Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Ungkapan Hati Brian


__ADS_3

Maira membuka matanya perlahan. Rasanya begitu berat, tapi tubuhnya sudah sangat pegal sekarang.


Maira memandang kamar ruangan dimana dia berada. Ruangan serba putih, tapi bukan ruang perawatan seperti pada umum nya. Seperti nya dia kenal ruangan ini.


"Kamu sudah bangun sayang" sapa dokter Danar yang baru masuk kedalam ruangan nya.


Maira menoleh pada dokter Danar yang tersenyum memandang nya. Ya, ternyata dia berada diruangan suami nya sendiri.


"Mas.." panggil Maira.


Dokter Danar berjalan mendekat dan duduk disisi ranjang Maira. Ranjang tempat biasa dia beristirahat.


"Masih sakit perut nya?" tanya dokter Danar seraya mengusap lembut perut Maira.


Maira menggeleng pelan dan langsung melingkarkan tangan nya ada pinggang dokter Danar. Menyembunyikan wajahnya sejenak didekat pinggang suami nya.


Rasanya nyaman dan rasa sakit diperut nya jadi hilang. Tapi tiba tiba Maira terkesiap dan segera beranjak dengan tergesa gesa. Membuat dokter Danar terkejut memandang Maira.


"Hei... pelan pelan. Anak kita" ucap dokter Danar pada Maira yang kini baru mengingat sesuatu.


"Mas... Nindi" ucap Maira dengan wajah yang berubah menjadi panik sekarang.


"Nindi masih dirawat dibawah." jawab dokter Danar.


"Dia gak kenapa kenapa kan?" tanya Maira lagi.


Dokter Danar tersenyum dan menggeleng pelan.


"Insha Allah dia gak apa apa. Kita berdoa aja ya" jawab dokter Danar.


Maira tertunduk dan mulai menangis.


"Nindi jadi celaka begini karena nolongin Maira mas, dia nolongin Maira. Coba aja kalau dia enggak nolongin Maira, dia pasti gak akan celaka" ungkap Maira dengan Isak tangis nya.


Dia benar benar sedih ketika mengingat kejadian dikampus tadi. Bahkan bagaimana Nindi terguling dari atas tangga itu pun masih terbayang dibenak Maira. Benar benar mengerihkan, bahkan Maira sangat takut ketika mengingat itu.


"Sayang... bukan salah kamu. Nindi begini karena dia perduli sama kamu dan anak kita. Lagi pula ini musibah. Tidak ada yang mau kejadian seperti ini terjadi" jawab dokter Danar seraya menarik Maira kedalam pelukan nya.

__ADS_1


Maira menangis terisak dalam dekapan dokter Danar. Dia benar benar menyesali kejadian ini.


"Maira takut Nindi kenapa kenapa mas" kata Maira lagi.


Dokter Danar mengusap lembut punggung Maira. Dia baru saja menemui dokter yang menangani Nindi. Dan dokter itu berkata jika tidak ada hal yang serius. Hanya gegar otak ringan, namun karena Nindi kehilangan banyak darah, itu yang membuat kondisi nya melemah.


Walau bagaimana pun dokter Danar berhutang budi pada gadis itu.


"Maira takut mas" kata Maira lagi yang masih menangis terisak dalam pelukan suami nya.


"Sayang, Nindi pasti baik baik aja. Dia cuma kehilangan banyak darah maka dari itu kondisi nya lemah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan " ucap dokter Danar.


"Beneran" tanya Maira seraya mendongak dan memandang dokter Danar.


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk. Seraya tangan nya yang mengusap air mata di wajah Maira dengan lembut.


"Iya, Brian yang sudah mendonorkan darah nya untuk Nindi" jawab dokter Danar.


"Kak Brian?" tanya Maira lagi.


Dan dokter Danar kembali mengangguk.


Dan lagi, tadi juga Maira bisa melihat jika Brian yang dengan sigap membawa Nindi pergi dari tempat kejadian itu, dengan wajah dingin nya yang benar benar cemas.


"Mas, Maira mau lihat Nindi" pinta Maira.


"Nindi belum boleh dijenguk banyak orang. Dia masih harus istirahat. Kamu juga begitu, anak kita sekarang gak boleh lelah lelah dulu" ujar dokter Danar seraya mengusap kembali perut Maira.


Maira mengerucutkan bibirnya sekilas dan menunduk dengan tangan yang juga mengusap perut nya.


"Tapi Maira pengen lihat Nindi mas, Maira mau lihat keadaan nya" kata Maira lagi.


"Iya, nanti ya. Kita shalat ashar dulu. Sudah masuk waktunya. Setelah itu, baru kita jenguk Nindi" jawab dokter Danar.


Dan mau tidak mau, Maira hanya mengangguk pasrah.


...

__ADS_1


Sementara diruangan Nindi beberapa saat setelah nya..


Brian sudah berada didalam ruangan Nindi. Duduk diam dan memandangi wajah pucat Nindi yang seperti tidak dialiri darah.


Dia sudah membersihkan dirinya dan mengganti pakaian nya dengan kemeja milik dokter Danar. Sedikit kebesaran, namun tidak mengurangi ketampanan nya.


Brian memandang wajah Nindi dengan lekat. Hati nya benar benar sedih melihat Nindi yang seperti ini. Keadaan nya masih sangat lemah, tapi sudah lebih baik dari pada tadi.


Ternyata darah nya cocok ditubuh Nindi. Dan Brian sangat bersyukur untuk itu. Nindi bisa ditangani dengan cepat.


Kepala Nindi masih diperban. Bahkan hijab yang biasa dia pakai kini hanya diganti dengan plastik pembungkus kepala saja, karena kepala nya yang terluka cukup parah.


Beruntung nya hanya gegar otak ringan dan tidak terjadi pendarahan di otak Nindi. Jika tidak, Brian sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi pada gadis ini.


Brian menghela nafasnya sejenak dan kembali memandang Nindi dengan senyum tipis nya.


"Kamu pasti mengira jika aku membenci kamu bukan" ucap Brian, terdengar pelan, namun dia berucap hanya karena ingin mengungkapkan isi hatinya saja pada Nindi.


"Aku tidak pernah membenci kamu Nindi. Gadis cantik yang terlalu berani untuk mendekati ku" ungkap Brian lagi, masih dengan senyum tipis nya. Senyum yang sangat mahal untuk dia keluarkan pada orang lain.


"Ya, hanya kamu yang berani mendekati ku hingga selalu menggoda ku kapan saja"


"Senyum kamu, tawa kamu, rayuan kamu, dan bahkan sifat kamu yang terkadang menjengkelkan, nyata nya mampu menarik perhatian ku" ungkap Brian.


Brian kini tertunduk dan menarik nafasnya dalam dalam.


"Aku sangat bahagia ketika kamu memutuskan untuk berubah. Aku adalah orang yang paling bahagia Nindi. Ketika semua orang menghujat perubahan mu karena aku, tapi aku percaya jika kamu berubah memang karena niat kamu sendiri" kata Brian lagi. Seolah olah dia memang sedang berbicara pada Nindi yang kini sedang mendengarkan kan nya. Meski kenyataan nya Nindi masih betah berada di alam bawah sadarnya sekarang.


"Bukan aku membenci mu. Aku hanya ingin membantu mu untuk dekat dengan Allah. Aku ingin kamu benar benar berubah tanpa alasan apapun, apalagi karena aku"


"Aku ingin kamu berubah menjadi gadis yang Istiqomah, gadis yang kuat dalam menghadapi gunjingan orang orang. Gadis yang kuat yang mampu membuktikan, jika bukan karena aku kamu berubah menjadi seperti ini" ungkap Brian lagi, namun kini matanya terlihat berkaca-kaca.


"Aku memang menjauhi kamu dalam kehidupan ku. Tapi aku selalu menyebutkan namamu dalam setiap doa ku. Jika kamu yang terbaik, Allah pasti akan mempersatukan kita dengan cara terbaik Nya." ungkap Brian dengan begitu dalam.


Brian kembali tersenyum dan beranjak dari duduk nya.


"Semoga Dia memberikan kita jalan yang terbaik untuk bersama" gumam Brian.

__ADS_1


Dan setelah itu, dia langsung keluar dan pergi meninggalkan Nindi.


Tanpa tahu, setitik air mata jatuh disudut mata gadis itu.


__ADS_2