
Sungguh tidak bisa dibayangkan dalam benak Ervan tentang perkataan orang tua Erika yang begitu tega mengusir anaknya sendiri. Meskipun kesalahan Erika cukup fatal dan hampir membuat nyawa orang melayang, tapi tidak sepantasnya dia di perlakukan seperti ini kan.
Ah kenapa jadi Ervan yang kesal sekarang. Padahal Erika bukan siapa siapa nya tapi dia benar benar merasa kesal mendengar orang tua Erika yang seperti itu.
Padahal Ervan tahu sendiri bagaimana Erika yang berjuang untuk kehidupannya. Baru beberapa kali bertemu tapi Ervan sudah tahu bagaimana susahnya Erika.
Dan tentang perkataan dokter Danar, sepertinya Erika bukan tidak memiliki semangat untuk hidup, melainkan dia yang tidak tahu harus berbuat apa. Ya, Ervan yakin itu.
Biaya operasi dan juga cuci darah setiap minggunya tentu tidak sedikit. Apalagi dengan kondisi Erika yang sekarang. Bagaimana mungkin dia berobat.
Ervan menghela nafasnya dengan berat. Kenapa dia jadi merasa simpati seperti ini pada gadis itu.
Ciiit
Ervan mengerem laju motor nya perlahan, saat melihat didepan sana begitu ramai orang orang yang berkerumun.
Ada apa?
Apa kecelakaan?
Jalanan disekitar taman kota itu menjadi macet hanya karena ini.
Lagi lagi Ervan hanya bisa menghela nafas kesal. Dia membuka helm nya dan memandang kedepan. Sepertinya iya, ada orang yang kecelakaan.
"Mas maaf... didepan ada apa?" tanya Ervan pada salah seorang lelaki yang baru saja melihat kejadian itu.
"Ada cewe mas, ketabrak mobil" jawab lelaki itu.
"Cewe?" gumam Ervan.
Lelaki itu mengangguk cepat.
"Masih muda, cantik, berhijab, kulitnya putih, dia jalan kaki mau nyebrang, tapi mungkin gak liat ada mobil lewat, jadi nya ketabrak" ungkap lelaki itu.
Ervan mematung. Cewe pakai hijab. Kenapa yang ada dibayangan nya malah Erika.
Astaga...
"Terimakasih mas. Saya mau lihat dulu" pamit Ervan yang langsung menepikan motornya kepinggir jalan.
Hatinya menjadi khawatir sekarang. Dengan cepat Ervan membuka helmnya dan berlari memasuki kerumunan orang orang yang hanya memandang saja.
"Permisi permisi..." ucap Ervan dengan sedikit menerobos masuk.
Matanya melebar seketika, namun dengan cepat pula dia memalingkan wajahnya karena kondisi tubuh gadis ini penuh dengan darah.
Gadis muda yang tidak nampak wajahnya karena tertutup kerudung nya.
Jantung Ervan berdegup dengan kencang dan begitu ngilu, bahkan dia merasa jika lutut nya terasa lemas dan bergetar sekarang.
Kenapa gadis ini mirip dengan Erika.
Ervan menarik nafasnya dalam dalam dan memberanikan diri untuk melihat gadis itu. Dan disaat tubuh gadis itu diangkat, tiba tiba panggilan seseorang membuat Ervan menoleh.
"Ervan"
Suara ini, sepertinya dia kenal. Ervan langsung membalikkan tubuhnya keasal suara. Dan betapa terkejutnya dia melihat Erika yang berdiri memandang nya dipinggir jalan.
Dan entah kenapa, melihat Erika yang baik baik saja rasanya hati Ervan benar benar merasa lega. Bahkan dia langsung menggeleng pelan dan berjalan kearah Erika.
__ADS_1
astaghfirullah...
Kenapa dia bisa sekhawatir ini.
"Siapa yang kecelakaan?" tanya Erika seraya memeluk sesuatu didadanya.
Ervan menggeleng pelan dan kembali menoleh kebelakang. Dimana gadis itu sudah dibawa masuk ke mobil ambulan.
"Entah lah, tapi gadis seumuran kamu" jawab Ervan
Erika mengangguk dan langsung berjalan menjauh dari kerumunan orang orang yang juga sudah mulai membubarkan diri.
"Mau kemana?" tanya Ervan
"Mau jual lukisan semalam" jawab Erika.
"Ditempat kakek tua itu?" tanya Ervan.
Erika terkesiap dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap kearah Ervan yang berjalan dibelakang nya.
"Kamu tahu?" tanya Erika. Dan kini Ervan yang terkejut dan terlihat canggung. Bahkan dia langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Disekitar sini kan cuma ada kakek tua itu yang menjual lukisan" jawab Ervan dengan senyum getir nya.
Erika memandang Ervan dengan curiga, namun sedetik kemudian dia pun hanya mengangguk saja.
"Ayo aku antar" ajak Ervan.
"Sudah dekat kok" jawab Erika.
"Dekat apanya. Jalan kaki dari sini kesana itu lumayan. Kenapa selalu menolak kalau ditawari. Padahal kemarin juga selalu menyusahkan" gerutu Ervan tanpa sadar.
"Karena waktu itu aku sudah selalu menyusahkan, maka dari itu sekarang tidak ingin lagi" jawab Erika.
Ervan menghela nafas jengah.
"Sudah lah ayo. Selagi aku berbaik hati" ucap Ervan. Bahkan dia langsung menarik ujung hijab Erika hingga membuat gadis itu terkejut dan mau tidak mau mengikuti langkah Ervan ke motornya.
Erika memandang Ervan dengan heran. Kenapa Ervan menjadi seperti ini sekarang?
Apa Ervan sedang lupa ingatan jika dulu dia kan begitu membenci nya.
"Naik" ujar Ervan yang langsung naik ke motornya.
"Kenapa kamu malah melamun" tanya Ervan.
Erika menggeleng pelan.
"Tidak, hanya saja aku seperti tidak lagi mengenalmu" jawab Erika.
Ervan tertegun sesaat namun sedetik kemudian dia langsung mendengus senyum.
"Aku juga seperti tidak mengenalmu yang sekarang" balas Ervan. Dan kali ini Erika yang memandang nya dengan bingung.
"Anggap saja aku bukan Ervan yang dulu dan aku juga menganggapmu bukan Erika yang menyebalkan seperti dulu" ucap Ervan lagi.
Erika tersenyum tipis dan mengangguk.
"Apa dengan begitu kamu tidak lagi membenciku?" tanya Erika.
__ADS_1
"Aku tidak membenci Erika yang sekarang" jawab Ervan.
Erika kembali mendengus senyum dan mengangguk.
"Terimakasih" ucap Erika.
"Sudah naiklah, jangan lagi banyak alasan untuk menolak" ujar Ervan.
Erika tersenyum dengan lebar dan langsung naik ke motor Ervan. Bahagia rasa hatinya saat melihat Ervan yang seperti ini. Meski masih saja terdengar ketus, namun sudah tidak seperti dulu lagi.
Sedangkan Ervan, dia juga tidak bisa mengabaikan Erika lagi. Gadis ini sedang terpuruk dan terjatuh, tidak mungkin dia menambah beban Erika lagi.
Dokter Danar benar, Erika memang membutuhkan semangat. Dia sudah dijauhi oleh teman teman nya, dibenci oleh semua orang, bahkan diusir dari keluarga nya. Ditambah lagi dengan penyakitnya yang sekarang. Sungguh, jika dibayangkan, mungkin Ervan tidak akan sanggup menjadi Erika.
Berdamai.. mungkin jalan yang terbaik. Lagi pula masalah Ervan dan Erika hanyalah masalah hati. Bukan yang lain.
Tidak lama mengendarai motor, mereka tiba ditempat kakek tua penjual lukisan itu.
Erika langsung turun perlahan dari motor nya, namun sial nya baju gamis nya malah menyangkut dipijakan motor itu, membuat Erika langsung oleng dan hampir terjatuh.
Dan...
grep
Tidak sampai terjatuh, karena Ervan dengan sigap langsung menangkap lengan nya.
Erika langsung tersenyum getir dengan jantung yang bergemuruh karena dia berfikir dia akan terjatuh tadi.
"Tidak bisakah kamu berhati hati sedikit" ucap Ervan seraya melepaskan tangan Erika perlahan.
"Maaf, baju ku tersangkut" ucap Erika seraya menarik ujung baju nya.
"Sobek?" tanya Ervan yang juga memandang ujung baju Erika.
"Enggak apa apa. Sobek sedikit" jawab Erika.
Dia langsung berjalan mendekat kearah kakek tua yang terlihat memperhatikan mereka sejak tadi, dan diikuti oleh Ervan yang juga turun dari motornya.
"Bawa lukisan lagi nak?" tanya kakek tua itu.
"Iya kek. Mudah mudahan kakek suka" jawab Erika seraya menyerahkan lukisan nya pada kakek itu.
Seperti biasa, kakek tua itu memandang kagum pada lukisan pemandangan senja yang dilukis oleh Erika.
"Suka, dua juta rupiah" ucap nya.
Erika langsung tersenyum lebar mendengar itu. Dan tentu saja raut wajah bahagia nya tidak lepas dari pandangan mata Ervan.
"Kamu, bukan nya kamu yang membeli lukisan waktu itu ya?" tuding kakek tua itu pada Ervan.
Ervan langsung tersenyum getir memandang nya. Apa kakek tua ini masih ingat? kan sudah lama sekali.
"Iya kamu yang membeli lukisan pertama gadis ini" ucap kakek tua itu dengan mata yang memandang Ervan dengan lekat. Hingga membuat Erika juga langsung menoleh kearah Ervan.
"Lukisan bunga layu. Yah, saya masih mengingatnya" ucap kakek tua itu.
Astaga ...
Ervan jadi tidak tahu harus berkata apa pada Erika.
__ADS_1