Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Bahan Gunjingan


__ADS_3

Hari itu Maira dan kedua sahabatnya kembali kuliah dan bergabung lagi setelah beberapa hari Maira tidak masuk kuliah. Dan kini, penampilan mereka juga sudah berubah. Maira dan Nindi sudah berhijab, dan tentu nya penampilan mereka yang berbeda ini jelas menuai pro dan kontra dari mahasiswi yang lain.


Apalagi Nindi, yang dikenal sebagai gadis seksi yang suka sekali menggoda para senior senior tampan dikampus itu. Tidak ada yang tidak mengenal dia, bahkan dari junior hingga senior semua mengenal Nindi. Dan sekarang, dia sudah berhijrah, tentu nya banyak orang orang yang mencibir dia. Bahkan banyak yang beranggapan jika Nindi seperti itu hanya untuk mencari perhatian Brian. Senior tampan namun dingin yang ada dikampus mereka. Senior yang terkenal dengan akhlak nya yang baik. Tentu saja semua orang menyukai nya, dan Nindi, semua orang juga tahu jika dia memang sudah tergila gila dengan Brian.


Maka dari itu, Nindi yang sudah berhijrah, dianggap orang jika itu hanya topeng untuk mendapatkan Brian.


"Kayak nya semakin kita berubah jadi lebih baik, semua orang makin sinis banget Mandang kita ya Mai" ucap Nindi pada Maira yang berjalan disebelah nya.


Saat ini mereka tengah berjalan kekantin kampus untuk makan siang. Maira sudah mengeluh perut nya lapar, dan dia ingin makan bakso Bu Ipah langganan nya.


"Udah lah, jangan didengerin. Sejak dulu kan emang begitu" jawab Maira.


Nindi hanya mengangguk saja, dan kembali berjalan bersama Maira dan Putri yang hanya acuh saja dengan wajah ketus nya.


Dan lagi lagi, saat di kantin juga semua orang langsung memandang mereka dengan aneh dan penuh cibiran.


Maira langsung memandang Putri yang nampak berdecak kesal.


"Jangan dibalas. Ingat, kita lagi hijrah sekarang" bisik Maira.


"Sakit telinga gue" sahut Putri seraya duduk dikursi yang kosong.


Dan tanpa sengaja, mereka malah duduk dimeja yang bersebalahan dengan meja Brian dan teman teman nya.


Nindi langsung memandang pada Brian yang nampak acuh seraya menikmati minuman nya.


Dia mencoba tersenyum saat Brian menoleh kearah mereka, namun Brian kembali memalingkan wajahnya dan malah beranjak dari sana.


Maira dan Putri langsung memandang iba pada Nindi yang nampak tertunduk dengan sedih.


"Udah jangan sedih" bisik Maira.


Nindi lagi lagi hanya bisa tersenyum dengan terpaksa dan mengangguk pelan. Bagaimana tidak sedih, bahkan dia tidak tahu apa salah nya, tapi Brian seperti begitu membenci nya sekarang.


"Lihatkan, kak Brian bahkan udah ilfil lihat dia. Sok Sok an banget berhijrah. Kak Brian juga tahu gimana kelakuan nya yang asli."ucap salah seorang dari mahasiswi yang ada disana.


"Iya, topeng banget" balas yang lain.


"Berhijrah itu seharusnya dari hati. Kalau niat nya cuma mau menggatal,.seharusnya jangan gitu"

__ADS_1


Putri terlihat menggeram, bahkan dia ingin beranjak dari duduk nya dan mendatangi mereka. Namun Nindi langsung menarik lengan nya dan menggeleng pelan.


"Jangan diladeni Put" ujar Nindi


"Tapi mereka udah keterlaluan Nin" ucap Putri tidak suka.


"Gue gak apa apa. Udah, kita makan aja" kata Nindi lagi.


Putri langsung mendengus, dia langsung memandang tajam pada orang orang itu.


"Cih, lihat kan, begitu aja marah. Padahal emang bener" gumam mereka, bahkan setelah mengatakan itu mereka langsung beranjak dan meninggalkan kantin.


Maira menghela nafas nya dengan berat. Dia kembali memandang Nindi yang terlihat menahan sedih meski dia sudah berusaha bersikap setenang mungkin.


Bukan hanya satu dua orang yang berkata seperti itu, tapi hampir semua orang yang mereka temui. Bahkan teman satu kelas mereka saja seperti itu. Dan sekarang, rasanya mereka bertiga seperti tidak lagi mempunyai teman.


Apa ini ujian dalam memperbaiki diri?


Entah lah.


"Hei... aunty Nindi... jangan sedih gitu muka nya. Kalau aunty sedih, nanti Dedek utun ikut sedih juga" bisik Maira pada Nindi.


"Gak sedih kok, cuma lagi menguatkan hati aja" jawab Nindi.


Putri langsung mendengus mendengar itu.


"Gak ada bedanya. Pengen banget gue sleding tuh orang orang" sahut Putri begitu geram


"Udah dong Put. Kalau Lo marah dengan omongan mereka, berarti mereka semakin berfikir kalau gue berubah karena emang mau cari perhatian kak Brian" ucap Nindi.


"Udah Put. Ini ujian, gak ada yang mudah. Jangan nambahin masalah. Katanya mau berubah lebih baik juga" sahut Maira pula.


Putri kembali mendengus.


"Iman gue kayak nya belum kuat kayak kalian" gumam nya. Membuat Maira dan Nindi langsung tertawa mendengar itu.


Yah, memang tidak ada yang mudah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Selalu ada ujian disetiap melakukan hal hal menuju yang terbaik. Mungkin saat ini mereka sedang diuji, terutama Nindi, karena saat ini dia yang menjadi bahan gunjingan semua penghuni kampus. Sedangkan Maira, ujian nya hanya lah tentang Ervan dan Erika. Mungkin itu sudah terlewati. Tapi apa kah begitu?


Saat ini makanan yang mereka pesan sudah datang. Kantin sudah sepi karena mahasiswi yang datang tadi sudah pada keluar. Dan hanya ada beberapa orang saja yang tersisa.

__ADS_1


"Waaah bakso, udah lama banget" gumam Maira dengan mata yang berbinar.


"Jangan pedes pedes" ujar Putri


"Inget Dedek utun" sahut Nindi pula.


"Iya, gak pakek cabe kok. Gue cuma pengen gini aja" jawab Maira yang langsung melahap bakso bening nya setelah membaca doa sejenak.


Putri dan Nindi langsung memandang Maira dengan heran. Bisa juga dia makan seperti itu, padahal biasanya dia adalah ratu nya cabe. Bahkan bisa menghabiskan satu mangkuk sambal jika sedang gila nya.


"Dedek utun emang baik banget yah. Bisa buat bunda nya nurut" ucap Nindi seraya menyantap mie goreng kecap nya.


"Gue udah lama gak makan nasi. Mungkin udah hampir seminggu" jawab Maira.


"Kenapa?" tanya Putri


"Mual" jawab Maira lagi


"Jadi Lo makan apa dong?" kini Nindi yang bertanya.


"Makan yang lain, yang penting bukan nasi. Biasanya mas Danar selalu bikinin gue salad buah" jawab Maira.


Namun tiba tiba dia langsung terkesiap dengan tangan yang tidak jadi menyendokkan bakso nya.


"Astaghfirullah.... gue lupa" ucap Maira dengan wajah panik.


Membuat Putri dan Nindi juga ikutan panik.


"Ada apa Mai?" tanya mereka.


"Gue kan udah dibekali salad buah sama mas Danar. Kenapa gue malah makan ini?" ungkap Maira dengan wajah yang benar benar panik.


Nindi dan Putri saling pandang aneh melihat nya.


"Aaaahhh gue mau balik. Gue gak bisa ninggalin itu makanan." ungkap Maira yang langsung beranjak dari duduk nya seraya menenteng botol jus yang sejak tadi dia bawa bawa.


Bahkan dia meninggalkan begitu saja bakso yang baru dimakan separuh.


"Ya Allah, itu anak kenapa sih" gumam Nindi begitu heran.

__ADS_1


"Apa bawaan bayi memang gitu" gumam Putri pula.


__ADS_2