Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Jalan Jalan


__ADS_3

Siang ini Erika bersama dengan Akbar dan Ayu sudah berada ditaman kota. Dimana disana juga ada beberapa tempat yang disediakan untuk sebuah pameran. Seperti bazar perhiasan, makanan dan juga kesenian.


Erika berniat untuk menjual lukisan yang telah dia selesaikan selama dua Minggu ini. Siapa tahu laku dijual, sepaling tidak bisa untuk menambah penghasilan nya dan membeli pakaian yang layak untuk Akbar dan Ayu. Erika juga berniat untuk membeli perlengkapan alat tulis untuk kedua anak anak ini.


Erika berjalan seraya menuntun tangan Ayu, sedangkan Akbar membawa lukisan itu.


Anak lelaki yang cukup tahu diri untuk bisa menjaga Erika dan adiknya.


Mereka berjalan seraya menyusuri taman itu. Dimana banyak penjual makanan yang ada disana. Meski siang itu cukup panas, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendapatkan hasil.


"Doain ya, semoga lukisan kita laku. Nanti kalau laku kita beli makanan apapun yang kamu mau" ucap Erika seraya mengusap kepala Ayu dengan gemas. Pandangan gadis kecil itu selalu tertuju pada jajanan lolipop yang ada disana. Tapi dia sama sekali tidak berani meminta.


"Iya kak. Pasti laku. Ayu pengen itu ya kak" pinta Ayu seraya menunjuk pedangan lolipop itu.


"Ayu" tegur Akbar.


Erika tersenyum dan mengangguk


"Iya, nanti kakak beliin. Tapi kalau sekarang uang kakak udah habis. Kita cari kakek yang mau beli lukisan ini dulu ya" ujar Erika.


"Okey" seru Ayu begitu girang. Bahkan dia berjalan dengan senyum yang tidak pernah pudar. Akbar hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan adiknya.


Hingga tidak lama berjalan, mereka bisa melihat jika ternyata kakek yang berjanji untuk membeli lukisan Erika itu memang sedang memajang lukisan lukisan nya.


"Assalamualaikum kakek" sapa Erika


Pria tua itu langsung menoleh pada Erika.


"Waalaikumsalam. Ada apa , mau beli atau mau jual?" tanya kakek tua itu.


"Saya mau jual kek. Bisa kan. kakek lihat dulu ya" ujar Erika. Dia meraih lukisan dari tangan Akbar dan langsung menyerahkan nya pada kakek tua itu.


Wajah kakek tua itu awalnya biasa saja, tapi saat kain yang menutup lukisan Erika dibuka, mata nya nampak berbinar dengan indah.


Dia nampak kagum melihat kedua lukisan ini.


"Gimana kek?" tanya Erika. Dia sudah cukup was was sekarang. Mudah mudahan lukisan nya laku. Dia tidak ingin mengecewakan kedua anak anak ini.


"Bagus, saya suka. Bos juga suka pasti. Apalagi yang ini, lukisan bunga ini penuh dengan makna. Kamu sendiri yang membuatnya?" tanya kakek itu. Erika tersenyum dan langsung mengangguk.


"Iya kek. Ini buatan saya" jawab Erika.

__ADS_1


Sekali lagi kakek tua itu memandang lukisan Erika. Matanya mengedar mengitari setiap ukiran indah bekas kuas Erika disana.


"Saya hargai lima juta untuk dua lukisan ini" ucap kakek tua itu.


Erika langsung terperangah mendengar itu.


"Lima juta kek?" tanya Erika. Wajah terkejutnya itu benar benar tidak bisa dia tutupi.


"Ya, kau mau atau tidak?" tanya kakek itu.


Erika langsung mengangguk dengan cepat.


"Mau kek, saya mau" jawab Erika. Dia benar benar senang, hasil kerja keras nya dihargai dengan jumlah yang cukup banyak. Ya meskipun dulu uang lima juta itu sudah selalu dia dapatkan. Tapi untuk sekarang, uang seribu rupiah pun rasanya sudah sangat berharga.


Ya, sesusah itu dia sekarang. Tapi Erika cukup bersyukur, karena sekarang dia bisa lebih menghargai sesuatu. Mendapatkan sesuatu dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Tanpa kata kata hinaan dan kata remeh yang keluar dari mulut orang tuanya.


Kakek tua itu langsung menyerahkan uang yang sudah dijanjikan pada Erika.


Dan tentu saja Erika menerima nya dengan hati yang begitu senang. Begitu pula dengan Akbar dan Ayu.


Kedua anak itu ikut bahagia melihat Erika yang bahagia.


"Terimakasih ya kek" ucap Erika.


"Iya kek, sekali lagi terimakasih kasih." jawab Erika.


Kakek itu hanya mengangguk dan tersenyum. Dia langsung memajang lukisan Erika diantara lukisan lukisan yang lain.


Sedangkan Erika pergi bersama Akbar dan Ayu dengan raut wajah bahagia mereka.


"Alhamdulillah... laku juga. Ini juga Rezky untuk kalian. Hari ini kita belanja ya" ajak Erika


"Yeay... lolipop" Ayu langsung berteriak dengan girang, hingga membuat Erika tertawa lucu memandang nya.


"Ayu... kamu kebiasaan" gerutu Akbar


"Enggak apa apa. Ayo kita belanja. Kamu mau makan apa ?" tanya Erika seraya mengusap kepala Akbar sejenak.


Akbar memandang seluruh penjual makanan yang ada disana. Dan matanya tertuju pada penjual martabak Bangka yang ada disekitar sana.


"Martabak?" tanya Erika

__ADS_1


Akbar tersenyum getir dan mengangguk.


"Oke ayok... nanti setelah ini kita belanja pakaian dan juga perlengkapan sekolah kamu ya" ujar Erika


"Sekolah?" tanya Akbar nampak terkejut


Erika tertawa dan mengangguk.


"Iya, kamu mau kan sekolah?" tanya Erika


"Tapi kak... sekolah kan mahal" ungkap Akbar terdengar begitu lirih.


Erika tersenyum dan merangkul pundak Akbar


"Kamu harus sekolah. Supaya jika kamu besar, kamu bisa jadi orang sukses dan bahagiain Ayu. Kamu mau kan merubah hidup kamu agar enggak hidup dijalanan terus" tanya Erika


Akbar mengangguk pelan.


"Kakak bakal cari uang yang banyak untuk kamu sekolah, Ayu kan masih lima tahun, jadi tahun depan dia baru sekolah. Nah sekarang, kamu dulu. Enggak apa apa terlambat, yang penting kamu sekolah dan pintar" ujar Erika lagi.


Akbar tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih kak. Akbar janji, Akbar bakal sekolah yang pinter dan bisa banggain kakak nanti" sahut Akbar dengan penuh keyakinan. Erika benar benar bahagia melihat nya.


Karena sungguh, di sisa kehidupan nya ini, Erika hanya ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang orang disekitarnya.


Terutama untuk Akbar dan Ayu. Anak anak yang menjadi penghibur hati Erika disaat seperti ini.


Dan siang itu, Erika membawa Akbar dan Ayu makan makanan yang ada ditaman bazar itu. Mereka makan dan minum sepuasnya. Bahkan Erika tidak lagi memperdulikan kesehatan nya saat ini. Kebahagiaan kedua anak itu sudah cukup untuknya.


Ayu begitu girang, apalagi ketika Erika membelikan nya sebuah boneka baru. Dia sampai terus memeluk boneka itu sepanjang jalan. Satu lolipop ditangan nya, dan itu sudah cukup untuk membuat nya bahagia.


Yah.... menjadi berkat untuk orang lain ternyata begitu indah, meski kini dia terbuang dan dibenci oleh semua orang.


Tapi setidaknya, dia masih bisa membuat senyum diwajah orang asing yang bahkan tidak ada hubungan dengan nya.


"Erika...."


suara seseorang membuat Erika yang sedang mengemasi makanan mereka langsung menoleh keasal suara.


Matanya mengerjap saat melihat Nindi dan Putri yang berdiri memandang nya dengan pandangan terkejut.

__ADS_1


"Kamu Erika kan?????" tanya Nindi seakan tidak percaya.


__ADS_2