Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Malam ini Maira sudah berbaring diatas tempat tidur setelah selesai shalat isya.


Dia masih memperhatikan dokter Danar yang masih mengaji.


Suara dokter Danar benar benar membuat Maira tenang. Biasanya Maira juga ikut mengaji bersama dokter Danar. Tapi malam ini, entah kenapa rasanya dia benar benar lemas dan tidak enak badan. Kepalanya pusing, mungkin seperti mau demam.


Mata Maira belum ingin tertidur, dia masih asik menyimak lantunan ayat suci Al-Quran yang keluar dari mulut suami nya.


Benar benar bisa menenangkan.


Sungguh, suami idaman semua orang.


Maira tersenyum saat dokter Danar selesai mengaji dan memandang kearahnya.


"Katanya pusing, kenapa belum tidur sayang" tanya dokter Danar seraya merapikan alat alat ibadahnya.


"Gak bisa tidur, mau sama mas" jawab Maira begitu manja.


Dokter Danar tersenyum, setelah membuka peci dan sarung nya, dia langsung mendekat kearah Maira.


Mencium lembut kening istrinya dan berbaring disebelah Maira.


Maira langsung memeluk dokter Danar dengan erat. Menyesap aroma lembut dan harum yang selalu bisa menenangkan hati nya.


"Kenapa gak mau makan. Nanti kamu masuk angin Lo" ucap dokter Danar seraya mengusap punggung Maira.


"Gak selera mas, lagian sore tadi udah makan mie" jawab Maira.


Matanya sudah mulai terpejam dan mengantuk akibat usapan lembut dokter Danar.


"Mas periksa ya, supaya besok bangun udah enakan badan nya" kata dokter Danar lagi.


"Gak mau, mau tidur aja. Mai udah ngantuk" jawab Maira.


"Yauda, nanti kalau makin gak enak. Bilang, jangan diam aja" kata dokter Danar lagi.


"He'em" gumam Maira.


Dokter Danar mengecup pucuk kepala Maira, dan membiarkan Maira tidur berbantal lengan nya.


Nyaman sekali.


"Mas" panggil Maira


"Ya" jawab dokter Danar yang masih mengusap punggung Maira.


"Terimakasih udah jadi suami yang baik untuk Mai ya" ucap Maira.


Dokter Danar tersenyum.


"Terimakasih juga udah jadi istri yang baik sayang" jawab dokter Danar.


Maira tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan nya.


"Sayang" panggil dokter Danar pula


"Hmm." gumam Maira.


"Besok mas mau bawa kamu kesuatu tempat" ucap dokter Danar.


"Kemana?" tanya Maira.


"Kerumah baru" jawab dokter Danar.


Maira mengernyit, dia langsung merenggangkan pelukan nya dan mendongak memandang dokter Danar.


"Rumah baru?" tanya Maira. Dokter Danar langsung mengangguk.


"Kenapa rumah baru. Kan udah punya rumah ini" tanya Maira yang bingung.

__ADS_1


Namun dokter Danar malah tersenyum dan mengusap wajah Maira yang sedikit pucat.


"Rumah yang lebih besar lagi, rumah ini terlalu kecil. Kalau rumah nya besar, kamu kan enak bisa ngumpul bareng teman kamu" jawab dokter Danar.


Maira mengerucutkan bibirnya sekilas.


"Maira gak apa apa tinggal disini mas. Udah nyaman kok" jawab Maira.


"Enggak apa apa. Mas pengen kasih kamu yang terbaik. Anggap aja sebagai hadiah karena udah jadi istri yang penurut" ucap dokter Danar.


"Maira kan nurut karena pengen kesurga bareng. Bukan nya pengen rumah. Rumah besar kalau mas jarang dirumah juga percuma" jawab Maira.


"Insha Allah... mas selalu sempatin waktu untuk kamu ya. Kamu kan kuliah juga, mas kerja. Untuk masa depan kita sayang. Lagian sekarang juga tugas mas dirumah sakit udah sampai hari Kamis aja" ungkap dokter Danar.


"Kenapa gitu" tanya Maira


"Ya gak apa apa. Biar bisa menemani kamu aja" jawab dokter Danar.


"Apa Maira gak usah kuliah lagi ya mas" ucap Maira tiba tiba.


"Kenapa memang nya" tanya dokter Danar


"Biar Maira bisa jadi istri yang baik. Yang cuma ngelayani mas dirumah. Bisa belajar masak dan beres beres" jawab Maira


Dokter Danar tersenyum dan mengecup dahi Maira.


"Jangan.. kamu yang seperti ini udah bikin mas senang kok. Nanggung kalau kamu berhenti. Tinggal sebentar lagi kan" tanya Dokter Danar


"Iya sih" jawab Maira.


"Selagi mampu, kamu nikmati dulu masa muda kamu. Main bareng teman teman kamu. Mas gak akan ngelarang. Kamu berhak menikmati waktu kamu. Yang terpenting selalu ingat aturan" ujar dokter Danar.


"Mas memang terbaik" puji Maira yang kembali memeluk tubuh dokter Danar.


"Mas ingin selalu jadi suami yang baik untuk kamu. Dan Insha Allah untuk anak anak kita nanti" jawab dokter Danar.


Anak?


Apa dokter Danar sudah ingin memiliki anak?


Tiba tiba mereka terkesiap saat mendengar suara klakson mobil dari luar rumah.


"Siapa mas?" tanya Maira yang langsung beranjak.


"Gak tahu, didepan rumah, atau ditetangga ya" gumam dokter Danar.


Mereka sama sama duduk dan saling pandang.


"Mas lihat dulu ya" pamit dokter Danar.


Maira mengangguk dan membiarkan dokter Danar keluar rumah.


Suara nya seperti terdengar didepan rumah mereka. Tapi siapa malam malam begini yang datang?


Maira juga langsung turun dan memakai cardigan nya. Menyusul dokter Danar yang sudah lebih dulu keluar.


Maira hanya berdiri didepan pintu dan memperhatikan dokter Danar yang membuka pagar rumah.


Siapa yang datang, apa tamu dokter Danar.


Namun saat mobil sudah terparkir dihalaman rumah. Mata Maira langsung melebar saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil.


Apalagi saat dokter Danar memeluk wanita itu.


Ibu mertua nya..


"Ya ampun, mati gue" gumam Maira yang langsung lemas melihat kedatangan mertua nya itu. Bukankah ibu dokter Danar tidak menyukai nya?


Dokter Danar membawa ibunya masuk dan mendekati Maira.

__ADS_1


Wajah ibu dokter Danar begitu datar memandang Maira. Membuat Maira semakin canggung saja.


Maira tersenyum dan langsung meraih tangan ibunya.


"Ibu, apa kabar?" tanya Maira.


"Baik" jawab nya begitu singkat.


"Ayo Bu, kita masuk. Kenapa ayah gak ikut?" tanya dokter Danar seraya membawa ibunya masuk.


Dokter Danar melirik Maira sekilas dan mengangguk pelan. Mengkode agar Maira mengikutinya.


Ibu dokter Danar mengedarkan pandangan matanya pada rumah minimalis itu seraya mendudukkan dirinya disofa yang ada disana.


"Ayah besok baru nyusul, ibu sekalian ikut om Agus yang mau lihat anak nya" jawab ibu dokter Danar.


Ibu dokter Danar kembali menoleh pada Maira yang masih berdiri mematung.


Sungguh demi apapun, Maira benar benar canggung dipandangi sinis seperti ini. Kenapa juga ibu dokter Danar harus datang disaat saat seperti ini.


"Maira buat minum dulu Bu" ucap Maira langsung. Bahkan dia segera pergi kedapur. Rasa pusing nya semakin menjadi dengan kedatangan ibu mertua nya ini.


Ya ampun..


"Ibu pasti lelah, nanti ibu istirahat dikamar aja sama Maira ya" ujar dokter Danar


"Ibu mau nagih janji kamu" ucap ibu dokter Danar. Bahkan tanpa basa basi lagi.


Dokter Danar tersenyum dan merangkul pundak ibunya dengan lembut. Ternyata ibunya masih mengingat tentang perjanjian tiga bulan yang lalu. Ya Allah..


Dan betapa beruntungnya dokter Danar, karena ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi.


"Danar tentu akan melanjutkan pernikahan ini Bu. Insha Allah, Danar sudah bisa membuat Maira menjadi istri yang baik" jawab dokter Danar.


Ibunya memandang dokter Danar dengan lekat.


"Kamu tidak berbohong kan" tuding ibu.


"Ibu bisa lihat nanti. Bagaimana Maira yang sekarang" ujar dokter Danar.


Mereka terdiam seraya sama sama menoleh pada Maira yang datang dengan segelas teh hangat ditangan nya.


"Diminum dulu Bu" ujar Maira seraya meletakkan teh nya diatas meja.


Ibu dokter Danar hanya memandang Maira dengan lekat. Memperhatikan wajah Maira yang memang sudah terlihat jauh berbeda sejak tiga bulan yang lalu.


"Kamu masih kuliah?" tanya ibu


Maira duduk disofa single dan mengangguk pelan.


"Masih bu" jawab Maira.


"Udah bisa masak belum?" tanya ibu seraya meraih teh nya.


Maira tersenyum getir dan menggeleng pelan.


Ibu tersenyum sinis memandang Maira.


"Gimana mau bisa jadi istri yang baik kalau memasak saja tidak bisa. Jangan bilang selama tiga bulan Danar terus yang masak untuk kamu" ungkap Ibu. Seraya dia yang menyesap teh nya sedikit demi sedikit.


Maira terdiam dan menoleh pada dokter Danar yang hanya tersenyum saja.


"Maira masih belajar Bu" sahut dokter Danar.


"Itu juga kalau dia tidak membuat dapur hancur" sahut ibu.


Maira hampir saja tersedak ludah nya sendiri.


Bagaimana ibu bisa tahu. Batin nya.

__ADS_1


__ADS_2