Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Makan Tengah Malam


__ADS_3

Dokter Danar tiba dirumah saat hari sudah hampir pukul dua belas malam. Dia benar benar buru buru untuk sampai kerumah.


Dan saat masuk kerumah ternyata Maira sudah tertidur diatas sofa bersama ayah dan ibunya.


"Assalamualaikum" sapa dokter Danar.


"Waalaikumsalam" jawab ibu dan ayah, terdengar pelan karena takut membangunkan Maira.


"Loh sudah tidur" ucap dokter Danar.


"Baru aja. Ada iga nya?" tanya ibu.


Dokter Danar mengangguk dan langsung menyerahkan kantung berisi iga mentah itu pada ibu.


"Yasudah, biar ibu masak dulu. Nanti baru dibangunkan" ujar ibu. Matanya sudah terlihat mengantuk, dan itu membuat dokter Danar merasa bersalah pada ibu.


"Maaf ya Bu, udah ngerepotin" ucap dokter Danar dengan senyum tidak enak nya memandang ibu.


"Untuk cucu ibu juga. Ibu juga gak mau cucu pertama ibu ileran nanti" jawab ibu yang langsung beranjak dan pergi kedapur. Sementara dokter Danar duduk disamping Maira seraya menyelimuti tubuh istrinya yang nampak sudah terlelap.


Katanya tidak mau tidur, namun kenyataannya, dia malah sudah terlelap begitu nyenyak seperti ini.


"Ibu kamu semangat sekali menyambut anak pertama kalian. Setiap bulan ayah selalu di ajak libur dan kemari melihat kalian" ungkap ayah.


Dokter Danar langsung tersenyum mendengar itu. Seraya dia yang mengusap kaki Maira yang terlihat menggeliat pelan.


"Doain Maira sama anak kami sehat ya yah" pinta dokter Danar.


Ayah Beni mengangguk dan tersenyum.


"Apa kata Kemala? Maira baik baik aja kan?" tanya ayah.


"Insha Allah baik, hanya saja tekanan darahnya yang sedikit tinggi. Danar juga sebenarnya takut mau kasih Maira makan daging. Tapi gimana, dia gak mau makan satu harian ini" ungkap dokter Danar. Wajahnya terlihat sedih dan cemas


"Enggak apa apa. Insha Allah, istri dan anak kamu sehat. Berdoa terus minta sama Allah" ujar ayah.


"Iya yah .. pasti" jawab dokter Danar.


Sementara didapur, ibu sudah berkutat dengan iga bakar nya. Bahkan harum panggangan iga itu benar benar menggiurkan ditengah malam seperti ini.


Membuat Maira terbangun dari tidur nya. Dia bahkan langsung menggeliat dan membuka matanya.


"Ummhh mas" gumam Maira.


"Mau lanjut tidur atau makan?" tanya dokter Danar.

__ADS_1


"Tidur " jawab Maira.


Membuat dokter Danar dan ayah Beni langsung terkesiap dan memandang Maira dengan lekat.


"Bercanda. Maira mau makan. Perut Maira lapar. Ada kan iga nya?" tanya Maira seraya dia yang menjulurkan tangan nya pada dokter Danar.


Dokter Danar langsung mendengus senyum dan membantu Maira untuk duduk.


"Ada sayang. Yuk kedapur. Cuci muka dulu" ajak Dokter Danar


Maira mengangguk pelan


"Ayah, ayo" ajak Maira.


"Loh ayah diajak juga?" tanya ayah Beni


"Iya lah, Maira pengen kita makan bareng bareng ayah" jawab Maira.


"Oh oke gak masalah. Kayak nya iga bakar nya enak" sahut ayah yang langsung beranjak dari tempat duduk nya.


Sementara dokter Danar hanya tersenyum getir. Pasalnya iga bakar itu hanya dia dapat sedikit. Bagaimana jika Maira meminta lagi? Dimana dia akan mencari?


Astaga....


Rasa harum iga bakar itu membuat dia sudah tidak sabar. Dan ketika iga itu datang mata Maira langsung berbinar dengan indah.


"Lah .. kenapa semua pada disini?" tanya ibu begitu heran memandang dokter Danar dan ayah yang sudah duduk rapi dikursi mereka masing masing.


"Mau cicip juga bantuin Maira" jawab ayah dengan santai nya.


Sedangkan dokter Danar hanya tertawa kecil, apalagi melihat wajah kesal ibu.


"Iga nya aja cuma dapet sepiring lo yah. Maira aja kurang ini" ucap ibu.


"Enggak kok Bu. Maira cuma makan sedikit. Kan gak boleh banyak banyak makan daging" sahut Maira dengan cepat.


"Mas bagi empat ya" ujar Maira pada dokter Danar.


"Kamu yakin?" tanya Ibu


Maira mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya Bu, Maira yang penting udah ngerasain aja. Kata dokter Kemala tensi Maira tinggi terus. Maira takut pusing" jawab Maira.


"Gak apa apa kalau cuma segini sayang" ucap dokter Danar yang kini sedang memotong motong iga itu menjadi beberapa bagian. Padahal hanya tulang, jadi dapat nya hanya sedikit.

__ADS_1


"Maira pengen bareng bareng juga kok. Yuk ah... ayah makan, ibu juga dong." ajak Maira begitu bersemangat.


"Sedikit begini Mai, nanggung" ucap ibu seraya duduk dikursi nya.


"Jadilah Bu. Dimakan pakai nasi juga kenyang" jawab ayah yang sudah mengambil nasi dipiring nya.


"Loh... ayah kan sudah makan tadi. Laper lagi?" tanya ibu.


"Iya, liat iga bakar jadi lapar. Yuk Mai kita aja yang makan kalau ibu sama Danar gak mau" ajak ayah.


Maira langsung tertawa dan menarik piring nya. Dia langsung mencicipi iga bakar nya setelah membaca bismillah terlebih dahulu.


"Ummmhh... Masha Allah... lezat sekali bu" puji Maira dengan wajah yang berbinar membuat ibu langsung tersenyum simpul mendengar itu.


"Masakan ibu memang gak ada dua Mai" sahut ayah.


"Bener yah, ayo Bu makan, sesuap aja. Ibu juga gak boleh makan banyak banyak daging kan" ucap Maira seraya mengambil sendok lain dan menyuapkan potongan daging iga itu pada ibu.


Ibu langsung membuka mulutnya dan menikmati suapan Maira.


Membuat ayah dan dokter Danar langsung tersenyum bahagia melihat itu.


"Enak Bu?" tanya Maira.


"Biasa aja, orang ibu yang masak" jawab ibu. Membuat Maira langsung tertawa. Dan kini dia kembali menoleh pada dokter Danar dan menyuapkan nya juga kemulut suami nya itu.


"Untuk suami terbaik Maira, aaa" ujar Maira. Dokter Danar langsung membuka mulutnya dan memakan suapan dari Maira.


"Pinter banget kalau merayu" ucap dokter Danar seraya mengusap kepala Maira dengan lembut.


Maira tertawa dan tersenyum malu mendengar itu. Meski hanya makan sedikit sedikit, tapi mereka nampak begitu bahagia malam itu. Apalagi saat melihat Maira yang tertawa bahagia, rasanya juga bisa membuat mereka juga ikut bahagia.


Ibu yang biasa jarang tertawa saja kini mulai melembut dan lebih hangat pada Maira. Bahkan dia sudah sangat memanjakan Maira sekarang. Dan tentu saja itu membuat Maira merasa sangat senang.


Meski mama nya telah kembali, tapi tetap saja, ibu dokter Danar lah yang selalu datang setiap bulan untuk menjenguk dan melihat keadaan nya.


"Alhamdulillah... akhirnya kenyang juga" gumam ayah.


"Ayah emang begitu. Padahal udah malam banget, masih aja kuat makan. Kalau udah keberatan badan, baru ngeluh sama ibu" ucap ibu seraya menyingkirkan piring makan ayah. Dan dokter Danar yang nampak membereskan bekas makan mereka.


"Belum berat banget kok. Yakan Mai" ucap ayah pada Maira.


"Iya yah... Masih ideal kok" jawab Maira.


"Masih ganteng yah" sahut dokter Danar pula. Membuat ayah langsung tertawa bangga dan ibu yang semakin kesal.

__ADS_1


__ADS_2