Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kegundahan Erika


__ADS_3

Sementara ditempat lain sore hari nya....


Erika nampak duduk dengan bingung dikursi rumah nya. Dia baru saja selesai shalat ashar. Dan kini duduk seraya memandangi Akbar dan Ayu yang sedang belajar dilantai.


Erika bingung, dia benar benar tidak siap untuk pergi ke pernikahan Putri. Erika tidak siap jika harus bertemu dengan Maira dan teman teman nya yang lain.


Erika takut mendengar perkataan yang membuat hatinya sedih dan sakit. Dia benar benar tidak siap.


Tapi... jika Ervan datang menjemputnya bagaimana?


Bagaimana jika Ervan memaksanya untuk pergi. Erika sudah berjanji untuk menuruti semua perkataan Ervan selama satu bulan ini. Tapi untuk pergi ke pernikahan itu, Erika benar benar tidak siap.


Erika menghela nafasnya dengan berat. Ya Allah... bagaimana cara menolak nya ya.


ck... Erika benar benar bingung.


"Kak.."


"Kak Erika!"


Suara Ayu membuat Erika terkesiap, dia langsung memandang kearah Ayu yang nampak memandang nya dengan bingung.


"Didepan ada mobil. Mobil kak Ervan ya?" tanya Ayu.


Erika langsung lemas dan mengangguk pelan. Dia langsung menoleh kearah luar. Dan ternyata memang Ervan yang datang.


Ah... sudah lah... Bagaimana cara menolak nya.


"Assalamualaikum" sapa Ervan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka.


"Loh... kenapa belum siap siap?" tanya Ervan. Lelaki ini sudah rapi dengan kemeja bercorak batik nya. Seperti nya dia memang niat sekali untuk undangan.


Erika tersenyum kecut dan menggeleng.


"Kayak nya kamu aja deh Van" ucap Erika.


Ervan berjalan kearah Erika dan memandang nya dengan lekat.


"Kenapa?" tanya Ervan.


"Aku ... aku tidak punya baju yang bagus" jawab Erika dengan senyum getir nya.


Ervan langsung mendengus dan menoleh kearah Akbar.


"Bar... tolong ambilkan kotak didalam mobil kakak ya" pinta Ervan.


Akbar mengangguk patuh dan segera berlari keluar. Sedangkan Erika memandang nya dengan bingung.


"Aku udah nyiapin baju untuk kamu. Mau alasan apa lagi?" tanya Ervan seraya berkacak pinggang memandang Erika yang nampak tidak enak.

__ADS_1


"Kenapa repot repot sih. Aku benar benar gak siap ketemu mereka Van" ucap Erika dengan begitu lirih. Dia bahkan langsung tertunduk dengan pandangan sendunya.


Ervan menghela nafas dan langsung duduk disamping Erika.


"Kamu harus buktiin sama mereka kalau kamu udah berubah. Lagian kenapa harus malu. Mereka juga teman kamu" ucap Ervan.


Namun Erika menggeleng pelan.


"Aku benar benar gak siap dengar kata kata menyakitkan itu. Hati aku gak sekuat itu" ungkap Erika.


"Ada aku" ucap Ervan.


Erika tertegun dan langsung memandang kearah Ervan dengan heran. Bahkan degup jantung nya sudah tidak beraturan sekarang, apalagi memandang wajah Ervan yang terlihat begitu serius seperti itu.


"Kamu udah memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik kan. Dan anggap aja ini ujian untuk memastikan kamu benar benar berniat berubah atau enggak. Kamu harus bisa buktiin pada mereka dan juga pada Allah kalau kamu udah berubah Rik" ujar Ervan.


"Kamu lihat Maira dan Nindi kemarin kan. Bahkan setiap hari mereka dapet hujatan, bahkan dikucilkan satu kampus karena mereka yang berhijrah. Tapi mereka tetap kuat, dan akhirnya mereka dapat kehidupan yang lebih baik sekarang. Kamu bisa belajar dari mereka Rik. Kamu pasti bisa" ungkap Ervan dengan begitu serius.


Mata Erika langsung berkaca kaca mendengar itu.


"Apa aku bisa?" gumam Erika.


"Kamu pasti bisa. Kamu sudah berjuang sejauh ini. Dan tinggal membuktikan sama orang orang lagi kalau kamu memang bisa berubah menjadi lebih baik" jawab Ervan.


Erika langsung mengusap air mata yang tiba tiba menetes di wajahnya. Rasanya dia benar benar tidak tahu harus apa. Ervan tidak mengerti bagaimana rasanya diperlakukan seperti ini. Dibenci dan dikucilkan oleh semua orang. Bahkan oleh orang tuanya sendiri. Rasanya benar benar trauma.


Tapi apa yang dikatakan Ervan benar juga. Mungkin ini adalah ujian terakhir yang harus Erika hadapi. Bertahan ditengah tengah hujatan orang orang tentang dia.


"Kenapa kamu begitu baik?" tanya Erika.


"Karena aku tidak menganggap mu orang lain lagi"


deg


Air mata semakin deras turun diwajah Erika, namun dengan cepat dia langsung memalingkan wajahnya dan mengusap air mata itu.


"Terimakasih " jawab Erika yang langsung meraih kotak dari tangan Ervan dan berlari kedalam kamarnya.


Ervan tersenyum tipis memandang Erika yang terlihat begitu rapuh. Bukan Ervan tidak tahu jika Erika takut dan tidak ingin pergi. Dia tahu, dan sangat tahu. Hanya saja, Erika butuh teman. Dia harus tahu jika dia tidak sendirian didunia ini meski dia sudah dibuang. Semoga saja Maira dan Nindi menepati perkataan mereka kemarin dan tidak membuat mental Erika semakin hancur.


Ervan menghela nafasnya dengan pelan dan memandang pada Akbar dan Ayu yang sejak tadi tidak ingin ikut dalam pembicaraan mereka.


Walau bagaimana pun masa lalu Erika, tapi melihat dia yang sekarang, Ervan juga tidak tega untuk mengabaikan nya. Hingga bagaimana pun caranya, Ervan ingin Erika sembuh kembali. Apalagi ketika melihat Akbar dan Ayu, mereka sangat bergantung pada Erika.


Ya Allah...


semoga ada jalan terbaik untuk semua nya.


Hampir lima belas menit kemudian, Erika sudah keluar dari dalam kamar. Dia mengenakan pakaian yang dibawa oleh Ervan. Dress cantik bewarna biru muda dengan bagian bahu yang terdapat kain yang menjuntai juga dengan hijab yang senada membuat dia kelihatan sangat anggun. Ditambah dengan riasan sederhana yang menutupi wajah pucatnya membuat Erika terlihat segar kembali. Apalagi dengan tubuhnya yang memang tinggi semampai, membuat dia kelihatan sangat anggun dan cantik.


Ervan yang ingin mengabaikan penampilan Erika malah tidak bisa berpaling. Dia malah terpana melihat Erika yang terlihat berbeda seperti ini.

__ADS_1


Astaghfirullah... Ervan langsung memalingkan wajahnya dengan cepat.


"Kakak cantik sekali" puji Ayu dengan mata yang berbinar memandang Erika.


"Enggak lucu kan?" tanya Erika pada Ayu


"Enggak, cantik sekali seperti princess berhijab" jawab Ayu.


Ervan langsung tertawa mendengar nya sedangkan Erika hanya tersenyum malu mendengar itu.


Ervan membawa pakaian dan juga sepatu. Lengkap, niat sekali dia. Tapi Erika juga heran kenapa Ervan menyiapkan ini untuk nya. Padahal dulu, ah... jangan ditanyakan lagi.


"Sudah... ayo kita berangkat" ajak Ervan


Erika mengangguk pelan dan kembali menoleh pada Akbar dan Ayu.


"Kalian baik baik dirumah ya. Mungkin kami pulang sampai malam nanti. Berani kan?" tanya Ervan.


"Berani kak. Hati hati" ucap Akbar.


"Oke. Pasti" jawab Ervan seraya mengusap kepala Akbar dengan gemas.


"Jangan pergi kemana mana ya. Kalau mau makan, makanan sudah ada didapur" ujar Erika pula.


"Iya kak" jawab Ayu.


Erika dan Ervan tersenyum dan langsung berjalan keluar diikuti oleh Akbar dan Ayu yang mengantar kepergian mereka hingga keluar rumah.


Bahkan sampai mobil yang dikemudikan Ervan mulai pergi Akbar dan Ayu masih melambaikan tangan mereka.


Ah... Erika dan Ervan sudah terlihat seperti orang tua yang memiliki dua anak sekarang. Lucu sekali.


Disepanjang perjalanan, tidak ada seorangpun yang berbicara. Erika memandang kearah luar jendela dan memandangi jalanan sore yang cukup padat dihari itu.


Hatinya benar benar cemas dan gugup. Bahkan dia sampai meremas tangan nya karena rasa gugupnya itu.


"Jangan gugup. Kamu sudah berdandan seperti itu tapi jika gugup kamu akan terlihat jelek lagi" ucap Ervan.


Erika menghela nafas dan memandang kearah Ervan dengan sendu.


"Apa kamu tidak malu membawaku Van?" tanya Erika.


"Tidak" jawab Ervan tanpa fikir panjang.


"Tapi aku takut jika....."


"Sudahlah, kamu tidak boleh berfikiran negatif terus. Mungkin saja mereka sudah melupakan semua nya. Lagipula kita datang untuk menghadiri pesta pernikahan Putri. Sudah jelas yang kita temui adalah dia, bukan yang lain" ucap Ervan yang langsung memotong perkataan Erika.


Erika hanya bisa menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Semoga saja dia tidak membuat Ervan malu nanti nya.


Meski sebenarnya Erika juga benar benar heran kenapa Ervan bisa sebaik ini padanya.

__ADS_1


__ADS_2