
Maira membawa Ervan ketaman belakang kampus dimana disana sudah sepi dan tidak ada orang karena jam kuliah sudah dimulai.
Ervan memandang Maira dengan bingung, apalagi melihat wajah Maira yang kelihatan tidak bahagia dengan kejutan yang dia berikan hari ini. Bahkan Maira terlihat begitu sedih. Ada apa sebenarnya dengan Maira.
"Maira, ada apa?" tanya Ervan begitu bingung.
Maira memandang Ervan dengan sendu. Dia tidak bisa begini terus. Ervan harus tahu yang sesungguhnya terjadi. Maira tahu Ervan pasti kecewa, tapi membiarkan Ervan terus mencintainya, Maira juga tidak bisa. Ervan pasti akan bertambah sakit nantinya.
Maira memang tidak bisa untuk memilih siapa diantara mereka saat ini. Dokter Danar atau Ervan. Tapi setidaknya, hari ini Ervan harus tahu jika dia sudah menikah dan mengkhianati cinta mereka. Mungkin dengan berkata jujur Maira akan bisa tenang dan tidak lagi terbebani sendirian. Mungkin Ervan akan membencinya atau bahkan menjauhi nya. Maira sudah siap, dari pada harus menyakiti dua orang sekaligus. Dan hati Maira juga tidak sanggup memendam ini lebih lama.
"Maira" panggil Ervan lagi.
Tangan Maira menggenggam erat buket bunga yang diberikan oleh Ervan. Bibirnya bergetar menahan tangis, kenapa dia tidak sanggup untuk mengatakan nya. Ya Allah, tolong.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa kamu seperti ini" tanya Ervan lagi.
Maira memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam dalam.
"Van.. Sebenarnya aku...."
"Ervan!!!" teriak seseorang dari kejauhan membuat perkataan Maira langsung terhenti.
Mata Maira melebar sempurna melihat siapa yang datang, begitu pula dengan Ervan.
"Erika" gumam mereka berdua.
Kenapa Erika ada disini????
Erika langsung berlari mendekat kearah Ervan dengan wajah yang dipenuhi oleh kebencian. Dia memandang Maira dengan begitu tajam.
"Erika, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Ervan begitu heran.
"Aku gak akan ngebiarin kalian bahagia sendiri." jawab Erika begitu ketus.
Maira mengernyit memandang Erika. Bekas cakaran diwajahnya bahkan masih terlihat. Padahal sudah beberapa hari berlalu.
"Dan elo. Elo masih beruntung karena Lo pinter ngerayu bos besar disini kan. Dasar ******. Gara gara Lo gue kena sanksi" umpat Erika begitu kesal.
"Enak banget Lo ngatai gue ******. Lo gak puas juga gue bikin remuk ha" Maira benar benar tidak terima mendengar itu.
__ADS_1
"Stop. Rik, bukan nya kamu dirumah kan" tanya Ervan.
Erika mendengus sinis mendengar itu.
"Aku memang dirumah kan, tapi bukan berarti aku gak bisa Dateng kekampus ini kan. Van kamu gak dengerin kata kata aku, padahal kamu udah janji sama mama kamu untuk gak deketin Maira lagi" ucap Erika ada Ervan.
Ervan nampak kelabakan mendengar itu. Sedangkan Maira memandang nya dengan lekat.
"Kamu kayak nya memang tega deh kalau Maira yang dikasih pelajaran karena udah bikin kamu lalai selama ini" kata Erika lagi.
"Apa maksudnya Van?" tanya Maira.
"Enggak bukan gitu Mai,.Rik tolong deh jangan ikut campur sama hubungan aku dan Maira" seru Ervan pada Erika.
Namun Erika tampak tersenyum sinis memandang Maira.
"Gak ikut campur gimana. Aku udah ditugasin sama orang tua kamu buat jauhin kamu sama Maira. Hubungan kalian tuh cuma buat kamu jadi orang yang gak baik. Lihat aja nilai kamu merosot karena sering bolos. Kamu juga sering ngebohongi orang tua kamu kan. Maira itu membawa pengaruh buruk buat kamu. Masak kamu gak sadar juga. Gadis kampung kayak dia ini mana bisa bikin orang jadi lebih baik" ungkap Erika begitu meremeh.
Maira langsung meremas bunga yang ada ditangan nya dengan kuat. Dia memandang Ervan yang hanya diam dan tertunduk. Maira tersenyum miris dan menggeleng pelan. Lihatkan, bahkan sedikitpun dia tidak bisa membela Maira didepan wanita ular ini, apalagi didepan orang tua nya. Padahal mereka nakal karena kemauan masing masing, namun sekarang, Ervan seolah membenarkan perkataan Erika. Cinta seperti apa yang dimaksud jika seperti ini.? Dia memang bisa membahagiakan, tapi dia tidak bisa membuat Maira tenang.
"Van.." panggil Maira seraya menahan Isak tangis nya.
Ervan mendongak dan memandang Maira dengan lekat.
"Heh, jelas aja Ervan gak berani nolak. Dia udah kemakan rayuan manis Lo itu. Liat aja entar apa yang dilakuin orang tua Ervan kalau Lo masih keras kepala juga" sahut Erika, namun Maira sama sekali tidak memperdulikan nya. Dia hanya memandang Ervan dengan lekat.
"Apa aku seburuk itu Van?" tanya Maira begitu lirih.
"Maira,.aku cinta kamu maka dari itu aku..."
"Stop" ucap Maira yang kembali tersenyum miris.
"Hubungan kita memang udah gak baik baik aja Van" ucap Maira
"Maira, kamu bisa tunjukkan ke orang tua aku kalau kamu bisa berubah jadi lebih baik. Kamu bilang kamu mau berjuang bareng aku" kata Ervan lagi. Namun Maira menggeleng dengan cepat seraya menghapus air matanya. Dia benar benar kecewa dengan Ervan.
"Aku mau berjuang gimana lagi Van kalau mereka udah anggep aku sampah yang buat anak nya jadi tercemar. Aku gak bisa lagi Van. Bener kata Erika, hubungan kita memang udah gak sehat" kata Maira seraya menahan Isak tangis nya.
"Maira jangan gitu" Ervan ingin meraih tangan Maira namun Maira langsung menghindar.
__ADS_1
"Aku udah capek, aku nyerah." ucap Maira
"Maira, kamu gak bisa nyerah gitu aja. Kamu bahkan belum ketemu sama orang tua aku. Apa kamu gak berani dan gak serius sama aku?" tanya Ervan mulai menaikkan nada suara nya.
"Kamu yang gak berani Van. Kamu yang gak mau bawa aku kerumah kamu kan. Sekarang aja didepan Erika kamu gak bisa bela aku, gimana didepan orang tua kamu nanti. Apa kamu mau belain aku??" tanya Maira
"Kamu kan bisa membela diri kamu sendiri Maira. Buktiin sama mereka kalau kamu bisa" seru Ervan pula.
Maira memandang kesal pada Ervan. Ya, ini adalah jawaban dari doanya malam tadi. Jika dia akan memutuskan untuk tidak lagi memilih Ervan.
Maira tersenyum dan mengangguk, namun air matanya terus mengalir diwajah cantik nya.
Erika langsung tersenyum licik melihat pertengkaran ini. Seru sekali.
"Aku gak sanggup Van. Aku memang gak pantes buat kamu. Kamu minta aku bela diri sendiri, kamu minta aku berjuang sendiri. Gak Van" ucap Maira seraya menggeleng pelan
"Gak semudah itu. Aku memang cinta sama kamu. Tapi sekarang aku baru sadar kalau cinta kamu hanya cinta yang egois. Kamu cuma mau senang senang nya sama aku. Tapi disaat orang orang mulai menyalahkan hubungan ini, kamu malah minta aku untuk yang bertanggung jawab" ungkap Maira begitu pedih.
"Maira, kenapa kamu mikirnya begitu sih" kata Ervan begitu frustasi. Bahkan dia mengacak rambutnya dengan kasar.
Maira langsung meletakkan bunga yang diberi Ervan diatas kursi. Dan kembali memandang Ervan seraya mengusap kasar wajahnya yang basah.
"Hubungan kita sampai sebatas ini Van. Aku nyerah. Dan aku milih untuk melepaskan kamu. Kamu bebas milih hidup kamu setelah ini" ucap Maira. Dia ingin membalikan badan nya namun Ervan menarik kembali lengan nya.
"Maira, kamu gak bisa mutusin aku gitu aja. Aku udah nunggu kamu selama sebulan kamu ngilang" ucap Ervan.
"Maaf, tapi aku udah gak bisa lagi. Kamu berhak dapetin gadis yang lebih baik dari aku. Hubungan kita gak akan sehat kalau kita terus sama sama" ucap Maira.
"Biarin aku pergi. Kita perbaiki diri kita masing masing Van" ucap Maira memandang Ervan sejenak dan setelah itu dia langsung melepaskan tangan Ervan dan berlalu pergi meninggalkan lelaki itu yang nampak begitu frustasi.
"Maira" panggil Ervan
"Van,.sadar Van. Kalau kalian terus sama sama mau sampai kapan kalian ditentang terus. Lihat Maira yang gak mau berjuang. Kamu juga yang bakalan susah nantinya" ucap Erika seraya menahan tangan Ervan.
Maira berjalan menjauh seraya mengusap air matanya. Lihatlah bahkan Ervan saja memilih membiarkan dia untuk pergi.
Ya, cinta mereka hanya cukup sampai disini. Hubungan mereka memang tidak akan pernah bisa bersama. Hanya sebatas teman biasa, bukan teman hidup.
Semoga mereka bisa bahagia tanpa bersama lagi.
__ADS_1
Dokter Danar benar. Jika Maira memasrahkan segala nya pada Allah. Maka dia akan mendapatkan jawaban yang sesungguh nya.
Dan inilah jawaban yang dia terima. Meski menyakitkan, mungkin ini yang terbaik.