
Suara ketikan keyboard terdengar menggema dikamar Maira malam itu. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun tangannya masih terus bekerja mengetik sesuatu dilaptopnya.
Matanya terlihat begitu serius menatap layar PC, hanya bola matanya saja yang bergerak kesana dan kemari.
Kamar itu terlihat hening meski ada dua manusia didalam sana.
Sejak selesai makan malam tadi, Maira lebih dulu masuk kedalm kamar untuk menulis novel nya yang sudah lama terbengkalai. Daripada selalu menahan kesal melihat wajah dan kelakuan dokter Danar, Maira memutuskan untuk menulis saja. Meski tugas kuliah juga sudah menumpuk tapi dia lebih memilih untuk menulis, menuangkan ide ide cerita yang sedikit bisa menghibur hati.
Maira meregangkan otot otot tangannya yang terasa pegal seiring matanya yang melirik pada dokter Danar yang masih duduk diatas sajadah. Dokter tampan itu terlihat begitu serius dengan sebuah Al Quran ditangannya. Tidak terdengar suara nya mengaji, hanya gumaman gumaman kecil saja yang terdengar sejak tadi.
"Istirahat lah dulu, kamu bisa melanjutkan nya besok" kata dokter Danar tiba tiba. Maira langsung terkesiap kaget mendengar itu. Padahal sejak tadi dokter Danar terlihat fokus pada bacaan nya, tapi dia bisa tahu jika Maira tengah memperhatikan nya.
"Tidak baik tidur terlalu malam" kali ini dokter Danar menoleh pada Maira.
Maira hanya diam saja dan kembali memandang layar laptopnya. Dokter Danar terlihat tersenyum kecil seraya melipat sajadahnya. Menyimpan Al Quran ditempat teratas lemarinya dimana ada perlengkapan ibadah yang lain. Dia melepas baju koko dan sarung nya, juga peci yang semua dia letakkan rapi pada tempatnya.
Maira sebenar nya tidak ingin perduli, tapi entah kenapa setiap pergerakan yang dilakukan oleh dokter Danar tidak bisa untuk diabaikan, matanya selalu tidak bisa dikondisikan. Dia laki laki, tapi dia begitu rapi dan bersih. Apa semua dokter memang seperti itu???
Dokter Danar juga pintar memasak, dan Maira akui jika dia sangat menyukai masakan dokter Danar.
Maira yang wanita saja tidak bisa seperti itu. Untuk mandi saja terkadang dia malas, apalagi untuk hal yang lain.
Sungguh sepertinya Maira memang tidak akan pernah cocok menjadi pasangan dokter ini. Dan Maira berfikir sepertinya dokter Danar juga sedang terganggu otaknya sehingga dia mau menikahi Maira.
Tangan Maira kembali mengetik, namun sesekali pandangan mata nya melirik dokter Danar yang sedang menggelar sebuah kasur lipat tipis diatas lantai tepat disamping tempat tidurnya. Dia mengambil dua bantal dan selimut tipis dari atas lemari danlangsung berbaring disana.
Maira lagi lagi terkesiap saat dokter Danar berbaring mengarah kearahnya dan memandang nya dengan lekat
"Kamu hobi menulis?" tanya dokter Danar.
Maira hanya mengangguk pelan tanpa mau memandang dokter Danar. Kini matanya kembali memandang tulisan nya dilaptop.
"Menulis cerita apa?" tanya dokter Danar lagi
"Mau tahu aja" jawab Maira terdengar ketus, namun dokter Danar hanya tersenyum tipis dan masih memandang Maira dengan lekat
"Sebenar nya saya tahu" ucap dokter Danar. Maira melirik nya dengan dahi yang mengernyit heran
"Kamu suka menulis genre romantis. Seorang gadis yang mendapatkan laki laki yang sangat mencintainya dengan segala perjuangan dan kesenangan" ungkap dokter Danar
"Tahu dari mana coba" gumam Maira dengan wajah yang cemberut
"Isi cerita kamu menarik, dan saya rasa kamu memang mempunyai bakat menulis yang hebat. Sepertinya kamu memang sudah berpengalaman"ucap dokter Danar
"Semua yang saya tulis memang harus dari hati supaya bisa lebih hidup. Dan pengalaman juga memberikan saya inspirasi" jawab Maira
"Apa semua memang dari pengalaman kamu?" tanya dokter Danar dan Maira langsung memandang nya tidak mengerti
__ADS_1
"Seperti adegan yang sedikit vulgar itu" ucap dokter Danar dengan senyum yang terkesan mengejek dimata Maira
"Bukan urusan dokter" dengus nya kesal
"Sekarang sudah jadi urusan saya" sahut dokter Danar langsung
"Semua saja menjadi urusan dokter. Sampai sampai tulisan saya juga harus dokter urus" kata Maira dengan wajah yang begitu kesal. Dia benar benar jengkel dengan suaminya ini. Entah dari mana dia tahu tentang isi tulisan Maira, apa dia juga salah satu pembacanya?? Mustahil!
Dokter Danar tersenyum dan masih memandang wajah kesal itu, seolah memang tidak ada keindahan lain yang bisa dia pandang, meskipun Maira sedikitpun tidak pernah tersenyum padanya.
"Saya suami kamu Maira, dan saya wajib memberitahu jika kamu salah" kata dokter Danar dengan begitu lembut
"Apanya yang salah dengan menulis" sarkas Maira
"Tidak ada yang salah dengan menulis, kamu boleh terus mengekspresikan hati dan fikiran kamu dengan tulisan. Tapi saya minta, tolong jangan lagi menulis adegan vulgar itu, tidak baik Maira" dokter Danar mencoba menjelaskan dengan pelan dan hati hati pada Maira. Meski dia tahu Maira pasti tidak suka dengan semua nasehatnya
"Tahu dari mana coba saya menulis begitu. Lagian apa salah nya juga? Semua novel juga begitu" gerutu Maira dengan wajah cemberut nya.
" Maira, sesuatu yang kamu tulis akan dibaca oleh banyak orang. Mereka yang membaca karya kamu sudah pasti mereka juga menikmatinya. Kamu tahu, hasil yang baik akan menjadi baik untuk kamu, namun sesuatu yang buruk akan menjadi tidak berkah nantinya. Kamu tidak boleh merusak fikiran orang lain yang berimajinasi karena karya kamu yang mengandung hal hal yang sebenar nya dilarang untuk difikirkan. Itu akan menjadi dosa jariyah untuk kamu nantinya" ungkap dokter Danar panjang lebar. Dia memandang Maira yang terlihat datar dan dingin itu
"Saya tahu dan tidak usah ceramah" sahut Maira yang langsung mematikan laptopnya. Mood menulisnya jadi hilang sekarang. Beginilah jika punya suami yang terlampau religius. Semua semua serba salah, menyebalkan sekali.
"Saya hanya mengingatkan. Kamu istri saya. Segala hal yang kamu lakukan adalah tanggung jawab saya" kata dokter Danar
"Terserah!" sahut Maira. Dia meletakkan laptopnya diatas meja nakas dan setelah itu meraih selimut dan merebahkan tubuhnya dengan kasar diatas tempat tidur.
"Berisik deh dokter. Tidur aja sana" seru Maira dari balik selimutnya
Dokter Danar hanya menarik nafas sejenak dan menggeleng pelan. Maira, istri kecilnya yang begitu sulit untuk diluluhkan.
.....
Keesokan paginya, Maira dan dokter Danar sudah selesai sarapan. Mereka akan pergi ketempat tujuan mereka masing masing sekarang.
Pagi ini Maira bangun kesiangan, itupun dibangunkan oleh dokter Danar hingga beberapa kali dan barulah dia terjaga dari tidurnya. Maira tidak mandi, dia hanya mencuci wajah dan menggosok gigi saja. Mereka sarapan dengan cepat karena hari memang sudah jam tujuh lewat.
"Maira" panggil dokter Danar saat melihat Maira yang sudah berlari kearah motornya. Dokter Danar yang baru saja membuka pagar rumah kini berjalan mendekat kearah Maira yang sudah duduk diatas motor. Dia memandang dokter Danar dengan heran.
"Ada apa lagi dokter?. Saya sudah telat ini" ucap Maira. Dia menatap tangan dokter Danar yang terjulur kearahnya. Tangan kekar yang terbalut kemeja bewarna maron, sangat kontras dikulit putihnya.
"Salim dulu" ujar dokter Danar
"Salim?" tanya Maira dengan wajah yang terlihat aneh
"Biasakan salim sama suami jika pergi kuliah" ujar dokter Danar lagi. Namun bukan nya menjawab, Maira hanya mendengus dan segera meraih helm nya. Namun dengan sigap pula dokter Danar meraih tangan Maira, membuat Maira langsung tertegun dan menatap kesal dokter Danar. Namun pandangan matanya langsung berubah saat dokter Danar menempelkan punggung tangan nya didahi Maira
"Hati hati, jangan ngebut" ucap dokter Danar dengan senyum lembut nya dan entah kenapa itu membuat Maira menjadi canggung sekarang.
__ADS_1
Buru buru dia langsung memakai helm nya, dan segera melajukan motornya meninggalkan dokter Danar yang masih menatap kepergian Maira.
...
Tidak sampai setengah jam Maira sudah tiba dikampus. Dia melajukan motor lumayan laju, perkataan dokter Danar sama sekali tidak diindahkan nya.
Setelah memarkirkan motor, Maira langsung berlari menuju gedung universitas nya. Pagi ini adalah mata pelajaran dokter Kiler dikelasnya sehingga Maira harus segera tiba tepat waktu. Lima menit lagi kelas akan masuk, dan dapat dia lihat diujung ruangan dosen, dokter kiler itu sudah keluar dari ruangan nya.
Bukan nya dia harus disiplin, tapi dia tidak bisa meremehkan dosen satu ini. Nilai mata kuliahnya sudah sangat rendah dibuat oleh dosen nya ini dan jangan sampai dia tidak lulus karena mencari masalah lagi.
Maira berlari dengan tergesa gesa mengitari setiap koridor ruangan menuju kelasnya. Nafasnya benar benar memburu karena harus berkejaran dengan waktu. Jika bukan karena dosen berkepala botak ini yang masuk, Maira sudah pasti memilih untuk bolos saja hari ini.
Namun tiba tiba tanpa sengaja saat berada dipertigaan ruangan, seseorang keluar dari kelasnya, dan itu membuat Maira tidak bisa menghentikan laju larinya, dan akhirnya dia malah menabrak orang itu.
"Aaarrrgghhhh punya mata gak sih lo!!!" teriak seorang gadis pada Maira yang sudah jatuh terduduk dilantai. Gadis itu tidak sampai terjatuh karena dibantu oleh teman teman yang dengan sigap menangkapnya.
Maira mendongak dengan ringisan diwajahnya, dan betapa kesal nya dia melihat orang yang ditabrak nya adalah orang yang paling dia benci selama ini.
Maira segera berdiri dan menatap gadis itu dengan kesal. Erika, musuh bebuyutan Maira sejak masuk keuniversitas ini. Gadis ini adalah gadis yang pernah membuat hubungan nya dengan Ervan berulang kali terlibat masalah karena gadis ini juga begitu tergila gila pada kekasihnya.
Maira mendengus gerah melihatnya, dia menepuk kasar punggung nya yang kotor
"Lo yang gak punya mata, dasar ulet bulu. Minggir lo!!" seru Maira yang tidak ingin disalahkan. Dia ingin berlalu namun langsung dicekal oleh Erika
"Tanggung jawab lo. Lo liat pakaian mahal gue basah gara gara lo" seru Erika seraya menunjuk dada nya yang terkena tumpahan minuman saat Maira menabrak nya tadi
"Dih, segitu doang belagu. Awas, gue udah telat" Maira ingin berjalan kembali namun lagi lagi Erika menghalangi nya
"Lo ngatai gue belagu, hebat banget lo ya. Udah bagus lo gak masuk sebulan, ngapain lagi lo ngototrin kampus ini, gue kira lo udah mati" kata Erika begitu sinis
"Bukan urusan lo" dengus Maira. Ingin sekali rasanya dia menampar mulut Erika, namun dia sadar, jika dia melakukan itu maka besok pagi dapat dia pastikan dia akan langsung didepak dari kampus ini. Erika merupakan anak dari salah satu pemilik saham dikampus ini. Meski bukan pemilik utama, namun Erika memang sungguh sangat merasa berkuasa disana.
"Tapi udah lumayan sih lo gak masuk sebulan, gue jadi bebas deketin Ervan" ungkap Erika dengan senyum sinis nya. Tiga temannya langsung tertawa mengejek melihat wajah Maira yang terlihat menahan kesal saat ini.
"Dan gue pastiin, gak lama lagi lo bakal dibuang sama Ervan karena gue udah bisa ngerebut hatinya sedikit demi sedikit" bisik Erika ditelinga Maira.
Maira memandang Erika begitu tajam, dia mengepalkan kedua tangan nya menahan kesal yang begitu menggebu dihatinya
"Coba aja kalau lo bisa. Ervan itu cinta mati sama gue, dan dia gak akan ngeliat cewe lain, apalagi cewe kayak elo" balas Maira, namun Erika malah tertawa sinis mendengar nya
"Oh ya, kita lihat aja nanti" sahut Erika begitu angkuh.
Maira hanya mendengus gerah dan langsung melengos pergi meninggalkan Erika yang tertawa senang melihat wajah marah Maira.
Maira berjalan dengan wajah yang tertekuk begitu kesal. Sungguh hatinya benar benar ingin meledak saat ini. Masih pagi, tapi harinya sudah harus dimulai dengan hal hal yang menjengkelkan.
Dokter Danar yang menyebalkan, Erika sang benalu, dan lagi, kali ini dia pasti tidak akan mendapatkan nilai dari mr.Petro, dosen killernya.
__ADS_1
"Gini amat hidup gue" gumam Maira dengan wajah sedih nya