
Erika berjalan dengan menahan tubuhnya yang lemas. Dia sudah keluar dari pekarangan rumah Ciko, dan sekarang berjalan menuju jalan utama. Tidak tahu dia harus naik apa untuk pulang, apa yang dia temui mungkin itu yang akan dia tumpangi nanti.
Erika tidak bisa menunggu lama untuk tetap berada dirumah Ciko. Dia tidak ingin menyusahkan Bu Upe dan juga Ciko. Terlihat dari wajah Ciko dan Ervan, mereka begitu tidak menyukai nya. Jadi dari pada menjadi beban, lebih baik Erika cepat pulang. Lagi pula Akbar dan Ayu pasti sudah mengkhawatirkan dia sekarang.
Sesekali Erika menoleh kedaerah sekitar itu, jalan utama cukup jauh, masih ada didepan sana. Semoga saja pinggang nya tidak sakit lagi. Rasa demam dan pusing ini masih bisa dia tahan. Setidaknya Erika sudah mulai terbiasa menahan rasa sakit ditubuhnya.
Sesekali dia memeluk tubuhnya sendiri, pakaian yang dia kenakan masih lembab, karena bu Upeh hanya menumpuk nya didalam ember. Tidak tahu Erika memakai pakaian siapa malam tadi, mungkin Bu Upeh yang menggantikan nya.
Tiba tiba suara motor yang berhenti membuat Erika terkejut. Dia langsung menoleh, dan ternyata Ervan yang berhenti tepat dihadapannya.
"Apa kamu mau menyusahkan orang lagi ha?" tanya Ervan.
Erika terdiam, dia hanya memandang Ervan dengan bingung. Apa maksud Ervan?
"Cepat naik, aku akan mengantarmu pulang" ujar Ervan.
Erika memandang nya dengan ragu. Namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng pelan.
"Tidak usah Van. Aku naik angkot saja" jawab Erika.
Ervan mengernyit
"Naik angkot? sejak kapan kamu mau naik angkutan umum seperti itu?" tanya Ervan dengan pandangan bingung namun terkesan sinis.
Erika tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya matanya yang memandang nanar jalan utama didepan sana.
"Sejak aku menyadari kesalahanku" jawab Erika. suaranya terdengar pelan, namun Ervan masih bisa mendengar nya.
"Sudahlah, ayo cepat naik. Banyak sekali alasan mu. Wajahmu masih pucat, jangan sampai kamu menyusahkan orang lagi" ucap Ervan.
Apa Ervan mengkhawatirkan dia??
Erika langsung tersenyum tipis dan menggeleng. Mana mungkin. Ada ada saja.
"Cepatlah..." seru Ervan lagi.
"Tapi aku bi...."
"Naik atau tidak sama sekali" ancam Ervan.
Erika memandang nya dengan bingung. Tapi jika difikir fikir. Dari pada dia menyusahkan orang lagi, lebih baik dia naik saja kan.
Dan akhirnya Erika langsung naik ke motor Ervan. Dia naik dengan begitu hati hati.
"Dasar gengsian. Banyak sekali fikir mu. Jika tidak melihat kamu yang sudah seperti orang sekarat begitu aku tidak akan mau repot repot seperti ini" gerutu Ervan seraya dia yang mulai melajukan motornya.
Erika hanya tersenyum getir mendengar itu. Dia kan memang sedang sekarat. Dia juga tidak gengsi, dia hanya malu dan tidak ingin merepotkan. Tapi Ervan memaksa, kenapa sekarang malah bilang hal yang menyakitkan seperti itu???
__ADS_1
Apa dia tidak tahu, jika Erika sudah cukup takut dan sedih dengan keadaan nya yang sekarang. Ditambah lagi dengan perkataan menyakitkan itu. Sungguh, hatinya benar benar tidak sekuat itu.
Dan lagi lagi, sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Tidak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan. Mereka hanya fokus pada fikiran masing masing.
Jalanan pagi yang macet membuat Ervan tidak bisa melajukan motornya dengan cepat. Tapi beruntung nya dia memakai motor, jadi bisa menyalip kendaraan yang lain.
Erika hanya diam, memandang nanar jalanan disekelilingnya. Jika dulu dia selalu mencuri kesempatan untuk bisa berboncengan motor bersama Ervan, tapi sekarang, rasa nya berbeda. Dulu dia sangat senang, tapi kenapa sekarang tidak lagi?
Dia memang senang, karena bagaimana pun Ervan masih menjadi pemilik hatinya. Tapi tidak tahu kenapa, perasaan cinta itu kini sudah bukan lagi hal yang penting dalam hidup Erika. Saat ini, perasaan yang begitu kuat yang dia rasakan adalah rasa takut yang begitu besar.
Ya, dia takut.
Takut menghadapi kematian.
Apalagi dia yang hanya sendirian, tanpa ada orang yang perduli.
Itu lebih penting dari pada cinta nya sekarang kan? Yang sudah jelas dia tahu mendapatkan cinta adalah hal yang mustahil.
Ervan sesekali melirik Erika dari kaca spion motor nya, wajah Erika yang pucat membuat Ervan iba dan tidak tega. Hingga mau tidak mau dia kekeh untuk mengantarkan gadis ini pulang. Dan juga, Ervan ingin mengetahui sesuatu. Tentang kehidupan Erika setelah masalah yang menimpa nya waktu itu.
Erika terkesiap, saat tiba tiba mereka berhenti dilampu merah.
"Van, bisa tolong kearah kiri saja. Aku pulang kearah sana" pinta Erika.
Ervan mengernyit, sebab rumah utama orang tua Erika ada disebelah kanan.
"Aku tinggal disana. Tidak jauh lagi" jawab Erika.
Dan sungguh, Ervan semakin penasaran dengan ini.
Dia hanya diam dan langsung melajukan motornya kearah kiri. Apa benar dugaan nya jika selama ini Erika tidak tinggal lagi bersama kedua orang tuanya?
Dan beberapa menit kemudian, gang kecil menuju rumah kecil Erika sudah kelihatan.
"Van, berhenti didepan saja, di gang kecil itu" ujar Erika.
"Kenapa disitu, kamu mau kemana?" tanya Ervan.
"Aku tinggal didalam sana" jawab Erika.
"Disana?" tanya Ervan yang menoleh kearah Erika.
"Iya, sudah sampai disini saja" ujar Erika.
Namun Ervan tidak memperdulikan nya, dia terus saja membelokkan motornya masuk kedalam gang kecil itu. Gang yang hanya berisi rumah rumah petak kecil dan juga rumah kontrakan saja. Tidak ada rumah mewah disini, rata rata rumah sederhana dan sama sekali bukan rumah sekelas Erika.
Apa dia berbohong???
__ADS_1
Erika hanya menghela nafasnya melihat Ervan yang tidak mau mendengar.
"Aku tidak percaya kamu tinggal ditempat seperti ini" gumam Ervan.
Namun Erika hanya tersenyum tipis saja.
"Didepan, rumah petak yang bewarna hijau" Erika menunjuk rumah disebelah kanan mereka.
Ervan langsung membelokkan motornya kearah rumah itu.
Dan dia kembali memandang Erika yang sudah turun dari motornya.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang" ucap Erika.
Ervan masih terperangah memandang Erika dan juga rumah itu bergantian.
"Kamu benar tinggal disini?" tanya Ervan.
Erika mengangguk pelan.
"Kakak!!!" seruan Ayu membuat Erika dan Ervan menoleh.
Erika tersenyum dan langsung menangkap Ayu kedalam pelukannya.
"Kakak dari mana, kenapa tidak pulang semalam. Ayu sama kak Akbar cari kakak" tanya Ayu dengan wajah sedih nya.
"Kakak menginap dirumah kakak ini Yu. Maaf ya, hari hujan jadi kakak tidak bisa pulang" jawab Erika seraya melirik Ervan sekilas.
Akbar juga baru keluar dari dalam rumah. Anak lelaki itu sudah mengenakan seragam sekolah nya.
Ervan memandang Erika dan semua ini dengan begitu bingung.
Apa apaan ini?
Kenapa Erika bisa ada disini?
Bersama anak anak ini pula?
Dirumah petak yang terlihat kumuh???
Benarkah yang dia lihat ini???
Kenapa semua terlihat begitu berbeda??
Apa yang telah terjadi sebenarnya???
Sungguh, seribu pertanyaan langsung berkecamuk di fikiran Ervan.
__ADS_1