
Putri dan Nindi memandang Maira begitu tajam. Bahkan mereka memperhatikan Maira begitu lekat sejak tadi. Mereka benar benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Maira barusan. Maira juga sudah menjelaskan alasan nya menikah dengan dokter Danar, dan juga bagaimana perjanjian mereka selama tiga bulan ini.
"Jadi selama ini, itu yang lo tutupin dari kita??" tanya Putri, dan Maira langsung mengangguk dengan wajah lesu nya. Bukan hanya lesu karena demam, namun juga lesu karena dia merasa bersalah pada kedua sahabatnya ini.
"Dan lo ngadain perjanjian tiga bulan nikah. Kalau lo gak bisa nerima dokter Danar, maka setelah tiga bulan kalian bakalan cerai gitu?" tanya Putri kembali, dan lagi lagi Maira langsung mengangguk
Putri menarik nafasnya dalam dalam dan menggeleng perlahan
"Lo sama aja mainin ikatan pernikahan tau gak Mai" Putri terlihat kesal mendengar nya
"Meski gue gak tahu agama, tapi nikah itu bukan untuk main main" kata Putri lagi. Dan Nindi langsung mengangguk setuju
"Ya gimana, gue kan terpaksa nikah sama dia. Lagian gue cinta nya sama Ervan, bukan sama dokter Danar" jawab Maira dengan wajah cemberut nya
"Gila sih Mai. Lo menang banyak emang" gumam Nindi
"Menang banyak apaan?" tanya Maira
"Ya lo punya pacar ganteng, eh punya suami juga lebih ganteng. Serakah banget lo jadi orang" ungkap Nindi. Dan sekarang dia yang terlihat kesal
"Nah, kali ini gue setuju sama Nindi. Lo memang serakah. Harusnya lo pilih salah satu diantara mereka. Kalau kayak gini lo bakalan nyakitin mereka berdua Mai" ujar Putri
Maira langsung menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya disofa
"Masalah nya dokter Danar gak mau nyerein gue. Tiga bulan ini dia yang minta, dia mau yakinin gue selama tiga bulan ini. Kalau gue tetep gak bisa cinta sama dia, maka dia akan ngelepasin gue" jawab Maira
"Emang dia cinta sama elo?" tanya Nindi
Maira langsung mengendikkan bahunya. Dia juga tidak tahu bagaimana perasaan dokter Danar padanya selama ini. Yang dia tahu, dokter Danar memang baik dan cukup perhatian.
"Kok malah gak tahu sih" gerutu Nindi
"Mai, lo harus bisa mempertimbangkan ini" kata Putri
"Gue bingung" jawab Maira
"Bingung kenapa?" tanya Nindi sedangkan Putri masih diam dan menunggu jawaban dari Maira
"Gue cinta nya sama Ervan. Tapi kalian tahu sendiri kan Ervan gimana, orang tuanya gak setuju sama gue, lagipula Erika juga pasti akan jadi benalu terus dalam hubungan kami, sedangkan dokter Danar.... Dia terlalu baik buat gue" jawab Maira dengan wajah sedihnya
Putri dan Nindi saling pandang bingung dengan ekspresi Maira ini
"Awalnya gue benci banget sama dia, karena dia masa depan gue jadi berantakan. Karena dia hidup gue jadi terkekang. Dia terlalu disiplin dan pengatur. Gak boleh ini, gak boleh itu. Tapi dilain sisi, dia juga baik. Dia perhatian dan selalu ngajarin gue hal hal yang baik." ungkap Maira
"Lah terus dimana masalahnya. Kalau emang dia lebih baik dari Ervan, ya dilanjutin ajalah" sahut Nindi. Namun Maira kembali menghela nafas nya
"Gue gak cinta sama dia Nin" ucap Maira
Putri menghela nafas dan kembali memandang Maira dengan lekat
"Mai, masih ada waktu untuk lo berfikir. Dan lo harus bisa memilih dengan baik. Ervan cuma cowo lo, dan dokter Danar udah jadi suami lo. Lo jangan sampai nyesel dikemudian hari" Putri terlihat begitu memperingati Maira. Karena kini masalah nya memang sudah serius
"Iya Mai. Lagian dari wajahnya aja udah tahu kok kalau dokter Danar orang yang baik" sahut Nindi pula
__ADS_1
"Put, Nin, gimana kalau kalian yang jadi gue. Gue sama Ervan udah dua tahun berhubungan, kami saling cinta, meskipun banyak rintangannya. Dan sama dokter Danar gue sama dia baru ketemu berapa kali dan terpaksa dinikahin. Gue bingung tahu gak. Gue gak bisa ngelepasin cinta gue gitu aja" gerutu Maira terlihat kesal
Putri dan Nindi kembali saling pandang dan menggeleng pelan. Mereka tidak tahu memang bagaimana rasanya jadi Maira. Tapi yang mereka tahu hubungan Maira dan Ervan memang sedikit sulit, jalan untuk bersama juga banyak rintangan nya
"Walaupun Ervan nyebelin, tapi ngerelain dia gitu aja gak akan mungkin" gumam Maira lagi. Dan matanya berkaca kaca sekarang
Nindi dan Putri langsung beranjak dan duduk mengapit disamping Maira. Mereka memeluk Maira bersamaan membuat Maira langsung menangis sekarang.
"Gue masih belum siap nerima ini semua. Rasanya kayak mimpi, hiks...."
"Gue pengen Ervan yang jadi suami gue nanti, tapi malah orang lain" ucap Maira lagi. Dia menangis terisak, membuat Putri dan Nindi juga ikut bersedih sekarang
"Maira, jodoh setiap orang gak ada yang tahu" ujar Putri
"Sabar ya, lo masih bisa punya waktu untuk nentuin mana yang terbaik" kata Nindi pula
"Tapi kalian jangan kasih tahu Ervan dulu ya. Gue...gue belum sanggup dia tahu semua ini" pinta Maira
Nindi langsung mengusap airmata Maira dan mengangguk setuju
"Iya, kita bakal tutup mulut kok" jawab Nindi
"Udah jangan sedih lagi. Lo harus belajar dewasa untuk nentuin masa depan lo sekarang. " ujar Putri dan Maira langsung mengangguk dengan pelan seraya menghapus air matanya.
Namun tiba tiba Nindi terkesiap dan dia memandang Maira dengan aneh
"Apaan sih?" tanya Putri yang terkejut sementara Maira memandang Nindi dengan bingung
"Sembarangan kalau ngomong. Gue masih perawan lah" seru Maira langsung
"Gimana bisa, kan lo udah nikah" tanya Nindi lagi
"Lo gak ngasih itu Mai?" tanya Putri pula
Maira langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal
"Gue ngasih harta gue itu cuma buat orang yang gue cinta" jawab Maira begitu lugas
"Dan dia gak nuntut gitu, secara kan dia suami lo?" tanya Putri begitu heran apalagi ditambah dengan Maira yang menggeleng
"Enggak, dia ngerti kalau gue belum siap" jawab Maira
"Jadi kalian tidur nya gimana, kamar cuma satu begitu?" tanya Nindi. Sepertinya kedua sahabat Maira ini benar benar ingin tahu kehidupan rumah tangga sahabatnya
"Tidur dikamar yang sama, tapi dia tidur dibawah" jawab Maira
"What!!" seru Nindi tidak percaya
"Lo serius Mai?" tanya Putri pula
Maira langsung mengangguk dengan wajah tanpa rasa bersalah nya
"Oh my god. Lo bener bener kejam Mai. Bego banget emang lo nyianyiain ketampanan yang gak ada duanya begitu" gumam Nindi tidak habis fikir
__ADS_1
"Apaan sih lo" dengus Maira
"Mai, dari situ aja udah tahu lo kalau dokter Danar sayang sama lo" ucap Putri
"Sayang gimana. Mungkin aja dia gak nafsu sama gue" sahut Maira
"Coba lo inget inget selama hampir dua bulan lo nikah sama dia, gimana sikap dia sama lo" tanya Putri
"Ya dia baik" jawab Maira
"Dia masakin gue, dia ngurusin keperluan gue, bahkan dia juga jagain gue tadi malem" jawab Maira lagi
"Oh my god Mai. Fiks dia memang suami idaman. Kalau lo nyia nyiain dia lo bakal jadi orang yang paling bodoh didunia ini. Hidup berdua sama orang ganteng begitu, pasti bewarna banget kan" kata Nindi begitu berbinar. Dia jadi iri dengan Maira sekarang
Maira mendengus dan mengerucutkan bibirnya dengan kesal
"Tapi lo gak ngerasain gimana dia ngatur hidup gue" gerutu Maira
"Udahlah, sekarang gue tanyak. Ervan ada ngubungi lo gak?" tanya Putri. Dan kali ini Maira terdiam dan langsung menggeleng dengan sedih. Dan kini Nindi yang mendengus melihat itu.
"Lo memang harus fikir baik baik tentang ini Mai" kata Nindi
Maira menghela nafas dan memijat kepala nya yang masih pusing. Dia bingung dan benar benar bingung. Cinta nya untuk Ervan, tapi kenapa Ervan malah seperti itu???
"Gak tahu deh, pusing gue" gumam Maira yang kembali merebahkan tubuhnya disandaran sofa
"Jangan difikirin, semoga dengan berjalan nya waktu lo bisa tahu mana yang terbaik buat lo" ujar Putri dan Maira langsung mengangguk
"Jadi, kita main kesini, dokter Danar marah gak ya?" tiba tiba Nindi jadi was was
Putri langsung memandang Maira yang menggeleng
"Enggak kayak nya, lagian kalau kalian gak kemari kapan lagi kita ketemu, udah pasti kita gak kuliah lagi besok" gumam Maira dengan kesal
Nindi langsung merebahkan kepala nya disamping Maira
"Gue seneng gak kuliah, tapi ya gue harus kerja mulai sekarang bantuin nyokap gue. Dan itu juga bikin mumet" gumam Nindi
"Dokter Danar tahu lo berantem Mai?" tanya Putri
"Tahu lah, muka gue gak bisa disembunyiin. Lagian gue hampir pingsan karena sakit semua" jawab Maira
"Dia gak marah gitu?" tanya Nindi pula
"Enggak tuh" jawab Maira
"Nih orang nya kemana, rumah sakit?" tanya Putri lagi
"Enggak, katanya keluar bentar. Gak tahu kemana" jawab Maira
"Hmmmhh enak bener hidup berdua sama orang ganteng" gumam Nindi
Maira dan Putri langsung mendengus mendengar nya. Bisa bisanya hanya kegantengan itu saja yang dia bicarakan sejak tadi
__ADS_1