Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Apa Kamu sudah Memaafkan Aku?


__ADS_3

Ervan masih mematung memandangi lukisan yang ada didepan nya. Dia benar benar masih tidak menyangka jika lukisan yang dia beli disebuah galeri jalanan ternyata adalah lukisan milik Erika.


Lukisan bunga layu...


Lukisan tangan yang epik dan sangat bermakna, hingga Ervan menyukai nya bahkan jatuh cinta saat pertama kali melihat nya.


"Van... minum"


Suara Erika membuat Ervan sedikit terkejut. Dia melihat Erika yang datang dengan segelas teh hangat ditangan nya. Sepertinya Erika baru selesai shalat, karena cukup lama dia berada dikamar.


"Kamu yang melukis ini?" tanya Ervan.


Erika yang sedang meletakkan gelas teh diatas kursi langsung menoleh pada Ervan.


Dia mengangguk pelan dan memandang lukisan nya yang belum jadi. Semoga saja Ervan tidak membongkar tumpukan kanvas itu hingga kebawah, karena kalau tidak, bisa gawat. Ervan pasti tahu jika dia sudah melukis wajah nya dikanvas itu.


"Sejak kapan kamu suka melukis?" tanya Ervan berbasa basi seraya dia yang duduk kembali dikursi. Sedangkan Erika duduk dibawah melihat Ayu yang sudah bersemangat dan larut dalam buku mewarnai nya.


"Sejak dulu, hanya saja tidak pernah mencoba membuat yang seperti ini" jawab Erika.


Ervan mengangguk dan kembali memandang lukisan itu.


"Ini belum selesai?" tanya Ervan.


"Belum, mungkin malam ini akan selesai. Hanya tinggal sentuhan terakhir saja. Aku kehabisan cat" ungkap Erika.


Ya, bisa Ervan lihat jika Akbar tadi membongkar belanjaan Erika yang hanya berisi perlengkapan menulis nya saja.


"Kak... Akbar beli makan dulu ya. Selagi hujan nya udah berhenti" pamit Akbar


"Iya, uang nya masih ada?" tanya Erika


"Ada kak" jawab seraya beranjak dari duduk nya.


"Kak Ervan mau makan juga gak. Biar Akbar beli sekalian" tanya Akbar pada Ervan.


"Boleh. Ini uang nya" kata Ervan seraya mengeluarkan dompet dari saku celana.


"Gak usah Van. Udah ada uang nya sama Akbar" sahut Erika.


"Gak apa apa. Uang itu untuk jajan kamu. Nih beli makanan, yang enak ya. Tapi jangan pedas, sama cemilan nya juga" ujar Ervan seraya memberikan beberapa lembar uang merah pada Akbar.


"Kebanyakan ini kak. Nasi nya cuma sepuluh ribu sebungkus" ucap Akbar. Membuat Erika langsung memalingkan wajahnya dan meringis getir.


Ervan tersenyum seraya melirik Erika. Semenyedihkan apa kehidupan nya sekarang?


"Yasudah gak apa apa. Sisanya untuk kamu" jawab Ervan.


"Tapi kak" Akbar terlihat ragu.


"Jangan menolak Rezky, gak baik. Udah pergi sana. Nanti keburu hujan lagi" ujar Ervan.


Akbar menoleh pada Erika, dan ketika melihat Erika yang mengangguk dia pun juga mengangguk.


"Kak... Ayu mau buah ya, buah yang bulat bulat kecil warna merah, yang kayak kak Erika beli kemarin" seru Ayu pada Akbar


"Buah anggur?" tanya Akbar.


Ayu langsung mengangguk dengan cepat, wajah polosnya terlihat begitu bahagia. Dan itu membuat Ervan tersenyum lucu melihat anak anak ini.


"Yaudah, nanti kakak beliin. Pergi dulu ya kak" pamit Akbar.


Erika dan Ervan hanya mengangguk dan memandang kepergian Akbar yang berlari menerobos gerimis tipis yang masih turun.


Ayu kembali berkutat pada gambar nya, dia seolah tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa yang kini hanya terdiam canggung.

__ADS_1


Ya, bagaimana tidak canggung, jika pertemuan terakhir mereka sungguh tidak mengenakkan.


"Terimakasih Van. Hari ini kamu sudah baik pada kami" ucap Erika akhirnya.


Ervan hanya melirik Erika sekilas dan kembali memandang lukisan Erika.


"Aku juga mau berbuat baik. Memang nya kamu saja" jawab Ervan.


Meski terdengar ketus, namun Erika tahu Ervan hanya gengsi untuk mengakui nya.


"Kamu sudah lama tinggal disini?" tanya Ervan.


Erika terdiam beberapa saat, namun sedetik kemudian dia mengangguk pelan.


"Tiga bulan"


deg


Ervan langsung menoleh pada Erika. Memandang nya dengan wajah yang tidak percaya.


Tiga bulan?


Bukan kah itu waktu yang sangat lama?


Bahkan tiga bulan yang lalu bukankah saat dimana Ervan membatalkan pertunangan mereka???


Sebenarnya apa yang sudah terjadi???


Ervan mau bertanya kenapa? Tapi rasanya tidak pantas sekali. Apalagi ketika melihat wajah Erika yang berubah sendu seperti itu.


Sepertinya dia memang sedang bermasalah dengan keluarga nya.


"Aku kira kamu kuliah diluar kota sekarang" ucap Ervan


"Tidak... aku dirumah saja bersama Akbar dan Ayu" jawab Erika


"Aku melanjutkan melukis ya" ujar Erika


"Ya, aku juga ingin melihat, apakah lukisan itu benar milikmu atau tidak" jawab Ervan


Erika kembali tersenyum dan mulai menuangkan cat nya kedalam wadah.


"Apa karena dulu aku tidak pernah terlihat seperti ini sehingga kamu tidak percaya?" tanya Erika


"Ya" jawab Ervan dengan begitu jujur.


"Sekarang, kamu terlihat begitu berbeda" ucap Ervan seraya memandangi Erika yang mulai menggradasi warna warna nya.


Wajah dibalik hijab masuk itu masih terlihat pucat, apalagi Erika yang memang tidak memakai riasan apapun. Wajahnya sangat alami dan natural. Tidak seperti dulu dia yang selalu memikirkan tentang penampilan nya. Apalagi ketika sudah bersama Ervan. Bahkan Ervan sampai jengah melihatnya.


Tapi sekarang ..


Tidak lagi.


"Apa orang jahat seperti ku tidak pantas untuk berubah?" tanya Erika.


Ervan langsung tertegun mendengar itu.


"Aku juga ingin berubah menjadi lebih baik. Meski semua orang tidak mempercayai itu." ucap Erika lagi.


Mata dan tangan nya masih fokus pada lukisan nya. Hingga Ervan bisa memandang Erika tanpa canggung.


"Tidak juga... siapapun berhak untuk berubah. Bahkan seorang pendosa yang memiliki dosa yang begitu besar saja masih bisa masuk surga jika memang berniat berubah, dari pada seorang yang alim tapi sombong" ungkap Ervan.


Erika tersenyum dan mengangguk

__ADS_1


"Apa aku juga bisa masuk surga setelah semua yang aku lakukan?" tanya Erika.


"Kenapa tidak, selama niat kamu memang ingin berubah menjadi baik" jawab Ervan.


"Tapi aku masih belum tenang" ucap Erika lagi.


"Kenapa?" tanya Ervan. Masih memandangi Erika dengan lekat.


"Karena aku belum mendapatkan maaf dari kamu"


deg


Ervan tertegun, apalagi ketika melihat Erika yang melirik nya sekilas dan kembali memandang lukisan nya.


"Dulu aku sudah selalu membuat kamu susah. Selalu membuat kamu marah dan kesal. Bahkan sudah selalu merepotkan kamu dengan segala sikap ku yang tidak tahu diri. Kesalahan ku sudah begitu banyak. Apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Erika.


Ervan menghela nafas dan memandang lukisan Erika.


Sepertinya itu adalah objek yang tepat untuk mereka pandangi dari pada memandang satu sama lain.


"Jika aku belum memaafkan mu, mungkin aku tidak akan ada disini sekarang" jawab Ervan.


Dan kali ini Erika yang tertegun. Dia menoleh pada Ervan yang juga memandang nya.


"Hidup dalam dendam dan rasa marah juga tidak baik. Kesalahan mu bukan padaku. Tapi pada Maira dan teman nya. Seharusnya kamu meminta maaf pada mereka lebih dulu" ujar Ervan.


Erika tersenyum dan mengangguk. Dia kembali memalingkan wajahnya.


"Sudah... bahkan sebelum aku seperti ini. Aku sudah meminta maaf pada mereka. Dan karena itu, aku ingin berubah menjadi lebih baik. Setidaknya sebelum umurku habis aku ingin mendapatkan maaf dari semua orang" jawab Erika.


"Dan kamu sudah mendapatkan nya bukan" ucap Ervan


Erika mengangguk kembali.


"Ya... aku sungguh bersyukur karena mereka mau memaafkan aku" jawab Erika.


"Mereka orang orang baik. Mereka tidak akan mempersalahkan hal itu lagi. Apalagi ketika melihat kamu yang seperti ini sekarang" ucap Ervan.


Dan Erika hanya tersenyum saja mendengar itu.


"Kenapa kamu tidak tinggal dirumah orang tua kamu lagi?"


deg


Pertanyaan Ervan membuat tangan Erika langsung terhenti sejenak. Namun hanya sebentar, karena setelah itu dia kembali mengoleskan kuas dibagian akhir lukisan nya.


"Karena sendiri lebih baik" jawab Erika


"Kamu yakin?" tanya Ervan


"Kenapa tidak. Bukan kah terkadang keinginan tidak sesuai harapan" sahut Erika.


Ervan mendengus senyum dan mengangguk. Sepertinya Erika memang tidak ingin membahas tentang hal ini. Meski terlihat tenang, tapi Ervan bisa melihat jika mata Erika berkaca kaca seperti menyimpan luka yang begitu besar.


"Kamu menjual lukisan ini?" tanya Ervan yang akhirnya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Iya, lumayan untuk uang saku Akbar dan Ayu" jawab Erika.


"Kenapa tidak membuat nama kamu disana. Kenapa hanya inisial?" tanya Ervan.


"Tidak perlu orang tahu. Karena jika orang tahu, mungkin mereka tidak akan lagi menyukai lukisan ku. Aku takut mereka yang awalnya menyukai, tapi setelah tahu aku yang melukis, rasa suka dihati mereka jadi menghilang" jawab Erika.


Dan sialnya.. Perkataan itu seolah tertuju pada nya.


Astaghfirullah....

__ADS_1


__ADS_2