Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kekesalan Maira


__ADS_3

Maira bersama kedua sahabatnya langsung pergi menuju aula kampus. Dan yang membuat Maira tidak habis fikir adalah kenapa aula sebesar ini begitu penuh dan sesak. Bahkan mereka bertiga tidak bisa masuk dan mendekat lebih dekat. Mereka hanya berdiri dari jauh dan memandang kesal kumpulan manusia yang hanya terdiri dari jenis perempuan. Astaga, apa sebenarnya yang mereka lihat.


"Gila ya, padahal anak kesehatan gak sebanyak ini Lo. Apa mereka semua mau ikut bimbingan kesehatan dari dokter Danar" gumam Nindi tidak habis fikir melihat ramai nya orang orang yang ada diaula ini.


"Bukan mau ikut bimbingan ogeb. Udah jelas ini otak mereka sama kayak elu. Cuma mau lihat dokter Danar doang" sahut Putri pula.


Maira langsung berdecak kesal mendengar itu.


"Gatel banget emang. Yuk ah pergi" ajak Maira yang langsung beralih dari sana. Percuma juga dia berdiri disana. Hanya membuat gerah dan sesak. Dia juga tidak tahu apa yang dilakukan oleh dokter Danar dan bersama siapa dia kesini.


"Loh kok pergi sih Mai. Lo gak mau lihat dokter Danar" tanya Nindi yang tampak menggerutu kesal mengikuti langkah kaki Maira dan Putri.


"Percuma juga gak bisa lihat Nin, yang diutamain pasti anak kesehatan. Mending kita lihat dari atas aja" jawab Maira seraya menunjuk gedung kampus dilantai dua, dimana pemandangan dari atas akan terlihat jelas menuju aula. Meskipun tidak dapat mendekat, setidaknya dia tahu apa yang dilakukan oleh suami tampan nya itu.


"Ah iya bener juga. Yuk gas" Nindi langsung dengan semangat berjalan mengiringi langkah kaki Maira dan Putri.


Mereka berjalan menuju gedung lantai dua, berdiri dipinggir pembatas gedung dan memandang kebawah.


Mata Maira memicing memandangi empat dokter muda yang ada disana. Dua wanita dan dua pria. Tapi yang dikenal nya hanya dua orang saja, suami nya sendiri, dan juga... dokter Kemala.


"Waaah emang seger banget lakik Lo Mai, pantes aja tuh anak anak pada semangat" ucap Nindi seraya menopang dagu dan memandangi kearah bawah. Dimana dokter Danar sedang memberikan informasi dan pengetahuan untuk anak anak kesehatan. Kegiatan ini memang sering dilakukan setiap bulan nya. Dan entah kenapa, bulan ini bisa dokter Danar yang datang ke universitas ini.


Maira memandangi dokter Danar dengan lekat. Meski dari jauh, namun tetap saja pesona dokter tampan itu tidak bisa ditutupi. Apalagi ketika memakai jas putih seperti ini, ya ampun, terkadang Maira tidak habis fikir kenapa dia bisa memiliki suami sesempurna dokter Danar.


"Lo gak akan nyesel milih dia Mai" ujar Putri tiba tiba.


Dan tanpa sadar bibir Maira tersenyum tipis memandang dokter Danar.


"Ya, tapi gue rasa Lo memang harus nyiapin mental kalau jalan bareng dia" sahut Nindi pula.


"Kenapa?" tanya Maira. Matanya masih fokus memandang dokter Danar. Bahkan rasa patah hati nya karena Ervan tadi pagi sudah tidak lagi terasa saat melihat dokter Danar.


"Dia pasti banyak fans nya. Udah ganteng, ramah, aura nya juga tenang banget. Ya ampun, untung gue udah ada kemajuan sama my Brian" ungkap Nindi.


Maira langsung mendengus senyum mendengar itu.


"Gue doain semoga kalian bisa dapetin orang sebaik dokter Danar" ucap Maira.


Kali ini Nindi dan Putri yang tersenyum mendengar perkataan Maira.

__ADS_1


"Aamiin... lelaki idaman banget emang" gumam Nindi seraya menopang dagu memandang kebawah.


"Yah, kita nakal, udah jelas kita butuh laki laki yang tanggung jawab dan bisa bawa kita sama kebaikan" sahut Putri pula. Mata nya juga memandang kebawah, memandangi dokter Danar dan rekan nya yang lain.


"Dan kayaknya gue memang udah dapet semua itu" ucap Maira.


Nindi dan Putri mengangguk dan tersenyum


"Lo harus bersyukur Mai" ujar mereka berdua.


Maira mengangguk dan memandangi dokter Danar yang kini sudah mundur kebelakang dan bergantian dengan rekan nya. Namun yang membuat Maira langsung mematung adalah entah kenapa, tiba tiba dokter Danar malah mendongak kan kepalanya mengarah ke Maira. Tentu saja Maira langsung terdiam, apalagi saat mata mereka saling bertautan dari jauh. Wajah Maira bahkan merona saat dokter Danar memberikan senyum teduh nya dari bawah sana sebelum dia kembali memandang para mahasiswi itu.


"Aaaaaaa senyum nya manis banget. Tolong yoloh, gak kuat gue" ucap Nindi yang ternyata melihat itu.


"Dih jijik banget gue, yang disenyumin Maira, yang salting elo. Astaga" gumam Putri tak habis fikir.


"Sirik aja Lo Put, biarpun yang disenyumin Maira, tapikan gue juga kena manis manis nya. Hehe. Lagian tuh ya, bisa bisa nya dia tahu aja kita perhatiin dari sini. Keren emang tuh dokter" puji Nindi.


"Iyalah, bini nya disini" sahut Putri


"Bukan cuma bini nya, tapi penggemar nya. Hihi" ucap Nindi seraya tertawa cekikikan.


"Lo kayak nya dari tadi muji dokter Danar terus deh Nin. Lo gak niat jadi pelakor beneran kan" kata Maira memandang Nindi dengan kesal. Lama lama dia sangat jengah mendengar Nindi yang selalu memuji suaminya.


"Lo cemburu ya" tanya Nindi memandang wajah Maira.


"Bukan nya cemburu, tapi lama lama enek juga gue denger nya" jawab Maira. Nindi dan Putri kembali tertawa mendengar nya.


"Gue gak akan jadi pelakor dalam hubungan elo kok. Tenang aja, gue cuma jadi salah satu penggemar lakik Lo tanpa ingin merebut. Cinta gue cuma untuk my Brian. Gue itu cuma salah satu dari mereka aja. Noh liat" ujar Nindi seraya menunjuk kebawah dimana beberapa orang mahasiswi maju mendekat kearah dokter Danar dan memberikan sebuah bingkisan, bukan hanya bingkisan, melainkan juga banyak bunga.


"Astaga, segitunya" gumam Putri.


Maira langsung mendengus kesal melihat itu. Apalagi melihat dokter Danar yang malah tersenyum mengucapkan terimakasih pada gadis gadis centil itu. Meski bukan dia yang menerima, namun tetap saja Maira tidak rela jika mereka menikmati senyum dokter Danar. Dokter Danar kan suami nya.


"Kipasin Put, mulai terbakar dia" ucap Nindi seraya mengibas ngibas wajah Maira yang mulai memerah.


"Apaan sih Nin" seru Maira begitu kesal. Namun Putri dan Nindi malah tertawa lucu melihat Maira. Tanpa sadar, sebenarnya rasa memiliki itu memang sudah ada dihatinya. Tentu saja dia cemburu.


Apalagi melihat dokter Danar yang mulai dikerubungi oleh para mahasiswi itu. Acara sudah selesai dan mereka seperti ingin mendekat pada dokter itu. Maira semakin kesal melihat nya.

__ADS_1


"Dah ah, gue mau balik aja" ujar Maira yang langsung membalikkan tubuhnya.


"Loh kok cepet banget, gak nunggu dia Mai?" tanya Putri yang langsung mengikuti Maira


"Tahu nih, belum kelar lagi gue lihat Lo cemburu" ledek Nindi.


"Males banget gue, sok kayak artis aja" gerutu Maira.


Putri dan Nindi nampak tertawa seraya berjalan mengikuti langkah Maira menuruni anak tangga gedung itu. Namun saat sampai dibawah, Nindi menarik lengan Putri dan Maira seraya merengek seperti biasa.


"Temenin gue kekamar mandi dulu" pinta Nindi


"Kebiasaan deh Nin, sendiri aja ngapa" sahut Maira.


"Ish gak mau gue, Lo kan tahu gue ini cewe Ter...."


"Stop, berisik Lo,.bilang aja takut, pakai ngeles lagi" ucap Putri yang langsung menarik lengan Nindi menjauh dari Maira


"Tunggu diparkiran Mai" seru Putri


Maira hanya mengangguk pasrah dan berjalan lebih bulu keparkiran. Suasana diluar kampus sepi, karena semua orang masih ada diaula.


Maira berjalan dengan lesu namun terlihat kesal mengingat kelakuan dokter Danar tadi. Hari ini benar benar melelahkan. Pagi pagi dia dibuat menangis karena Ervan, dan siang ini dia dibuat kesal dengan dokter Danar. Memang menyebalkan.


Namun tiba tiba Maira terkejut saat tangan nya ditarik oleh seseorang menjauh dari lobi kampus.


"Ervan... lepas" seru Maira seraya menghempaskan tangan nya dari Ervan. Dia dibawa kesamping gedung oleh lelaki itu.


"Maira, kamu gak bisa mutusin aku gitu aja" seru Ervan. Nampak nya dia masih tidak terima dengan keputusan Maira. Tapi kenapa baru datang sekarang?


"Keputusan aku udah bulat Van, lupain aku dan jauhin aku. Kamu bisa dapetin perempuan yang jauh lebih baik dari aku" ucap Maira. Namun Ervan menggeleng dan langsung memeluk Maira.


"Aku gak bisa Maira. Aku cinta sama kamu" kata Ervan


Maira terdiam dengan mata yang terbelalak.


"Van lepas" kata Maira, namun Ervan malah semakin kuat memeluk nya, membuat Maira tidak bisa bergerak.


"Maira!!!" seruan seseorang membuat Ervan langsung melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


Dan saat melihat orang yang memanggil Maira, mata Maira semakin terbelalak lebar.


"Dokter Danar " gumam Maira begitu terkejut.


__ADS_2