Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Minggu Pagi Dirumah


__ADS_3

Tidak terasa seminggu sudah Maira menjalani hidup berdua bersama dokter Danar dirumah kecil mereka. Tidak ada yang spesial yang dirasakan oleh Maira. Sifat dokter Danar yang disiplin dan terlalu mengekang nya membuat Maira merasa tertekan dengan kehidupan nya yang sekarang.


Jika dulunya hidup Maira bebas dan tidak ada yang mengatur, namun sekarang dia merasa jika kehidupan nya benar benar membuatnya jenuh. Bahkan hanya untuk keluar malam dan berkumpul bersama kedua sahabatnya saja Maira tidak lagi bisa. Larangan dokter Danar benar benar tidak bisa dibantah.


Minggu pagi ini, Maira masih nyaman dalam tidurnya. Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun mata Maira masih enggan untuk terbuka. Dia masih terlalu nyaman berada didalam selimutnya. Subuh tadi dokter Danar memaksa nya bangun untuk shalat subuh. Maira begitu enggan untuk melakukannya, namun dokter tampan itu malah memercikkan air kewajahnya dan itu membuat Maira kesal setengah mati. Untuk seumur hidupnya, hanya dokter Danar yang berani mengganggu tidur Maira. Dan meskipun begitu, mau tidak mau Maira tetap bangun meskipun sehabis shalat subuh dia tidur lagi.


Namun tidur nyaman nya tidak lama karena kini dia merasa jika sebuah suara kembali terdengar dan mengganggu tidurnya.


"Maira.." panggil dokter Danar yang baru masuk kedalam kamar itu. Dia masih memakai pakaian olahraga. Sepertinya dokter tampan itu baru saja lari pagi, terlihat dari keringat yang masih membasahi wajah tampan nya.


"Maira, bangunlah. Hari sudah siang!" ucap dokter Danar lagi. Dia berjalan mendekat kearah Maira dan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Maira hanya menggeliat perlahan dan memalingkan tubuhnya membelakangi dokter Danar.


"Maira.." dokter Danar menarik tubuh Maira dengan lembut, namun Maira malah berdecak kesal dengan wajah kusut nya


"Dokter apaan sih! Saya masih ngantuk. Bisa gak jangan ganggu" seru Maira begitu kesal


"Sudah siang, tidak baik tidur terlalu lama" jawab dokter Danar


"Berisik. Libur juga..." sahut Maira yang kembali menarik selimutnya. Namun segera ditahan oleh dokter Danar


"Dokter......." rengek Maira memandang kesal dan frustasi pada dokter Danar. Namun dokter Danar hanya tersenyum dan melipat selimut itu


Maira langsung beranjak dan duduk disisi tempat tidur dengan wajah kusut dan rambut yang acak acakan. Matanya masih benar benar mengantuk, namun dokter Danar memang menyebalkan


"Keterlaluan banget"dengus Maira begitu kesal. Dia mengusap matanya yang masih kabur dan sayu


"Nanti siang kamu bisa melanjutkan tidur lagi" kata dokter Danar. Kini dia beralih kemeja disamping tempat tidur Maira. Dia terlihat membereskan meja yang sangat berantakan itu.


Maira hanya mendengus dan langsung beranjak kekamar mandi. Meninggalkan dokter Danar yang hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan istrinya. Dia memang harus menyiapkan sabar yang ekstra untuk menghadapi sikap Maira.


"Menyebalkan" gerutu Maira didalam kamar mandi. Dia berjongkok didepan bak kamar mandinya, entah apa yang dilakukan nya disana. Dia hanya melamun sembari mulutnya yang terus menguap tiada henti.


Hingga setengah jam kemudian Maira baru keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya sudah terlihat segar, hanya matanya saja yang masih sembab karena dia masih mengantuk. Malam tadi dia lembur menulis novelnya. Namun tidur nya juga tidak bisa tenang karena dokter Danar yang terus mengganggu.


Mata Maira memicing melihat kamar yang sudah rapi dan bersih. Tempat tidur yang bersih dan harum, meja belajar nya yang rapi dan ini benar benar pemandangan yang menyegarkan disetiap paginya.


"Kayaknya dia memang berbakat jadi pembantu gue deh" gumam Maira dengan senyum sinis nya


Maira berjalan kemeja rias kecilnya. Menyisir rambut dan memakai pelembab wajah. Setelah itu dia keluar dari kamar menuju kedapur untuk meminum air putih. Rasanya tenggorokan nya begitu haus, padahal mandi tadi dia begitu kedinginan.


Saat sedang minum, tiba tiba telinganya mendengar keributan didepan rumah.Entah apa yang terjadi, namun karena penasaran, Maira pun langsung melangkahkan kakinya kedepan rumah.


Tangannya masih memegang botol air mineral, dia berdiri didepan pintu dan melihat sekumpulan ibu ibu komplek yang sedang berkerumun tepat didepan pagar rumah nya.


"Ngapain sih?" gumam Maira yang masih terus memperhatikan mereka. Dan perhatiannya langsung tertuju pada seorang lelaki tampan yang terlihat begitu dominan diantara ibu ibu itu. Dokter Danar, ya suami nya itu begitu lihai dan terampil dalam memilih sayuran bersama ibu ibu yang lain. Ternyata seorang penjual sayur keliling yang mereka kerubuti.


Dan samar samar Maira masih bisa mendengar percakapan dokter Danar bersama ibu ibu itu, suara mereka tidak ada yang pelan sama sekali.


"Jadi mas nya bekerja dirumah sakit besar itu ya?" tanya seorang ibu yang berbadan gemuk


"Iya bu" jawab dokter Danar dengan senyum ramah nya seperti biasa

__ADS_1


"Tinggal disini sama siapa? Adiknya?" tanya ibu berbadan kurus


"Istri saya bu" jawab dokter Danar. Tangan nya masih sibuk memilih milih sayur bayam yang menurutnya masih segar


"Istri???? Saya kira adiknya loh mas. Masih muda banget soalnya" ucap ibu berbadan kurus itu. Maira yang mendengarnya langsung mendengus sinis


"Iya bu, dia masih kuliah. Gak cocok ya sama saya?" tanya dokter Danar dengan tawa kecilnya


"Cocok kok mas. Mas nya juga masih muda, ganteng lagi. Saya kira masih lajang, mau saya jodohin sama anak perawan saya mas. hehe" kata ibu berbadan kurus. Dokter Danar hanya tertawa saja menanggapinya


"Hus, mana mau mas nya sama anak kamu. Kamu gak lihat istrinya cantik, muda, bening lagi" sahut ibu berbadan gemuk


"Ya kan mana tahu ya mas" ucap ibu berbadan kurus. Dokter Danar kembali tersenyum dan menggeleng. Dan Maira masih betah memperhatikan mereka dari jauh.


"Sudah seminggu disini, kok baru kelihatan mas?" tanya ibu berbadan gemuk


Dokter Danar yang sedang memilih sayur menoleh sejenak kearahnya


"Iya bu, pagi saya sudah berangkat kerja. Dan kebetulan hari ini libur" jawab dokter Danar


"Kenapa gak istri mas aja yang beli?" tanya ibu berbadan kurus. Sepertinya ibu ini begitu ingin tahu dan agak random sejak tadi. Apa ibu ibu memang seperti itu????


"Waah pengantin baru. Masih pagi udah pada mandi aja" goda ibu berbadan kurus lagi


"Iyalah, kamu itu yang udah kadaluarsa. Mana pernah mandi pagi lagi" sahut ibu berbadan gemuk


"Sembarangan bu Joko, saya masih seger, mana tahu ibu saya mandi pagi" sahut nya kesal


"Iya mang, gak apa apa" jawab dokter Danar yang hanya tersenyum melihat kelakuan dua ibu ibu itu


"Mang Ujang berisik aja deh. Lagian kan memang harus ramah sama tetangga baru" sahut ibu berbadan kurus


"Bilang aja karena ganteng" sindir mang Ujang membuat ibu berbadan kurus melengos kesal sedangkan ibu berbadan gemuk langsung tertawa lucu karena perkataan mang Ujang memang benar adanya


"Yaudah lah. Ini hitung punya saya" kata ibu berbadan gemuk seraya menunjukkan belanjaannya


"Mas siapa nama nya? Saya bu Joko, rumah saya disebelah. Kapan kapan ajak istrinya mampir, minum teh bareng" ujar bu Joko


"Saya Danar bu. Istri saya Maira. Insha Allah, jika ada waktu kami pasti mampir" jawab dokter Danar


"Ya, kerumah saya juga mas. Disebelah rumah bu Joko. Saya bu Bambang" sahut ibu berbadan kurus tadi


"Iya bu Bambang, Insha Allah" ucap dokter Danar yang sedikit menganggukkan kepala nya


Tidak lama setelah itu dokter Danar membayar sayur dan daging yang dibelinya. Dia langsung membawa belanjaan nya dengan sedikit kepayahan karena dia berbelanja untuk stok beberapa hari kedepan.


Didepan pintu dia melihat Maira yang masih berdiri disana. Tidak niat membantu, Maira malah melengos dan masuk kedalam rumah meninggalkan dokter Danar yang hanya tersenyum saja melihatnya.


"Ngeteh yuk. Saya sudah siapkan roti bakar untuk kamu" ajak dokter Danar pada Maira yang sedang memainkan ponselnya dan bersandar didinding kamar


"Bosen tahu dokter, teh hijau mulu tiap pagi" sahut Maira. Namun dia tetap mengikuti langkah dokter Danar kedapur

__ADS_1


"Biar sehat. Kamu punya kebiasaan tidur larut malam, dan teh hijau bisa menjaga kesehatan jantung kamu, memperlancar aliran darah dan oksigen keotak sehingga dapat mengurangi gejala insomnia" ungkap dokter Danar. Dia meletakkan semua belanjaan nya diatas wastafel. Sementara Maira duduk dikursi makan dengan pandangan malas


"Kayak gak bisa yang lain aja" gumam nya


Dokter Danar hanya tersenyum dan mencuci tangan nya dengan bersih. Setelah itu dia berjalan menuju meja makan dan duduk didepan Maira. Tangan nya langsung meraih sebuah teko kecil berisi teh hijau yang sudah disiapkan nya sejak tadi. Dia menuangkan nya kedalam dua gelas.


Dokter Danar memandang Maira yang masih berwajah datar itu dengan senyuman yang selalu teduh. Tangan nya langsung mendekatkan segelas teh kehadapan Maira dan juga sepiring roti bakar dengan toping cokelat kesukaan Maira


"Hari ada rencana kemana?" tanya dokter Danar


Maira yang ingin menyantap rotinya langsung menoleh kearah dokter Danar


"Mau jalan sama temen. Awas aja kalau dilarang lagi"  kata Maira dengan ketus, namun dokter Danar malah tertawa melihat nya


"Boleh... tapi ada syaratnya" jawab dokter Danar. Dan tentu saja itu membuat Maira kesal. Apa tidak bisa dokter Danar membiarkan dia bebas sehari saja. Memang menyebalkan sekali dokter ini


"Dokter, lama lama saya bisa cepet tua hidup sama dokter. Semua gak boleh, nyebelin banget" seru Maira dengan wajah kesal nya


"Mau tidak? Kalau tidak mau yasudah" ujar dokter Danar begitu santainya membuat Maira bertambah kesal saja. Rasa nya Maira benar benar ingin sekali melemparkan gelas teh ini kewajah dokter Danar yang menyebalkan itu


"Apa?" tanya Maira dengan terpaksa


"Kamu harus temani saya memasak hari ini" jawab dokter Danar. Maira langsung melebarkan matanya mendengar itu


"Memasak?" tanya Maira tak percaya


Dokter Danar langsung mengangguk seraya menyesap teh nya


"Dokter tahu kan kalau saya tidak bisa memasak?" sahut Maira


"Tahu, maka dari itu kamu harus belajar" jawab dokter Danar


"Dokter memang nyebelin" sergah Maira. Dia langsung memakan rotinya dengan penuh nafsu. Dokter Danar hanya mengendikkan bahunya dengan acuh. Dia juga kembali menikmati sarapan nya dan mengabaikan wajah Maira yang sangat kesal saat ini


Dan akhirnya, demi untuk keluar rumah, pagi ini Maira membantu dokter Danar memasak untuk makan siang mereka nanti. Maira mengerjakan nya dengan begitu enggan, tapi meskipun begitu, dia selalu menurut apa yang diperintahkan oleh dokter tampan itu. Jangan sampai dia tidak diperbolehkan keluar hari ini. Jika tidak, maka Ervan dan kedua sahabatnya pasti akan bertanya tanya dan mencari tahu dimana keberadaan nya lagi.


Hampir satu jam lebih mereka berkutat didapur, dokter Danar begitu lihai dalam memasak sayur dan daging yang tadi dibelinya. Sayur capcai, steak rumahan ala dokter tampan dan juga perkedel kentang berhasil mereka buat hari ini. Dan ini adalah hasil masakan Maira yang pertama. Dalam hatinya dia cukup puas melihat pencapaian nya ini. Ya walaupun lebih banyak usaha dokter Danar didalam nya. Tapi untuk seumur hidupnya, baru kali ini Maira berkutat didapur.


"Ini pertama kali nya kamu memasak?" tanya dokter Danar sembari merapikan wastafel mereka


Maira yang sedang merapikan hasil masakan mereka dimeja makan hanya mengangguk dan bergumam saja


"Setiap minggu kamu harus belajar memasak supaya pintar" ujar dokter Danar


"Untuk apa?" tanya Maira yang kini menghadap kedokter Danar yang sedang mencuci peralatan memasak mereka


"Supaya nanti ketika saya tidak ada, kamu bisa memasak sendiri" jawab dokter Danar


"Beli bisa, untuk apa repot repot" sahut Maira


Dokter Danar hanya tersenyum tipis mendengar nya

__ADS_1


Maira, entah kapan dia bisa manis sedikit saja pada dokter Danar


__ADS_2