
Malam ini hujan cukup deras mengguyur kota Jakarta. Bahkan sejak tadi angin kencang masih saja selalu berhembus kencang dan disertai dengan petir dan kilat yang menyambar kuat. Sungguh keadaan yang membuat semua orang malas untuk keluar rumah.
Begitu pula dengan Maira dan dokter Danar. Sore tadi Maira sudah begitu ingin untuk makan ayam bakar ditempat biasa mereka makan. Tapi saat hari sudah malam, hujan malah turun dengan derasnya. Membuat Maira benar benar kesal sekarang. Wajahnya terlihat cemberut dan itu yang membuat dokter Danar bingung.
"Sayang... jangan cemberut begitu dong" ucap dokter Danar yang datang dari luar dengan membawa jus kiwi kesukaan Maira.
"Maira mau makan ayam bakar mas. Maira pengen itu" sahut Maira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi di luar masih hujan sayang. Gimana kalau mas yang beli, kamu tunggu dirumah ya" ujar dokter Danar.
"Tapi Maira mau makan ditempat. Maira gak mau dibawa pulang. Kalau makan disana enak mas, masih anget, masih terasa garing nya. Kalau dibawa pulang mana enak, udah lembek. Gak suka" jawab Maira dengan wajah yang semakin cemberut.
Dokter Danar menghela nafas dan memandang kearah luar jendela mereka. Hujan masih turun dengan deras, membawa Maira keluar bukan hal yang baik disaat seperti ini.
"Yasudah, kita tunggu sampai hujan nya reda ya. Setelah itu kita pergi" ucap dokter Danar seraya mengusap kepala Maira dengan lembut.
Maira langsung menyandar dibahu dokter Danar dengan helaan nafas yang panjang.
"Maira udah lapar" rengek nya.
Dokter Danar tertawa dan merangkul pundak Maira.
"Sabar sayang. Mau makan yang lain dulu gak. Biar mas masakin?" tanya dokter Danar
Namun Maira menggeleng dengan cepat.
"Maira mau makan ayam bakar. Kalau gak ada itu Maira gak mau makan" ujar Maira.
"Iya iya. Sebentar lagi. Semoga hujan nya cepat reda" jawab dokter Danar dengan begitu sabar nya.
"Pokok nya Maira mau makan, kalau Maira ketiduran mas bangunin. Awas aja kalau enggak" ancam Maira.
"Emang mau di apain?" tanya dokter Danar.
"Tidur diluar" jawab Maira dengan cepat.
Dokter Danar tersenyum dan mencium pucuk kepala Maira.
"Emang bisa tidur sendiri?" tanya dokter Danar seraya mengusap kepala Maira dengan gemas.
Maira merangkul lengan dokter Danar dan menggeleng manja.
"Enggak bisa. Udah enak tidur di ketek mas" jawab Maira dengan tawa kecilnya membuat dokter Danar juga ikut tertawa.
Dia mencium gemas pipi Maira seraya tangan nya yang mengusap perut Maira yang sudah sangat besar dan membulat.
Tidak sabar rasanya untuk bisa melihat anak nya lahir kedunia. Meski setiap hari dia harus dibuat mengusap dada dengan kelakuan Maira.
__ADS_1
...
Sementara diluar ditempat lain...
Erika masih duduk disebuah halte bis dengan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri. Dia kemalaman pulang dari menjual lukisan nya. Sudah sejak sore dia terjebak hujan, dan sampai saat ini hujan masih belum juga berhenti.
Bis juga tidak ada yang lewat sama sekali. Dan itu benar benar membuat Erika kesulitan. Sudah hampir dua jam dia menunggu disini. Dan entah bagaimana dia akan pulang jika seperti ini terus.
Hujan angin yang disertai petir ini membuat dia takut. Perasaan khawatir juga ada, mengingat Akbar dan Ayu dirumah. Mereka pasti sedang mencemaskan Erika saat ini.
Ya ampun....
Tubuh Erika sudah basah terkena tempiasan hujan yang begitu deras. Bahkan dia juga sudah menggigil kedinginan sekarang.
Berulang kali dia mengusap tubuhnya sendiri dan memandang kesana kemari. Tidak ada seorang pun yang lewat, dan ini membuat nya benar benar takut.
Ya Allah...
Tolong lindungi lah dia...
Sesekali Erika memejamkan matanya ketika kilatan petir menyambar dengan cepat. Jantung nya bergemuruh hebat, seiring dengan fikiran nya yang sudah dipenuhi oleh ketakutan. Tapi sejak tadi mulutnya juga tidak berhenti mengucap istighfar. Berharap rasa takut nya ini akan berkurang.
Ya Erika takut, takut sesuatu terjadi padanya dan membuat dia pergi malam ini.
Ah... jangan dulu...
Erika meringkuk dengan tubuh yang semakin kedinginan. Berharap bis ataupun angkot lewat sekarang, tapi hujan masih deras, siapa yang mau lewat. Hanya ada beberapa mobil saja yang lewat dan itupun sangat jarang.
Sepertinya dia sudah tidak tahan dingin.
Tapi... bukan orang jahat kan??
Tiba tiba Erika menjadi khawatir lagi. Dia memalingkan wajah nya dengan tangan yang masih memeluk tubuhnya sendiri.
Rasa dingin yang begitu menggigit sudah membuat wajahnya pucat bahkan bibirnya nyaris membiru tanpa warna.
Pemotor tadi nampak nya juga hanya orang yang kehujanan dan tidak sanggup menembus hujan.
Yah, setidaknya Erika sedikit tenang, dia ada teman disini. Tapi semoga saja orang ini tidak berniat jahat padanya.
Tapi Erika langsung tertegun saat melihat pemuda itu membuka helm nya.
Erika langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
Kenapa malah Ervan?????
Astaga...
__ADS_1
Jantung yang semula sudah mulai tenang kini kembali berdetak tidak karuan lagi. Bahkan semakin bergemuruh.
Erika memejamkan matanya sejenak dan berusaha untuk tenang.
Ya ampun...
Kenapa harus Ervan?
Dia sudah sangat ingin menjauhi lelaki ini, tapi kenapa selalu dia saja yang dipertemukan dengan Erika.
Tidak cukup kah dengan dia yang menahan perasaan nya selama ini. Kenapa Ervan harus datang lagi dan lagi.
Rindu...
Cinta....
Masih sama seperti hari kemarin.
Hanya saja, Erika tidak lagi berani berharap.
Tidak berani, karena cinta sepertinya memang sudah tidak pantas lagi dia dapatkan. Apalagi berharap dengan orang yang sudah begitu membencinya.
"Erika" suara Ervan membuat Erika mematung. Sebisa mungkin dia untuk tetap tenang. Meski dia juga tahu jika Ervan sepertinya pun terkejut saat tahu ternyata dia yang ada disini.
Erika hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan pada Ervan yang masih memandang nya tidak percaya.
"Kamu kenapa tidak pakai mobil?" tanya Erika. Namun sedetik kemudian dia menyesali perkataannya.
Huh... kenapa malah bersikap sok ramah, apa tidak bisa melihat wajah Ervan yang datar seperti itu.
"Tidak" jawab Ervan dengan begitu singkat. Dia bahkan langsung memalingkan wajahnya dan memandang kearah jalanan.
Erika tersenyum getir dan langsung tertunduk. Kembali memeluk tubuhnya yang semakin dingin, apalagi ditambah dengan sikap dingin Ervan, membuat dia semakin terasa menggigil saat ini.
Tidak ada lagi percakapan atau apapun yang mereka lakukan. Mereka hanya diam dengan fikiran dan pandangan masing masing.
Erika yang tidak berani memulai percakapan, dan Ervan yang tidak ingin membuka obrolan. Fikiran nya masih dipenuhi dengan tanda tanya yang begitu besar.
Mata Erika memandang nanar jalanan didepan nya.
Bukankah seharusnya ini menjadi hal yang paling indah. Duduk berdua bersama dengan orang yang dia cintai.
Menikmati hujan yang turun dengan deras. Seharusnya bisa menjadi kehangatan tersendiri bukan.
Tapi itu cuma khayalan, karena sekarang, semua nya tidak seperti yang diharapkan.
Sejak dulu... Ervan bukan miliknya. Bahkan sampai nantipun akan tetap begitu. Jika dulu dia berhasil merebut Ervan demi ambisi orang tuanya dan juga karena cintanya. Maka sekarang, mencintai dalam diam tanpa berucap adalah hal yang lebih baik.
__ADS_1
Hujan...
Tetesan mu terkadang menenangkan. Tapi kenapa semakin lama saat semakin bertambah deras terasa begitu menyakitkan???