
Satu harian menghabiskan waktu bersama sama di mesjid tua yang menjadi sejarah perjalanan cinta mereka dengan hati yang bahagia. Bahkan masing masing dari mereka pulang dengan membawa cerita indah yang akan mereka kenang nanti.
Maira benar benar senang hari ini, Karen dia bisa pergi bersama kedua sahabatnya dan juga yang lain. Apalagi dia bisa melihat, jika saat ini bukan hanya dia saja yang bahagia, tapi juga Putri dan Nindi.
Ya, mereka juga terlihat bahagia hari itu. Putri yang selalu jutek dan ketus bahkan bisa tersenyum dan tertawa menikmati waktunya bersama Dika.
Nindi dan Brian juga begitu, meskipun tidak terlalu banyak tertawa, tapi Maira bahagia dan cukup terbawa perasaan melihat mereka.
Nindi memang belum mengingat tentang semua nya, tapi Maira bisa melihat, jika perasaan yang dia miliki pada Brian, tidak akan pernah bisa hilang meskipun Nindi melupakan segalanya.
Masha Allah sekali kan. Ternyata cinta yang benar benar melekat dihati akan begitu kuat meski badai menerpa.
Ah... Kebahagiaan Maira lengkap hari ini. Meski pagi tadi ada drama sedikit karena kepulangan Ibu nya dan juga dengan kedatangan Erika.
Tapi sekarang, mood nya sudah kembali membaik.
Mereka semua baru saja selesai melaksanakan shalat ashar dimesjid tua. Dan berjalan beriringan menuju luar mesjid.
"Kita pulang?" ajak dokter Danar
"Iya deh, kayak nya mau hujan juga kan" jawab Maira
"Iya, takut kemalaman sampai dirumah" jawab Brian
"Padahal siang tadi cerah, sekarang udah mendung aja" sahut Putri pula.
"Yasudah kita pulang saja sekarang. Tidak ada lagi barang yang tertinggal kan?" tanya dokter Danar pada mereka semua.
"Aman dok" jawab Putri dan Nindi
"Tidak ada mas" sahut Brian dan Dika pula.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang kerumah. Dan yang membawa mobil tetap Dika seperti pergi sebelum nya.
Dipertengahan jalan, Maira malah tertidur. Dokter Danar merangkul Maira dengan hangat dan lembut. Apalagi hujan yang juga mulai turun mengiringi perjalanan mereka.
Nindi menyandarkan kepala nya disandaran kursi seraya matanya yang memandang keluar jendela. Dimana hujan semakin lama semakin deras dan membuat pemandangan menjadi kabur. Bahkan Dika juga langsung memelankan laju mobilnya karena hujan yang semakin deras.
Namun tiba tiba....
ciiitt
brak
"Aaauuhh" Putri langsung menjerit dan meringis kesakitan karena kepala nya terhantuk kursi Dika.
Sedangkan dokter Danar langsung menahan kepala Maira dalam dekapan nya. Bahkan Maira langsung terbangun dan begitu terkejut dengan benturan keras ini. Mereka menabrak sesuatu kah?
"Ada apa Dik?" tanya dokter Danar
"Nabrak batang pohon mas. Gak kelihatan" jawab Dika dari depan.
Karena hujan yang deras dan angin yang cukup kencang membuat pemandangan menjadi terganggu.
"Kamu gak papa kan?" tanya Dika pada Putri.
"Sakit kak, benjol deh ini" gerutu Putri.
"Nindi" panggil Brian pada Nindi yang terdiam dan memegangi kepala nya sejak tadi, karena benturan itu juga membuat kepala nya terbentur kursi Brian. Bahkan Nindi masih tertunduk dan mengusap kepalanya yang terasa begitu sakit.
"Nin, gak apa apa kamu?" tanya Putri seraya menyandarkan tubuh Nindi ke sandaran kursi. Namun tiba tiba dia terkesiap, begitu pula dengan Brian.
"Astaga Nindi" Putri dan Brian langsung berseru saat melihat darah yang keluar dari hidung Nindi.
"Nindi kenapa?" tanya Maira yang masih menahan keterkejutan nya karena benturan itu. Dia langsung memajukan tubuhnya dan memandang Nindi.
__ADS_1
"Mas Nindi berdarah" seru Maira begitu panik.
"Putri tukar tempat" ujar dokter Danar langsung.
Dia meraih tas medis yang memang dia bawa dibelakang tempat duduk mereka dan langsung bertukar tempat dengan Putri yang terlihat kepayahan. Karena jika keluar dulu, mereka pasti akan kebasahan karena hujan yang benar benar deras sore itu.
Dokter Danar langsung meraih dagu Nindi dan sedikit mendongakkan nya agar darah tidak terus keluar.
"Nindi, kamu dengar saya" panggil dokter Danar seraya membuka tas medis nya dengan cepat.
Nindi yang memejamkan matanya hanya mengangguk pelan. Wajahnya memucat, dan karena rasa sakit yang begitu menggigit dia benar benar tidak bisa lagi berkata apapun. Rasanya sakit sekali, bahkan matanya juga berair sekarang.
Maira dan Putri sudah menatap cemas padanya. Bahkan Maira sudah ingin menangis karena begitu takut nya dia melihat Nindi yang berdarah.
Brian dan Dika juga tidak kalah khawatir. Brian sangat takut Nindi semakin terluka, sedangkan Dika benar benar merasa bersalah karena tidak hati hati.
"Nindi, tetap jaga kesadaran kamu ya" ujar dokter Danar yang memeriksa denyut nadi nya. Sudah tidak beraturan, dan itu membuat dokter Danar sedikit cemas.
"Sakit" gumam Nindi begitu lirih. Tangan nya mulai dingin, bahkan dia sudah tidak mampu menahan kesadaran nya lebih lama.
"Kita kerumah sakit sekarang, kalian turun singkirkan kayu itu. Jika menunggu hujan berhenti saya takut terjadi sesuatu pada Nindi" ujar dokter Danar. Nadanya bahkan sudah terdengar panik.
Dan tanpa berkata apapun lagi, Brian langsung keluar dari mobil dan berlari kedepan. Diikuti oleh Dika yang juga menerobos hujan. Mereka berdua terlihat begitu kepayahan mendorong batang pohon itu berdua. Karena jalanan yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Jadi tidak ada siapapun yang bisa membantu mereka.
"Nindi, saya mohon tetap jaga kesadaran kamu" pinta dokter Danar
"Nindi, kamu kuat. Kamu bisa" seru Maira. Dia sudah menangis sekarang.
"Nindi please" sahut Putri pula.
Mereka semua benar benar panik.
"Nindi" panggil dokter Danar.
"Ya Allah" gumam Dokter Danar yang langsung menahan tubuh Nindi.
"Mas Nindi gak akan kenapa kenapa kan?" tanya Maira dengan nada panik dan bergetar takut.
"Kita berdoa ya, semoga tidak terjadi sesuatu pada Nindi" ujar dokter Danar
"Putri, tahan tubuh Nindi, pastikan dia jangan terhantuk apapun lagi. Saya mau membantu mereka dulu" ujar dokter Danar.
Putri langsung mengangguk dan menahan tubuh Nindi seraya dia yang pindah kedepan saat dokter Danar keluar dari dalam mobil.
Mereka berdua sudah menangis bersama melihat Nindi yang lagi lagi tidak berdaya seperti ini.
Sedangkan dokter Danar langsung berlari menerobos hujan dan membantu Dika dan Brian yang terlihat kepayahan.
Hujan begitu deras, dan satu pun kendaraan tidak ada yang lewat disana.
"Ayo cepat. Bismillah!!" seru dokter Danar
Brian dan Dika langsung mengangguk dan kembali mencoba. Bahkan sekuat tenaga mereka mendorong kuat batang pohon yang masih hidup itu hingga akhirnya bisa bergeser sedikit demi sedikit.
"Sedikit lagi!!!!" teriak Dika
"Uaaaaahggggg" Brian berseru dengan sekuat tenaga seraya mendorong dengan penuh emosi. Dia sudah benar benar khawatir dengan keadaan Nindi. Dan dia tahu, jika dokter Danar sudah seperti ini, keadaan Nindi pasti sudah tidak baik baik saja.
Dan akhirnya...
Batang Pohon itu sudah bisa mereka singkirkan sedikit kepinggir. Setelah merasa mobil bisa lewat, merek bertiga langsung berlari dan masuk kedalam mobil. Kali ini Brian yang membawa mobil. Matanya fokus kedepan dengan pandangan yang begitu tajam. Sesekali dia melirik kearah Nindi yang sudah terkulai lemas dalam dekapan Putri.
"Maafin aku ya. Aku gak hati hati, Nindi jadi seperti ini" ucap Dika begitu menyesal. Dia memandang Nindi dengan begitu sedih.
"Tidak ada yang perlu disalahkan, ini musibah. Jangan seperti itu" sahut dokter Danar dari belakang.
__ADS_1
"Benturan nya gak kuat sebenarnya, cuma karena Nindi yang memang lagi gak sehat, dia jadi gak bisa nahan. Aku juga salah karena gak bisa jaga dia" sahut Putri pula.
"Sudahlah, kita berdoa sama sama. Semoga Nindi tidak apa apa. Sebentar lagi sampai" ucap dokter Danar.
Brian hanya diam, hatinya benar benar sudah tidak menentu sekarang, begitu pula dengan Maira.
Hingga akhirnya, setengah jam kemudian, mereka tiba dirumah sakit terdekat dari tempat mereka berhenti.
Brian dengan sigap langsung mengangkat tubuh Nindi dan membawanya keruang IGD. Bahkan dia tidak lagi menunggu para petugas rumah sakit yang membawa brankar.
Mereka semua menunggu didepan ruangan dengan begitu cemas dan panik. Pakaian basah yang melekat ditubuh bahkan tidak lagi dihiraukan. Semua sudah cemas dengan keadaan Nindi.
Dokter Danar duduk dengan wajah datar nya yang tidak bisa di artikan. Antara dua kemungkinan yang akan terjadi. Ingatan Nindi yang pulih, atau ada pendarahan dikepala Nindi yang belum sembuh sempurna.
Dan itu yang sangat dia takutkan, karena jika terjadi pendarahan, maka nyawa Nindi yang akan menjadi taruhan nya.
Lama mereka menunggu, bahkan sampai hampir setengah jam kemudian barulah pintu terbuka. Brian dengan sigap langsung mendekat terlebih dahulu.
"Bagaimana dokter?" tanya Brian langsung.
"Pasien sudah mulai sadar. Dia mencari kalian" jawab dokter itu.
"Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?" tanya dokter itu lagi.
"Ya, dia mengalami benturan yang hebat dikepalanya beberapa Minggu yang lalu. Dan karena itu dia kehilangan ingatannya. Dan baru ini tadi, terjadi benturan ringan yang menyebabkan dia tidak sadarkan diri" ungkap dokter Danar.
"Kami sudah memeriksa jika keadaan kepala nya baik baik saja. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Hanya saja... dia masih perlu pengobatan yang intensif. Jangan sampai menerima benturan lagi, jika tidak, akibatnya pasti akan fatal." jawab dokter itu
"Lalu apa kami bisa melihat nya sekarang" tanya dokter Danar. Sebagai dokter, dia cukup tahu penjelasan dari dokter ini. Dan dia cukup lega mendengar itu. Mudah mudahan saja apa yang dia harapkan terkabul.
"Silahkan. Saat sadar dia memang mencari teman teman nya" jawab dokter itu.
"Terimakasih dokter" ucap dokter Danar. Bahkan tanpa kata Brian langsung masuk kedalam ruangan itu. Membuat dokter Danar hanya bisa menggelengkan kepala nya saja.
Akhirnya mereka semua langsung melihat keadaan Nindi.
"Nindi, kamu tidak apa apa?" tanya Brian langsung
Nindi tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kamu buat kami cemas Nin" seru Maira seraya mengusap air matanya yang tidak ingin berhenti.
"Maafin aku ya, gara gara aku kamu jadi masuk rumah sakit lagi" kini Dika yang mendekat pada Nindi.
"Gak apa apa kak. Aku memang lemah banget ya" kata Nindi dengan senyum lemah nya.
"Jangan buat kami takut lagi" ujar Putri yang juga sudah basah dengan air mata.
Nindi tersenyum dan mengangguk.
"Cengeng banget sih Lo" ucap Nindi.
Putri dan Maira langsung tertegun mendengar itu.
"Apa .. apa tadi Lo bilang?" tanya Putri yang langsung mendekat pada Nindi.
"Cengeng banget. Lo kan gak pernah nangis buat gue" jawab Nindi.
"Aaaaaahhhh Nindi .... Lo udah ingaatt????" Putri langsung memeluk Nindi dengan erat
Bahkan Maira semakin semakin menangis bahagia melihat Nindi yang sudah kembali.
Brian langsung terduduk dengan lemas diatas kursi. Namun bibirnya mengucap syukur yang tiada terkira.
Akhirnya... Ingatan Nindi kembali.
__ADS_1