
Maira berjalan menuju taman kampus dibagian lain. Dia sudah tidak bersemangat untuk masuk kelas dan belajar. Rasanya dia patah hati, tapi entah kenapa ada suatu kelegaan dihati yang tanpa sadar dia rasakan.
Apa yang harus Maira lakukan setelah ini. Dia sudah melepaskan Ervan, apa dia harus menerima dokter Danar menjadi suaminya dan memasrahkan semuanya???
Tapi jika Maira belajar untuk membuka hatinya, apa dia tidak akan menyesal?
Apa dokter Danar bisa membahagiakan nya? Maira masih ingin mengejar impian nya. Meskipun dia kuliah hanya untuk mengisi waktu yang membosankan apa dokter Danar masih memperbolehkan nya kuliah sampai selesai? Dan lagi, apa Maira masih boleh berkumpul bersama kedua sahabatnya??
Entah lah.
"Maira" Nindi dan Putri terlihat berlari mendekati Maira. Kedua sahabat Maira itu sejak tadi mengintip disebalik dinding kampus.
"Gimana Mai. Kenapa kok nangis?" tanya Nindi yang langsung duduk disamping Maira, begitu pula dengan Putri.
"Gue mutusin Ervan" jawab Maira dengan sisa Isak tangis nya.
"Lo udah mutusin dia?" tanya Putri dan Nindi bersamaan. Mereka tidak menyangka jika Maira akan menentukan pilihan secepat ini.
Maira mengangguk seraya menghapus kembali air matanya.
"Ervan memang gak bisa lagi dipertahankan. Gue sadar, gue sama dia memang gak bisa bersatu. Bahkan untuk ngebelain gue aja dia gak mau" jawab Maira dengan bibir bergetar menahan tangis.
Sedih sudah pasti. Tapi ini memang yang terbaik. Dia sudah lelah jika harus bertengkar setiap hari hanya karena masalah ini.
"Ini keputusan yang baik Mai. Bagaimana pun Lo udah punya dokter Danar " ujar Putri.
"Iya Mai. Gue tahu Lo pasti sedih. Tapi Ervan juga gak bisa memperjuangkan elo selama ini. Mau gimanapun, dokter Danar adalah suami Lo" tambah Nindi pula.
"Apa kalau gue milih dokter Danar dia bakal bisa bahagiain gue?" tanya Maira seraya memandang Putri dan Nindi bergantian.
Putri dan Nindi langsung tersenyum mendengar pertanyaan Maira.
"Sekarang gue tanyak sama Lo, apa yang Lo rasain saat sama dokter Danar, jangan mikir sisi perjodohan itu dulu. Tapi lihat perlakuan dokter Danar selama hampir dua bulan ini" ujar Putri
Maira terdiam sejenak, dan langsung tertunduk sedih.
"Gue... gue ngerasa jadi orang baik saat sama dia. Gue tenang dan nyaman Put" jawab Maira
"Mai, gue yakin cinta bakalan Dateng dengan sendirinya. Ketenangan dan kenyaman itu yang lebih penting dari pada cinta. Lihat Ervan yang ngasih elo cinta setiap hari, tapi hubungan kalian gak sehat dan Lo gak nyaman kan. Dari situ aja udah kelihatan bedanya Mai" ucap Putri
__ADS_1
"Bener Mai. Dokter ganteng itu gue yakin gak akan pernah mau nyakitin elo" sahut Nindi pula.
"Jadi gue harus coba buka hati gue untuk dia sekarang?" tanya Maira
Putri dan Nindi langsung mengangguk setuju.
"Harus, dia suami Lo" jawab Putri
"Gue yakin Lo bakalan diratuin sama dia" ucap Nindi pula.
"Yah, meskipun gue ngalah deh, gak jadi pelakor lagi kalau Lo udah Nerima dokter Danar" tambah Nindi dengan wajah nya yang menyebalkan.
Maira langsung mendengus mendengar itu.
"Sialan Lo, padahal pagi tadi Lo udah ngejer ngejer si Brian" gerutu Maira
"Memang gak tahu malu" sahut Putri pula
Nindi langsung tertawa melihat wajah kesal kedua sahabatnya.
"Ya karena itu gue gak mau jadi pelakor. Gue ... udah dapet nomor ponsel nya guys" seru Nindi begitu girang
"Serius Lo, kok bisa?????" tanya Putri begitu heran. Pasalnya Brian adalah manusia paling dingin dikampus ini.
Maira dan Putri langsung mendengus tawa mendengar itu. Maira jadi melupakan kesedihan nya karena ulah Nindi. Ya ampun.
"Gila lu ya. Malu banget gue punya temen yang pemaksa kayak elo Nin" gumam Putri tak habis fikir.
"Bodo amat, yang penting gue seneng."
"Udah ah yuk balik ke kelas. Mr Petro nih" ajak Nindi yang langsung menarik lengan Maira dan Putri.
"Aaaaa males banget gue" seru Maira begitu enggan
"Gak bisa, kita udah banyak minus. Gue mau berubah jadi baik mulai sekarang. Gue harus bisa ngerebut hati my Brian" sahut Nindi
Putri langsung mendengus jengah mendengar itu.
Akhirnya, pagi itu dengan terpaksa Maira mengikuti kelas dan belajar seperti biasa. Meski tidak bersemangat, namun apa mau dikata. Dari pada dia terkena sanksi dan sahabatnya juga terkena imbasnya. Lebih baik pasrah saja.
__ADS_1
..
Hingga siang hari nya...
Mereka sudah keluar dari kelas, dan saat ini sudah berada dikantin seraya beristirahat dan makan siang. Namun Maira tidak memesan apa apa. Dia tidak berselera untuk makan. Wajahnya lesu dan kusut membuat Putri dan Nindi saling pandang bingung.
"Senyum dikit ngapa Mai. Udah kayak keset kamar mandi muka Lo" gerutu Nindi seraya memakan mie goreng nya.
"Sialan Lo" dengus Maira
"Tahu orang lagi patah hati, ya emang begitu muka nya" sahut Putri.
"Eh, tapi gue gak ada ngeliat Ervan dari tadi. Kemana tuh anak?" tanya Nindi.
"Kenapa coba ditanyain lagi" protes Maira.
"Bukan gitu Mai, biasanya kalau kalian baru putus kan dia bolak balik datengin elu. Nah ini kok gak ada?" tanya Nindi lagi
"Ya bagus dong, memang gitu seharus nya" sahut Putri.
Maira menghela nafasnya dengan lesu. Duduk menopang dagu dan memandang keluar kantin. Ya, biasanya jika Maira memutuskan hubungan mereka, Ervan pasti akan gencar menemui nya. Tapi hari ini, Ervan bahkan seperti membiarkan Maira pergi.
Semiris ini nasib percintaan mereka.
Namun tiba tiba, suasana kantin sedikit heboh saat desas desus mulai terdengar disana. Membuat Maira, Putri dan Nindi langsung saling pandang bingung. Apalagi melihat mahasiswi banyak yang beranjak pergi dari kantin itu.
"Ada apa sih" gumam Putri.
Nindi langsung beranjak dari duduk nya dan menjegat salah satu mahasiswi yang ingin keluar.
"Ada apa sih? Siapa yang tawuran?" tanya Nindi dengan aneh. Putri langsung berdecak kesal mendengar itu. Pertanyaan yang membiat orang bingung saja. Belum juga tahu apa masalah nya.
"Bukan tawuran, tapi diaula anak kesehatan udah pada mulai ngumpul karena dokter yang ditugasin buat ngasih penyuluhan udah pada Dateng" jawab mahasiswi itu.
"Oh ya, siapa dokter nya? kok kalian yang pada heboh?" tanya Nindi.
"Dokter Danar Pramudya, Lo pasti kenal sama dokter tampan yang terkenal itu. Udah ah, gue mau kesana" ujar mahasiswi itu yang langsung pergi meninggalkan Nindi yang terperangah memandang Putri dan Maira.
"Lakik Lo Mai" gumam Nindi.
__ADS_1
"Lihat yuk, cuci mata" ajak Nindi yang langsung menarik lengan Maira.
Putri kembali menggelengkan kepala nya. Bahkan yang istrinya saja tidak sesibuk dia. Astaga.