Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Boleh Menghinaku, Tapi Jangan Sahabat ku


__ADS_3

Maira, Nindi dan Putri. Mereka kuliah seperti biasa, meski kini mereka seperti dikucilkan, tapi mereka tidak ambil perduli. Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian mogok mobil itu, Nindi masih menyimpan seribu pertanyaan didalam benak nya. Tentang kenapa Putri selalu bilang jika dia berbohong mengenai Brian yang ada bersama nya. Padahal dia memang berkata benar jika Brian sama sekali tidak ada menemani nya kan.


Entah lah...


Hari ini Nindi baru saja mengantarkan tugas nya keruang salah satu dosen. Maira sedang mual karena lagi lagi Erika mengganggu nya. Jadi dia hanya berdiam diri di kelas dan ditemani oleh Putri. Entah kenapa Maira bisa selalu mual jika berdebat dengan gadis itu. Nindi terkadang heran melihatnya.


Nindi melihat jam dipergelangan tangan nya, sudah mau masuk waktu shalat dhuhur, sebaiknya dia langsung ke mesjid kampus saja. Nanti Putri dan Maira juga pasti akan kesana. Malas sekali rasanya jika harus bolak balik.


Dan akhirnya, Nindi pun langsung berjalan kearah mesjid, yah yang lagi lagi pandangan sinis orang orang yang pernah bermain di club' malam bersama nya langsung memandang nya dengan aneh.


Nindi hanya acuh saja dan terus berjalan, namun ketika sampai diujung koridor gedung, samar samar dibalik dinding, tepat nya ada sebuah kursi tempat biasa anak anak nongkrong atau sekedar bersantai, Nindi mendengar mereka berbicara sesuatu yang terasa menusuk hati dan jantung nya.


"Iya, kata si Erika kayak nya si Maira hamil loh" ucap salah seorang mahasiswi


Nindi terdiam dan tidak jadi melangkah


"Beneran lo?" tanya mahasiswi yang lain.


"Iya, dia sering kedapatan muntah muntah ditoilet, dan lagi gelagat nya juga aneh karena sering bawain botol minum itu" jawab mahasiswi itu


"Tapi kayak nya memang iya deh, bukan cuma Erika aja yang ngomong, tapi yang lain juga ada yang bilang kalau si Maira hamil, temen sekelas nya juga pada bilang gitu. Kalau dikelas kadang Maira juga sering mual mual kalau pagi" sahut Mahasiswi yang lain.


"Hamil diluar nikah dong" ucap mereka


deg, jantung Nindi serasa dihantam sesuatu.


"Jijik banget gue, penampilan aja berubah, gak tahu kelakuan nya bejat begitu" ucap mahasiswi itu


Nindi langsung memejamkan matanya sejenak, seraya mengucap istighfar didalam hati.


"Iya, gue yakin mereka itu berubah cuma untuk nutupi kelakuan mereka yang nakal itu. Semua orang juga tahu gimana mereka dulunya. Cuma cewe cewe nakal yang suka main diclub"


"Bener, maka nya kak Brian gak mau lagi Deket Deket sama si Nindi yang berubah cuma karena ada mau nya"

__ADS_1


"Huh, jijik banget gue sekampus sama orang orang munafik begitu. Semoga aja ketua kampus dan para dosen tahu kabar Maira yang hamil diluar nikah. Biar dikeluarin tuh anak"


"Iya bener, gak banget dikampus elit begini ada perempuan rendahan begitu"


Sudah cukup, Nindi tidak bisa lagi menahan hatinya. Dia langsung berjalan menuju mereka dengan wajah yang menahan amarah.


"Kalian itu kalau bicara jangan asal aja dong. Gak baik tahu kalau ngomong gak ada bukti nya begitu" sahut Nindi langsung.


Para mahasiswi itu terlihat nampak terkejut dengan kedatangan Nindi. Namun sedetik kemudian, mereka langsung tertawa sinis dan segera bangkit dari duduk nya. Memandang Nindi yang terlihat menahan amarah.


"Heh... mau bukti apa ha, emang udah jelas kan. Kenapa juga Lo marah, katanya udah berubah jadi baik. Tapi ternyata berubah cuma karena untuk menutupi kebusukan aja. Rendahan banget," ucap salah seorang dari mereka.


"Iya, kalau emang masih nakal dan suka main diluar, jangan bawa bawa tuh hijab. Gak takut Lo" ledek yang lain pula


"Perempuan begini, berharap nya kak Brian yang terhormat begitu, mimpi lu. Dia aja jijik lihat Lo yang bermuka dua begini" ucap mereka


"Tahu tuh, dia gini, temen nya gitu, malah hamil diluar nikah. Jijik banget, penampilan aja berubah, kelakuan masih aja kayak ******" sahut mereka lagi.


"Kalau dia hamil, ya kami mau dia keluar dari kampus ini. Gak Sudi banget satu kampus sama ****** begitu"


Perkataan Nindi langsung terhenti dengan sahutan mereka.


"Udah ah, percuma juga ngomong sama orang munafik begini. Ya udah jelas dia belain diri mereka sendiri"


"Yuk cabut"


Mereka langsung meninggalkan Nindi begitu saja. Dengan pandangan meremeh dan jijik mereka.


Nindi tertegun, dada nya benar benar sakit sekarang. Kenapa mereka bisa berfikiran jahat begitu? Apa selama ini Nindi dan kedua sahabatnya memang begitu nakal hingga teman teman satu kampus nya menilai mereka dengan begitu buruk.


Dan lagi, Maira yang dikatakan hamil duluan. Bagaimana jika Maira mendengar nya, ini pasti akan berakibat buruk untuk kehamilan nya bukan.


Nindi mengusap wajah nya dengan hati yang gelisah, bahkan sekarang mata nya berair menahan tangis. Mereka memang kejam, bahkan menghakimi tanpa tahu yang sebenarnya.

__ADS_1


Nindi langsung membalikkan tubuh nya untuk pergi ke mesjid, mungkin dengan shalat dia akan lebih tenang.


Namun ketika membalikkan tubuhnya, dia langsung mematung saat tiba tiba melihat Brian yang berada tidak jauh dari tempat nya. Pemuda itu memandang datar pada Nindi, namun setelah itu dia langsung melanjutkan langkah nya yang juga ternyata akan pergi ke mesjid.


Nindi hanya bisa menghela nafas saja. Lagi lagi hatinya kembali tertohok. Mungkin inilah yang membuat Brian membenci nya. Perkataan perkataan sadis anak anak kampus yang membicarakan mereka dengan begitu tega.


Sudah lah, jika difikirkan, hanya akan membuat hatinya sedih saja.


Nindi langsung berjalan ke arah mesjid, tanpa ingin lagi memandang siapapun.


Hingga tiba didalam mesjid, dia merasa aman dan tenang. Karena hanya tempat itulah yang benar benar menenangkan hatinya yang sedang panas saat ini.


Dan lagi lagi, saat akan mengambil air wudhu, Nindi kembali berpapasan dengan Brian. Tapi tetap saja, jangankan tersenyum, menoleh saja tidak.


Nindi tersenyum getir dan langsung mengambil air wudhu nya. Hingga siraman air yang dingin dan sejuk itu membuat hatinya menjadi damai dan segar kembali.


Ya Allah... mungkin ini balasan atas dosa yang pernah dilakukan nya dulu. Baru mendengar pembicaraan anak anak kampus saja dia sudah sedih, apalagi jika harus menghadapi siksa di akhirat nanti.


Nauzubillah...


Setelah selesai berwudhu, Nindi langsung berjalan kedalam mesjid. Yang ternyata Maira dan Putri sudah berada disana.


"Kok lama Nin?" tanya Maira


"Iya, ngobrol dulu tadi sama anak anak" jawab Nindi seraya memakai mukenah nya. Sedangkan Putri memandang Nindi dengan lekat.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Putri.


Nindi tersenyum dan menggeleng.


"Enggak ada" jawab Nindi.


Tapi Putri tahu, jika Nindi memang sedang berbohong.

__ADS_1


__ADS_2