
Hari ini Ervan kembali kerumah sakit untuk menemui dokter Danar. Sudah beberapa hari berlalu saat dia tahu jika Erika sakit. Dan dalam beberapa hari ini pula Ervan selalu menyempatkan diri mengunjungi Erika. Dengan dalih bertemu Akbar dan Ayu. Untung saja ada kedua anak itu, jadi Ervan mempunyai alasan untuk melihat Erika dan mendekatinya sedikit demi sedikit.
Mendekati??
Ah rasanya terdengar aneh. Dia seperti termakan omongan nya sendiri sekarang.
Bukan kah dulu dia begitu membenci Erika, tapi sekarang dia malah mendekati gadis itu.
Astaga...
Jika Ciko tahu, mungkin Ervan akan menjadi bahan ledekan oleh sepupunya itu.
Tok tok tok
Ervan mengetuk pintu ruangan dokter Danar. Dan tidak lama, suara ramah dokter Danar langsung terdengar ditelinga nya.
"Assalamualaikum dokter" sapa Ervan. Dia sedikit terkejut saat melihat ternyata Maira juga ada disana bersama Nindi.
Ya ampun, Ervan jadi ragu untuk menyampaikan maksud nya kemari jika ada mereka berdua
"Waalaikumsalam." jawab mereka.
"Ervan... ada apa?" tanya dokter Danar terlihat heran melihat kedatangan Ervan. Pasalnya, tidak ada jadwal ayahnya untuk menebus obat atau apapun lagi.
Maira dan Nindi yang sedang duduk disofa memperhatikan Ervan dengan lekat. Hingga membuat pemuda ini nampak canggung dan tersenyum getir.
"Saya kemari mau membicarakan yang kemarin kita bahas dokter" ucap Ervan dengan ragu. Dia melirik kearah Maira yang sedang bersandar disofa dengan perut besarnya itu.
Dokter Danar nampak terdiam, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum tipis dan mengangguk.
"Duduklah" pinta nya seraya menunjuk kursi didepan meja nya.
"Bahas apa sih? kayak nya serius amat?" tanya Nindi.
Ervan dan dokter Danar langsung melirik kearah Nindi dan Maira.
"Tentang Erika" jawab dokter Danar.
Maira dan Nindi langsung terkesiap mendengar itu. Bahkan Maira langsung duduk dengan tegak dan memandang dokter Danar dengan curiga.
"Kenapa kalian ngebahas dia?" tanya Maira.
Ervan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya ibu hamil ini sedikit Sensitif.
"Mas pernah bilang kan kalau Erika sedang sakit" ucap dokter Danar yang langsung mematahkan rasa curiga Maira.
"Oohh iya. Saya juga mau dengar dokter. Udah lama saya curiga tentang Erika yang kayak nya memang gak baik baik aja. Apa itu memang benar?" tanya Nindi
Dokter Danar mengangguk pelan.
"Kamu juga tahu Nin?" tanya Ervan.
"Curiga aja sih. Beberapa kali ketemu dia, dia nampak beda. Beda banget pun. Bukan cuma penampilan nya aja. Tapi karena wajah nya yang pucat dan layu. Kayak orang penyakitan " ungkap Nindi.
"Dia memang sakit. Ginjal nya bermasalah" jawab dokter Danar.
Maira dan Nindi langsung terkejut mendengar itu.
"Mas kok gak ngasih tahu sih" gerutu Maira.
"Memberi tahu tanpa menolong itu gak ada guna nya sayang. Dia pasti gengsi jika kamu ataupun Nindi yang datang dan menjulurkan tangan untuk membantu dia. Maka nya mas minta tolong pada Ervan" ungkap dokter Danar.
__ADS_1
Nindi langsung tertawa memandang Ervan yang nampak canggung.
"Nah... cocok itu dokter." sahut Nindi membuat Ervan langsung mendengus kesal.
"Sejak dulu kan Erika emang suka banget sama Ervan. Dokter tahu aja kalau dia bakal luluh didatengin Ervan" ucap Nindi lagi.
"Julid banget sih kamu Nin. Gak baik tahu" gerutu Maira.
Nindi langsung terkesiap dan mengusap bibirnya yang kelepasan.
"Astaghfirullah. Kelepasan" gumam nya.
Dokter Danar hanya menggeleng pelan mendengar nya.
"Kamu salah Nin" sahut Ervan tiba tiba.
Membuat mereka semua langsung menoleh kearah Ervan.
"Bahkan dia udah beda banget sekarang. Dia malah berusaha untuk menjauh. Gak seperti Erika yang dulu" ungkap Ervan.
"Beneran?" tanya Nindi
Ervan mengangguk sekilas
"Dia selalu nolak saat aku mau ngasih sesuatu atau apapun itu. Bahkan dia jaga jarak banget sekarang. Kayak takut, malu dan banyak lah." jawab Ervan. Membuat Nindi dan Maira langsung terdiam mendengar nya.
"Jadi kamu kemari mau berbicara apa?" tanya dokter Danar.
"Beberapa hari yang lalu saat saya kerumah nya, pinggang nya sakit lagi dokter. Bahkan dia hampir pingsan saat itu. Dan saya kemari cuma mau tanya, pengobatan apa yang diperlukan untuk Erika?" tanya Ervan.
Dokter Danar langsung mengangguk pelan.
"Heh... katanya susah deketin, tapi udah main kerumahnya aja" gumam Nindi.
"Itu karena ada dua anak kecil yang dirawat Erika, jadi aku punya alasan untuk kesana" jawab Ervan.
"Dua anak kecil?" tanya Dokter Danar
Ervan mengangguk.
"Anak jalanan itu ya, aku juga pernah lihat" sahut Nindi.
"Iya, dia juga nyekolahin salah satu diantara mereka" jawab Ervan.
"Masha Allah... Baik banget dia sekarang" gumam Maira.
"Kamu kerumah nya, apa orang tua nya ada?" tanya dokter Danar.
Ervan terdiam, dia menghela nafasnya dengan berat dan menggeleng pelan.
"Erika sudah beberapa bulan tidak lagi tinggal dirumah orang tuanya dokter" jawab Ervan.
"Kenapa?" tanya Nindi pula. Dia sepertinya benar benar penasaran dengan Erika yang sekarang.
"Dia diusir dari rumah"
deg
Mereka semua langsung terdiam mendengar itu.
"Dan sekarang dia tinggal dirumah kecil yang ada di jl.xx. Saya juga udah ketemu orang tuanya. Tapi mereka sama sekali udah gak mau tahu tentang Erika lagi sepertinya" ungkap Ervan.
__ADS_1
"Ya Allah.. kenapa tega banget sih" gumam Maira.
"Apa itu yang membuat dia tidak ingin melanjutkan pengobatan nya" gumam dokter Danar.
"Sepertinya iya dokter. Masalah biaya pasti menjadi hal yang utama. Dia sendirian sekarang, bahkan untuk kehidupan sehari harinya aja dia melukis dan jual lukisan nya didekat taman kota" ungkap Ervan.
Dokter Danar menghela nafas pelan. Dia memandang Maira yang juga nampak tidak tega mendengar itu.
"Kalau kita bisa bantu, kita bantu mas" ujar Maira.
"Iya, aku juga pasti bantu kok" sahut Nindi pula.
Namun Ervan malah menggeleng pelan.
"Gak semudah itu" ucap Ervan. Membuat mereka kembali memandang nya dengan bingung.
"Erika pasti gak akan mau Nerima pemberian kita gitu aja. Dia pasti malu. Apalagi sama kalian yang udah jelas jelas bermasalah sama kalian dulunya. Pasti akan sulit" ungkap Ervan.
"Bilang aja dari kamu Van" ujar Nindi. Namun Ervan kembali menggeleng.
"Aku bahkan udah sering mengungkit tentang pengobatan, tapi dia seakan menghindar" jawab Ervan.
"Jadi gimana dong?" tanya Maira.
"Erika membutuhkan pengobatan yang ekstra. Setidaknya dia harus rutin cuci darah setiap minggu sampai dia mendapatkan donor ginjal" ungkap dokter Danar.
"Separah itu ya mas?" tanya Maira.
Dokter Danar mengangguk pelan.
"Ginjal nya sudah rusak, jika dibiarkan lebih lama dia pasti tidak akan bisa melakukan apapun lagi. Sakit yang dia rasakan pasti akan semakin menjadi. Dikhawatirkan jika Erika tidak akan bisa menahan sakitnya lebih lama" ungkap dokter Danar.
Maira langsung menggigit bibirnya mendengar itu. Sedangkan Nindi dan Ervan nampak menghela nafas mereka dengan berat.
"Berapa lama dia bisa menahan sakitnya jika tidak segera ditangani dokter?" tanya Ervan.
"Tidak lama, mungkin hanya dalam sebulan ini. Meski dia selalu meminum obat pereda nyeri, tapi itu hanya akan memperlambat kerusakan ginjal nya yang semakin parah" jawab dokter Danar.
"Van... cuma kamu yang bisa deketin dia sekarang" ucap Maira.
Membuat Ervan langsung menoleh kearah nya.
"Sejak dulu dia cinta mati sama kamu. Pelan pelan dia pasti mau nurut perkataan kamu kalau kamu bisa meyakinkan dia" kata Maira lagi.
Ervan terdiam.
"Iya Van. Kasihan. Walau bagaimana pun, Erika tetap teman kita. Dia butuh kita sekarang. Nanti aku juga pasti bantu kok. Ya, coba untuk dekatin dia juga mungkin" sahut Nindi pula.
"Benar... tiga hari lagi pernikahan Putri. Kamu ajak dia ya. Nanti kita ketemu disana" ujar Maira.
"Apa dia mau?" tanya Ervan terlihat ragu.
"Mau lah, kamu paksa sedikit dong" sahut Nindi.
Ervan menghela nafas kembali dan langsung mengangguk pelan.
Cukup rumit. Dulu dia yang berusaha menghindar, tapi sekarang malah dia yang mengejar.
Aneh sekali memang.
Dulu Erika adalah duri dalam hubungan nya dan Maira. Tapi kini, malah dia yang akan mereka bantu untuk tetap hidup.
__ADS_1
Ya, walau bagaimanapun, rasa kemanusiaan mereka memang tidak bisa mengabaikan kesakitan Erika.