Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Diusir Lagi


__ADS_3

Hari sudah mulai sore. Dan setelah mengantarkan Akbar dan Ayu pulang kerumah, Erika pergi lagi kerumah sakit. Tentunya setelah dia shalat ashar terlebih dahulu dirumah tadi.


Erika sudah menepati janjinya untuk membelikan perlengkapan sekolah untuk Akbar, dan beberapa buku menggambar untuk Ayu belajar dirumah agar anak perempuan itu tidak bosan nantinya.


Dan sekarang, dia sudah berada didepan rumah sakit besar. Rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Erika sudah menghubungi nomor rumahnya tadi. Dan pelayan dirumah itu berkata jika ayahnya dirawat dirumah sakit ini. Sudah tiga hari.


Erika menarik nafasnya dalam dalam memandang rumah sakit yang sempat dia datangi beberapa waktu lalu, rumah sakit tempat dokter Danar praktek.


Semoga saja dia tidak bertemu dengan dokter itu. Erika takut jika dokter Danar menanyakan tentang penyakitnya lagi.


Dengan langkah ragu Erika masuk kedalam rumah sakit. Berjalan menuju lantai dua dimana ruangan ayahnya dirawat. Dia gundah, gelisah dan juga takut untuk bertemu dengan orang tuanya. Dia takut jika dia akan di usir lagi. Rasa sakit itu masih terasa hingga saat ini.


Tapi...


Erika juga rindu.


Dan akhirnya Erika berjalan dengan pasti menuju ruangan ayahnya. Apapun yang terjadi, dia harus siap dan menerima.


Yang terpenting dia bisa melihat ayahnya, dan mengobati rasa rindunya selama beberapa bulan ini.


Kamar mawar..


Ruangan dimana ayahnya dirawat.


Erika menarik nafasnya dalam dalam dan mengetik pintu itu beberapa kali. Hingga tidak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuknya.


Erika mematung, memandang kakaknya yang menatap dia dengan sinis.


"Mau apa kamu kemari?" tanya kakak Erika.


"Aku mau lihat ayah kak" jawab Erika.


"Siapa Na?" suara mama Erika membuat jantung Erika bergemuruh. Air mata langsung menggenang dipelupuk matanya.


Rasa rindu nya semakin menggebu. Bahkan tanpa berkata apapun lagi, dia langsung masuk kedalam ruangan ayahnya.


Mama Erika nampak terkejut. Begitu pula dengan tuan Jonas yang terbaring ditempat tidur.


Erika langsung menangis melihat kedua orang tuanya. Tapi sayang nya, pandangan mata mereka tidak berubah, meski hanya berekspresi sedikit melihat kedatangan Erika.


"Papa ..." lirih Erika seraya menahan Isak tangisnya.


"Kenapa kamu datang lagi!"


deg


Langkah kaki Erika yang ingin mendekat kearah papanya langsung terhenti. Hanya air mata yang tidak bisa dia hentikan.


"Ini gara gara kamu. Kamu lihat papa jadi masuk rumah sakit karena perusahaan yang hampir bangkrut. Semua karena kamu yang sudah menghancurkan nama baik papa" ungkap mama.


Erika terisak ditempatnya.


Kenapa?

__ADS_1


Kenapa mereka tega.


Sudah terlalu lama berpisah. Apa tidak ada sedikitpun rasa rindu dihati mereka?


"Pergi kau"


Lagi... jantung Erika terasa terhantam dan tersayat oleh benda yang sangat tajam.


Sakit sekali..


"Papa... mamaa... Erika rindu" ucap Erika dengan Isak tangis yang begitu pilu.


"Pergi" usir tuan Jonas lagi.


"Papa... kenapa kalian tega" ucap Erika begitu lirih


"Itu karena kau yang selalu membawa sial. Pergilah. Hidupmu sudah tenang diluar sana kan. Jangan lagi kemari. Kau bisa cari kehidupan mu sendiri disana" usir mama, dia berbicara dengan begitu tega. Padahal Erika adalah anaknya sendiri.


"Luna, bawa dia keluar" ujar mama


"Mama... kenapa kalian tega melakukan ini pada ku. Kenapa kalian tega?" tanya Erika lagi. Sungguh demi apapun, rasanya sakit sekali.


"Hidup tanpa mu mungkin lebih baik Erika. Pergilah." usir mama lagi. Dia bahkan langsung memalingkan wajahnya dan kembali duduk dikursi disamping tuan Jonas. Dimana papa nya itu juga sudah memejamkan matanya.


Erika hanya bisa menangis dengan pilu.


Kenapa mereka begitu kejam.?


Kenapa tidak ada rasa iba sedikitpun dihati mereka?


Kenapa sekakit ini???


Sebegitu bencikah mereka. Padahal sudah beberapa bulan berlalu. Tapi mereka seakan sudah tidak ingin lagi mengenalnya sebagai anak.


"Mama... setidak nya jika kalian tidak menganggap Erika sebagai anak, tolong,.tolong biarkan Erika ada disini sebagai orang lain" pinta Erika dengan nada yang terdengar begitu hancur.


"Hidup kami sudah tenang selama kau tidak ada. Sekarang pergilah" usir Luna, kakak Erika. Bahkan dia langsung menarik tangan Erika dengan kuat dan membawa dia keluar dari ruangan itu.


Erika menangis, dia kembali menoleh kearah orang tua nya. Tapi sama sekali mereka tidak memperdulikan Erika.


Ya Allah...


"Kakak" lirih Erika pada Luna.


Namun Luna langsung menutup pintu ruangan itu dengan rapat.


Erika langsung terduduk dikursi dan menangis terisak disana. Menangis yang benar benar menangis.


Kenapa mereka tega sekali.


Tidak tahukah mereka jika dia takut berada diluar sendirian?


Dia takut hidup sendirian. Dia takut karena tidak ada lagi tempat dia mengadu. Dia takut hidup dalam kebencian semua orang seperti ini. Dan dia takut karena umurnya yang bahkan sudah tidak akan lama lagi.

__ADS_1


"Kenapa kalian tega" gumam Erika yang menangisi begitu pilu.


Bahkan dia tidak lagi memperdulikan para perawat yang lewat disana.


Perasaan sakit dan kecewa nya tidak bisa dia tahan.


Lama Erika menangis didepan ruangan ayahnya. Berharap mereka akan keluar dan melihat Erika. Tapi nihil, sama sekali mereka tidak ada keluar, bahkan hingga hampir satu jam Erika duduk menunggu dan menangis, mereka juga tidak ingin keluar.


Erika mengusap wajahnya yang basah. Dia mulai beranjak dari duduk nya dan memilih untuk pergi dari sana.


Dia sudah dibuang.


Dia tidak lagi diperlukan.


Sekarang Erika sudah tidak lagi berguna untuk mereka.


Dan dia memang harus hidup sendirian untuk menebus kesalahannya dulu.


Sakit sekali...


Sesakit pinggang nya yang mulai berdenyut ngilu kembali.


Erika tersandar didinding lift seraya tangan nya yang mengusap pinggang nya yang sakit.


Dia ada dirumah sakit, dan bisa saja dia meminta obat untuk penghilang rasa nyeri. Tapi Erika tidak berani, karena pasti dokter Danar lagi yang akan menangani nya.


Sudah lah...


Tahan saja.


Percuma diobati, jika itu hanya akan memperlambat waktu. Dia hanya akan lebih lama menahan sakit jika hanya mengandalkan obat.


Lebih baik dia tahan, semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya.


Jika pun dia mati, tidak akan ada seorang pun yang akan bersedih kan.


Mungkin semua orang akan senang, karena saat ini mereka semua membenci dirinya.


Ya Allah...


Kenapa sekakit ini?


Lagi lagi pertanyaan itu yang terbesit dihatinya. Saat sakit lahir dan batin yang dia rasakan.


Air mata kembali mengalir diwajahnya. Seiring dengan pintu lift yang terbuka.


Erika segera mengusap kembali air mata itu dan keluar dari sana. Namun tiba tiba dia mematung saat melihat seseorang yang juga nampak terkejut dengan kemunculan nya dari dalam lift.


Ervan...


Beberapa detik pandangan mata mereka saling beradu. Namun Erika segera menunduk, dan langsung berlalu dengan cepat.


Meninggalkan Ervan yang memandang nya dengan heran.

__ADS_1


'kenapa dia menangis?' batin Ervan.


__ADS_2