Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Teguran Mr Petro


__ADS_3

Maira jadi tidak fokus pada pelajaran nya disiang itu karena perkataan Nindi dan Putri yang meminta dia untuk memberi tahukan tentang pernikahan nya dengan dokter Danar. Apa itu baik? Apa dia tidak akan dihujat?


Tapi bagaimana cara berkata pada dokter Danar. Maira takut jika dokter Danar tidak ingin datang ke kampus untuk mengklarifikasi tentang kehamilan nya ini. Bagaimana jika dia semakin menjadi bahan cemoohan teman teman nya.


Huh... Maira semakin bingung sekarang. Tapi perkataan kedua sahabat nya memang benar, jika dia memang harus mengumumkan pada semua orang jika dia sudah menikah. Agar tidak ada lagi yang bisa memfitnah nya dengan kejam.


Ya, mungkin setelah pulang dari sini nanti, Maira akan membicarakan hal ini dengan suami nya.


Pelajaran siang itu cukup lama selesai, hingga membuat Maira benar benar bosan dan mengantuk. Berulang kali dia mengusap perut nya yang terasa mual, bahkan seringkali dia mencuri untuk meminum jus nya. Ini benar benar menyiksa.


Dan tentu saja gelagat Maira yang aneh seperti itu membuat teman teman sekelas nya menaruh curiga. Apalagi berulang kali Maira yang mengusap perut nya.


"Maira" Tegur Mr Petro


Maira terkesiap, saat dia yang sedang diam diam meminum jus nya dibawah meja.


"Ya Mr" sahut Maira langsung.


Nindi dan Putri langsung menoleh kearah Maira. Begitu pula dengan teman teman yang lain.


"Jika kamu tidak ingin lagi mengikuti pelajaran saya, kamu bisa keluar" tegas Mr Petro.


Maira tersenyum canggung dan menggeleng.


"Tidak Mr. Maaf" ucap Maira.


"Kamu selalu seperti ini. Tidak fokus dan selalu main main. Apa kamu kira kampus ini milik keluarga mu" ujar Mr Petro terdengar kesal dan marah.


Maira tertunduk tanpa berani melawan. Dia kan cuma mual, sudah bersyukur dia tidak muntah muntah sekarang.


"Sekarang kamu jelaskan apa yang sudah saya terangkan di lima menit terakhir tadi" perintah Mr Petro


Maira tertegun, matanya melebar dan dia langsung menoleh kearah Putri yang nampak memandang nya khawatir.


"Jangan lihat teman kamu" bentak Mr Petro. Membuat Maira langsung terkesiap kaget.


Maira meringis canggung. Bahkan sejak awal dia tidak mendengar kan apa yang Mr Petro jelaskan.


Astaga.


Melihat Maira yang nampak terdiam bingung Mr Petro langsung mendengus sinis.


"Kamu memang tidak serius. Sekarang, kamu keluar dari kelas saya" usir Mr Petro

__ADS_1


"Tapi Mr, saya masih mau belajar" ucap Maira nampak memelas.


"Keluar" seru Mr Petro lagi


Teman teman sekelas Maira nampak memandang sinis pada Maira. Hanya Nindi dan Putri yang memandang sedih padanya.


"Gimana mau serius Mr, dia kan lagi nahan mual" sahut seorang mahasiswi


Mr Petro memandang Maira dengan lekat.


Putri bahkan menoleh pada mahasiswi itu dengan pandangan tajam nya.


"Bawaan Dedek bayi maka nya males" sahut yang lain pula.


Maira nampak menghela nafasnya dan langsung mengemasi barang barang nya kembali kedalam tas.


Sedangkan Mr Petro memandang Maira dengan lekat.


"Apa benar yang dikatakan oleh mereka Maira?" Tanya Mr Petro


Maira terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Apalagi melihat pandangan sinis teman teman nya. Apa jika dia bilang kalau dia memang hamil dan sudah menikah mereka akan percaya? Apalagi yang menjadi suami nya adalah dokter Danar. Hal yang mustahil kan jika mereka akan percaya semudah itu.


"Saya keluar Mr. Permisi" ucap Maira yang tidak ingin lagi berlama lama didalam kelas itu. Bahkan dia tidak lagi mengindahkan pertanyaan Mr Petro dan langsung keluar dari ruangan itu.


"Benar kan ternyata. Lihat aja langsung kabur begitu" ucap salah seorang teman sekelas Maira


"Apa kamu akan keluar juga putri ?" Tanya Mr Petro


"Ya Mr. Maaf, tapi saya sudah tidak fokus lagi untuk melanjutkan pelajaran. Dari pada harus menganggu ketentraman jam anda, lebih baik saya keluar. Permisi" ucap Putri yang juga langsung berlalu keluar.


Teman teman sekelas nya kini beralih pada Nindi yang nampak bingung. Bahkan pandangan Mr Petro juga langsung menoleh ke arah Nindi. Karena dia tahu, jika ketiga gadis ini memang tidak dapat dipisahkan.


"Pasti bentar lagi dia juga keluar. Kan sama aja tuh. Sama sama bermuka dua dan gak tahu malu" ucap para mahasiswi itu.


Nindi menghela nafas dan memasukkan barang barang nya juga kedalam tas.


"Kalau kalian tahu yang sebenarnya tentang Maira, gue pastiin kalian pasti nyesel" ucap Nindi. Dia berdiri dan menghadap kearah Mr Petro.


"Mr maaf kan saya, dan maafkan juga kedua teman saya. Tapi kami benar benar tidak bermaksud untuk membuat Mr marah. Hanya saja niat baik kami sepertinya tidak dihargai disini. Mohon maafkan kami. Saya permisi" ucap Nindi. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan Mr Petro dan langsung berlari keluar menyusul Maira dan Putri yang entah sudah pergi kemana.


Mr Petro menghela nafas nya dengan berat. Dia benar benar tidak mengerti dengan ketiga gadis itu yang selalu saja bisa mencari gara gara dikampus ini.


Dan lagi, kabar tentang kehamilan Maira sebenarnya memang sudah sampai ditelinga para petinggi kampus. Hanya saja mereka masih belum mengeluarkan satu kata pun. Apalagi belum ada berita miring tentang Maira yang mereka dengar. Mungkin jika ada sedikit saja berita buruk yang terdengar, sudah dapat dipastikan jika Maira memang akan dikeluarkan dari kampus ini.

__ADS_1


Kampus yang masih menjunjung tinggi nilai etika dan nama baik. Kecuali untuk orang orang yang memang sudah menikah secara sah, itu masih dimaklumi, tapi yang hamil diluar nikah, itu adalah hal yang tidak bisa diterima.


..


Nindi berlari keluar gedung, namun sama sekali dia tidak menemui Maira dan Putri. Kemana mereka?


Hingga tiba tiba pandangan Nindi mengarah ke roof top gedung kampus nya, ternyata Maira dan Putri ada disana.


Dan langsung saja Nindi berlari untuk menyusul mereka keatas. Pandangan matanya sesekali menoleh keatas dan tidak lagi memperhatikan langkah nya.


Hingga tiba tiba...


Brakk


"Auh"


Nindi langsung meringis saat dia menabrak seseorang dengan kuat, bahkan sampai membuat nya terhempas keatas lantai. Sedangkan orang itu terlihat berdiri dan memandang Nindi dengan wajah datar nya.


Nindi memandangi buku buku yang berserakan didepan nya. Namun sama sekali tidak memandangi orang yang berdiri dihadapan nya.


"Maaf maaf... Gue gak sengaja" ucap Nindi yang langsung memunguti buku buku itu dengan cepat meski bokong nya juga terasa begitu sakit.


Hingga buku buku itu terkumpul semua nya, barulah Nindi berdiri dan menyerahkan nya pada orang yang dia tabrak.


Namun...


Deg


Matanya melebar sempurna saat melihat siapa orang itu.


Kak Brian ...


Nindi benar benar terperangah tidak percaya dengan ini. Kenapa dia bisa menjadi bodoh begini???


Brian hanya memandang Nindi dengan wajah datar dan dingin nya. Bahkan tanpa berkata apapun dia langsung meraih buku yang ada dalam tangan Nindi dengan cepat.


Dan tanpa berkata apapun lagi Brian langsung beralih dan pergi dari hadapan Nindi.


Nindi terkesiap, dia langsung menoleh kearah Brian.


"Kak Brian" panggil Nindi.


Brian menghentikan langkah nya, namun sama sekali tidak menoleh kearah Nindi.

__ADS_1


"Maaf" ucap Nindi


Namun lagi lagi dia harus tertunduk sedih, saat Brian bukan menjawab, namun langsung pergi meninggalkan nya. Sendiri, dan dalam rasa yang tak bisa dijelaskan.


__ADS_2