
Ervan berlari keluar dari mobilnya menuju lobi rumah sakit. Entah kenapa beberapa hari ini hujan terus mengguyur kota Jakarta.
Hampir setiap hari, bahkan matahari sudah sangat jarang menampakkan sinar nya lagi.
Padahal seharusnya dibulan Juni ini belum musim penghujan. Tapi sepertinya bumi memang sedang tidak baik baik saja.
Dia mengusap jaket nya yang sedikit basah karena terkena air hujan. Berjalan dengan cepat menuju keruangan dokter Danar untuk mengambil obat ayah nya yang sudah habis. Padahal baru tiga hari yang lalu, tapi sudah menyusul obat yang lain. Memang hidup sudah tidak bisa tanpa obat lagi.
Ervan kemari juga bukan hanya karena ingin mengambil resep obat ayahnya. Tapi juga ingin mencari tahu sesuatu.
Sesuatu yang sebenarnya terlalu canggung dan aneh, tapi dia benar benar penasaran.
Erika...
Ya, dia ingin mengetahui sesuatu tentang Erika dan keluarga nya. Karena semua yang dia lihat terlihat sangat tidak masuk akal.
Erika yang dulunya adalah seorang gadis angkuh dan sombong kini sangat berubah menjadi gadis yang pendiam dan menyimpan segudang masalah dan beban.
Dan bukan itu saja yang membuat Ervan penasaran, tapi tentang Erika dan keluarganya.
Kenapa dia bisa tinggal dirumah petak itu?
Kenapa tidak tinggal bersama dengan kedua orang tuanya lagi?
Erika adalah gadis yang penuh dengan kemewahan, tapi sekarang hidupnya terlihat sangat menyedihkan. Bahkan untuk makan saja, mereka makan makanan yang murah yang ada diwarung makan kecil.
Sangat tidak mungkin jika dikenang bagaimana dengan Erika dulunya.
Meski terlihat kurang ajar dan ingin ikut campur urusan Erika, tapi entah kenapa, sejak bertamu kerumah Erika kemarin, Ervan sudah benar benar tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
Tok tok tok
Ervan mengetuk pintu ruangan dokter Danar. Dan tidak lama, suara merdu dan tenang itu langsung mempersilahkan dia untuk masuk kedalam.
"Assalamualaikum dokter" sapa Ervan.
"Waalaikumsalam. Ervan... mau ambil obat ayah kamu?" tanya dokter Danar. Dia terlihat sedang memeriksa beberapa berkas ditangan nya.
"Iya dokter. Saya baru pulang kuliah, jadi sekalian" jawab Ervan.
Dokter Danar tersenyum tipis dan mengangguk. Dia langsung beranjak dan berjalan menuju kelemari kaca tempat penyimpanan obat yang memang sudah dia sediakan untuk pasien rawat jalan nya.
"Obat yang dari Jepang mungkin beberapa hari lagi baru tiba. Bilang pada ayahmu untuk jangan memakan daging ataupun sejenis makanan berat terlebih dahulu" ujar dokter Danar.
"Papa terkadang susah dibilangin dokter" sahut Ervan.
Dokter Danar tersenyum dan kembali kemeja nya. Dimana Ervan sudah duduk disana dan memandangi dokter Danar dengan wibawa dan auranya yang benar benar sedap dipandang. Jangankan wanita, dia saja yang melihat sudah mengagumi nya.
__ADS_1
Ah... betapa beruntungnya Maira mendapatkan suami seperti dokter Danar.
Masha Allah... Ervan benar benar sudah merelakan gadis itu sekarang. Bahkan dia sudah tidak lagi merasa sakit melihat dokter Danar maupun Maira sekarang.
"Kenapa melihat saya seperti itu?" tanya dokter Danar yang langsung mengejutkan Ervan.
Ervan langsung tertawa canggung dan menggeleng pelan.
"Tidak dokter. Hanya saja saya benar benar mengagumi dokter." jawab Ervan.
"Kamu masih normal kan?" tanya dokter Danar dengan senyum simpulnya.
Ervan langsung berdecak dan meraih obat ayahnya dari tangan dokter Danar.
"Dokter, mengagumi disini berbeda. Saya itu mengagumi dokter yang hebat namun berakhlak. Dan saya juga ingin seperti dokter" jawab Ervan. Terdengar sedikit kesal. Membuat dokter Danar langsung terkekeh kecil dan mengangguk pelan.
"Saya bercanda" ucap nya.
"Jangan seperti saya lah. Setidak nya jika kamu ingin berubah, kamu harus bisa lebih baik dari saya. Saya ini juga masih butuh banyak belajar" jawab dokter Danar.
Ervan menghela nafasnya dengan pelan.
"Untuk bisa ada ditahap ini saja cobaan nya begitu banyak dokter. Apalagi harus bisa melebihi dokter. Hanya Allah lah yang tahu" jawab Ervan.
"Kamu pasti bisa jika kamu berniat" sahut dokter Danar.
Dokter Danar tersenyum memandang Ervan.
"Saya kira, saya sudah menjadi orang yang paling baik dan benar agamanya karena saya sudah mengerjakan shalat dan mengaji. Tapi ternyata, ibadah itu hanyalah kewajiban, bukan alasan untuk masuk surga. Benarkan dokter" ucap Ervan, seraya dia memandang dokter Danar yang langsung mengangguk.
"Ya, kamu benar. Shalat, mengaji, dan berpuasa. Itu hanya lah kewajiban sebagai pertanda kita umat muslim yang mempunyai Allah. Tapi alasan untuk meraih surga nya, bukan hanya itu saja, melain memuliakan sesama dan selalu berbuat baik dalam setiap langkah yang kita ambil" ungkap dokter Danar.
"Terlihat mudah dokter, tapi masih sulit untuk dijalani" sahut Ervan.
Dokter Danar mengangguk dan tersenyum.
"Mulai lah dari hal kecil terlebih dahulu. Setidak nya dari dalam rumah kamu. Memuliakan orang tua Adalah hal yang paling utama untuk kita sebagai anak laki laki, dan setalah itu, baru yang lain" ucap dokter Danar
Ervan mengangguk setuju
"Iya dokter, dan saya sedang mengusahakan hal itu sekarang" jawab Ervan.
"Semoga langkah baik mu selalu diridhai Allah" ungkap dokter Danar.
"Aamiin. Semoga saja dokter. Karena saya sadar, saya anak satu satunya, dan saya harapan mereka. Jika saja sejak dulu saya bisa mengerti dan mendapatkan hidayah seperti ini, mungkin papa pasti tidak akan sakit sakitan seperti ini" jawab Ervan dengan nada yang terdengar getir.
"Tidak ada kata terlambat. Apalagi ketika mereka masih ada. Lakukan kewajiban dan tugas kamu dengan baik" ujar dokter Danar.
__ADS_1
Ervan mengangguk dan tersenyum.
"Tentu dokter. Allah masih begitu baik pada saya untuk memberi saya kesempatan dalam memperbaiki diri" Jawab Ervan.
Dokter Danar juga mengangguk pelan seraya dia yang membuka sesuatu.
"Dan sekarang... kamu mau membantu saya melakukan sesuatu?" tanya dokter Danar.
"Melakukan apa dokter?" tanya Ervan dengan heran.
Memangnya apa yang bisa dia lakukan?
"Berbuat suatu kebaikan untuk menolong sesama" jawab dokter Danar.
Ervan mengernyit.
"Sebenarnya ini sudah termasuk melanggar sumpah kedokteran yang pernah saya ucapkan dulu. Membocorkan tentang data seorang pasien. Tapi ... saya tidak bisa diam saja melihat seseorang yang sedang sekarat, namun tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi" ungkap dokter Danar. Dan itu terdengar mengerihkan ditelinga Ervan.
"Dan apa hubungannya dengan saya dokter?" tanya Ervan.
"Saya ingin meminta bantuan kamu untuk menjadi penyemangat orang itu" jawab dokter Danar.
Ervan semakin bingung mendengar nya.
"Siapa?" tanya Ervan.
"Erika"
deg
Ervan langsung tertegun dan memandang dokter Danar dengan pandangan tidak percaya.
"Saya bisa mempercayai kamu bukan?" tanya dokter Danar dengan senyum simpul nya.
"Memang Erika sakit apa?" tanya Ervan. Dan entah kenapa jantung nya terasa bergemuruh tidak menentu sekarang. Apalagi ketika wajah pucat dan layu Erika melintas dibenak nya.
"Erika mempunyai penyakit dalam. Ginjal nya yang tinggal satu sudah rusak, dan itu membuat nyawanya dalam bahaya" ungkap dokter Danar.
Dan Ervan, dia semakin terdiam dan tidak bisa lagi berkata apa apa.
Ginjal Erika hanya satu?
Dan itu juga sudah rusak?
Nyawanya yang juga terancam.
Astaga....kenapa hidup gadis itu semenyedihkan ini sekarang?
__ADS_1