Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Amnesia


__ADS_3

Maira merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang ada diruangan dokter Danar. Dia merasa jika mata nya sudah benar benar mengantuk sekarang.


Maira baru saja selesai shalat dhuhur dan dia memutuskan untuk tidur sebentar sembari menunggu dokter Danar datang. Entah kenapa suami nya itu begitu lama dikampus. Padahal Putri saja sudah datang kemari.


Putri bilang jika dokter Danar sedang menangani hukuman yang dijatuhkan untuk Erika. Dan tentu nya itu juga karena Nindi yang terbaring dirumah sakit ini.


Ayah Nindi tidak bisa pulang, dan semua diserahkan pada dokter Danar. Tapi jelas ayah Nindi ingin Erika bertanggung jawab, meski ayah Nindi jauh, tapi dia juga tidak bisa tinggal diam. Nindi adalah anak semata wayangnya. Dan tentu, kejadian ini tidak membuat ayah Nindi diam saja. Kasus ini memang harus dibawa keranah hukum. Dan itu dia serahkan pada dokter Danar.


Maira kasihan sebenarnya jika Erika harus dipenjara. Mungkin nanti dia akan bermusyawarah dengan Nindi jika Nindi sadar. Hukuman penjara seperti nya terlalu mengerihkan untuk gadis seumuran mereka.


Mungkin cukup dikeluarkan dari kampus dan di blacklist dari kampus yang ada dikota ini sudah cukup untuk Erika. Dengan begitu mereka tidak akan bertemu lagi kan. Tapi jika dipenjara, Maira tidak tega melihat nya. Meski Erika jahat dan licik, tapi sungguh, Maira masih punya hati untuk tidak bahagia mendengar hukuman penjara itu.


Dan tanpa sadar, hanya sebentar, Maira sudah terlelap dalam tidur nya.


Sementara diruang perawatan Nindi. Brian juga sudah tiba disana, bersama dengan dokter Danar. Dia menemani dokter Danar yang melaporkan kasus ini ke kantor polisi. Hanya membuat laporan peringatan saja sebenarnya, bukan untuk memenjarakan. Hal itu akan mereka bahas nanti.


Dokter Danar langsung kelantai atas dimana ruangan nya berada saat tahu Maira tidak ada diruangan Nindi.


Sedangkan Brian langsung menemui mama Nindi dan Putri yang sedang duduk didepan ruang perawatan Nindi.


"Assalamualaikum Tante" sapa Brian seraya mencium punggung tangan mama Nindi.


"Waalaikumsalam nak Brian" jawab mama Nindi dengan senyum nya. Dia sungguh mengagumi pemuda ini. Pemuda yang disukai oleh anak nya.


"Bagaimana keadaan Nindi?" tanya Brian.


"Masih belum ada perubahan nak. Tapi kata dokter dia sudah baik baik aja" jawab mama Nindi lagi.


"Saya lihat dulu boleh Tante?" pamit Brian


Mama Nindi langsung mengangguk dan tersenyum.


Brian mengangguk dan langsung masuk kedalam. Meninggalkan mama dan Putri yang masih duduk tenang ditempat mereka.


"Padahal kak Brian itu dingin banget dikampus. Tapi disini, bisa bisa nya dia ramah dan perhatian banget sama Nindi" gumam Putri tidak habis fikir.


"Yakan bagus Put. Nindi pasti senang. Biar dia juga cepat sadar. Tante udah kangen sama dia" jawab mama Nindi.


"Iya sih Tante. Gak ada Nindi berasa sepi. Biasa dia yang paling bikin recok" sahut Putri dengan tawa getir nya.


"Semoga dia cepat sadar" harap mama Nindi.


"Pasti Tante, apalagi ada kak Brian yang jenguk dia" ungkap Putri.


..


Ya, ada Brian... Lelaki yang benar benar digilai Nindi, namun dengan terpaksa dia memendam perasaan nya saat Brian yang seolah olah menjauh dari dia.

__ADS_1


Lucu sekali...


Dulu menjauh, tapi ketika melihat Nindi yang seperti ini, Brian malah tidak tega dan tidak bisa menjauh.


Rasa takut, khawatir, rindu dan perasaan aneh lain nya sungguh mengusik hati Brian.


Brian duduk disamping ranjang Nindi. Memperhatikan wajah Nindi yang masih pucat, namun sudah tidak seperti semalam lagi.


Alat bantu pernafasan nya juga sudah dicabut. Mungkin sebentar lagi Nindi pasti sadar.


"Assalamualaikum" bisik Brian sedikit mendekat ketelinga Nindi.


"Sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini?" tanya Brian lagi.


"Bangunlah, jika kamu bangun sekarang. Aku akan memberikan kejutan untuk kamu" ucap Brian.


Bibirnya tersenyum tipis memandang wajah cantik yang masih tidak bereaksi ini.


"Tapi jika kamu tidak bangun sekarang, maka aku tidak ingin lagi kemari dan menemui mu" kata Brian lagi.


"Sudah sejak semalam aku menunggu kamu bangun, sudah sejak semalam kamu membuat aku gelisah. Apa kamu tidak puas juga karena selalu menganggu hidupku?" tanya Brian.


Dia terdiam sejenak, dan menghela nafas perlahan. Sudah kah dia seperti orang gila sekarang?


Entah lah..


Brian tertunduk dan memijit pelipisnya sejenak. Namun tiba tiba dia kembali memandang kearah Nindi saat melihat pergerakan dijari tangan Nindi.


Brian langsung tersenyum melihat itu. Dia segera beranjak dan memencet tombol pemanggil dokter. Seraya memandang mata Nindi yang mulai bergerak.


"Sepertinya kamu benar benar takut aku pergi" gumam Brian.


Dan benar saja, tidak lama kemudian, mata Nindi mulai terbuka, sangat layu dan lemah.


Pandangan mata itu masih begitu kosong memandang langit langit kamar.


"Nindi" panggil Brian.


Nindi hanya melirik lemah pada Brian. Tidak berekspresi, datar dan begitu nanar.


Brian mengernyit heran memandang Nindi. Kenapa terlihat berbeda. Apakah???


"Nindi, apa masih begitu sakit?" tanya Brian. Dan entah kenapa jantung nya terasa berdebar tidak menentu melihat pandangan mata itu.


"Siapa?" tanya Nindi yang hanya terdengar seperti gumaman saja.


Deg

__ADS_1


Jantung Brian rasa nya benar benar ingin melompat keluar sekarang.


"Nindi, kamu tidak mengenalku?" tanya Brian dengan suara yang terasa mencekat di kerongkongan nya.


Nindi menggeleng pelan seraya sedikit meringis karena kepala nya yang sakit untuk digerakkan.


Brian menggeleng tidak percaya dengan ini. Kenapa dengan Nindi??


Apa dia lupa ingatan???


ceklek


Pintu yang terbuka membuat Brian menoleh. Ternyata dokter yang masuk disusul oleh mama Nindi dan Putri.


"Nindi kamu sudah sadar nak?" ucap mama Nindi dari jauh dan membiarkan dokter itu memeriksa keadaan Nindi.


Nindi hanya diam, dan memandangi orang orang yang ada didalam ruangan itu dengan pandangan bingung nya. Dan itu tentu saja membuat mama dan Putri saling pandang bingung.


"Nindi" panggil mama. Namun Nindi masih diam dan memperhatikan nya saja.


"Dokter, apakah Nindi?" pertanyaan Brian terhenti saat melihat Nindi yang memandang nya dengan lekat.


"Nona Nindi" panggil dokter itu dengan lembut.


"Kamu mengenal nya?" tanya dokter itu seraya menunjuk Brian.


Nindi menggeleng dengan lemah. Dan itu membuat Putri begitu terkejut.


"Ibu ini" kini dokter itu menunjuk pada mama Nindi yang sudah menahan tangis nya.


Nindi juga menggeleng.


"Nona itu?" dokter itu juga menunjuk Putri. Tapi Nindi juga langsung menggeleng.


"Saya dimana?" tanya Nindi akhirnya


"Dirumah sakit, anda baru saja kecelakaan. Dan apakah sekarang anda tidak mengenali satu orang pun disini?" tanya Dokter itu lagi.


"Saya siapa pun saya tidak tahu" jawab Nindi masih dengan suara yang lemah.


deg


deg


deg


Jantung semua orang yang ada didalam sana serasa sulit untuk berdetak dengan normal. Ketika tahu ternyata Nindi mengalami amnesia.

__ADS_1


__ADS_2