudah membuat Maira uring uringan.
Maira duduk didapur seraya meminum teh hijau nya. Tidak senikmat biasanya. Setiap pagi pasti dokter Danar selalu menyiapkan sarapan untuk nya, tapi sekarang tidak ada. Dan sungguh rasanya benar benar ada yang kurang.
Jika biasa Maira bersikap ketus dan dingin, tapi sekarang kenapa dia rindu???
Bahkan baru satu malam.
"Ck... kenapa jadi begini???" gumam Maira begitu frustasi.
Kenapa disaat dia mulai ingin memilih namun semua malah menjadi kacau??
Bukan hanya Ervan yang pergi, tapi kenapa dokter Danar juga ???
__ADS_1
Maira menangis didapur sendirian. Tidak, dia tidak ingin kehilangan dokter Danar. Maira sudah tahu jawaban dari kegundahan hatinya selama ini. Maira ingin dokter Danar tetap bertahan. Maira ingin dokter Danar ada bersama nya. Maira cuma punya dia, Maira masih ingin bersama dokter Danar yang menyayanginya.
Sungguh Maira sangat menyesal...