Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kerumah Erika


__ADS_3

Lagi lagi hujan. Dan lagi lagi Erika basah kuyup. Sudah dijamin malam nanti dia pasti demam lagi. Tapi apa mau dikata, tidak apa apa. Sepaling tidak hari ini dia sudah berbuat suatu kebaikan untuk menolong orang, meskipun orang yang dia tolong malah menganggap dia berpura pura.


Menyedihkan sekali.


Sudah hampir setengah jam Erika duduk didepan ruko kosong itu. Angkutan umum ataupun taksi tidak ada yang nampak lewat. Kalaupun ada pasti bukan mengarah kearah jalan rumah nya, tapi kejalan lain.


Erika masih memeluk belanjaan perlengkapan melukis nya dan juga alat tulis untuk Ayu. Jika memaksa menerobos hujan untuk mencari angkutan umum, Erika takut belanjaan nya ini akan basah. Jadi dia memutuskan untuk menunggu saja disini.


Entah sudah berapa kali helaan nafas panjang dihembuskan Erika. Tubuhnya sudah kedinginan lagi, bahkan nafasnya juga sudah terasa menghangat.


Ya Allah...


Jangan sampai pinggang nya sakit lagi sekarang.


Mata Erika memicing, saat tiba tiba melihat sebuah mobil berhenti didepan ruko itu.


Siapa??


Pemilik ruko kah???


Tapi dia langsung terkejut, saat melihat Ervan yang turun dari dalam mobil. Bahkan dia sedikit berlari mendekati Erika.


Erika memandang bingung pada Ervan. Kenapa dia kemari lagi? Apa ada sesuatu yang tertinggal?


"Ayo naik. Aku akan mengantar kamu pulang" ajak Ervan.


Erika memandang Ervan dengan bingung.


"Tapi.... aku bisa naik angkot saja Van" jawab Erika.


Kenapa Ervan bisa baik seperti ini??? Membuat Erika takut saja.


"Sudah ayolah. Aku tahu kamu sudah lama menunggu disini kan. Anggap saja ini rasa terimakasih ku karena kamu yang sudah menolong mama tadi" ucap Ervan.


Erika tertegun dan semakin mengeratkan pelukan pada belanjaan nya.


"Aku menolong tidak mengharapkan apapun" gumam Erika.


"Sudah cepat lah. Hujan akan lama berhenti. Kamu mau menunggu sampai kapan?" tanya Ervan lagi. Dia mengusap jaket nya yang sedikit basah karena terkena air.


"Tapi aku sudah basah, mobil kamu...."


"Cepat naik, jangan banyak bicara lagi. Aku sudah dingin" sahut Ervan yang langsung menghentikan perkataan Erika. Bahkan dia langsung pergi masuk kedalam mobil.


Membuat Erika jadi bingung sekarang. Tapi dari pada dia demam lagi karena menunggu terlalu lama, lebih baik dia naik saja. Ervan juga memaksa kan. Mungkin dia sedang berbaik hati sekarang. Yah semoga saja Ervan tidak akan mengatakan apapun yang membuat Erika sakit hati lagi.


tin tin


Suara klakson mobil membuat Erika terkesiap kaget. Dia langsung berjalan dengan cepat dan masuk kedalam mobil Ervan.


Erika sama sekali tidak berani memandang Ervan yang sudah mulai melajukan mobilnya. Dia hanya memandang lurus kedepan seraya menahan dingin yang sudah mulai menggigit.


Sesekali Ervan melirik kearah Erika. Wajah gadis ini sudah pucat dan tetap saja terlihat layu. Tidak seperti dulu yang segar dan angkuh.


Sekarang...


Erika benar benar berubah.


"Masih kerumah kemarin itu?" tanya Ervan.

__ADS_1


"Iya" jawab Erika dengan singkat.


Dan tidak ada pembicaraan apapun selama diperjalanan. Ervan dan Erika sama sama diam dengan fikiran mereka masing masing.


Hingga tidak sampai satu jam kemudian mereka sudah tiba didepan rumah petak yang ditinggali oleh Erika.


"Terimakasih banyak Van" ucap Erika yang kini memandang Ervan.


"Kamu tidak berniat mengajak ku masuk. Aku sudah baik mengantarmu kemari" tanya Ervan.


Erika terkesiap. Pandangan mata mereka saling pandang beberapa saat hingga akhirnya Erika dan Ervan langsung menoleh kearah rumah itu dimana Akbar dan Ayu nampak keluar dan memperhatikan mereka dari depan pintu.


"Baiklah. Ayo masuk" ajak Erika akhirnya.


Dia langsung turun dari dalam mobil dan sedikit berlari masuk kedalam rumah, dan Ervan juga segera menyusul nya.


"Kakak kehujanan lagi" tanya Ayu. Akbar dengan sigap langsung mengambil belanjaan dari tangan Erika.


"Iya, hujan nya deras. Yuk kita masuk. Kakak bawa teman Kakak, salam dulu ya" ujar Erika pada Akbar dan Ayu.


"Akbar kak, ini Ayu adik Akbar" sapa Akbar seraya menyalami punggung tangan Ervan.


Ervan tersenyum tipis dan mengusap kepala Akbar dengan lembut.


"Ervan" jawab Ervan.


"Masuk Van" ajak Erika. Terlihat canggung, karena mereka memang tidak pernah sedekat ini. Apalagi sekarang, terasa terbalik, jika dulu Erika yang mengejar ngejar Ervan, tapi sekarang malah Ervan yang datang sendiri.


"Ayo kak" ajak Akbar.


Ervan mengangguk dan langsung masuk kedalam rumah kecil Erika.


Ervan hanya melihat sebuah kursi panjang dan juga beberapa tumpuk kanvas yang tersandar didinding. Juga ada sebuah lukisan yang belum jadi.


Benarkah Erika tinggal disini???


"Duduk dulu, aku mau ganti baju. Akbar temani kak Ervan ya" ucapan Erika membuat Ervan terkesiap kaget.


Dia memandang Erika yang masuk kedalam sebuah ruangan kecil. Mungkin itu kamar nya.


"Kakak ganteng, terimakasih sudah mengantar kak Erika ya" ucap Ayu dengan wajah polosnya yang menggemaskan.


Ervan tersenyum dan mengangguk, seraya dia yang duduk dikursi panjang itu bersama Ayu. Sedangkan Akbar nampak membongkar isi belanjaan Erika yang sudah basah. Untung saja didalam nya tidak basah.


"Kalian cuma tinggal bertiga disini?" tanya Ervan.


Ayu langsung mengangguk dengan cepat.


"Iya, kak Erika ajak Ayu dan kakak Ayu tinggal disini" jawab Ayu


"Memang nya sebelum ini kalian tinggal dimana?" tanya Ervan.


"Dikolong jembatan " jawab Ayu begitu jujur.


Ervan langsung tertegun mendengar itu. Dia kembali menoleh pada Akbar yang duduk dilantai.


"Kami cuma anak jalanan kak. Dan kak Erika sangat baik ajak Akbar dan Ayu tinggal disini. Bahkan dia juga udah sekolahin Akbar" jawab Akbar lagi.


Dan sungguh, Ervan semakin tidak bisa berkata kata mendengar ini.

__ADS_1


Erika tinggal ditempat kumuh dan sempit seperti ini saja sudah membuat Ervan tidak habis fikir. Dan sekarang, ditambah dengan penjelasan kedua anak ini yang semakin membuat Ervan terbungkam.


Benarkah ini Erika yang selalu membuat masalah?


Benarkah ini Erika yang selalu membuat dia marah dulunya???


Kenapa sekarang bisa berubah sekali???


Ya Allah...


Ervan benar benar merasa tidak percaya dengan semua ini.


"Sebelumnya kak Erika tinggal dengan siapa disini?" tanya Ervan. Seraya dia yang melirik kearah dalam rumah, semoga saja Erika tidak mendengar.


"Gak ada. Kak Erika sendirian. Makanya dia minta Ayu dan kak Akbar untuk tinggal disini" jawab Ayu.


Ervan mengangguk pelan.


Benar benar mustahil jika difikirkan.


"Wah ... ada buku mewarnai lagi" seru Ayu yang langsung melompat turun dan meraih buku yang Akbar keluarkan dari dalam plastik.


"Basah sedikit, dikeringkan dulu Yu" ujar Akbar.


"Gimana ngeringin nya kak. Nanti kalau di lap pakai kain sobek dia" jawab Ayu dengan wajah yang cemberut.


"Nanti bentar dulu. Kakak beresin ini dulu" ujar Akbar yang kini sedang merapikan alat lukis Erika ditempat nya. Dia sudah sangat telaten sepertinya. Dan Ervan cukup salut dengan anak lelaki ini.


"Sini coba kakak lihat" pinta Ervan yang juga ikut duduk dibawah dan meraih buku yang sedikit basah itu dari tangan Ayu.


"Sedikit doang kan kak. Masih bisa dipakai" ucap Ayu yang duduk dihadapan Ervan.


"Bisa kok, ujung nya cuma sama disampul depan." jawab Ervan seraya mengusap sampul buku yang basah dengan tisu yang ada disana.


"Ini siapa yang melukis?" tanya Ervan.


"Kak Erika" jawab Akbar.


"Nah selesai" ucap Ervan seraya menyerahkan nya pada Ayu.


"Yeay... menggambar lagi" seru Ayu begitu girang. Bahkan dia langsung berlari dan mengambil kotak cat nya.


Sedangkan Ervan langsung beranjak dan mendekat kearah lukisan yang hampir selesai itu.


Dia memperhatikan lukisan itu dengan lekat. Lukisan dengan hutan yang cukup lebat disaat senja. Disana juga ada seseorang yang sedang berjalan sendirian diantara rimbunan daun yang berguguran.


Sangat epik dan menakjubkan. Ternyata Erika bisa melukis seindah ini.


Ya, tidak heran, karena saat dikampus Erika memang salah satu murid yang terkenal dengan prestasi nya yang bagus. Hanya saja akhlak yang dia miliki membuat semua potensi nya tidak terlihat.


Ervan memperhatikan lukisan itu dengan lekat, namun tiba tiba matanya memicing saat melihat tulisan dipojok kanan bawah.


Ada inisial nama penulis nya disana.


'E...art'


deg


Jadi... lukisan yang Ervan beli itu adalah lukisan Erika????.

__ADS_1


Lukisan bunga layu...


__ADS_2