
Maira memandangi dokter Danar seraya dia yang menerima setiap suapan dari suaminya itu. Hari sudah larut malam, dan ini adalah malam pertama untuk mereka menjalani hubungan yang lebih baik.
Wajah tampan yang begitu teduh ini jika dipandangi kenapa semakin memikat. Aura yang dimiliki oleh dokter Danar benar benar begitu sejuk dan damai. Hingga Maira tidak bisa berpaling dan ingin terus memandangi nya.
"Kenapa memandang seperti itu?" tanya dokter Danar tiba tiba.
Maira terkesiap dan langsung tersenyum malu.
"Kenapa makin dilihat makin ganteng?" tanya Maira
Dokter Danar langsung tertawa kecil seraya menyerahkan air minum pada Maira.
"Kamu mau merayu ya?" ledek dokter Danar
Maira langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Orang ngomong jujur juga" protes Maira.
Dokter Danar mengusap kepala Maira dengan lembut. Memandang wajah cantik yang masih sedikit pucat, namun sudah jauh lebih baik. Malam ini mereka akan menginap dirumah sakit ini, karena Maira yang masih lemah.
"Kenapa datang gak bilang bilang siang tadi??" tanya dokter Danar seraya menyerahkan obat untuk Maira.
"Gimana mau bilang, ponsel dokter gak aktif" jawab Maira dengan kesal.
"Dokter lagi" dokter Danar memandang Maira dengan jengah.
Maira yang tadinya kesal langsung tertawa canggung.
"Iya... mas... maaf. Kebiasaan" jawab Maira seraya menelan obat nya dengan cepat dan meneguk air minum nya.
"Orang orang rumah sakit gak tahu ya kalau mas udah nikah?" tanya Maira. Dia masih begitu canggung memanggil dokter Danar dengan sebutan 'mas'.
"Enggak, kan kamu gak mau orang tahu kemarin" jawab dokter Danar
Maira mengerucutkan bibir nya sekilas.
"Pantes aja kami diusir sama mbak receptionis nya tadi. Mana gak percaya lagi kalau Mai istri mas. Nyebelin emang" gerutu Maira begitu kesal.
Dokter Danar langsung tertawa kecil dan mencubit gemas hidung Maira.
"Sekarang semua staff rumah sakit pasti udah tahu" ucap dokter Danar
"Pasti mereka bakal ngehujat Mai kan" kata Maira dengan kepala yang tertunduk sedih.
"Menghujat kenapa?" tanya dokter Danar seraya meraih tangan Maira dan menggenggam nya dengan lembut.
Ah... sentuhan pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya. Membuat jantung Maira dan dokter Danar langsung berdebar tidak menentu. Aneh memang, seperti orang yang baru merasakan jatuh cinta saja.
"Mereka pasti gak nyangka kalau mas punya istri kayak Maira. Gak ada manis manis nya, gak ada anggun nya, gak Solehah pula. Malah kayak preman" ungkap Maira dengan mata yang berkaca kaca.
Dokter Danar tersenyum seraya mengeratkan genggaman tangan nya.
"Kamu terlalu su'udzon sayang" ucap dokter Danar.
__ADS_1
Dan lagi, panggilan sayang ini benar benar membuat Maira meleleh. Jantung sialan ini benar benar semakin berdebar tidak menentu, semoga saja dokter Danar tidak mendengar nya.
"Kenapa harus memperdulikan perkataan dan pemikiran orang lain. Yang menjalani kan kita. Kamu istri mas, dan kamu pilihan mas. Mas yang tahu bagaimana kamu" ungkap dokter Danar.
"Mas gak malu punya istri kayak Maira begini. Dibandingin dokter Kemala yang sempurna, Maira gak ada apa apa nya" kata Maira lagi.
"Kamu udah sempurna dimata mas sayang. Jangan berfikir yang enggak enggak lagi" kata dokter Danar
"Tapi...."
Perkataan Maira langsung terhenti saat dokter Danar memotong nya.
"Enggak ada yang sempurna didunia ini. Kamu ataupun mas. Kita masih harus sama sama belajar untuk jadi lebih baik lagi. Mau kan" ujar dokter Danar.
Maira tersenyum dan membalas genggaman tangan dokter Danar yang begitu menghangatkan. Ah, rasanya hubungan yang halal ini lebih indah dari pada hubungan yang terlarang. Apa karena masih baru??? Entahlah.
"Mas mau ajarin Maira terus kan?" pinta Maira begitu manja.
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja. Kamu memang tanggung jawab mas sampai kapanpun. Yang terpenting kamu mau berubah jadi lebih baik bersama mas" jawab dokter Danar
"Iya, Maira mau" jawab Maira.
"Janji jangan bandel lagi kalau dikampus" pinta dokter Danar.
"Maira masih boleh kuliah?" tanya Maira.
Dokter Danar mengernyit heran.
"Siapa tahu, mas minta Maira berhenti karena udah jadi istri mas sekarang. Kalau kemarin kan Maira maish bandel" ungkap Maira.
Dokter Danar kembali tertawa dan kembali mencubit hidung Maira. Gemas sekali rasanya melihat istri kecilnya ini.
"Mas gak akan halangi impian kamu sayang. Kan udah pernah mas bilang, kamu masih bisa kuliah sampai selesai." jawab dokter Danar
"Beneran?" tanya Maira dengan wajah yang begitu bahagia.
"Iya" jawab dokter Danar.
"Maira masih boleh ngumpul bareng Nindi sama Putri juga?" tanya Maira lagi.
"Boleh, yang gak boleh sama temen cowo kamu" jawab dokter Danar
"Aaaa makasiih. Maira janji gak akan ngecewain mas lagi" kata Maira dengan begitu senang.
"Iya.. mas percaya" jawab dokter Danar.
"Sekarang istirahat ya, biar besok pagi bisa pulang" ujar dokter Danar.
"Kenapa gak pulang sekarang aja, Mai kan udah sehat" kata Maira
Dokter Danar beranjak dan membenarkan bantal dikepala Maira
__ADS_1
"Biar pulih lagi. Sekarang kamu masih lemas" jawab dokter Danar seraya meraih tubuh Maira dan membantunya berbaring.
"Terus mas tidur dimana?" tanya Maira
"Gak bermaksud ninggalin Mai disini sendiri kan?" tanya Maira lagi.
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng.
"Enggak, nanti mas bisa tidur disofa" jawab Dokter Danar.
Maira memandang kesofa dan menoleh kembali ketempat tidur nya. Cukup lebar.
"Disini aja gimna?" tawar Maira sedikit ragu. Bahkan dia tersenyum canggung saat melihat wajah dokter Danar yang tersenyum penuh arti.
"Beneran mau berbagi tempat tidur?" goda dokter Danar.
Maira langsung menghela nafas jengah dan menarik selimutnya dengan kesal.
"Yaudah kalau gak mau. Mai gak nawarin dua kali. Pigi aja sana tidur disofa" gerutu Maira yang langsung menutup wajah nya dengan selimut. Bukan karena kesal, namun karena dia malu mengajak dokter Danar tidur berdua.
Dokter Danar tertawa seraya membuka jas dokter nya. Meletakan nya diatas kursi dan berjalan menuju pintu. Maira mengintip sedikit kearah dokter Danar.
Matanya mengerjap dengan denyut jantung yang bergemuruh.
Dokter Danar mengunci pintu?????
Dan disaat dokter Danar membalikan tubuhnya, Maira langsung menutup wajahnya dengan selimut lagi. Membuat dokter Danar kembali tertawa kecil dan menggeleng pelan.
Dia menarik selimut Maira seraya naik keatas tempat tidur yang mulai berderit.
"Ngapain kesini, katanya tadi gak mau" gerutu Maira. Namun wajah merona nya membuat dokter Danar begitu gemas.
"Siapa yang bilang gak mau. Kamu aja selalu su'udzon. Ditawarin tidur bareng sama istri kok gak mau" jawab dokter Danar yang langsung berbaring dan menghadap kearah Maira.
Wajah Maira semakin merona dengan jantung yang semakin berdebar hebat.
"Kenapa merah gitu wajahnya" goda dokter Danar.
"Maaaassss" Maira berseru dan langsung menutup wajahnya dengan tangan.
Dokter Danar tertawa dan menarik Maira kedalam pelukan nya dengan hati hati. Takut menganggu infus ditangan Maira.
"Terimakasih sudah menerima mas menjadi suami kamu sayang" ucap dokter Danar begitu lembut.
Maira langsung mendongak dan memandang wajah dokter Danar yang tersenyum memandang nya.
Ya Allah... tampan sekali suami nya ini.
"Terimakasih juga udah jadi suami yang sabar selama ini" balas Maira.
Mereka saling pandang dan tersenyum. Saling memandang dengan lekat dan penuh kekaguman. Ada rasa yang belum bisa dijabarkan saat ini. Namun rasa saling memiliki itu benar benar kuat.
Maira langsung memejamkan matanya saat dokter Danar mulai mendekatkan wajahnya. Jantung Maira semakin berdetak dengan kuat saat hembusan nafas hangat dokter Danar terasa menyapu wajahnya. Apalagi saat bibir lembut dokter Danar mengecup bibirnya dengan begitu lembut dan manis.
__ADS_1
Ah, rasanya Maira benar benar tidak bisa berkata apa apa lagi.
Kenapa bisa seperti ini.?????Ya Allah .... tolong!!!