Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kesedihan Nindi


__ADS_3

Hari sudah malam saat Nindi pulang kerumah nya. Dia mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang. Disepanjang jalan mulut nya terus melantunkan hafalan hafalan surah pendek yang dia ingat untuk memperlancar lagi bacaan nya.


Berubah menjadi lebih baik, ternyata tidak semudah itu. Bukan hanya niat nya yang susah, namun juga ujian nya.


Ya Nindi merasakan semua nya. Keluarga nya sangat mendukung keputusan Nindi untuk berhijab, bahkan kedua orang tua nya sangat bahagia karena Nindi yang memang nakal dulu nya kini sudah berubah menjadi lebih baik, bahkan sangat baik.


Tapi begitu berbeda dengan teman teman kuliah nya, Nindi merasa jika sekarang dia seperti di kucilkan, menjadi bahan gunjingan anak anak satu kampus.


Apalagi mereka selalu berkata jika Nindi berubah karena untuk mencari perhatian Brian. Lelaki idaman yang sangat Nindi idolakan.


Tidak munafik, Nindi akui jika awal nya dia mengenal Tuhan saat sudah dekat dengan Brian. Lelaki Soleh itu begitu mirip dengan dokter Danar. Meski Brian dingin dan datar, tapi Nindi sungguh mengidolakan nya.


Tapi bukan berarti Nindi memutuskan berhijab karena untuk menarik perhatian nya. Tidak, itu sungguh tidak benar.


Karena sungguh dari hati yang paling dalam, Nindi memang berniat tulus untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Bukan untuk siapapun dan demi siapapun, tapi hati nya sendiri lah yang sudah menyadari kesalahan nya yang sudah begitu banyak selama ini.


Sedih???


Tentu saja dia sedih, dikucilkan dan dijadikan bahan ejekan setiap hari nya. Jika tidak ada Putri dan Maira, mungkin Nindi sudah tidak sanggup mendengar nya. Apalagi dengan Brian yang sepertinya termakan dengan omongan mereka, hingga sekarang dia menjauh dan terlihat begitu membenci Nindi.


Rasanya benar benar tertohok dan terpojok, tapi dia memang harus kuat kan. Apalagi ustadzah yang menjadi gurunya berkata jika ujian setiap orang yang ingin merubah dirinya menjadi lebih baik itu pasti begitu berat, Maira juga berbicara seperti itu pagi tadi. Dan sekarang hal itu lah yang harus dijalani Nindi.


Allah sedang menguji batas keimanan nya. Apakah dia bersungguh-sungguh dalam niat nya? Atau memang karena hanya ingin mengejar perhatian manusia saja.


Ya, Nindi harus kuat dan harus bisa. Dosa nya sudah begitu banyak, dan sekarang waktunya dia memperbaiki diri.


Masalah cinta, Nindi sudah pasrah.


Dia percaya jika jodoh sudah Allah yang mengaturnya.


Nindi menghela nafasnya yang terasa berat, getir dan pedih. Tapi keyakinan hati nya untuk berubah menjadi lebih baik sudah benar benar kuat. Semoga Allah bisa selalu menjaga hati dan iman nya agar tidak goyah.


Aamiin..


Nindi memperhatikan jalanan yang sudah mulai lengang. Hari sudah malam, dia kembali dari rumah Maira saat selesai shalat isya berjamaah dan makan malam bersama Maira dan dokter Danar tadi. Dan sekarang, dia sepertinya kemalaman.


Huh, seharusnya dia tidak menolak permintaan Putri yang ingin pulang bersama nya tadi. Sekarang Nindi jadi takut karena pulang sendirian dimalam hari seperti ini.


Tapi, Nindi juga ingin memberi kesempatan pada Putri untuk bisa dekat dengan Dika, karena sepertinya lelaki itu serius ingin dekat dengan Putri, apalagi dia berniat untuk melamar Putri dalam waktu dekat ini.


Ya, Nindi benar benar bahagia jika kedua sahabatnya itu bisa bahagia.


Namun tiba tiba fikiran Nindi langsung tidak fokus lagi, saat mobil nya seperti nya bermasalah.

__ADS_1


"Kenapa nih" gumam Nindi seraya memperhatikan kemudi nya. Hingga akhirnya mobil itu berhenti dengan sendiri nya.


Nindi mulai panik, apalagi saat dia mencoba menghidupkan kembali namun tetap saja tidak bisa hidup.


"Ya Allah, kenapa dong ini" gumam Nindi yang panik.


"Duh, mana berhenti dijalan sepi kayak gini lagi"


Nindi memperhatikan daerah sekeliling nya, dan memang benar dia berhenti dikawasan yang kosong dan tidak ada rumah. Meski kendaraan yang lain masih banyak yang lewat.


Nindi menghela nafas kesal, dia langsung turun dari mobil nya dan membuka kap depan mobil.


"Apa lagi yang salah, kan baru bulan lalu diservis" gerutu nya seraya memperhatikan kumpulan partikel partikel mesin mobil itu. Namun sama sekali tidak mengerti. Nindi menutup kembali kap mobil nya dan bersandar dibadan mobil seraya membenarkan hijab nya.


"Ujian lagi" gumam nya dengan helaan nafas yang cukup berat.


Nindi mengeluarkan ponsel dari saku jaket nya, dan matanya langsung melebar saat ponsel nya malah mati.


"Ya Allah... kok mati sih. Gimana dong ini"


Nindi benar benar panik sekarang, bagaimana cara nya dia pulang jika ponsel nya mati.


Apa dia akan tidur dijalan malam ini?


"Ya Allah" gumam nya lagi yang sudah lemas dan tersandar dibadan mobil seraya mata nya yang mengedar memandangi mobil yang banyak lewat.


Nindi memandang keatas langit, dimana hari sudah mulai mendung dan kilat juga sudah mulai kelihatan.


"Mana mau hujan lagi. Ya Allah tolong Nindi. Nindi harus minta tolong sama siapa coba" gumam nya yang sudah takut.


Bagaimana jika ada penjahat atau preman jalanan?


Nindi bergidik dan langsung membalikkan tubuh nya, seraya dia yang memandang orang orang yang lewat. Namun tidak ada satupun yang mau berhenti untuk menolong.


Hingga tiba tiba sebuah motor terlihat memelankan laju nya. Membuat Nindi takut, karena pengendara motor itu memakai helm dan jaket yang menutupi wajahnya.


Nindi dengan cepat langsung masuk kedalam mobil, namun pengendara motor itu berhenti tepat didekat pintu mobil Nindi.


Mata Nindi terbelalak saat pemuda itu membuka helm nya.


"Kak Brian" gumam Nindi yang tidak jadi masuk kedalam mobil.


Dia bisa bernafas dengan lega sekarang setelah tadinya begitu takut karena tidak ada orang yang mau menolong nya dijalanan yang sepi ini.

__ADS_1


"Kenapa mobil kamu" tanya Brian dengan wajah datar nya.


"Mogok kak, gak tahu kenapa" jawab Nindi.


Bria hanya diam dan langsung memarkirkan motor nya didepan mobil Nindi. Dia turun dari motor dan langsung memeriksa mobil Nindi. Nindi hanya diam dan memperhatikan nya saja.


Wajah Brian datar dan terlihat dingin, Nindi takut untuk memulai berbicara seperti biasa. Bahkan untuk menggodanya lagi, Nindi sudah tidak berani. Padahal dulu dia dan Brian sudah mulai dekat, bahkan Brian sudah mau tersenyum dan menanggapi godaan nya. Tapi sekarang, dia benar benar berubah, bahkan terlihat membenci.


"Enggak bisa, ini mesin dalam nya yang rusak. Kamu bisa panggil bengkel kemari" ujar Brian


"Tapi ponsel aku mati " jawab Nindi.


Brian menghela nafasnya dengan jengah seraya mengusap tangan nya sekilas.


"Maka nya, jangan suka keluyuran kalau malam. Lihat sendiri akibat nya kan" ucap Brian begitu ketus. Tangan nya langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku nya dan mengubungi orang bengkel dan menyebutkan alamat dimana mereka berada sekarang.


Nindi hanya diam dan tidak ingin menanggapi perkataan yang terdengar menggores hatinya itu.


"Setengah jam lagi mereka datang. Kamu tunggu saja disini" ujar Brian yang kembali menyimpan ponsel nya.


Nindi terdiam sejenak, dan sedetik kemudian dia langsung mengangguk pelan.


"Iya kak, terimakasih" ucap nya kemudian.


Brian hanya diam dan kembali ke motor nya, namun sebelum naik ke atas motor dia kembali menoleh kearah Nindi yang masih mematung didepan mobil.


"Ubah kebiasaan buruk kamu itu, jika belum bisa berubah, setidak nya kamu hormati kerudung yang kamu pakai" ucap Brian.Dan setalah mengatakan itu, dia langsung naik keatas motor nya dan mulai melajukan motor nya meninggalkan Nindi yang nampak mematung ditempat.


Nindi tersenyum pedih dengan mata yang berair memandang kepergian Brian.


Bahkan tidak lama setelah itu air mata langsung terjatuh membasahi wajah nya, seiring dengan tetes air hujan yang juga turun dari langit.


Nindi mengusap air matanya dan kembali masuk kedalam mobil.


Duduk dan mulai terisak dengan begitu pedih dimalam itu sendirian. Bahkan semakin lama tangisan nya semakin menjadi, seakan berlomba dengan hujan yang juga mulai turun dengan begitu deras.


Kenapa Brian bisa berbicara seperti itu?


Dia bahkan tidak tahu kenapa Nindi bisa keluar dimalam hari seperti ini. Tapi kenapa dia sudah berfikiran yang buruk seperti itu???


Ya Allah...


Nindi cuma ingin berubah menjadi lebih baik. Dia tahu dosanya begitu banyak, tapi tidak bisakah mereka percaya jika niat Nindi tulus, dan bukan hanya main main.Tidak kah mereka tahu jika sampai ditahap ini begitu sulit?

__ADS_1


__ADS_2