Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Lukisan Wajah Ervan


__ADS_3

Ervan memandang lekat wajah pucat Erika yang masih tertidur dengan lelap. Wajahnya pucat, bahkan terlihat lelah dan layu. Sudah hampir dua puluh menit Erika tertidur dan masih dengan memeluk lengan Ervan.


Karena sudah merasa pegal dan kesemutan. Ervan menarik perlahan lengan nya dan menopang kepala Erika dengan bantal yang baru saja diambil oleh Ayu.


Dengan perlahan lahan hingga akhirnya lengan itu bisa terlepas. Sepertinya Erika begitu kelelahan hingga dia tertidur begitu pulas. Atau dia malah pingsan???


Entah lah ..


Semoga saja Erika baik baik saja.


Ervan langsung mundur menjauh dan merenggangkan sedikit lengan nya. Dia menoleh pada Akbar dan Ayu yang sejak tadi hanya diam namun terlihat sedih.


"Sudah gak apa apa. Kak Erika pasti baik baik aja" ucap Ervan seraya mengusap kepala Ayu dengan lembut.


"Tapi Ayu takut kak Erika kenapa kenapa kak" ungkap Ayu dengan mata yang berkaca kaca.


"Enggak. Kak Erika pasti sembuh. Jangan khawatir" ucap Ervan.


"Dia udah sering sakit begini?" tanya Ervan pada Akbar dan Ayu.


Akbar mengangguk pelan seraya memandang Erika sejenak dan kembali menoleh pada Ervan.


"Sering, bahkan kak Erika juga jarang bisa tidur kalau malam" jawab Akbar dengan wajah sendu nya.


"Dia gak pernah periksa ke dokter?" tanya Ervan lagi. Sepertinya bertanya dengan Akbar bisa sedikit mendapatkan informasi.


"Pernah kak, tapi udah lama. Dia cuma beli obat aja. Mungkin hari ini kak Erika lupa minum obat, maka nya pinggang nya sakit lagi" jawab Akbar. Dia berbicara cukup pelan, takut takut Erika akan terbangun dengan suara mereka.


Ervan menghela nafas pelan dan mengangguk. Dia memandang Erika dengan iba. Rasanya benar benar tidak tega melihat Erika yang seperti ini.


"Kalian pernah dengar gak kak Erika ngomong sesuatu tentang orang tuanya?" tanya Ervan sedikit berbisik.


Akbar mengangguk pelan.


"Dulu waktu kami tanya tentang orang tua kak Erika, dia cuma bilang kalau orang tuanya masih ada. Tapi dia sama kayak kami sendirian, makanya kami di ajak tinggal disini" ungkap Akbar


Ervan langsung tertegun mendengar itu.


Orang tua Erika memang benar benar keterlaluan. Bisa bisanya mereka membuang anak sendiri seperti ini. Padahal Erika pasti benar benar ketakutan sekarang.


"Kalian sayang sama kak Erika?" tanya Ervan.


Akbar dan Ayu langsung mengangguk cepat.


"Sayang kak. Kak Erika udah kayak kakak kami sendiri. Dia baik banget sama kami. Disaat orang orang cuma anggap kami sampah jalanan, tapi dia mau ajak kami tinggal disini. Sekolahin Akbar, ngasih makanan yang enak, juga pakaian yang bagus. Akbar takut kak Erika kenapa kenapa" ungkap Akbar dengan mata yang berair.


Ervan tersenyum dan mengusap kepala anak lelaki itu. Dia benar benar terharu mendengar kisah anak kecil ini. Erika memang baik, mungkin karena didikan orang tuanya membuat dia jadi salah jalan dan melakukan hal hal yang sangat merugikan orang dulunya. Tapi sekarang, dia sudah membalas nya dengan hal yang jauh lebih baik lagi.


"Kak Erika pasti baik baik aja. Tapi nanti, kalian bantu kakak untuk dekat sama kak Erika ya. Supaya kita bisa bujuk dia untuk berobat kerumah sakit" ujar Ervan.


Akbar dan Ayu langsung mengangguk cepat.


"Iya kak" jawab Akbar.


"Tapi kak Erika pasti sembuh kan kak?" tanya Ayu lagi.


Ervan tersenyum dan mengangguk


"Dia pasti sembuh" jawab Ervan seraya memandang Erika dengan sendu.


Ya, dia harus sembuh. Karena jika tidak, bagaimana nasib kedua anak ini. Mereka pasti begitu bersedih.


"Sudah... sekarang kita makan dulu ya. Biarin kak Erika istirahat dulu. Tadi kakak ada beli nasi goreng untuk kalian" ucap Ervan seraya menoleh kearah motornya.


"Udah Akbar ambil kak. Itu dia" tunjuk Akbar pada meja kecil dibelakang Ervan.


Ervan tersenyum dan langsung mengambil nya. Dia mengeluarkan beberapa kotak nasi goreng itu untuk mereka makan. Nasi goreng yang sudah dingin dan pasti sudah kurang enak lagi. Tapi Akbar dan Ayu selalu senang menerima itu. Dan itulah yang membuat Ervan senang melihat kedua anak anak ini.


"Ayo makan, jangan lupa berdoa dulu" ujar Ervan.

__ADS_1


Akbar dan Ayu langsung mengangguk patuh dan berdoa terlebih dahulu.


Mereka langsung makan dalam diam , sembari sesekali memandang Erika yang masih terlihat terlelap dalam tidurnya. Wajah tenang nya itu membuat hati Ervan tersentuh. Entah kenapa, padahal dulu dia begitu kesal melihat Erika. Tapi sekarang.... rasanya benar benar berbeda.


"Kakak gak makan?" tanya Akbar pada Ervan yang masih memandangi Erika.


Ervan tersenyum dan menggeleng.


"Kakak masih kenyang. Kakak makan nanti nunggu kak Erika bangun. Kalian makan aja biar kenyang." jawab Ervan.


Dan lagi lagi kedua anak itu langsung mengangguk cepat dan kembali menikmati makanan mereka meski sesekali masih memperhatikan Erika.


Ervan beranjak dan membenarkan selimut tipis yang menutupi separuh tubuh Erika. Sangat menyedihkan, bahkan untuk segala apapun yang digunakan Erika bisa membuat hati Ervan iba.


Ya Allah....


Entah seberapa besar beban yang ditanggung oleh gadis ini.


Ervan menghela nafasnya dan menoleh pada tumpukan kanvas yang ada diruangan itu. Ada beberapa, sepertinya Erika belum sempat membeli kanvas baru.


Namun ada satu yang membuat perhatian Ervan teralihkan, saat ditumpukan kanvas yang paling akhir seperti sebuah lukisan yang penuh.


Dia langsung beranjak dan berjalan mendekat kearah lukisan itu.


Meraihnya dengan pelan dari tumpukan kanvas diatasnya.


Namun matanya langsung melebar karena terkejut saat melihat ternyata itu adalah lukisan dirinya yang sedang tersenyum.


Ervan langsung mendengus senyum memandang lukisan itu. Dia menoleh kearah Erika sejenak dan kembali memandang lukisan dirinya.


Sangat epik dan bagus sekali.


Tapi yang membuat dia tersenyum bukan hanya mengagumi lukisan itu, melainkan juga berfikir kenapa Erika malah melukisnya???


Jika melihat tanggal yang ada di lukisan ini, ini adalah lukisan yang sudah lama. Mungkin sebelum mereka bertemu atau juga ketika Erika masih bekerja di cafe itu.


Meski Erika sudah berubah dan menjaga jarak dengan Ervan, tapi ternyata.... hatinya masih sama seperti dulu.


Ervan tersenyum dan meletakkan lukisan itu diatas meja. Dari pada disembunyikan lebih baik dipajang kan. Atau Ervan bisa membawa nya pulang nanti untuk kenang kenangan.


Ervan tertegun,


kenang kenangan???


Dia menoleh kembali kearah Erika.


Erika.... ya gadis menyebalkan yang selalu merusak hubungan nya dengan Maira. Tapi hatinya memang benar benar menyukai Ervan.


Dan entah kenapa, bukan nya marah, Ervan malah merasa senang saat melihat lukisan nya.


Ada ada saja...


Ervan kembali duduk disamping Erika. Sementara Akbar dan Ayu sudah selesai makan dan kini sedang membereskan sisa makanan mereka.


Namun saat Ervan akan mengeluarkan ponselnya, dia terkesiap saat melihat Erika yang mulai menggeliat dan terbangun.


Kenapa cepat sekali?


"Ervan..." gumam Erika dengan suara nya yang terdengar begitu serak dan pandangan matanya yang sayu. Dia terlihat terkejut melihat Ervan yang ada didepan nya.


"Kenapa sudah bangun?" tanya Ervan seraya menyimpan kembali ponsel nya.


Erika beranjak dengan sedikit ringisan diwajahnya, membuat Ervan langsung dengan reflek malah membantu Erika dan memegang lengan nya.


"Ah... maaf" ucap Ervan saat melihat Erika yang terkejut.


"Masih sakit? jika masih sakit aku akan membawamu kerumah sakit" ujar Ervan. Namun Erika malah menggeleng dan membenarkan hijabnya berantakan.


"Tidak.. terimakasih. Sudah tidak sakit lagi" jawab Erika.

__ADS_1


"Benar?" tanya Ervan.


Erika tersenyum dan mengangguk pelan. Namun tiba tiba dia mematung saat matanya tidak sengaja malah melihat lukisan yang dia buat ada diatas meja.


Kenapa bisa ada disana?


Bukankah lukisan itu sudah dia simpan?


Erika langsung memandang Ervan dengan pandangan getir dan canggung nya. Namun Ervan malah memasang wajah cool nya seperti biasa.


"Ternyata wajahku cukup tampan hingga kamu melukisnya disana" ucap Ervan dengan senyum tipis nya.


Erika langsung tersenyum getir dan mengusap wajahnya sekilas.


"Maaf... aku..."


Ah Ya Allah... Erika bahkan sampai tidak bisa berkata-kata lagi sekarang.


Apa yang ada difikiran Ervan sekarang? apa dia akan marah, atau menjauhi nya lagi?


"Kamu tahu berapa harga mahal yang harus kamu bayar karena sudah berani melukis wajahku?" tanya Ervan.


Erika langsung tertunduk takut.


"Maaf Van" lirih nya.


"Sebagai bayaran nya aku akan membawa pergi lukisan ini. Kamu tidak bisa menyimpan wajahku terlalu lama disini" ucap Ervan.


Erika langsung memandang nya dengan sendu.


"Apa kamu akan membuang nya?" tanya Erika. Padahal tadi rasanya dia bermimpi jika Ervan berjanji akan selalu ada bersama nya, tapi kenapa sekarang, rasanya terhempas lagi. Erika takut Ervan akan marah.


"Terserah aku akan ku apakan lukisan ini. Kamu tidak meminta izinku sebelum melukis visualku" jawab Ervan.


"Lukisan itu sudah lama. Dan waktu itu, aku bahkan berfikir jika aku tidak akan bertemu lagi dengan kamu" ungkap Erika.


Ervan langsung terdiam.


"Jangan dibuang, maaf jika aku sudah lancang. Hanya saja.... disaat itu yang aku fikirkan hanya tentang kamu. Maksud ku aku mengingat kesalahan yang pernah aku perbuat padamu" ucap Erika.


Ervan mendengus senyum sinis.


"Jadi kamu mau tetap menyimpan lukisan ini?" tanya Ervan.


"Jika kamu mengizinkan nya" jawab Erika.


"Tapi kamu harus membayar nya dengan harga mahal" sahut Ervan.


Erika langsung memandang Ervan dengan heran.


"Bayar, tapi aku mana punya uang banyak" ucap Erika.


"Mana aku perduli. Kamu mau menyimpan nya atau aku buang?" tanya Ervan.


Erika nampak menenggak ludah nya dan menghela nafas berat.


"Jika kamu masih mau menyimpan lukisan ini dan tidak punya uang banyak untuk membayarnya, maka kamu harus mengikuti semua perintah ku selama satu bulan ini" ucap Ervan.


Erika tertegun...


Mengikuti perintah Ervan?


Selama sebulan?


Kenapa terdengar aneh.


"Mau tidak?" tanya Ervan.


Dan karena Erika merasa sayang dengan lukisan itu, akhirnya dia hanya bisa mengangguk pasrah. Ervan tidak akan meminta sesuatu yang aneh aneh kan?

__ADS_1


__ADS_2