Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Aku Takut Van!


__ADS_3

Hari sudah mulai sore saat Ervan mengantarkan Erika pulang kerumah nya. Disepanjang perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Ervan dengan fikiran nya sendiri, sedangkan Erika diam karena menahan rasa sakit dipinggang nya yang terasa begitu menggigit.


Siang ini Erika lupa meminum obatnya, hingga membuat rasa sakit itu datang lagi sekarang. Bahkan obatnya pun tertinggal dirumah tidak dia bawa.


Tangan Erika saling meremas menahan sakit, sesekali dia menghela nafasnya dengan berat untuk mengurangi rasa sakit ini.


Berharap dia bisa menahan nya dan Ervan tidak tahu. Erika tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Ervan. Apalagi dengan keadaan nya yang sekarang. Biarlah dia menderita sendiri, dan jangan sampai ada orang lain yang tahu.


Meski seberapa kuat pun Erika menahan rasa sakitnya, Ervan memang sudah tahu. Bahkan dia juga bisa melihat wajah Erika yang semakin pucat, juga tangan itu yang saling meremas pucuk jaket yang dikenakan oleh Ervan. Ditambah dengan tubuh Erika yang sesekali menggeliat tidak lagi bisa tenang, sudah membuat Ervan tahu betapa kuat sakit yang ditahan oleh Erika.


Ervan hanya bisa menahan hatinya saat ini. Mungkin dengan mengambil hati Erika agar dia percaya pada Ervan dan mengatakan nya sendiri, barulah Ervan akan membawa nya untuk berobat. Semoga saja tidak akan lama.


Dan tidak sampai setengah jam kemudian, mereka sudah tiba didepan rumah petak Erika.


Erika menahan nafas saat turun dari atas motor, tapi karena rasa sakit yang luar biasa, membuat tubuhnya oleng, namun dengan sigap pula Ervan lagi lagi menahan lengan nya dan turun dengan cepat dari atas motor.


"Hei.. pelan pelan" ucap Ervan seraya menahan kedua lengan Erika.


Namun Erika meringis dan langsung tersandar dilengan Ervan, karena sungguh dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di pinggang nya. Bahkan dia ingin terjatuh ketanah jika saja Ervan tidak menahan tubuhnya.


Wajahnya semakin pucat, bahkan keringat dingin sudah mulai keluar.


"Erika..." panggil Ervan yang mulai panik.


"Uuuhhh sakit Van..." gumam Erika dengan kepala yang tertunduk dan matanya yang berair.


Ervan langsung mengangkat tubuh Erika dan membawa nya masuk kedalam rumah. Dimana Akbar dan Ayu yang baru keluar juga langsung panik melihat Erika yang kesakitan.


"Kak Erika kenapa?" tanya Ayu yang berjalan mengikuti Ervan masuk kedalam rumah. Sementara Akbar dengan sigap langsung meletakkan bantal diatas kursi panjang yang ada diruangan itu.


Ervan merebahkan tubuh Erika diatas kursi dengan perlahan. Dia benar benar cemas melihat Erika yang kesakitan seperti ini.


"Kita kerumah sakit aja ya" ajak Ervan.


Namun Erika menggeleng dengan air mata yang menetes.


"Ayu... tolong ambilkan obat kakak Yu" pinta Erika dengan suara yang bergetar.


Ayu mengangguk dan dengan cepat berlari kekamar mereka, sedangkan Akbar berlari kedapur untuk mengambilkan segelas air minum.

__ADS_1


"Erika, kamu harus dibawa kerumah sakit. Wajah kamu pucat. Apa yang sakit sebenarnya?" tanya Ervan.


Erika yang terbaring dan menyembunyikan wajahnya dibantal hanya menggeleng pelan. Tangan nya meremas bantal itu dengan kuat. Bahkan bisa Ervan lihat jika tangan Erika juga sudah berkeringat. Entah seberapa besar rasa sakit yang dirasakan nya.


"Erika..." panggil Ervan lagi.


"Kakak ini obatnya" ucap Ayu


Ervan langsung meraih obat itu dan membantu Erika meminumkan nya. Bahkan dapat dia rasakan jika tubuh Erika benar benar bergetar, hingga untuk minum pun dia sudah tidak bisa lagi tenang.


Setelah meminum obatnya, Erika kembali terbaring dengan tubuh miring dan wajahnya yang dia selusupkan dibantal. Untuk berjalan ke kamar rasanya sudah tidak sanggup. Dan dia juga tidak ingin Ervan melihat wajah menyedihkan nya saat ini.


Erika menahan tangis dan sakit bersamaan, hingga dia meluahkan semuanya pada bantal yang menjadi tempat nya terbaring.


Disini ada Ervan, ada seseorang yang sedang melihat dia kesakitan. Bisakah Erika meminta tolong dan mengadu pada Ervan jika rasa sakit ini sudah seperti ingin membunuhnya?


Erika ingin menangis, meluahkan segala rasa sakit dan rasa takut yang datang bersamaan. Karena sungguh, dia sudah tidak sanggup menahan ini sendirian.


Tapi Ervan.... apa dia akan perduli???


Apa dia akan mengiba? setelah semua yang telah terjadi di antara mereka.


Berharap obat ini akan segera bereaksi dan menghilangkan rasa sakit yang begitu menggigit ini.


Erika tertegun saat tiba tiba sebuah tangan mengusap punggung dan juga pinggang nya. Rasa hangat dari sentuhan itu membuat dia merasa lebih tenang, namun sial nya air mata semakin tidak bisa dibendung oleh Erika. Hingga bantal yang dia tiduri menjadi basah.


"Jika tidak kuat, kita bisa kerumah sakit" ajak Ervan lagi, seraya tangan nya yang masih mengusap pundak Erika. Awal nya dia ragu, tapi melihat Erika yang berusaha menahan rasa sakitnya membuat Ervan tidak tega.


"Erika..." panggil Ervan lagi.


Dan bukan nya menjawab, Erika malah terisak dibalik bantal itu. Bahkan pundak yang tadi nya sudah mulai tenang, kini bergetar kembali. Bukan menahan sakit, melainkan menahan tangis.


"Hei... kenapa malah menangis?" tanya Ervan dengan bingung.


Akbar dan Ayu yang sejak tadi hanya diam pun ikut bingung dan semakin cemas melihat Erika.


"Erika" panggil Ervan seraya meraih kepala Erika agar melihat nya, namun Erika malah menepis tangan itu dengan pelan.


"Erika" panggil Ervan lagi. Kali ini dia beranjak dan menarik bahu Erika hingga membuat Erika langsung memandang nya dengan wajah yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ervan.


Dan bukan nya menjawab, Erika malah menangkup wajahnya dan semakin menangis.


"Aku takut" gumam Erika dengan Isak tangis yang terdengar begitu pilu.


"Aku takut Van. Takut sekali" ungkap nya terdengar perih


Ervan memandang Erika dengan sendu dan iba. Kenapa hatinya sakit melihat Erika yang seperti ini. Dia sendirian, dia tidak punya siapa siapa, dia terusir dan sekarang nyawanya sedang terancam.


Ya Allah...


Ervan benar benar tidak tega.


"Hei... sudah... jangan takut. Ada aku" ucap Ervan seraya menarik tangan Erika dan menggenggam nya dengan lembut.


Maaf ya Allah.... batin Ervan dalam hati.


"Aku disini" ucap Ervan lagi seraya memandang wajah Erika yang nampak menangis dengan begitu sedih dan terlihat sangat hancur.


Rasa sakit Erika sudah berkurang, dan kini tinggal perasaan aneh yang membuat dia tidak bisa untuk berhenti menangis.


Kalimat yang baru saja Ervan katakan membuat Erika benar benar tidak menentu. Ada rasa haru yang begitu besar yang dirasakan nya, meski dia tidak tahu perkataan itu benar atau tidak. Tapi untuk sekarang, perkataan itulah yang sangat dibutuhkan oleh Erika.


"Jangan takut, aku disini untukmu" ucap Ervan. Yang bahkan dia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa berbicara seperti itu.


Erika semakin menangis dan merebahkan kepalanya dilengan Ervan yang menjadi tumpuan nya. Menangis dengan begitu bahagia meski hanya sekedar kata kata.


"Maafkan aku Van. Maafkan aku. Tapi sekarang, aku senang mendengar itu. Aku takut Van... aku takut" ungkap Erika yang masih memeluk lengan Ervan yang berlutut dihadapan nya. Erika masih berbaring jadi mudah saja untuk dia memeluk lengan Ervan. Menjadikan lengan itu untuk tempat dia menumpahkan segala rasa sakit dan rasa takutnya selama ini.


Ervan memandang lirih pada Erika, dia mengusap kepala Erika dengan satu tangan nya yang lain. Membiarkan gadis itu menangis sampai puas dan menumpahkan segala beban nya saat ini.


Ervan tahu bagaimana Erika. Dia adalah gadis manja yang dipecut oleh keadaan dan karma nya sendiri. Tapi melihat semua yang telah terjadi. Semua rasanya sudah impas bahkan sudah melebihi apa yang telah diperbuat oleh Erika selama ini.


Dan sekarang, dia hanyalah seorang gadis menyedihkan yang membutuhkan semangat untuk tetap hidup.


"Jangan takut lagi. Sejak dulu sampai sekarang kamu masih bisa meminta apapun padaku" ucap Ervan.


Erika tidak menjawab, dia hanya menangis dibalik lengan Ervan. Menangis dengan segala luapan hatinya, hingga akhirnya dia kelelahan dan tertidur dengan memeluk lengan itu.

__ADS_1


__ADS_2