
Nindi memandangi kotak ditangan nya. Kotak yang cukup manis, bewarna pink dengan pita yang juga bewarna sama namun lebih pekat. Dia membuka kotak itu dengan perlahan lahan. Isinya ternyata mukenah yang bewarna pink dan juga Al Qur'an bersampul pink.
Kenapa manis sekali???
Dan tanpa sadar bibirnya malah tersenyum memandangi kotak ini.
"Mama ini manis sekali, terimakasih" ucap Nindi seraya matanya yang kini menoleh pada mama yang duduk disamping nya.
Maira dan Putri yang duduk disofa hanya diam dan memandang mereka saja. Sepertinya ada yang aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mama Nindi. Karena mereka tahu, jika hal hal seperti ini mama Nindi tidak pernah memikirkan nya.
Tapi apa karena Nindi yang sakit maka mama nya juga ikut berubah. Entah lah.
"Kamu bilang kamu ingin shalat dan mengaji kan. Gunakan itu dengan baik ya" ujar mama
Nindi langsung mengangguk dan tersenyum. Bahkan tangan nya mengusap mukenah itu dengan lembut. Entah kenapa hatinya benar benar bahagia dengan pemberian ini.
Dia suka warna nya, dia suka hadiah nya. Sangat manis dan membuat hatinya bahagia.
"Kamu senang nak?" tanya mama. Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Senang ma. Senang sekali. Terimakasih" jawab Nindi.
Mama tersenyum simpul dan mengangguk. Seraya tangan nya yang mengusap wajah Nindi sejenak.
Melihat wajah bahagia Nindi, mama jadi tidak bisa membayangkan jika Nindi tahu dari siapa barang barang ini. Mungkin dia akan lebih bahagia lagi kan.
"Maira, Putri. Kalian mau mengajari ku malam ini kan." pinta Nindi pada Putri dan Maira.
"Tentu" jawab Putri dan Maira bersamaan.
Mereka ikut bahagia jika Nindi bahagia. Dan akhirnya malam itu. Setelah makan malam dan shalat isya, mereka duduk bertiga diatas ranjang Nindi. Bukan mengajari , namun mereka bertiga yang diajari oleh dokter Danar.
Ya, dokter Danar sudah selesai praktek. Dan malam ini dia tidak ada pasien, jadi dia bisa bersantai dan menghabiskan waktu untuk mengajari Maira dan kedua sahabatnya.
Tentu saja Nindi begitu senang. Putri juga begitu, meskipun dia hanya bisa mendengar dan memahami tanpa ikut membaca karena dia yang sedang menstruasi sekarang.
Dokter Danar mengajari mereka dengan begitu sabar dan telaten. Semua kata kata nya mudah dipahami, bahkan suara dia mengaji juga sangat merdu. Dan itu sungguh membuat Putri dan Nindi sangat menikmati nya.
Sedangkan Maira, dia sudah terbiasa dengan ini. Tapi walaupun begitu, tetap saja dia memang suka sekali mendengar suara dokter Danar mengaji.
Mama duduk di sofa seraya memandangi anak anak itu yang nampak serius belajar. Dia benar benar terharu, karena akhirnya, Nindi dan kedua sahabatnya bisa berubah menjadi lebih baik. Tidak lagi nakal dan suka keluyuran seperti dulu.
Cukup lama mereka belajar bersama dokter Danar, hingga malam mulai larut, barulah dokter Danar menghentikan kegiatan ini.
"Sepertinya malam ini cukup sampai disini dulu. Insha Allah, besok jika ada waktu kita bisa mengulangi nya lagi" ujar dokter Danar.
"Cepet banget dok. Masih enak dengerin nya" jawab Putri.
Nindi juga mengangguk pelan.
"Iya, saya juga masih belum terlalu bisa" sahut Nindi pula.
Sedangkan Maira nampak sudah menguap beberapa kali. Padahal dia mendengarkan dokter Danar mengaji dan mengajari Nindi sembari memakan cemilan nya, dan sekarang perutnya kenyang, mata nya juga sudah mulai mengantuk.
"Kamu harus beristirahat dulu. Ingat, kesehatan kamu masih belum pulih. Ini bertahap, tidak bisa langsung lancar dan pandai. Maira saja membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mengaji dengan baik" ucap dokter Danar.
Maira mengangguk seraya menutup mulutnya yang menguap lagi.
"Besok kita lanjut lagi. Udah ngantuk banget aku" sahut Maira.
"Kamu sih kebanyakan makan" protes Putri.
Maira langsung tertawa mendengar itu.
__ADS_1
"Yasudah deh. Terimakasih ya dokter sudah mau mengajari saya malam ini" ucap Nindi.
Dokter Danar tersenyum tipis dan mengangguk. Dia langsung beranjak dari kursi nya dan menutup Al Qur'an baru milik Nindi. Dan dia tahu dari siapa benda ini. Karena Brian membeli nya saat bersama nya semalam.
"Simpan baik baik, jangan sembarang diletak ya" kata dokter Danar yang langsung memasukkan lagi Al Qur'an itu kedalam kotak. Dan meletakkan nya di atas lemari.
"Iya dokter" jawab Nindi.
"Ayo sayang" ajak dokter Danar seraya menjulurkan tangan nya pada Maira.
Maira tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan dokter Danar.
"Ibu, kami pamit dulu ya" dokter Danar memandang mama Nindi yang duduk disofa.
"Iya dokter, terimakasih" jawab mama Nindi.
Dokter Danar kembali tersenyum dan mengangguk.
"Aaahh tunggu mas, minum Maira" Maira berseru seraya menunjuk botol jus kiwi yang ada diatas meja.
Dokter Danar kembali dan mengambil nya.
"Sudah yuk" ajak dokter Danar.
Maira mengangguk dan tersenyum. Dia langsung melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.
"Bye guys... selamat beristirahat. Assalamualaikum" pamit nya.
"Waalaikumsalam" jawab mereka semua.
Dan akhirnya, Maira dan dokter Danar keluar dari ruangan itu meninggalkan Putri dan Nindi yang masih memandangi kepergian nya padahal pintu sudah ditutup.
"Mereka pasangan yang serasi" gumam Nindi.
"Semoga jodoh kita nanti orang baik seperti dokter Danar" harap Putri seraya membayangkan satu orang yang sudah lama tidak dia temui.
Nindi tersenyum dan mengangguk. Dia tidak berharap sampai kesana. Karena ingatan nya yang masih seperti ini.
Tapi entah kenapa, mendengar tentang jodoh, tiba tiba satu wajah juga langsung muncul di fikiran nya. Seseorang yang sudah beberapa hari tidak lagi datang menemui nya.
Ada rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan. Tapi ada rasa kecewa juga yang entah kenapa.
Nindi tidak tahu bagaimana menjelaskan nya.
..
Sementara diruangan dokter Danar.
Maira baru saja membersihkan diri nya dan dia langsung berbaring diatas ranjang yang ada diruangan itu.
Memperhatikan dokter Danar yang nampak membuka kemeja nya dan menggantung kan kemeja itu ditempat nya.
Tidak dirumah, tidak disini. Suami nya ini memang selalu rapi. Bahkan bisa Maira lihat jika ruangan ini juga sangat nyaman untuk beristirahat.
"Kenapa memandang mas seperti itu hmm?" tanya dokter Danar seraya mendekat kearah Maira dan langsung duduk disamping nya.
"Enggak, Maira cuma rindu" jawab Maira dengan begitu manja
Dokter Danar mengusap kepala Maira dengan lembut dan penuh perasaan. Pandangan matanya selalu teduh dan penuh cinta hingga membuat Maira benar benar merasa begitu dihargai dan di cintai.
"Kamu tidak lelah berada dirumah sakit terus sayang?" tanya dokter Danar
Maira menggeleng pelan.
__ADS_1
"Maira bosan sebenarnya. Tapi gak mungkin kan Maira gak menemani Putri menjaga Nindi" jawab Maira.
"Mereka juga pasti mengerti" sahut dokter Danar.
"Enggak apa apa mas. Dirumah juga Maira sendiri. Kalau disini Maira punya teman. Maira juga bisa lihat mas setiap saat" kata Maira lagi.
"Mas cuma khawatir sama kesehatan kamu dan anak kita" ucap dokter Danar seraya mengusap perut Maira.
Maira tersenyum dan menggeleng.
"Enggak apa apa. Dedek utun pasti kuat dan sehat. Lagian dokter Kemala juga bilang gak apa apa kan. Dedek utun udah kuat" jawab Maira.
"Yang terpenting kamu jangan lelah lelah ya" pinta dokter Danar.
"Enggak, cuma duduk doang sama mengintai. Gak akan lelah" jawab Maira
"Mengintai?" gumam Dokter Danar dengan bingung.
Maira mengangguk cepat seraya mengerucutkan bibirnya.
"Iya, ngintai orang orang yang suka banget curi curi pandang sama suami Maira" jawab Maira. Dan kali ini perkataan nya terdengar kesal, namun mampu membuat dokter Danar tertawa gemas melihat nya.
"Kamu ini ada ada saja" ucap dokter Danar seraya mengusap kepala Maira dengan gemas.
Maira menghela nafas panjang memandang dokter Danar.
"Tapi sebenarnya Maira gak takut sama para perawat perawat dan dokter dokter muda yang suka cari perhatian sama mas. Maira cuma cemburu sama dokter Kemala" ungkap Maira.
Dokter Danar tertegun mendengar itu, namun dia masih tersenyum memandang wajah kesal itu.
"Cemburu?" tanya dokter Danar
Maira mengangguk dengan cepat.
"Iya, dokter Kemala cantik. Dia juga yang paling dekat sama mas. Mana cuma perempuan satu satunya lagi yang Deket sama mas selain Maira. Gimana gak cemburu " gerutu Maira.
Dokter Danar terkekeh dan menarik gemas hidung nya.
"Gemas banget ngelihat nya kalau lagi cemburu begini" ucap dokter Danar
Maira menampar tangan dokter Danar dengan pelan
"Iiihhh Maira serius maaaasss. Maira itu cemburu" seru Maira
"Iya iya, tapi mas kan cuma teman sama dia sayang. Gak pernah aneh aneh selain rekan kerja" jawab dokter Danar.
"Tapi dulu pernah ketemuan berdua diluar" sahut Maira dengan wajah kesal nya. Mood nya berubah drastis sekarang.
"Kan dulu sebelum menikah" ucap dokter Danar.
"Memang nya gak punya perasaan sama dia. Diakan cantik, lembut, anggun, dokter lagi" tanya Maira. Masih dengan nada ketus.
"Tidak, mas kan cintanya cuma sama kamu" jawab dokter Danar
"Bohong" tuding Maira, namun wajah nya nampak merona. Dan itu semakin membuat dokter Danar gemas.
"Benar sayang" jawab dokter Danar
"Demi apa?" tanya Maira
"Demi kamu"
cup
__ADS_1
satu kecupan langsung mendarat di bibir Maira. Dan itu membuat Maira langsung terdiam dengan wajah yang semakin merona.