Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Jangan Bawa Aku Pulang


__ADS_3

Erika sudah benar benar kedinginan, sejak tadi bis yang dia tunggu tidak juga datang datang. Rasanya seluruh sendinya sudah berdenyut begitu ngilu. Bahkan giginya juga sudah saling menggertak menahan dingin.


Baju gamis panjang yang dia kenakan cukup tipis dan tidak bisa menghangatkan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Wajahnya semakin pucat saat menahan dingin yang begitu menggigit ini.


Beberapa kali Erika memejamkan matanya dan menggigit bibirnya agar rasa menggigil ini bisa berkurang. Namun nihil, rasanya dia sudah tidak tahan lagi. Sudah dari sore dia menunggu disini, dan mungkin sudah dua jam lebih dia menunggu bis dengan tubuh yang basah kuyup.


Ervan yang sejak tadi duduk disebelah nya juga hanya diam dan tidak bersuara sepatah katapun. Namun sesekali dia melirik kearah Erika yang kedinginan. Bukan hanya kedinginan, tapi kelihatan nya dia juga sudah begitu menggigil.


Sungguh...


Erika benar benar berharap bis atau apapun itu lewat. Dia ingin cepat pulang, dia sudah tidak tahan lagi.


Hujan sudah mulai mereda, dan beberapa kendaraan juga sudah mulai nampak lewat. Hanya saja bis tidak ada yang lewat.


Apa masih lewat jika sudah malam seperti ini?


Rasanya mustahil sekali.


Erika semakin mengeratkan pelukan ditubuhnya. Ingin menghubungi ojek online atau taksi online, tapi dia tidak memiliki ponsel.


Ya, Erika tidak memiliki ponsel lagi.


Erika menunduk menahan dingin dan sakit di pinggang nya yang terasa lagi.


Ya Allah...


Tolong..


Tolong jangan buat dia terlihat menyedihkan dihadapan Ervan saat ini.


Erika tidak ingin Ervan berfikiran sesuatu yang buruk tentang nya.


Biar mereka seperti ini. Tidak saling mengenal, atau Ervan yang memang tidak mau lagi mengenal nya.


Bukankah begitu perkataan Ervan sewaktu dia memutuskan pertunangan mereka dulunya.


Tiba tiba Erika sedikit terkesiap, saat melihat Ervan yang beranjak dari duduk nya. Erika mendongak dan memandang Ervan yang sudah berjalan ke motornya.


Hujan memang sudah mereda, dan mungkin Ervan akan kembali kerumah nya.


Erika langsung menunduk dengan cepat saat Ervan menoleh kearah nya seraya memakai helm.


Dan entah kenapa, hati Erika terasa begitu perih saat ini. Apalagi saat melihat Ervan yang sudah mulai pergi dan meninggalkannya sendirian.


Tanpa terasa, air mata malah mengalir diwajahnya yang pucat. Bercampur dengan air hujan yang masih menerpa dimalam itu.


Erika tersandar lemas ditiang halte, tubuhnya sudah sangat lemas. Dia benar benar sudah tidak tahan lagi.


Ya Allah...


Tolong...


Kenapa menyedihkan seperti ini.


Untuk jalan kaki, rasanya tidak mungkin, Erika sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Bahkan berdiri pun entah bagaimana.


"Ya Allah, dingin" gumam Erika begitu pedih.

__ADS_1


Bukan hanya dingin, tapi juga pinggang nya yang kembali berdenyut. Membuat Erika benar benar tidak lagi berdaya.


Mata Erika terpejam menahan segala perasaan tidak nyaman dan rasa sakit yang dia rasa. Wajahnya semakin pucat, hanya air mata yang terus mengalir diwajahnya.


Hingga tiba tiba, dia membuka mata saat mendengar deru motor berhenti didepan nya.


"Cepatlah naik" seru Ervan.


Erika menegakkan kepalanya dan memandang Ervan dengan pandangan sendu nya.


"Ervan" gumam Erika.


Kenapa Ervan kembali lagi?


"Cepat naik, aku akan mengantarmu pulang" ujar Ervan.


Erika tertegun. Dia ragu, tapi dia memang sudah tidak tahan jika harus menunggu lebih lama lagi.


"Cepatlah" seru Ervan lagi.


Dan dengan susah payah Erika langsung beranjak dari duduk nya. Dia meringis dan berjalan tertatih menuju Ervan.


Ervan memandang Erika dengan pandangan heran nya. Pasalnya Erika terlihat begitu lemas dan sangat pucat.


Ada apa dengan dia?


Erika tidak berani memandang Ervan, apalagi melihat wajah Ervan yang datar dan dingin itu.


Dia memegang pundak Ervan dengan ragu, dan langsung naik keatas motor Ervan dengan pelan dan sangat kepayahan karena dia yang menahan sakit dipinggang nya.


Apa Erika sudah begitu kedinginan. Bahkan saat sudah duduk diatas motor pun tubuh Erika terasa menggigil. Ervan bisa merasakan nya.


Erika tertunduk dengan tangan yang mencengkram kuat jaket Ervan. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tenang, meski angin dingin yang menerpa nya terasa semakin membuat dia menggigil, hingga tubuh nya semakin bergetar. Apalagi disaat Ervan mulai melajukan motornya.


Sesekali Ervan melirik tangan Erika yang berada di pinggang nya. Bukan memeluk atau merangkul, Erika hanya menggenggam ujung jaket Ervan saja. Itu juga tidak sampai menyentuh tubuhnya.


Tidak seperti dulu, yang jika sudah berboncengan motor seperti ini Erika pasti langsung memeluk nya tanpa malu.


Sekarang...


Berbeda sekali..


Tidak ada yang membuka pembicaraan saat diperjalanan. Mereka hanya diam dengan fikiran masing masing.


Jalanan malam yang sudah begitu larut dan juga sepi membuat suasana semakin sunyi. Tapi bukan damai, apalagi tenang. Erika sedang menahan rasa dingin dan nyeri di pinggang nya sekarang. Bahkan rasanya dia memang sudah sangat lemas karena berhujan Berjam jam dan menahan dingin ditubuhnya yang memang sudah tidak sehat.


Pluk


Ervan mengernyit, saat tiba tiba Erika malah meletakkan kepala nya dipundak nya. Baru juga dikenang, sudah dibuat lagi sekarang.


"Hei... bisakah kamu duduk dengan benar" seru Ervan.


Namun Erika tidak menjawab. Dia sudah sangat lemas dan lemah. Semoga saja Ervan tidak membuang nya dijalanan ketika melihat dia yang seperti ini.


"Erika, aku akan menurunkan mu disini jika kau tidak mau duduk dengan benar" seru Ervan lagi.


Namun Erika tetap diam.

__ADS_1


"Van... jangan bawa aku pulang" pinta Erika. Suara nya terdengar begitu lemah, hingga Ervan langsung memelankan laju motornya.


"Jangan bawa aku pulang kerumah papa" pinta Erika sekuat tenaga nya, tapi meskipun begitu suara nya sudah terdengar samar samar ditelinga Ervan.


Ervan mengernyit mendengar itu. Dia menoleh sekilas kearah Erika.


"Jangan gila, jika tidak membawa mu kerumah, lalu aku harus membawa mu kemana. Kau mau aku tinggal disini" sahut Ervan begitu ketus.


Namun Erika tidak lagi menjawab.


"Erika" panggil Ervan.


Namun dia terkesiap saat menoleh ternyata Erika sudah terkulai lemah dipunggung nya. Ervan langsung menghentikan motornya, dan benar saja Erika hampir terjatuh jika Ervan tidak dengan cepat menahan tubuhnya.


"Astaga.... Erika" panggil Ervan.


Namun nihil, Erika sudah tidak lagi sadarkan diri dengan wajah nya yang semakin pucat dan nyaris membiru.


Ervan bingung, dia memandang kesana dan kemari. Rumah Erika cukup jauh dari daerah ini, dan tidak mungkin membawa nya pulang dengan motor. Ervan juga tidak tahu jika Erika sudah tidak lagi tinggal bersama orang tuanya sekarang.


Dia terlihat berfikir sejenak seraya tangan nya yang masih menahan tubuh Erika dipundak nya.


Hanya rumah Ciko yang dekat disekitar sini. Mungkin Ervan membawanya saja kesana. Meskipun dia kesal dan benci pada Erika, tapi untuk membiarkan nya seperti ini, Ervan tidak akan tega. Dia bukan manusia yang sekejam itu.


Meninggalkan Erika di halte sendirian tengah malam begini saja Ervan tidak tega, apalagi dengan keadaan Erika yang seperti ini.


Akhirnya dengan susah payah Ervan membawa Erika kerumah Ciko. Dia melingkarkan lengan Erika diperutnya hingga gadis itu mendekap tubuhnya dengan erat.


Dan beberapa menit kemudian, mereka tiba didepan rumah Ciko.


Ervan memencet klakson motornya beberapa kali hingga tidak lama kemudian, Ciko keluar dari rumah besar itu.


"Astaga Van, Lo bawa siapa?" tanya Ciko nampak terkejut.


"Erika" jawab Ervan.


Dia segera turun dari motornya dan dengan cepat mengangkat tubuh Erika kedalam gendongan nya.


"Lah, kenapa ini anak? Lo apain?" tanya Ciko begitu heran.


"Banyak banget tanya Lo, tolongin dulu kek. Lo gak lihat dia udah kayak mayat hidup begini" gerutu Ervan.


Ciko langsung meringis dan segera membuka pintu nya lebar lebar.


"Bawa kekamar tamu aja" ujar Ciko


"Tante mana? Dia basah kuyup nih" kata Ervan lagi seraya terus membawa Erika kekamar tamu rumah Ciko.


"Gak ada, nyokap sama bokap lagi keluar kota. Lusa baru pulang. Gue panggilin Bu Upeh dulu" jawab Ciko.


Setelah membukakan pintu kamar, Ciko langsung berlari kebelakang.


Sedangkan Ervan merebahkan tubuh Erika diatas sofa terlebih dahulu.


Bisa Ervan lihat jika wajah Erika begitu pucat seperti tidak di aliri darah. Bahkan tubuhnya sangat dingin sekali.


Tidak ada lagi rona diwajah nya, bahkan binar indah mata itu juga tidak ada lagi. Erika terlihat layu dan meredup.

__ADS_1


__ADS_2