Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Ngidam


__ADS_3

Sudah tiga hari Maira tidak masuk kuliah. Dan sudah tiga hari pula dia pindah kerumah mewah dokter Danar.


Kehidupan nya berubah, dia tidak lagi harus memegang sapu dan piring untuk membereskan rumah. Semua sudah dilakukan oleh pelayan yang bekerja dirumah itu. Mungkin ada sekitar lima orang pelayan dan juga dua orang security didepan.


Maira masih benar benar tidak menyangka jika dia bisa mempunyai suami yang kaya seperti ini.


Bahkan jika melihat rumah nya, tidak kalah dengan rumah orang tua Ervan. Besar, mewah dan megah.


Pagi ini Maira baru bangun dari tidurnya. Sudah tiga hari ini tubuhnya tidak enak. Perutnya masih terus mual.


Bahkan Putri dan Nindi sudah sibuk menanyakan kabar Maira. Hanya saja, Maira masih belum memberitahu mereka jika dia sudah pindah rumah.


Maira tidak enak dengan ibu mertua nya yang masih ada dirumah ini. Apalagi dengan kelakuan kedua sahabatnya yang bar bar itu. Bisa bisa ibu dokter Danar cerewet lagi, setelah beberapa hari ini dia begitu baik pada Maira. Yah mungkin karena Maira sedang mengandung cucunya.


Maira beranjak duduk disisi tempat tidur, memandang kesegala arah mencari keberadaan dokter Danar, namun entah dimana suami nya itu. Maira melirik jam besar yang ada didinding kamar. Sudah pukul setengah delapan pagi. Ternyata sudah siang, mungkin dokter Danar sedang sarapan bersama ibu.


Setelah shalat subuh tadi Maira tidur kembali. Dan selalu seperti itu selama tiga hari ini. Untung saja ibu mertua nya tidak melarang. Karena entah kenapa Maira benar benar malas untuk melakukan apapun.


Maira mengusap perut nya dengan lembut. Rasanya mual lagi. Dan dari pada dia muntah disini, lebih baik dia pergi saja kekamar mandi. Entah kenapa bisa seperti ini, padahal dia harus kuliah, Minggu depan dia ujian, jangan sampai Mr Petro menurunkan nilai nya lagi, yang memang sudah hancur.


Sampai dikamar mandi, Maira kembali muntah muntah. Tangan nya memegang pinggiran wastafel dengan erat. Rasanya sakit dan pedih sekali. Apalagi Maira yang memang tidak bisa memakan nasi.


huek huek.


Uuuhh jika sudah begini Maira benar benar lemas dan ingin sekali menangis.


Maira membasuh wajah nya dengan air, mata nya berair dan dia memang ingin menangis. Rasanya tersiksa sekali.


Namun tiba tiba Maira terkesiap saat sebuah tangan mengusap wajah dan kepala nya.


"Muntah lagi sayang" ucap dokter Danar seraya mengusap wajah Maira dengan lembut.


Maira meringis dan membalikkan tubuhnya. Dia langsung menyandarkan kepalanya di dada dokter Danar.


"Lemes banget mas" gumam Maira seraya menahan Isak tangis nya.


Dokter Danar mengusap pundak Maira kembali. Dia benar benar tidak tega melihat istri kecil nya yang tersiksa seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, demi buah hati mereka. Maira memang harus menjalani hari hari terberat nya ini.


"Kita berbaring lagi ya" ajak dokter Danar.

__ADS_1


Maira hanya mengangguk saja dan berjalan keluar dengan dipapah oleh dokter Danar. Dia masih sanggup berjalan, tapi entah kenapa setelah muntah benar benar membuat nya lemas bukan main.


Maira langsung duduk disisi tempat tidur dengan kepala yang kembali tersandar dibahu suami nya.


Perasaan mual ini benar benar menyiksa nya.


"Muntah lagi?" tanya ibu yang tiba tiba masuk kedalam kamar. Ditangan nya membawa sebuah gelas yang berisi air yang bewarna keruh.


"Iya Bu" jawab dokter Danar seraya merapikan rambut Maira yang berserakan.


Maira masih memejamkan matanya, dia benar benar pusing sekarang.


"Minum ini dulu Mai. Biar enakan" ujar ibu.


Maira langsung melirik kearah ibu dan memandang air digelas itu.


"Ini air teh, ibu campur lemon, bisa meredakan mual. Dulu nenek Danar juga sering buat ini sewaktu ibu hamil Danar" ungkap Ibu


Dokter Danar langsung menyambut gelas teh itu dari tangan ibu.


"Ibu mual juga dulu?" tanya Maira yang mulai menegakkan tubuhnya. Wajahnya benar benar pucat dan lemas.


Maira hanya mengangguk dan memandang air itu.


"Minum dulu sayang" ujar dokter Danar seraya mendekatkan gelas itu ke bibir Maira.


Maira meminum itu perlahan. Rasa hangat dan menyegarkan langsung membuat perasaan nya membaik.


"Enak kan" tanya ibu.


"Enak Bu" jawab Maira


"Nanti kalau mual kamu minum itu aja. Nanti ibu buat banyak, dan taruh dikulkas" kata ibu lagi.


Maira tersenyum dan mengangguk.


"Makasih ya Bu, Maira jadi ngerepotin" ucap Maira dengan mata yang berkaca kaca.


"Ngerepotin apa, nama nya juga orang hamil. Kalau kamu gak hamil tapi males, iya ibu marah. Ini juga kan karena cucu ibu yang buat kamu begini" sahut ibu.

__ADS_1


"Jangan mikir yang tidak tidak sayang. Kamu gak ngerepotin kok" ujar dokter Danar lagi seraya mengusap kepala Maira.


Maira langsung memeluk dokter Danar tanpa malu. Dia benar benar manja selama hamil ini. Bahkan sudah tiga hari dokter Danar juga tidak kerumah sakit karena harus menemani Maira selalu.


"Tapi Maira pengen sesuatu mas" kata Maira lagi.


"Pengen apa?" tanya dokter Danar.


"Pengen jus kiwi pakek lemon. Kayak nya seger" jawab Maira seraya mendongak dan memandang dokter Danar.


"Itu asam sayang, nanti magh kamu kambuh. Kamu juga gak ada makan nasi Lo udah berapa hari" ucap dokter Danar.


Maira langsung cemberut dan melepaskan pelukan nya. Dia langsung memandang ibu dengan penuh harap.


"Iya nanti ibu buatin." jawab ibu langsung.


Maira langsung tersenyum senang dan beralih pada ibu mertuanya. Bahkan dia langsung memeluk lengan ibu mertua nya itu dengan manja. Membuat ibu terkejut, bahkan dokter Danar juga terperangah. Bukankah Maira begitu takut dengan ibu?


"Makasih Bu, Maira pengen nya sekarang. Buat ya Bu" pinta Maira.


Dokter Danar terlihat keberatan. Namun ibu malah mengangguk.


"Gak apa apa Nar. Nama nya juga orang ngidam. Nanti bisa konsultasi sama Kemala." ujar ibu saraya mengusap lengan Maira yang masih menempel dilengan nya.


"Gak boleh pelit mas. Maira cuma minta itu doang kok" sahut Maira.


"Bukan pelit sayang, tapikan....."


"Udah yuk Bu, Maira udah gak tahan, pengen coba" Maira langsung menarik lengan ibu. Bahkan dia mengabaikan perkataan dokter Danar barusan.


Ibu hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Maira yang menarik nya keluar.


Padahal dia baru minta maaf karena merasa merepotkan. Tapi sekarang malah memaksa untuk membuat jus keinginan nya.


Dokter Danar bahkan masih terduduk dan memandang Maira tidak percaya. Secepat itu mood nya berubah.


Masha Allah....


Dokter Danar mendengus senyum dan menggeleng. Sepertinya dia memang harus kembali menjadi suami yang siaga dan pastinya ... sabar.

__ADS_1


__ADS_2