Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Malam Mulai Larut


__ADS_3

Malam sudah mulai larut. Namun goresan kuas sejak tadi masih terdengar begitu nyaring. Erika masih betah duduk didepan kanvas yang sudah mulai terbentuk sebuah seni yang sangat indah.


Sudah dua Minggu berlalu, dan saat ini sudah ada satu lukisan yang selesai. Dan akan menjadi dua dengan lukisan yang sedang dia selesaikan malam ini.


"Kakak belum ngantuk?" tanya Akbar


Dia datang dari dapur dan membawakan segelas teh hangat untuk Erika.


"Belum, nanggung sebentar lagi." jawab Erika. Dia menegakkan sedikit pinggang nya yang terasa nyeri. Sudah entah berapa kali dia bertukar posisi untuk mencari kenyamanan, rasa sakit dipinggang nya semakin hari semakin menjadi saja.


"Minum dulu kak" ujar Akbar


Erika tersenyum dan langsung meletakkan kuas ditempat nya.


"Baik banget kamu" ucap Erika seraya meraih gelas teh dari anak lelaki itu.


"Cuma buat teh aja. Kakak udah capek satu harian kerja, dan tiap malam harus lembur lagi" kata Akbar yang duduk di atas lantai bersama Erika.


"Enggak apa apa. Kakak senang. Ini juga hobi kakak sejak dulu. Jadi kakak senang ngerjain nya" jawab Erika. Dia meminum teh itu sedikit demi sedikit, meski kemanisan, tapi Erika cukup bersyukur karena Akbar benar benar perhatian padanya. Erika seperti mempunyai saudara sekarang. Dia jadi tidak merasa kesepian lagi.


"Kakak gambar bunga layu?" tanya Akbar seraya memperhatikan bunga bunga yang Erika gambar. Hanya tinggal sedikit sentuhan lagi, dan lukisan itu akan jadi.


Erika tersenyum memandang lukisan nya. Seraya tangannya yang kembali meraih kuas nya dan bermain dengan lincah disana.


"Setiap karya seni pasti memiliki makna. Dan ini juga bukan hanya sekedar bunga yang layu" ungkap Erika.


"Apa itu menandakan hati kakak yang sedang sedih?" tanya Akbar.


Dan pertanyaan itu membuat gerakan tangan Erika terhenti sejenak, namun sedetik kemudian dia kembali mengoleskan gradasi warna disana.


"Kenapa bisa berfikir seperti itu?" tanya Erika


"Cuma menebak aja. Lagi pula lukisan ini cocok dengan suasana hati kakak" jawab Akbar.


Erika tersenyum tipis dan menggeleng.


"Besok kamu mengamen?" tanya Erika, berusaha mengalihkan perhatian untuk tidak membicarakan tentang hal Sensitif itu.


"Iya kak. Dirumah juga gak ada kerjaan. Gak enak ngerepotin kakak terus" jawab Akbar.


"Jangan begitu, kamu itu adik kakak. Kakak senang kalian ada disini. Besok libur dulu ya, temani kakak jual lukisan ini. Kalau laku kita beli makanan sama pakaian nanti" ujar Erika


"Iya kak, tapi gak apa apa kok. Uang nya kakak simpan aja. Kami udah selalu kenyang sejak tinggal sama kakak" sahut Akbar


Erika menggeleng dan meletakkan kuasnya. Lukisan nya sudah selesai dan dia cukup puas melihat hasil karyanya.


"Kakak kerja memang untuk kita senang senang. Sudah mending kamu tidur. Adik kamu udah tidur dari tadi kan" ujar Erika.

__ADS_1


"Kakak gak tidur juga. Udah malam?" tanya Akbar pula.


"Sebentar lagi" jawab Erika seraya mengusap kepala Akbar.


Akbar menurut, dia langsung berpindah kesisi dekat dinding dan tidur disana. Dimana kasur lipat tipis tempat dia tidur ada disana. Sedangkan Ayu tidur bersama Erika didalam kamar.


Erika tersenyum memandang Akbar yang sudah menarik selimut dan tertidur dengan nyaman, meski hanya beralaskan kasur tipis.


Semoga dia bisa punya uang lebih, agar kedua anak ini bisa tidur dengan layak dan punya kamar sendiri.


Setelah Akbar tertidur. Erika menyisihkan lukisan yang baru diselesaikan nya. Dan menggantinya dengan sebuah lukisan baru.


Lukisan seorang lelaki tampan dengan senyum manis nya.


Erika tersenyum memandang lukisan ini.


Ya Allah...


Maaf, Erika hanya mengagumi nya. Tidak berharap apapun lagi.


Dia hanya akan tetap ada didalam hati Erika. Sejak dulu, hingga nanti.


Ervan... maaf atas segala perbuatan ku dulu


..


Saat ini mereka baru saja selesai mengaji bersama. Lebih tepatnya Maira yang mengaji dan dokter Danar yang menyimak nya.


Bacaan dan tajwid Maira sudah mulai sempurna, hanya tinggal sedikit perbaikan saja. Dokter Danar masih begitu sabar mengajari Maira dan mendidiknya hingga dia paham tentang apa yang tidak dia pahami selama ini.


"Alhamdulillah... kita istirahat ya" ajak dokter Danar seraya menutup dan menyimpan Al Qur'an mereka.


Maira mengangguk dan langsung beranjak dari atas sajadah nya, namun tiba tiba dia kembali terduduk dan meringis memegangi perutnya.


"Sayang kenapa?" tanya dokter Danar yang langsung berlutut dihadapan Maira. Dia terlihat cemas melihat Maira yang meringis seperti kesakitan.


"Sayang" panggil dokter Danar lagi.


"Uhhh dia nendang mas. Sakit banget" jawab Maira. Dia mencoba menarik nafasnya dalam dalam dan membuang nya perlahan lahan.


Dokter Danar menghela nafas lega. Dia mengusap perut Maira dengan lembut.


"Kita pindah ketempat tidur ya" ajak dokter Danar


Maira mengangguk dan langsung beranjak perlahan dibantu oleh dokter Danar. Dan langsung membuka mukenah yang sejak tadi dipakainya.


Dokter Danar memapah Maira dan berjalan dengan pelan kearah tempat tidur mereka. Membaringkan Maira disana dengan sangat lembut dan hati hati.

__ADS_1


Dia mengusap perut Maira yang sudah sangat besar dan membuncit. Mencium nya dan memainkan tangan nya disana hingga membuat Maira merasa lebih tenang sekarang.


"Jangan nakal didalam ya sayang, jangan buat bunda sakit nak. Kasihan bunda" ucap dokter Danar seraya terus mengusap perut Maira.


Maira tersenyum memandang dokter Danar. Yang semakin kemari, semakin membuat dia begitu bahagia. Meski hamil ini cukup membuat dia kewalahan.


"Masih sakit banget gak?" tanya dokter Danar pada Maira


"Enggak mas, kalau udah mas usap, dia tenang, paling cuma gerak dikit dikit kayak gini" Maira langsung meraih tangan dokter Danar dan meletakkan dibagian perut nya yang bergerak.


Dokter Danar langsung tersenyum dan mengusap gerakan anak nya yang terasa menghangatkan hatinya. Dia sungguh bahagia menantikan kehadiran calon buah hati mereka ini.


"Masha Allah... sehat sehat anak ayah sama bunda" harap dokter Danar. Dia mengecup perut Maira dan bergantian dengan dahi Maira.


"Ayah juga harus sehat biar bisa jagain kami terus" sahut Maira.


Dokter Danar tertawa dan langsung mengangguk dengan pelan.


Dia naik ketempat tidur dan berbaring disamping Maira. Menarik Maira kedalam dekapan nya yang begitu menenangkan.


"Terimakasih sudah menjadi istri mas sayang, dan terimakasih sudah mau mengandung anak mas" ucap dokter Danar


Maira tersenyum dan mengangguk


"Terimakasih juga sudah mau menjadi suami yang baik untuk Maira mas. Maaf kalau Maira selalu buat mas kesal" sahut Maira pula


Namun dokter Danar menggeleng dan tersenyum. Dia kembali mengecup dahi Maira dengan lembut dan penuh perasaan. Rasa sayang dan rasa cintanya pada Maira yang begitu besar.


"Atas segala apapun yang kamu lakukan, mas sudah ridho sayang. Kamu gak pernah buat mas kesal, mas tahu kamu cuma lelah" jawab dokter Danar


Ya Allah...


Maira memang beruntung mendapatkan suami seperti dokter Danar.


Semoga rumah tangga mereka akan terus begini hingga akhir hayat nanti.


"Makasih mas. Maira sayang mas" ucap Maira


"Mas juga sayang kamu sayang" jawab dokter Danar


"Sekarang tidur ya" ujar dokter Danar


"Iya, tapi mas ngaji kayak biasa ya" pinta Maira.


"Iya" jawab dokter Danar


Maira tersenyum dan langsung memejamkan matanya. Sedangkan dokter Danar mulai melantunkan surah Yusuf seraya mengusap perut Maira dengan lembut.

__ADS_1


Surah yang hampir setiap malam dia bacakan untuk anaknya yang masih berada didalam kandungan Maira. Berharap jika kelak anak mereka akan baik rupa dan akhlaknya.


__ADS_2