Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kita Teman


__ADS_3

Hari masih gerimis, bahkan langit masih begitu gelap seolah mengiringi langkah kaki Erika yang mengantarkan kepergian orang tuanya menuju tempat peristirahatan terakhir mereka.


Hancur lebur tidak menentu. Ujian demi ujian yang dirasakan oleh Erika benar benar membuatnya lemah dan tidak berdaya.


Rasa ingin bahagia dan berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya kini sudah pupus dan sirna.


Harapan untuk berlindung dengan orang tuanya karena rasa sakit yang dia derita juga sudah musnah.


Kini... Erika hanya bisa memandang pedih orang tua nya yang mulai ditimbun oleh tanah. Pergi mendahului nya bertemu dengan sang pencipta.


Padahal Erika berfikir jika umurnya lah yang sudah tidak lama lagi, namun kenyataan nya, takdir berkata lain.


Air mata dan hujan gerimis yang turun bercampur menjadi satu dengan tetes air mata yang sejak tadi tidak berhenti mengalir.


Erika ikhlas ..


Tapi tetap saja rasa nya sakit.


"Sabar.. yang kuat ya" bisik Nindi yang sedari tadi terus berada disamping Erika. Bahkan gadis itu kini merangkul lengan Erika dengan erat. Takut takut Erika terjatuh dan tidak bisa berdiri terlalu lama.


Erika menghela nafas dan mengangguk pelan. Berulang kali dia mengusap wajahnya yang basah.


Prosesi pemakaman itu berlangsung lumayan lama karena hujan yang terus mengguyur.


Ervan dan dokter Danar berdiri beriringan memandangi proses pemakaman tuan Jonas. Wajah mereka juga memendam kesedihan yang mendalam. Walau bagaimanapun tuan Jonas cukup dekat dengan mereka meski dengan segenap permasalahan yang ada.


Orang tua Ervan juga ada disana, mereka mengantarkan kepergian mantan calon besan mereka.


Lantunan doa dipanjatkan oleh salah seorang pemuka agama yang hadir. Membuat suasana semakin terasa berkabung.


Rintik gerimis yang dingin seolah tidak membuat mereka terganggu. Hingga proses pemakaman selesai, barulah para pelayat yang hadir langsung membubarkan diri mereka.


Dan kini, tinggalah Erika bersama dengan Nindi, Ervan dan juga dokter Danar. Maira tidak pergi, karena hari gerimis dan juga karena kehamilan nya yang cukup besar. Bahkan untuk melayat pun tidak, karena ibu dokter Danar melarang nya.


Erika berlutut dihadapan makam ayah nya, mengusap makam itu dengan pandangan mata yang getir.


"Harus ikhlas, jangan diratapi supaya mereka tenang disana. Maafkan segala hal yang pernah mengusik hati kamu. Panjatkan doa agar semua baik baik saja" ujar dokter Danar pada Erika.


"Iya dokter" jawab Erika dengan nada yang terdengar bergetar.


"Saya pamit duluan ya. Maira memohon maaf karena tidak bisa hadir" ucap dokter Danar lagi.


Erika tersenyum tipis dan mengangguk.


"Saya mengerti" ucap nya.


"Ervan, Nindi. Saya pulang duluan. Assalamualaikum" pamit dokter Danar.


"Iya dokter. Waalaikumsalam" jawab mereka.


Nindi memandang kepergian dokter Danar dan kembali menoleh pada Erika yang masih menunduk memandang makam orang tuanya.


"Kita pulang?" ajak Nindi.


"Kita lanjut doa dari rumah ya" ajak Nindi lagi seraya mengusap bahu Erika dengan lembut.


Erika menghela nafasnya dengan berat dan langsung mengangguk pelan.


Dia beranjak perlahan dan dibantu oleh Nindi. Sedangkan Ervan memandang nya dengan pandangan sedih.


Akhirnya mereka juga pergi meninggalkan makam itu. Erika memandang sekali lagi makam orang tuanya. Dan langsung memalingkan wajahnya yang terlihat menyedihkan. Pucat dan sembab karena terus menangis.


Yah, bagaimana tidak menangis, bukan hanya kepergian orang tuanya yang Erika tangisi, melainkan juga kepergian mereka yang meninggalkan luka yang begitu besar.


Kenyataan menyakitkan yang bahkan sampai saat ini masih menjadi rahasia yang membuat hati Erika tidak menentu.


Jika dia bukan anak ibunya, lantas dia anak siapa? Kenapa baru sekarang ayahnya mengatakan hal menyakitkan itu. Kenapa tidak sejak dulu???


"Uuhhhg" Erika langsung melenguh dan hampir oleng saat tiba tiba pinggang nya sakit lagi. Membuat Nindi yang sejak tadi merangkul lengan nya nampak terkesiap dan juga hampir oleng karena menahan tubuh Erika yang lebih tinggi dari dia.


"Erika" ucap Ervan yang dengan sigap menahan tubuh Erika.


"Sakit lagi?" tanya Ervan.


Erika mengangguk, namun beberapa detik kemudian dia kembali terkulai lemah dan tidak sadarkan diri. Membuat Ervan dan Nindi panik.


"Ya Allah Erika" gumam Nindi.


Ervan langsung mengangkat tubuh Erika kedalam gendongan nya. Tubuh Erika begitu lemah, bahkan wajah nya yang sangat pucat membuat Ervan khawatir.


"Kita bawa kerumah sakit Nin" ajak Ervan yang berjalan cepat menuju mobilnya.


Nindi mengangguk dan langsung berlari membukakan pintu mobil untuk Ervan.


Mereka langsung membawa Erika kerumah sakit. Sepertinya Erika memang tidak bisa lagi berlama lama berdiri dan kelelahan. Apalagi dengan tekanan yang seperti ini.


Bahkan ketika dirumah sakit, Erika langsung mendapatkan penanganan yang cukup serius, karena tiba tiba kondisinya yang melemah.


Dan dengan setia, Nindi dan Ervan selalu berada disamping Erika hari itu. Bahkan hingga malam hari ini.

__ADS_1


"Nin... kamu gak kemana mana lagi?" tanya Ervan pada Nindi. Saat ini mereka duduk disofa yang ada diruang perawatan Erika.


"Enggak Van, aku udah bilang mama bakalan nginap disini kok" jawab Nindi.


"Kalau gitu aku pergi sebentar ya. Mau lihat Akbar sama Ayu. Mereka pasti khawatir cari Erika dari semalam" ujar Ervan.


"Oh yaudah, tapi nanti kalau kemari bawa makanan ya. Aku suka ngemil soalnya" pinta Nindi dengan tawa kecilnya.


"Oke aman" jawab Ervan.


Nindi tersenyum seraya memandang kepergian Ervan. Dan setelah Ervan pergi, dia langsung membaringkan tubuhnya diatas sofa.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika Nindi akan sebaik ini pada orang yang pernah menjadi musuh bebuyutan mereka. Dan sekarang, malah menjadi dekat. Lucu sekali.


Tapi ya mau bagaimana lagi, dia juga tidak tega melihat Erika yang seperti ini. Mau bagaimana pun Nindi bersyukur, jika bukan karena Erika yang membuat nya masuk rumah sakit dan hilang ingatan hari itu, mungkin sampai sekarang Nindi tidak akan pernah mendengar Brian yang mengungkapkan isi hatinya kan.


Ya... jika kejadian itu tidak pernah ada, mungkin perasaan mereka akan menjadi perasaan yang akan terus terpendam sampai waktu yang tak bisa dijelaskan.


Mengingat tentang Brian....


Apa kabar nya dia sekarang ya...


Baru setengah tahun....


Dan masih ada waktu satu setengah tahun lagi...


Masih sangat lama dan begitu panjang.


Masihkah perasaan nya sama? Masih kah dia Brian yang dulu jika kembali nanti???


Entahlah...


Hanya Allah yang tahu....


...


Keesokan paginya....


Erika sudah duduk dan bersandar ditempat tidur. Wajahnya masih pucat dan sayu. Selang infus sudah tertanam dipunggung tangan nya hingga dia tidak bisa kemana mana lagi sekarang.


Nindi sedang menyuapkan dia makan, namun hanya beberapa sendok dan Erika sudah tidak mau lagi.


"Dikit banget Er" ucap Nindi.


"Perut ku mual Nin" jawab Erika.


Erika langsung mendengus mendengar itu.


"Hamil sama siapa?" tanya Ervan pula yang langsung mendekat kearah mereka, membuat Erika semakin kesal.


"Kalian kenapa sih, hamil dari mana coba." gerutu Erika. Membuat Ervan dan Nindi langsung tertawa melihat wajah kesal itu.


"Bercanda doang. Lagian Ervan juga gak mungkin berbuat dulu sebelum nikah. Ya kan" goda Nindi pada Ervan.


"Lah kenapa aku?" tanya Ervan seraya meraih buah apel diatas meja dan melahap nya dengan cepat.


"Jadi siapa lagi, yang dekat sama Erika cuma kamu doang" sahut Nindi dengan tawa kecil nya.


"Sembarangan" dengus Ervan.


Erika hanya menggeleng pelan dan memandang tangan nya.


"Kenapa aku di infus. Aku kan mau pulang" tanya Erika seraya memandang Ervan dan Erika bergantian.


"Kondisi kamu lemah banget semalam, jadi mau gak mau kamu harus di infus. Dokter Danar juga nganjurin begitu" jawab Ervan.


"Tapi kan aku mau ikut ngirim doa dirumah" ucap Erika dengan sendu.


"Rik... disini juga bisa. Malam tadi aku sama Ervan juga udah kirim doa buat orang tua kamu. Gak perlu dirumah. Disini bisa. Lagian kamu juga harus dirawat sekarang " ujar Nindi.


Erika memandang Nindi dan Ervan bergantian.


"Kalian udah tahu penyakit ku?" tanya Erika.


Nindi dan Ervan tersenyum dan mengangguk.


"Kita teman, gak ada yang perlu disembunyikan lagi Rik" ujar Nindi.


Erika langsung tertunduk sendu.


"Bukankah kita bukan orang lain. Jadi gak perlu sungkan lagi" ucap Ervan pula.


"Tapi aku benar benar gak enak merepotkan kalian. Lagian gimana dengan ..... biaya disini. Aku mana punya uang sebanyak itu" ungkap Erika begitu lirih dan malu.


Sudah cukup kelakuan nya yang keterlaluan dulu, dan kenapa sekarang mereka malah begitu baik padanya. Sungguh, Erika benar benar malu.


"Kamu tenang aja. Dokter Danar gak minta bayaran apapun. Kita cuma perlu cari donor ginjal buat kamu. Lagipula tentang prosedur cuci darah sebelum kamu mendapatkan ginjal itu juga gak terlalu mahal." ungkap Ervan.


Namun Erika tetap tidak enak..

__ADS_1


"Sekarang kamu fokus sama kesembuhan kamu ya. Jangan mikirin apapun. Akbar sama Ayu udah nunggu kamu dirumah" tambah Nindi.


Erika langsung menoleh pada Ervan. Kenapa dia tidak ingat dengan kedua anak itu. Mereka pasti mencari Erika sekarang.


"Malam tadi aku udah kerumah, aku juga udah ngirim orang untuk jagain dan ngurus mereka selama kamu gak ada. Kamu tenang aja" ucap Ervan.


"Beneran" tanya Erika.


Ervan mengangguk.


"Tuh, aku juga udah minta Ayu buat nyiapin pakaian kamu" ucap Ervan seraya menunjuk tas kecil diatas sofa.


Erika menghela nafas dan mengangguk pelan. Sepertinya dia memang sudah tidak bisa mengelak lagi.


Dan mau tidak mau harus berada dirumah sakit dalam waktu yang lama.


Hingga tiba tiba perhatian mereka teralihkan kearah pintu yang diketuk. Dan ternyata dokter Danar yang masuk bersama dengan Maira.


"Assalamualaikum" sapa mereka


"Waalaikumsalam" jawab Ervan dan Nindi. Sementara Erika hanya terdengar bergumam saja.


"Erika... aku turut berduka ya. Maaf gak bisa datang semalam." ucap Maira yang langsung berjalan mendekat kearah Erika.


Erika tersenyum dan menggeleng.


"Enggak apa apa Mai. Kamu memang gak boleh pergi pergi kan" ucap Erika.


Maira tersenyum getir dan mengangguk. Dia sedikit bergeser dan membiarkan suaminya memeriksa Erika.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Maira lagi seraya memperhatikan dokter Danar yang sedang memeriksa tekanan darah Erika.


"Baik baik aja Mai" jawab Erika.


"Baik baik aja gimana, wajah kamu pucat begitu. Bahkan semalam pingsan lagi Mai" adu Nindi


Erika langsung tersenyum getir dan memejamkan matanya sekilas saat jarum suntik itu menembus lengan nya.


"Gimana mas?" tanya Maira.


"Siang nanti mulai cuci darah. Mas udah siapin semua nya. Dan masalah ginjal masih dicari, semoga cepat ketemu" jawab dokter Danar.


"Saya juga udah bantu dokter. Dan kata teman papa ada yang mau donorin ginjal nya. Cuma ya itu, belum pasti" sahut Ervan.


Mata Erika berkaca kaca mendengar itu.


"Lagi lagi aku ngerepotin kalian" gumam Erika.


"Hei... jangan begitu. Kita kan teman" ucap Maira.


"Tahu nih, dibilangin jangan mikir yang aneh aneh kok" sahut Nindi pula.


Namun Erika malah menangis. Hatinya sedang sensitif sekali sekarang. Dia benar benar malu dan tidak enak. Dia tidak ingin seperti ini. Meski Erika senang mereka perhatian, tapi jika boleh memilih, Erika lebih memilih untuk tidak ditolong seperti ini. Erika malu, dia ingat bagaimana masa lalu mereka, tapi kenapa sekarang mereka malah membalasnya dengan kebaikan begini. Sungguh, Erika lebih memilih dibenci dari pada diperlakukan baik oleh mereka.


Malu... malu sekali rasanya.


"Hei ... kenapa menangis?" tanya Maira


Erika menggeleng dan mengusap air matanya.


"Erika..." panggil Maira lagi.


"Kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini. Aku udah jahat sama kalian, tapi kalian malah begitu baik. Tolong jangan begini, aku ... aku benar benar ngerasa bersalah... huuu" Erika langsung menangkup wajahnya dan menangis kuat disana.


Dokter Danar menghela nafas dan langsung mundur kebelakang. Membiarkan Nindi yang mendekat dan langsung duduk disamping Erika. Dia merangkul bahu Erika dan mengusap nya dengan lembut. Membuat Erika semakin menangis dalam dekapan nya.


"Jangan begitu. Yang sudah sudah jangan lagi di ingat. Kalau gak begitu kita gak akan bisa seperti ini. Kamu belum tentu berubah, Ervan juga belum tentu seperti sekarang, dan kita gak akan bisa dekat seperti ini" ucap Nindi.


Erika masih menangis terisak dengan begitu sedih.


"Erika... semua sudah berlalu dan jadikan sebagai pelajaran. Jangan lagi disesali. Semua bisa membuat kamu menjadi lebih baik" ucap dokter Danar pula.


"Kita teman sekarang. Jangan ngerasa bersalah lagi" ucap Maira pula. Dia mengusap lengan Erika dengan lembut.


Sedangkan Ervan memandang Erika dengan pandangan sedihnya. Dia jadi ingat bagaimana pertemuan terakhir mereka saat Ervan memutuskan pertunangan itu. Berkata jika dia begitu membenci Erika. Bahkan tidak ingin lagi menemui nya.


Dan sekarang, rasanya Ervan benar benar menyesali perkataan nya waktu itu.


Apalagi ketika melihat Erika yang sekarang. Erika yang hidupnya dipenuhi oleh kemalangan.


"Jangan banyak memikirkan hal hal yang membuat batin kamu sakit Erika. Banyak banyak beristighfar dan mengingat Allah. Insha Allah hati kamu akan tenang" ujar dokter Danar.


Erika melepaskan pelukan nya dari Nindi dan langsung mengusap wajah nya yang basah dan pucat.


"Mulai sekarang, anggap kami teman kamu. Bukan orang lain. Oke" ucap Nindi.


Erika tersenyum dengan bibir yang bergetar menahan tangis.


"Terimakasih... terimakasih banyak. Aku gak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian" ucap Erika dengan perasaan yang tidak menentu.

__ADS_1


__ADS_2