Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Masih Dirumah Sakit


__ADS_3

Masih berada dirumah sakit. Maira dan Putri masih menemani Nindi yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Sudah beberapa hari berlalu dan Nindi juga sudah mulai pulih. Hanya saja dokter Danar belum memperbolehkan dia untuk pulang dan masih ada dua hari lagi untuk mengontrol kondisinya. Jika sudah baik baik saja, maka dua hari lagi, Nindi baru bisa pulang.


Sore ini sepulang kuliah, Putri membawakan makanan yang cukup banyak. Maira sangat suka makan sekarang, dan ini juga untuk stok mereka sampai malam.


Ya, sejak Nindi dirumah sakit, Maira dan Putri tidak pernah lagi tidur dirumah. Maira tidur diruangan dokter Danar sedangkan Putri tidur bersama mama Nindi diruangan ini.


Satu rumah sakit bahkan sudah paham dengan istri dokter Danar dan sahabat sahabat nya ini. Tidak ada lagi yang memandang Maira dengan pandangan heran. Maira cukup disegani disini karena merupakan istri dari dokter Danar.


"Kalian sudah shalat ashar?" tanya Nindi


"Aku lagi dapet" jawab Putri yang sedang mengeluarkan makanan ringan yang dia bawa untuk dia simpan sebagian didalam lemari.


"Aku juga udah tadi di atas" jawab Maira yang sudah mengunyah kentang goreng nya. Dan botol jus kiwi itu tidak pernah jauh dari tempat dia duduk.


"Kalian mau ajari aku lagi kan. Sepertinya sedikit sedikit aku mulai bisa hafal bacaan yang gak asing itu" pinta Nindi seraya duduk diatas tempat tidur nya.


Maira sedikit bergeser, karena sejak tadi dia memang berada diatas sana.


"Bisa, nanti aku ajarin lagi. Tapi kalau mau belajar ngaji. Kamu bisa sama Maira" ujar Putri


Nindi tersenyum dan mengangguk seraya membenarkan posisi duduk nya.


Maira membantu Nindi untuk membenahi selang infus yang sedikit terbelit.


"Mama kemana, belum datang?" tanya Nindi seraya bersandar dengan sedikit ringisan diwajahnya. Kepalanya masih terasa sakit jika bergerak terlalu sering.


"Belum, tadi aku minta buatin jus kiwi juga. Jadi mungkin sorean kemari nya" jawab Maira.


"Apa itu tidak asam?" tanya Nindi seraya melirik botol jus kiwi yang Maira pangku.


"Enggak" jawab Maira


"Bohong banget, asem itu. Kamu jangan coba Nin. Maira memang agak lain" sahut Putri yang menarik kursi dan duduk dihadapan mereka.


"Lain gimana, sembarang aja kamu" ucap Maira.


Namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum geli.


"Gila ya, sejak Nindi sakit kenapa bahasa kita jadi bahasa baku begini" kata Maira seraya tertawa kecil.


Putri jadi ikut tertawa juga mendengar itu.


"Memang sebelum itu bagaimana bahasa kalian?" tanya Nindi yang bingung dengan kedua orang ini.


"Bahasa aneh Nin, gak usah dipikirin." jawab Putri.


Maira terkekeh geli dan kembali memasukkan kentang goreng nya kedalam mulut.


"Ngaku nya hijrah, tapi bahasa masih bahasa planet. Kalau bahasa begini kan lebih pas" kata Putri lagi.

__ADS_1


Maira mengangguk setuju


"Iya sih, kayak nya mulai sekarang, bahasa kita memang udah harus dirubah juga. Ternyata ada hikmah nya juga dengan kejadian ini ya" ucap Maira.


"Iyalah, hikmah nya banyak. Ya walaupun kita harus ngelihat Nindi yang kayak gini" jawab Putri seraya memandang Nindi dengan helaan nafas yang cukup berat.


Nindi tersenyum dan menggeleng pelan.


"Jika sakit ku bisa membuat kalian mendapatkan hikmah yang baik. Aku gak apa apa. Bukan kah itu bagus?" ucap Nindi.


"Iya sih, banyak hikmah nya. Yang pertama kami jadi lebih bisa berbicara sopan, dan saling menghargai kebersamaan kita" kata Putri


"Yang kedua, Erika jadi sadar sama kesalahan nya, dan semoga dia bisa memperbaiki diri" sahut Maira


"Dan yang ketiga, kita jadi tahu tentang alasan kak Brian yang sebenarnya " kata Putri pula.


"Alasan kak Brian?" gumam Nindi.


Putri langsung terkesiap, sepertinya dia sudah kelepasan berbicara. Maira langsung memandang Putri dengan tajam.


"Alasan apa?" tanya Nindi lagi.


"Udahlah, bukan apa apa kok. Oh ya, apa kalian gak kasihan sama Erika. Dia udah gak bisa kuliah lagi dikota ini" sahut Maira yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bagus lah, biar gak ngeliat muka nya lagi kan" ucap Putri yang masih terlihat begitu kesal dengan gadis pembuat masalah itu.


Putri menggeleng dengan cepat.


"Enggak, sudah syukur dia dibebasin dari penjara. Dan hukuman ini udah cukup ringan untuk dia yang udah buat kamu celaka kayak gini" jawab Putri.


"Iya Nin, itu lebih baik dari pada dia di penjara kan. Lagi pula dia masih bisa kuliah kok. Ya walaupun kuliah di universitas swasta dan harus diluar pulau" ungkap Maira.


"Itu juga kalau ada yang mau Nerima dia" sahut Putri.


Nindi terlihat menghela nafas nya sejenak.


"Sebenarnya kenapa kejadian ini bisa terjadi sih. Sampai sekarang aku sama sekali gak bisa ingat apapun" gumam Nindi.


"Aku gak tega lihat mama yang sedih terus. Aku juga gak enak sama kalian yang harus lelah menemani aku setiap hari disini. Apalagi kamu Maira, kamu kan sedang hamil" kata Nindi lagi yang kini memandang Maira


Maira tersenyum dan menggeleng.


"Kalau gak ada kamu, aku dan anak aku pasti gak selamat Nin. Kamu begini juga karena nolongin aku. Jadi jangan begitu. Aku seneng kok bisa menemani kamu disini. Dirumah aku pasti kesepian karena belum diperbolehkan kuliah sama mas Danar " jawab Maira.


"Tapi kan aku tetap tidak enak" ucap Nindi.


"Udah lah, yang terpenting kamu sembuh dan kita bisa kumpul sama main bareng lagi" sahut Putri.


Nindi langsung terdiam mendengar itu. Dia cukup bersyukur mempunyai kedua sahabat yang begitu baik pada nya. Meski dia tidak tahu apa dan bagaimana kehidupan dia yang sebenarnya. Karena sampai saat ini, dia belum bisa mengingat apapun. Sudah dicoba untuk mengingat, tapi hanya rasa sakit dikepala yang dia dapatkan.

__ADS_1


...


Sementara di lobi rumah sakit...


"Kamu bener gak mau masuk dulu nak?" tanya mama Nindi pada Brian


"Gak usah Tante. Saya masih ada urusan. Insha Allah di lain waktu saya mampir lihat Nindi" jawab Brian.


"Tante makasih Lo kamu udah mau bantuin Tante, dan nganterin Tante kesini" ucap mama Nindi lagi.


"Saya senang bisa membantu Tante. Jika ada apa apa tante bisa hubungi saya lagi." ujar Brian.


"Iya nak" jawab mama Nindi.


"Saya titip ini untuk Nindi ya Tante." Brian mengeluarkan sebuah kotak dari dalam mobil dan menyerahkan nya pada mama Nindi.


"Apa ini?" tanya mama Nindi dengan heran.


"Itu mukenah sama Al Qur'an. Kata Putri, Nindi sudah mulai belajar shalat dan mengaji. Jadi saya belikan dia itu" jawab Brian dengan senyum simpul nya.


Mama Nindi langsung tersenyum senang melihat itu.


"Masha Allah.. kamu baik sekali nak. Nindi pasti senang" ucap mama.


Namun Brian malah menggeleng.


"Tante.. saya bisa minta tolong kan. Jangan bilang ini dari saya ya" pinta Brian.


"Loh kenapa?" lagi lagi mama Nindi memandang Brian dengan heran. Entah kenapa beberapa hari ini Brian memang tidak ada lagi datang kerumah sakit dan melihat Nindi. Dan sekarang, dia memberikan mukenah tapi tidak ingin Nindi tahu. Aneh sekali.


"Tidak apa apa tante. Saya hanya tidak ingin Nindi berfikir yang macam macam dulu. Fikiran nya masih tidak boleh terganggu." ungkap Brian.


Mama Nindi menghela nafas pelan dan hanya bisa mengangguk pasrah


"Yasudah, Tante akan tutup mulut jika begitu" jawab mama Nindi


Brian tersenyum dan langsung meraih tangan mama Nindi untuk dia cium.


"Terimakasih Tante. Kalau begitu, saya pamit dulu" ucap Brian


"Iya, Tante juga terimakasih " balas mama Nindi.


Brian tersenyum dan langsung masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan mama Nindi yang hanya menggeleng pelan.


Tadi saat diperjalanan, tiba tiba mobilnya mogok. Dia sudah menghubungi orang bengkel, tapi tetap harus menunggu satu jam lagi. Dan entah kenapa karena ada nomor Brian, mama jadi menghubungi pemuda itu dan meminta nya untuk mengantar kerumah sakit.


Dan tidak disangka, Brian masih saja tidak ingin menemui putrinya, dan hanya memberikan mukenah ini.


Cukup manis, tapi aneh.

__ADS_1


__ADS_2