
Maira tersenyum memandang Nindi yang memang tampak cantik dengan balutan hijab itu. Meski mereka hanya memakai jilbab pashmina yang menutupi kepala dan juga pakaian yang longgar, tapi ini sudah merupakan kemajuan yang cukup besar untuk mereka.
Mereka yang dulunya adalah anak anak nakal yang suka nya main ke club' malam, tapi sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Dan ini adalah satu hal yang benar benar merupakan pencapain yang luar biasa.
"Kalian doain gue juga ya, supaya gue bisa cepet yakin untuk pakai hijab" ucap Putri
Maira dan Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Gue selalu berdoa kok, untuk kebaikan kita bertiga. Gue pengen kita sama sama berubah jadi lebih baik dan dapetin orang yang baik pula" jawab Maira.
"Iya, gue pengen kita sama sama belajar agama dan gak nakal lagi kayak dulu" sahut Nindi pula.
"Gue bangga banget sama pencapaian kita ini, terutama sama kalian" puji Putri.
Nindi langsung tertawa mendengar itu.
"Mama gue bahkan sampai sedekah keanak anak yatim dan orang orang dikomplek sangking senengnya gue mau berubah gini, lucu banget" ungkap Nindi
"Beneran?" tanya Maira dan Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Itu karena gimana ulah Lo dulu. Baju pada kurang bahan, main selalu pulang pagi. Dan Lo berubah gini ya udah pasti dia terkejut" sahut Putri.
"Haha iya, mana selalu belajar ngaji tiap sore. Bokap gue sampai video call mama karena gak percaya denger kabar gue berhijrah." kata Nindi lagi.
"Gila ya. Terus nyokap gue bakalan ngadain ritual apa ngeliat gue berubah nanti. Sekarang aja ngeliat gue rajin shalat dia sampai beliin gue mukenah banyak banget tahu gak si kalian" ungkap Putri.
Dan kali ini Nindi yang terbahak..
"Disuruh jualan kali Lo Put" sahut Nindi.
"Sialan Lo" dengus Putri dengan tawa nya.
Namun tiba tiba mereka langsung terdiam, dan menoleh kearah Maira yang malah menangis.
Putri dan Nindi langsung terkejut melihat ini. Kenapa Maira menangis? apa ada yang salah? atau jangan jangan...
"Mai... kenapa?" tanya Nindi yang langsung mengusap lengan Maira yang sedang menutup wajah nya.
"Mai, maaf kita gak bermaksud nyinggung Lo kok" sahut Putri pula
Nindi langsung memandang Putri dengan bingung. Menyinggung apa? otak nya belum konek sekarang.
"Gue... gue gak bisa kayak kalian. Gue gak punya orang tua yang bangga liat pencapaian gue ini. Mereka gak ada. Huuuuuu" Maira langsung menangis terisak dengan tidak bisa ditahan. Bahkan beberapa mahasiswi yang ada didalam kelas langsung memandang nya dengan bingung. Seraya bertanya 'kenapa' pada Putri dan Nindi.
Putri dan Nindi langsung gelagapan melihat Maira yang seperti ini. Mereka langsung beranjak dan memeluk Maira bersamaan.
"Mai... jangan nangis" bisik Putri seraya mengusap bahu Maira.
Nindi yang baru mengerti langsung memandang Maira dengan raut wajah bersalah. Dia lupa jika Maira memang sudah tidak mempunyai orang tua. Ibunya ada, tapi tidak tahu dimana sekarang.
__ADS_1
"Mai, maaf... gue gak bermaksud buat Lo sedih" kata Nindi lagi
Dia bahkan juga ingin menangis sekarang.
Maira terisak seraya terus mengusap air matanya.
"Gue ... gue rindu Mama gue" ucap Maira
"Udah jangan nangis, nanti kan Lo bisa cari tahu keberadaan mama Lo bareng dokter Danar" ucap Putri.
"Iya Mai,.nanti kita juga ikut bantu cari kok" ujar Nindi pula.
"Tapi gue gak tahu apa dia masih mau ngakui gue sebagai anak nya atau enggak" kata Maira lagi.
"Ya mau lah Mai. Lo kan anak nya. Udah jangan nangis. Kalau Lo sedih, nanti anak Lo ikut sedih" bisik Putri.
Nindi langsung terkesiap kaget mendengar itu.
"Anak?" seru nya tanpa sadar.
Putri dan Maira langsung melebarkan mata mereka melihat Nindi.
"Apa Lo bilang tadi Put?" tanya Nindi lagi.
Putri langsung meringis dan segera membungkam mulut Nindi sejenak.
Nindi langsung memandang beberapa orang yang ada didalam kelas. Para mahasiswi itu terlihat memandang mereka dengan wajah bingung. Membuat Nindi langsung tersenyum getir melihat mereka.
Dia kembali menarik kursi dan duduk disebelah Maira yang kini tengah meminum jus kiwi nya, namun Isak tangis nya masih terdengar sesekali.
"Lo hamil Mai?" bisik Nindi.
Maira langsung mengangguk dengan wajah sedihnya yang masih basah dengan air mata.
"Serius?" gumam Nindi dengan wajah yang terlihat bahagia.
Putri bahkan langsung tersenyum seraya mengusap air mata Maira dengan lembut.
"Emang Putri belum bilang ya" tanya Maira
"Ya gak mau lah gue bilang, gue pengen Nindi juga denger dari Lo langsung" sahut Putri.
Nindi langsung berdecak kesal mendengar itu, namun dia juga benar benar bahagia, mendengar kabar bahagia ini.
"Huh, kalian jahat bener gak mau ngasih tahu gue." gerutu Nindi.
"Gue juga baru tahu nya kemaren Nin" jawab Putri.
"Iya, gue juga baru tahu kalau ternyata Putri udah dekat banget sama kak Dika" sahut Maira pula.
__ADS_1
Nindi langsung tertawa dan menggeleng pelan.
"Ya ampun, kebahagiaan gue double banget. Bentar lagi gue bakal punya keponakan, dan ternyata Putri juga udah mulai membuka hati. aaahh senang nya" gumam Nindi.
"Sstt jangan kuat kuat. Nanti denger anak anak yang lain" sahut Putri
"Kenapa emang nya. Kan gak apa apa sih" ucap Nindi.
"Gak apa apa gimana. Mereka kan gak ada yang tahu kalau Maira udah nikah. Nanti Maira disangka hamil diluar nikah lagi" ungkap Putri. Mereka berbicara dengan berbisik bisik.
"Iya juga ya" sahut Nindi.
Sedangkan Maira hanya menghela nafas saja seraya kembali meminum jus kiwi nya. Gara gara teringat mama nya tadi, membuat mood Maira memburuk. Entah kenapa dia menjadi sensitif sekali sekarang. Sedikit sedikit pasti ingin menangis. Bahkan tadi dia sampai tidak bisa menahan tangis nya mendengar Nindi dan Putri bercerita tentang orang tua mereka.
"Mai... Lo gak marah kan" ucap Nindi.
Maira menggeleng dan tersenyum tipis
"Enggak kok. Gue akhir akhir ini memang sensitif banget. Pengen nangis aja bawaan nya" jawab Maira.
"Bawaan bayi" bisik Putri.
"Mungkin " Jawab Maira.
"Terus ini apa yang dari tadi Lo minum gak berhenti berhenti?" tanya Nindi seraya menunjuk botol jus Maira.
"Jus kiwi" jawab Maira.
Nindi mengernyit memandang itu.
"Sejak kapan Lo suka jus kiwi?" tanya Nindi begitu heran. Karena sejak dulu mereka tahu jika Maira memang tidak menyukai buah kiwi. Tapi sekarang, malah dijual dan sebanyak ini dia bawa.
Nindi baru memperhatikan ini setelah tadi tidak menyadarinya.
"Sejak gue hamil" jawab Maira.
"Ngidam, bawaan bayi. Gitu kan?" sahut Putri pula.
Maira langsung mengangguk dan kembali meminum jus kiwi nya.
Nindi langsung meringis memandangi Maira yang memang terlihat berbeda.
"Mai, gak nyangka banget gue, didalem perut Lo udah ada Dedek. Ternyata anak anak bisa buat anak juga ya" ucap Nindi dengan tawa lucu nya. Membuat Putri dan Maira juga ikut tertawa.
"Nama nya gue nikah sama om om, ya langsung bisa bikin anak" sahut Maira.
Putri dan Nindi langsung terbahak mendengar itu.
"Katanya aja yang hijrah, tapi mulut gak bisa direm. Astaga" gumam Putri.
__ADS_1