Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Pernikahan Putri dan Dika


__ADS_3

Hari yang telah lama dinanti kini telah tiba. Dekorasi indah pesta yang lumayan mewah sudah terlihat ramai oleh para tamu undangan yang mulai berdatangan.


Papan papan bunga sudah terpajang rapi didepan sebuah hotel yang menjadi tempat berlangsungnya proses pernikahan Putri dan Dika.


Ya, sebentar lagi acara akan dimulai. Dan saat ini diruang rias, Putri sedang memandangi dirinya dalam balutan gaun pengantin yang membuatnya terlihat begitu berbeda.


"Masha Allah... cantik banget sahabat aku" puji Nindi yang baru masuk kedalam ruang rias itu.


Putri tersenyum dan menarik nafasnya dalam dalam.


"Gugup banget aku Nin. Lama banget sih kamu perginya" gerutu Putri.


Nindi tertawa dan berdiri disamping Putri, ikut memandangi penampilan Putri yang benar benar memukau dan sangat anggun.


Tadi dia pamit kebawah untuk mencari sepatu nya, dan baru sekarang datang lagi.


"Gak lama kok. Aku juga mau cantik dipesta pernikahan kamu. Jadi siap siap dulu" Jawab Nindi.


"Ah... gak nyangka banget sebentar lagi kamu udah jadi istri" Nindi langsung memeluk Putri dengan begitu terharu. Bahkan matanya terlihat berkaca kaca sekarang.


"Jodoh gak ada yang tahu. Udah ah... jangan buat nangis. Kita udah nangis nangisan Lo malam tadi" gerutu Putri yang juga nampak mengusap sudut matanya dengan pelan.


Nindi terbahak dan mengusap matanya yang berair. Dia benar benar bahagia sekali melihat sahabatnya yang sudah menemukan belahan jiwanya ini.


Padahal Putri adalah sahabatnya yang paling cuek dan anti lelaki, tapi ternyata malah dia yang lebih dulu mendapatkan suami.


Nindi masih tidak menyangka ini.


"Ah... bentar lagi udah jarang ketemu. Sedih banget, aku tinggal sendirian" ucap Nindi


"Jarang ketemu gimana, kita kan masih kuliah. Lagian Kak Dika juga kerja nya di showroom dokter Danar. Udah pasti kita bakalan ngumpul terus" sahut Putri


"Iya sih, tapi tetap aja udah beda" jawab Nindi.


Putri mengusap bahu Nindi dengan lembut.


"Gak lama lagi kamu juga nyusul kan" ucap Putri.


Nindi menghela nafas berat dan menggeleng.


"Masih ada satu tahun lebih lagi Put. Itu juga kalau kami jodoh" jawab Nindi dengan sendu.


"Terus berdoa. Semoga kalian memang jodoh. Aku juga bantu doa kok. Siapa tahu gak ada cewe yang lebih cantik kayak kamu disana" ucap Putri dengan tawa kecilnya membuat Nindi langsung mendengus kesal.


"Ya memang gak ada yang kayak aku. Disana kan bule semua. Semoga aja dia gak kepincut tuh cewe bule" sahut Nindi terlihat kesal.


Putri tertawa dan mengusap bahu Nindi. Kenapa jadi melenceng kesana pembahasan mereka. Padahal tadi dia yang ingin ditenangi karena gugup. Tapi sekarang malah Nindi yang harus ditenangkan.


"Hei... kenapa malah asik mengobrol. Ayo keluar. Acara sudah dimulai" ajak Restu, sepupu Putri.


"Kak Dika udah stand by Put. Ganteng banget" ucap Restu lagi.


"Huh... aku semakin gugup" gumam Putri.

__ADS_1


"Relaks dong. Yuk lah, aku akan selalu ada untuk kamu dan mengantar kamu sampai ketempat pangeran kamu itu" ucap Nindi seraya merangkul lengan Putri.


"Lebay deh Nin" dengus Putri terlihat kesal membuat Nindi dan Restu langsung tertawa lucu.


Dan akhirnya mereka membawa Putri keluar untuk melaksanakan acara ijab kabul nya.


Didepan, di tempat pesta, tidak jauh dari meja akad, Maira sudah duduk bersama dokter Danar dan kerabat mereka yang lain.


Maira nampak cantik dengan balutan dress brukat bewarna hijau muda nya. Apalagi ditambah dengan perut nya yang besar, membuat aura Maira semakin berkilau.


Dokter Danar sejak tadi tidak pernah meninggalkan Maira. Sesekali dia menyapa tamu tamu undangan yang memang mengenal nya. Apalagi dia adalah orang yang cukup berpengaruh dengan berbagai profesi dan bisnis yang dimilikinya.


Maira memandangi suasana pesta itu yang nampak meriah. Dekorasi dengan bunga warna warni dan juga lampu hias yang terpajang indah ditengah tengah aula membuat suasana pesta nampak glamour.


Ditangan nya sejak tadi memegang semangkuk puding buah yang menjadi cemilan nya.


"Meriah banget ya mas" ucap Maira tiba tiba.


Dokter Danar yang sedang memperhatikan sekeliling nya langsung menoleh pada Maira.


"Iya, kan orang tua Putri orang besar juga. Papa nya orang penting diperusahaan Ervan, mama nya juga kepala sekolah. Apalagi Putri anak perempuan satu satunya kan" jawab dokter Danar.


Maira langsung mengangguk pelan.


"Iya.. Waktu pernikahan kita dulu gini juga gak sih?" tanya Maira lagi.


"Kamu lupa?" tanya dokter Danar.


Maira tertawa kecil dan menggeleng.


Dokter Danar mendengus senyum dan mengangguk.


"Iya, semua bernuansa putih karena ibu suka warna itu." jawab dokter Danar.


"Loh jadi bukan mas yang suka?" tanya mas.


"Mas suka nya kan cuma kamu" bisik dokter Danar.


Maira langsung melebarkan matanya mendengar ucapan dokter Danar.


Bahkan dia langsung tertawa dan mencubit lengan dokter Danar dengan gemas.


"Sejak kapan bisa ngegombal ha?" bisik Maira dengan tawa geli nya. Bahkan dokter Danar juga ikut tertawa geli dengan perkataan nya sendiri.


"Kayak nya mas udah ketularan Dika ini" ucap dokter Danar membuat Maira lagi lagi tidak bisa berhenti tertawa, bahkan dia mengusap perutnya yang terasa kram karena menahan tawa.


Geli sekali mendengar perkataan sederhana itu. Pasalnya dokter Danar tidak pernah berbicara hal hal yang tidak penting seperti itu. Dokter Danar terkesan kaku dengan wibawa nya. Dan sekarang dia berkata hal seperti itu malah membuat Maira merasa geli.


Astaga ..


Padahal dulu dia sudah sering mendengar rayuan dari Ervan, tapi kenapa dari dokter Danar terasa aneh ya?


Entah lah...

__ADS_1


"Sudah lah... Maafin ayah ya sayang. Bunda jadi gak berhenti ngetawain ayah karena ayah bilang begitu" ucap dokter Danar seraya mengusap perut Maira dengan lembut.


"Mas sih... Maira geli dengar nya" jawab Maira.


Dokter Danar terkekeh dan mengusap kepala istrinya dengan gemas.


Hingga tiba tiba suara pembawa acara langsung mengalihkan perhatian mereka.


"Wahh sudah keluar" ucap Maira yang langsung duduk dengan tegak dan memandang fokus kearah pintu.


Dokter Danar dengan sigap meraih cup puding dari tangan Maira dan meletakkan nya dikursi samping mereka.


Mata Maira berbinar saat melihat Putri dan Nindi yang datang dan berjalan diatas karpet merah menuju ke tempat akad akan digelar.


"Cantik sekali" gumam Maira dengan mata yang berkaca kaca.


Dia melambaikan tangan saat Putri memandang kearah nya. Benar benar tidak pernah terbayangkan jika Putri akan menikah secepat ini.


Menikah dengan orang yang dia cintai.


Maira tertawa saat melihat Nindi yang memainkan mata padanya. Gadis itu juga nampak cantik dengan kebaya modern bewarna hijau muda nya. Sama seperti yang Maira kenakan.


Yah tinggal Nindi lagi yang belum dan entah kapan. Dia masih menunggu kekasih hatinya yang kini masih ada dinegeri orang.


Semoga saja Nindi juga akan bahagia seperti mereka. Agar mereka bisa sama sama berbahagia bersama.


"Mas kesana dulu ya sayang" pamit dokter Danar.


"Iya mas" jawab Maira.


Dokter Danar akan menjadi saksi pernikahan untuk Dika dan Putri. Dia diminta oleh orang tua Dika untuk menjadi saksi. Jadi dokter Danar langsung pergi kemeja tempat akad sebelum Putri tiba disana.


Maira tersenyum haru melihat Putri yang nampak sangat cantik dan begitu anggun. Dia benar benar terlihat berbeda.


Setelah mengantarkan Putri, Nindi dan Restu langsung berjalan menuju tempat Maira. Yang memang duduk tidak jauh dari meja akad.


"Ya ampun.. Pengen nangis aku" ucap Nindi dengan tangan yang mengusap sudut matanya.


"Terharu banget ya" sahut Maira.


"Iya.. Ah. gak nyangka banget, ternyata kalian duluan yang jadi istri" ucap Nindi.


Maira tersenyum dan langsung memeluk lengan Nindi.


"Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kamu" ucap Maira.


"Aamiin.. Insha Allah" jawab Nindi.


Dan akhirnya, disiang itu mereka menyaksikan prosesi akad nikah Putri dan Dika yang berjalan dengan lancar.


Bahkan Dika mengucapkan ijab kabul nya dengan begitu lantang dan tegas.


Maira dan Nindi bahkan sampai menangis haru dengan kebahagiaan Putri hari ini.

__ADS_1


Kebahagiaan yang akan memulai jalannya kehidupan yang baru....


__ADS_2