
Semua orang memandang cemas Nindi yang sedang diperiksa oleh dokter Danar. Tadi ketika Nindi pingsan, bertepatan dengan kedatangan dokter Danar yang baru saja tiba untuk menjemput Maira.
Dan sekarang, mereka semua sudah berada dikamar Nindi. Brian dengan sigap membawa tubuh Nindi masuk kedalam rumah. Lagi lagi dia merasa bersalah karena membuat Nindi pingsan seperti ini.
"Kamu pasti berbicara sesuatu yang membuat dia mengingat tentang kejadian itu kan?" tanya dokter Danar pada Brian, meski dia hanya melirik Brian sekilas dan kembali menyimpan peralatan nya.
Brian mengangguk lemah dengan pandangan bersalah nya. Matanya sejak tadi tidak beralih pada Nindi yang masih terpejam dengan begitu tenang.
"Saya hanya menceritakan tentang bagaimana dia celaka mas" ungkap Brian
"Lalu?" tanya dokter Danar lagi.
"Saya juga bercerita tentang dia dikampus dan beberapa cerita tentang kami" jawab Brian.
"Nindi memang sensitif kalau cerita tentang kak Brian. Bahkan ketika kami cerita tentang persahabatan kami dia gak terlalu merespon. Tapi ketika cerita tentang kak Brian, Nindi selalu terlihat aneh" ungkap Putri
"Bener, padahal sama kita udah lebih lama" sahut Maira pula.
"Bukan masalah tentang sudah lama atau belum nya sayang" jawab dokter Danar pada Maira.
Dan panggilan sayang dari dokter Danar pada Maira selalu saja membuat Putri dan Dika merasa canggung.
Antara terbawa perasaan dan juga aneh. Atau karena mereka yang iri melihat kemesraan pasangan halal itu. Entahlah.
"Sepertinya ingatan Nindi memang hanya terfokus di masa masa dia mengalami kejadian itu saja. Mungkin disaat kejadian itu, hati dan fikiran nya memang sedang kacau, dan bisa jadi, disaat kejadian itu hanya ingatan tentang saat saat itu saja yang masih dia ingat jelas" ungkap dokter Danar.
"Seperti kenangan yang begitu terkesan, atau terlalu menyakitkan. Begitu dokter?" sahut Dika.
Dokter Danar langsung mengangguk.
"Ya, otak dan sarafnya hanya mengingat itu. Hingga disaat dia lupa ingatan, yang bisa mengembalikan ingatan nya juga adalah tentang masa masa itu" jawab dokter Danar.
Kini dia menoleh pada Brian yang nampak mematung.
"Bisa jadi, kamu adalah hal yang paling membuat dia sakit dan senang bersamaan disaat kejadian mengerihkan itu" ucap dokter Danar.
deg
Sungguh, lagi lagi Brian hanya bisa tertunduk menyesal dan menghela nafasnya yang terasa berat.
"Dan oleh sebab itu, kamu begitu diperlukan dalam fase pengembalian ingatan nya" kata dokter Danar lagi.
"Tapi saya hanya bisa membuat nya kesakitan seperti ini" jawab Brian terdengar begitu pelan.
"Nak.... Nindi hanya butuh kamu sekarang" sahut mama Nindi pula.
Brian langsung menoleh pada mama Nindi yang memandang nya dengan pandangan penuh arti.
Namun mereka semua nampak heran ketika mama berjalan menuju lemari Nindi dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
Sebuah buku...
"Simpanlah, kamu bisa membaca nya nanti" ujar mama pada Brian.
Brian memandang buku itu dengan pandangan bingung, namun dia tetap menerima itu dan mengangguk pelan.
Sedangkan Maira dan Putri juga heran, kenapa mama menyerahkan buku diary Nindi pada Brian. Apa ada sesuatu disana?
Entah lah...
"Hari sudah masuk waktu Maghrib. Sebaik nya kita shalat dulu" ujar dokter Danar yang langsung membuat pandangan heran mereka teralihkan.
"Iya, dokter bisa shalat dikamar kosong dibawah. Disana tempat Nindi mengaji dan belajar. Maira bisa kesana kan nak. Semua sudah tersedia. Biar Tante yang menjaga Nindi" ujar mama
"Iya Tante" jawab Maira.
Dan akhirnya, senja itu mereka semua shalat berjamaah bersama sama dirumah Nindi. Mereka di imami oleh dokter Danar.
__ADS_1
Putri, Dika dan Brian juga cukup khusyuk menjalani ibadah shalat Maghrib mereka. Mereka shalat dan berdoa untuk kesembuhan Nindi bersama sama. Bahkan karena mendengar doa yang dipimpin oleh dokter Danar, Maira sudah bisa menangis. Bahkan Putri yang jarang menangis juga nampak tertunduk dengan mata yang juga mengeluarkan air mata.
Mereka sudah merindukan keceriaan Nindi dan juga segala kerandoman nya. Mereka rindu senyum ceria nya, rindu wajah polosnya, dan rindu saat mereka berkumpul dan tertawa bersama.
Nindi ada, tapi mereka seperti bersama orang lain sekarang.
Mereka bahkan shalat sampai masuk shalat isya. Makan malam juga makan malam dirumah Nindi. Pelayan mama Nindi sudah menyiapkan makanan yang banyak untuk mereka semua.
Karena dokter Danar memang menunggu Nindi sadar terlebih dahulu.
Dan disaat hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka semua berkumpul kembali dikamar Nindi.
Maira sudah terbaring diatas sofa dipangkuan dokter Danar.
Sedangkan Brian duduk disamping ranjang Nindi seraya membaca Al Qur'an pink yang diberi nya pada Nindi kemarin.
Suara nya cukup merdu, hingga membuat Maira dan Putri merasa tenang.
Putri dan Dika duduk bersama dokter Danar dan Maira di sofa.
Mereka semua terdiam seraya mendengarkan Brian yang membaca Al Qur'an. Sedangkan mama Nindi saat ini masih makan malam. Putri memaksa nya untuk makan dan bergantian mereka yang menjaga.
Maira sudah merasa mengantuk, apalagi dengan usapan lembut tangan dokter Danar dikepala nya. Ditambah dengan lantunan merdu ayat suci yang dibacakan oleh Brian.
Masha Allah...
Rasanya damai sekali, meskipun malam ini mereka masih cukup was was dengan keadaan Nindi.
Namun tiba tiba suara Brian terhenti, membuat mereka semua yang ada disana langsung menoleh kearah nya.
"Mas... Nindi mulai sadar" ucap Brian
Maira langsung beranjak dibantu oleh dokter Danar. Dan setelah memastikan istri nya duduk dengan nyaman, dokter Danar langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan mendekat kearah Brian.
Maira dan Putri juga ikut, sedangkan Dika memutuskan untuk duduk dan diam.
Dan memang, Nindi terlihat mulai membuka matanya. Perlahan lahan hingga dia mulai bisa memandang dengan jelas. Bahkan dia langsung menoleh kesemua orang yang melihat nya dengan cemas.
Nindi mengangguk dengan pelan, dia melirik sedikit kearah Brian yang masih mematung.
"Jangan banyak bergerak dulu" ucap dokter Danar lagi seraya mulai membongkar kembali tas medis nya.
Maira dan Putri langsung mendekat kearah Nindi dan naik ke atas tempat tidur Nindi.
"Maaf ya" ucap dokter Danar yang mencoba menyingkap baju yang menutupi lengan Nindi. Dia ingin menyuntikkan sesuatu dilengan gadis itu.
Maira dengan sigap langsung membantu dokter Danar menyingkap lengan baju Nindi.
Nindi tersenyum tipis melihat itu dan dia langsung memejamkan matanya saat jarum yang tajam itu langsung menusuk kulit nya.
Rasanya sakit dan begitu silu.
"Sakit ya?" tanya Maira.
"Banget" jawab Nindi.
"Ini vitamin, setelah ini kamu bisa beristirahat lagi. Jangan memikirkan apapun dulu" ujar dokter Danar
"Iya dokter. Saya memang lelah" jawab Nindi yang kembali melirik kearah Brian.
Putri dan Brian memandang nya dengan aneh. Seperti ada yang berbeda.
"Yasudah, kamu istirahat. Biar besok bisa segar lagi" ujar Maira.
Nindi tersenyum dan mengangguk.
Maira langsung menyelimuti tubuh Nindi yang mulai memejamkan matanya. Dia memang masih lemas.
__ADS_1
Beberapa saat dokter Danar menunggu Nindi dan ketika melihat Nindi sudah tenang dia kembali ke sofa.
"Kalian bisa pulang Mai. Nindi udah sadar dan udah baik baik aja. Biar aku yang jaga" ujar Putri.
"Kamu gak pulang juga?" tanya Dika pada Putri yang sudah turun dari ranjang Nindi. Begitu pula Maira.
"Enggak kak, aku udah izin sama mama untuk nginap disini. Lagian besok juga gak ada kelas" jawab Putri
"Aku boleh nginap gak ya" gumam Dika, membuat Brian langsung menyelis kearah nya.
"Pulang" sahut dokter Danar yang sedang membereskan barang-barang nya.
Maira yang sedang memakai jaketnya langsung tertawa kecil melihat Dika yang takut dengan suaminya. Lucu sekali.
"Aku titip Nindi. Jika ada sesuatu, tolong beri kabar ya" pinta Brian pada Putri.
"Iya kak, aman" jawab Putri.
Hingga akhirnya, setelah berpamitan dengan mama Nindi. Mereka semua pulang kerumah masing masing. Meninggalkan Putri yang menjaga Nindi malam ini.
Ya, sebenarnya Maira ingin menemani Putri, tapi mau bagaimana. Dia juga tidak bisa tidur jika tidak ada dokter Danar.
Hari sudah cukup larut saat mereka tiba dirumah. Dan Maira sudah benar benar mengantuk saat turun dari dalam mobil.
"Mengantuk sekali ya?" tanya dokter Danar yang berjalan mendekati Maira.
Maira mengangguk dan langsung memeluk dokter Danar. Dia tidak lagi memperdulikan para penjaga rumah dokter Danar yang berseliweran disana.
"Gendong mas..." pinta Maira begitu manja.
Dokter Danar tersenyum dan mengusap gemas pucuk kepala Maira.
"Iya, sini. Manja banget istri mas" ucap dokter Danar yang langsung mengangkat tubuh Maira kedalam gendongan nya.
Maira langsung tersenyum dengan lebar dan merangkul leher dokter Danar dengan lembut.
"Gak apa apa kan manja sama suami sendiri" tanya Maira seraya merebahkan kepala nya di dada bidang suami nya itu.
"Enggak lah. Mas malah senang jika kamu manja seperti ini" ungkap dokter Danar.
"Bener?" tanya Maira.
"Iya sayang" Dokter Danar mengangguk dan mengecup sekilas dahi Maira.
Dia membawa Maira kedalam rumah, dimana mereka langsung disambut oleh Bu Ijah yang sudah membukakan pintu.
"Loh, non Maira kenapa mas?" tanya Bu Ijah melihat Maira yang digendong.
"Enggak apa apa bu. Maira cuma kecapean" jawab dokter Danar seraya tertawa pelan. Maira bahkan langsung menyembunyikan kepala nya didada dokter Danar karena dia malu sekarang.
"Oalah, ibu kira kenapa. Oh iya mas, didalem ada yang nunggu non Maira" ucap Bu Ijah.
Langkah dokter Danar terhenti, dan Maira juga langsung turun dari gendongan nya. Memandang Bu Ijah yang sudah menyusul mereka.
"Siapa bu??" tanya Maira dan dokter Danar bersamaan.
Bu Ijah sampai tertawa mendengar nya.
"Perempuan. Udah lumayan tua juga. Dia bilang masih keluarga non" jawab Bu Ijah.
Maira mengernyit bingung mendengar itu. Keluarga? siapa keluarga nya. Maira bahkan tidak merasa memiliki keluarga selain adik semata wayangnya.
"Kenapa tidak mengubungi saya Bu?" tanya dokter Danar yang langsung menarik tangan Maira untuk keruang tamu dimana tamu mereka menunggu.
"Dia bilang menunggu saja. Takut menganggu mas" jawab Bu Ijah.
Maira dan dokter Danar hanya diam dan kembali berjalan menuju ruang tamu rumah mewah itu.
__ADS_1
Namun tiba tiba saat sudah masuk, langkah Maira langsung terhenti ketika melihat siapa yang datang.
"Mama...." ucap nya dengan kaki yang mematung dan tidak bisa bergerak lagi.