
Keesokan paginya...
Dokter Danar terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja bewarna biru muda nya. Dia sedang memakai jam tangan nya dan melirik kearah Maira yang masih ada ditempat tidur.
Wajah Maira tampak bingung, dia sudah lebih baik dari semalam. Wajahnya juga sudah tidak pucat lagi.
Dokter Danar mendekat kearah Maira seraya membawa sebuah obat oles yang dia ambil dari dalam lemari.
Maira sedikit terkesiap saat dokter Danar duduk disamping nya.
"Sini saya obati dulu" ujar dokter Danar
Maira melirik ketangan dokter Danar, namun dia langsung menggeleng pelan
"Gak usah dokter, nanti biar saya aja" jawab Maira
"Nanti kamu lupa" dokter Danar langsung membuka penutup botol kecil itu, membuat Maira langsung berdecak kesal. Dia segera duduk dengan tegak dan mendekat kearah dokter Danar.
"Dokter pemaksa banget deh" gerutu Maira, namun dokter Danar hanya tersenyum saja seraya mengoleskan salep itu diwajah Maira. Lembut tangan dokter Danar begitu terasa, ditambah dengan salep yang terasa mendinginkan kulit wajahnya, membuat Maira tidak meringis kesakitan lagi.
"Seminggu lagi bekas luka ini pasti hilang" ucap dokter Danar. Kini dia beralih pada lengan Maira yang lumayan agak parah.
"Dokter pasti modus biar bisa sentuh sentuh saya kan" tuding Maira dengan wajah yang memandang sinis dokter Danar. Namun wajah dokter Danar tetap tersenyum teduh seperti biasa. Tidak ada ekspresi lain yang Maira dapatkan. Terkadang Maira berfikir apa dokter Danar tidak bisa marah.??? Dia marah, hanya diam dan berwajah datar saja, dan itupun saat melihat Maira berdua dengan Ervan kemarin.
"Modus juga sama istri sendiri. Kalau sama istri orang tadi baru dosa" jawaban dokter Danar membuat Maira sedikit terkesiap dan menghela nafasnya
"Kamu tidak apa apa saya tinggal kerja kan?" tanya dokter Danar saat telah selesai mengobati lengan Maira
"Iya, saya bukan anak kecil" sahut Maira
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk
"Yasudah, istirahat dirumah. Makanan kamu sudah ada didapur sampai untuk siang nanti. Jangan kemana mana supaya cepat pulih. Agar besok sudah bisa masuk kuliah" ujar dokter Danar yang langsung beranjak dan meraih jas putih nya digantungan baju
"Beneran gak dikeluarin ya" gumam Maira pada dirinya sendiri. Dia masih benar benar bingung sebenarnya, hari ini dia pun ragu untuk masuk kuliah meski tubuhnya sudah lebih baik, maka dia memutuskan untuk tetap dirumah menunggu keputusan dari kampus. Tapi sampai saat ini tidak ada siapapun yang menghubungi nya. Bahkan Putri dan Nindi pun juga bingung disana. Mereka malah mengikuti Maira yang tidak ingin kuliah juga.
Usapan lembut dikepala Maira membuat Maira langsung tersadar dari lamunan nya. Dia memandang dokter Danar yang tersenyum dan sudah terlihat sangat rapi dan keren dengan jas dokter itu. Benar benar sempurna...
"Jangan berfikiran yang tidak tidak. Kamu masih bisa kuliah seperti biasa. Saya pergi ya. Assalamualaikum" pamit dokter Danar
__ADS_1
Maira mengerjapkan matanya beberapa kali memandang senyum dokter Danar yang lagi lagi membuat hatinya terasa aneh
"Waalaikumsalam" jawab nya begitu pelan.
..
Siang hari yang lumayan terik. Maira baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur nya. Dokter Danar tidak dirumah, tidak dirumah sakit, selalu saja menjadi alarm alami nya. Berkali kali dia menghubungi Maira hanya untuk memintanya shalat. Astaga, Maira benar benar heran melihat dokter yang satu itu.
Saat baru sedang melipat mukenah nya, tiba tiba suara klakson mobil terdengar begitu nyaring, membuat Maira menghela nafasnya dengan jengah. Dia tahu siapa itu, pasti ulah kedua sahabatnya. Lihatkan, padahal baru semalam mereka datang, tapi hari ini sudah datang lagi. Benar benar niat sekali menjadi pelakor.
Maira keluar kamar dan menuju keluar. Dia membuka pintu dan terlihat jika lagi lagi Putri yang membuka pagar dan Nindi langsung memasukan mobilnya kedalam garasi dokter Danar.
"Niat banget lu kerumah gue tiap hari" ucap Maira saat Nindi sudah turun dari mobil dan mendatangi nya.
Gadis itu tampak tertawa dan mengibaskan sedikit rambut nya yang terurai
"Gila ya Mai, dari pagi dia nelpon gue cuma buat ngajakin kerumah elo" sahut Putri yang baru tiba didekat mereka
"Memang parah. Niat banget jadi pelakor" dengus Maira yang langsung berjalan kedalam rumah dan diikuti oleh kedua sahabatnya.
Nindi kembali tertawa lucu melihat wajah kesal kedua sahabatnya itu.
Putri langsung mendengus mendengar itu, dia langsung mendudukkan tubuh nya diatas sofa Maira.
"Lagian gue kesini cuma buat ngasih tahu ke kalian berdua" ujar Nindi lagi. Dia duduk dihadapan Putri dan Maira sekarang
"Ngasih tahu apaan?" tanya Maira
"Nyokap gue udah nanyak kepihak kampus tentang pertengkaran kita sama Erika kemarin. Dan kalian tahu apa yang terjadi?" Nindi terlihat begitu serius menyampaikan ini, membuat Putri dan Maira langsung mencondongkan tubuh mereka kearah nya.
"Apa?" tanya Putri dan Maira bersamaan
"Ternyata, kita memang enggak dikeluarin. Dan yang dapet sanksi malah Erika" ungkap Nindi
Putri dan Maira langsung terkesiap kaget mendengar itu
"Kenapa bisa begitu?" tanya Putri bingung begitu pula dengan Maira
"Entah lah, tapi kata nyokap gue, pihak kampus udah nyelidikin kalau memang selama ini Erika memang udah semena mena sama elo, dia juga sering cari masalah duluan. Bullying , buat keributan, dan yang jelas, pihak kampus tahu dari anak anak kampus yang lain, sama mereka juga udah meriksa cctv dikantin kemarin" ungkap Nindi
__ADS_1
"Kenapa bisa ada yang ngebelain kita" gumam Maira
"Apa papa nya Erika gak turun tangan?" tanya Putri pula
"Itu dia yang buat gue bingung. Kata nyokap gue lagi, kalau masalah ini juga ada campur tangan dari salah satu pemilik saham yang lain. Yang jelas ada diatas wewenang papa nya Erika. Dia yang udah ngebela kita" ungkap Nindi
"Pemilik saham terbesar?" tanya Putri, dan Nindi langsung mengangguk
"Siapa???" tanya Maira benar benar penasaran sekarang.
Nindi langsung menggeleng dan mengendikan bahu nya.
"Gue gak tahu, gue tanyak nyokap, dia juga gak tahu. Identitas pemilik saham terbesar dikampus kita kan memang gak banyak yang tahu. Tapi denger denger dia masih muda dan punya banyak usaha ditempat lain" ungkap Nindi
"Gila ya. Siapa coba. Anak curut kayak kita gini bisa dibela sama orang besar kayak gitu" gumam Putri
"Lu kalau ngomong suka aneh. Lu aja yang anak curut. Gue ogah" sahut Maira kesal. Dia sudah penasaran siapa orang itu, Putri malah membahasakan yang aneh aneh.
"Yah kalau bukan kayak anak curut apa dong. Bokap gue cuma manager diperusahaan Ervan, emak Nindi cuma kepala sekolah di SMA Darmabangsa. Nah elo, cuma istri seorang dokter. Kaleng kaleng mah kita" ungkap Putri begitu lugas
Nindi jadi tertawa mendengar nya
"Bener, jadi kenapa bisa kita yang kaleng kaleng terselamatkan dan Erika yang kenak sanksi coba. Apa kalian gak ngerasa ada yang aneh gitu?" tanya Nindi
"Itu dia Nin, kok bisa ya?" gumam Putri pula
"Lo gak coba tanya Ervan aja Mai. Dia pasti tahu sesuatu, mungkin aja dia tahu siapa pemilik saham terbesar dikampus kita?" kini Putri beralih pada Maira
Maira menghela nafasnya dan menggeleng pelan
"Males gue, ponsel gue matiin dari kemarin" dengus Maira
"Lah pantes aja dia nelponin gue tadi malem" sahut Nindi
"Gak Lo angkat?" tanya Maira dan Nindi langsung menggeleng
"Enggak, gue takut kelepasan bicara. Bukan nya bilang gak tahu elo dimana, gue takut nya malah bilang elo lagi kelonan sama dokter ganteng" jawab Nindi
Maira langsung mendengus sedangkan Putri langsung terbahak mendengar itu.
__ADS_1