
Maira yang sudah keluar dari lobi rumah sakit langsung menoleh kearah orang itu. Dia menghembuskan nafasnya dengan lelah. Kenapa harus Ervan lagi? Dan kenapa pula Ervan bisa ada dirumah sakit ini?
"Mai... kamu ngapain disini? Kamu sakit? kenapa kamu gak angkat telfon aku dari semalam?" tanya Ervan tanpa henti.
Maira menggeleng, dia ingin pergi, namun lagi lagi Ervan menarik lengan nya.
"Maira... jawab aku dulu" ujar Ervan sedikit memaksa.
"Van... lepas. Kita udah selesai" ucap Maira seraya ingin melepaskan lengan nya. Namun Ervan malah menahan tangan nya.
"Van, udah dong, malu dilihatin orang" sahut Putri yang mendekat kearah mereka.
"Enggak sebelum kamu balik sama aku" jawab Ervan terdengar memaksa.
"Aku gak mau. Lepas..." kata Maira
"Maira..." panggil Ervan
Maira menggeleng namun beberapa detik kemudian dia terlihat oleng dan hampir jatuh, namun Ervan segera menahan lengan nya.
"Mai..." seru Putri dan Nindi yang panik. Apalagi melihat wajah Maira yang pucat.
"Maira, kamu kenapa?" tanya Ervan.
Maira hanya diam dan memegangi kepala nya yang sakit. Pandangan nya mulai mengabur dan berkunang kunang.
"Berikan Maira pada saya" ujar seseorang yang langsung mengejutkan mereka.
"Dokter Danar" gumam Putri dan Nindi.
Dokter Danar hanya diam dan langsung meraih tubuh Maira dari Ervan.
"Dokter, tapi Maira....."
"Jangan sentuh istri saya" ucap dokter Danar yang langsung menghentikan perkataan Ervan.
Ervan terbelalak kaget mendengar itu. Bahkan wajahnya langsung memucat dengan jantung yang terasa bergemuruh.
Apalagi ketika melihat dokter Danar yang langsung mengangkat tubuh Maira dan membawanya kedalam rumah sakit.
"Gak mungkin, Maira" panggil Ervan. Dia ingin mengejar dokter Danar, namun Putri dan Nindi langsung menghalangi nya. Membawa Ervan menjauh agar tidak menimbulkan kekacauan disana.
Sedangkan dokter Danar membawa Maira masuk kedalam rumah sakit.
Maira yang masih sadar sedikit membuka matanya, dan dia langsung tersenyum saat melihat dokter Danar yang membawanya.
"Dokter..." panggil Maira begitu pelan.
__ADS_1
Dokter Danar menoleh kearah nya
"Maaf" gumam Maira, namun setelah itu, dia langsung terkulai lemah dan tidak sadarkan diri.
Dokter Danar menghela nafasnya dan berjalan dengan lebih cepat masuk kedalam ruangan pemeriksaan. Mengabaikan seluruh tatapan heran dan bingung semua orang yang ada disana.
Seorang dokter Danar Pramudya menggendong seorang gadis muda???
Tanpa canggung??
Dan tampak begitu khawatir??
Benarkah yang mereka lihat ini???
Bahkan receptionis yang sempat melarang Maira masuk tadi, nampak terperangah dengan apa yang dilihatnya. Apa memang benar gadis itu adalah istri dokter Danar???
Bagaimana mungkin bisa?
Dokter Danar yang dipenuhi dengan kesempurnaan itu memperistri seorang gadis muda dengan penampilan yang sangat jauh dari kriteria istri ideal untuk seorang dokter Danar.
Astaga.. mereka semua tampak tidak percaya.
Sedangkan dokter Danar langsung membawa masuk Maira kedalam ruang perawatan. Dia bahkan tidak ingin Maira ditandu oleh perawat lain. Dan tentu saja itu membuat perawat yang kini membantu nya nampak kebingungan.
"Biar saya saja, kalian siapkan saja alatnya" jawab dokter Danar yang langsung memeriksa Maira.
Wajah dokter Danar nampak lelah, dan ketika melihat Maira datang kemari, dia sebenarnya heran. Kenapa Maira sampai mendatangi nya. Apa karena dia yang tidak pulang?
Entahlah...
Yang pasti sekarang, dia benar benar khawatir melihat istri kecil nya ini. Tekanan darahnya rendah, mag nya juga kambuh. Dokter Danar yakin jika Maira memang tidak makan sejak semalam. Dasar keras kepala.
Beberapa menit kemudian, dokter Danar sudah selesai memeriksa Maira. Memasang infus ditangan nya dan juga memastikan jika tidak ada hal yang fatal ditubuh istrinya ini.
Dia melepaskan jas putih nya dan duduk disamping Maira. Memandangi istri kecilnya yang entah kenapa selalu bisa membuat nya kesal dan juga merindu.
hingga tiba tiba pintu terdengar diketuk.
Dokter Danar menoleh kearah pintu, dan dia langsung tersenyum tipis melihat siapa yang masuk kedalam.
Dokter Kemala.
"Aku dengar semua perawat dan dokter heboh membicarakan mu. Ada apa?" tanya dokter Kemala seraya berjalan mendekat kearah dokter Danar.
Dia memandang seorang gadis yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Gadis muda yang cukup cantik dan menarik.
"Tidak tahu" jawab dokter Danar begitu singkat. Karena dia memang tidak tahu apa apa tentang itu. Bukankah dia memang sudah selalu menjadi bahan perbincangan mereka?
__ADS_1
"Siapa gadis ini?" tanya dokter Kemala
"Istriku" jawab dokter Danar.
Dokter Kemala terkesiap, dia langsung memandang dokter Danar begitu serius, dan bergantian dengan gadis itu.
"Gadis ini, istri kamu?" tanya dokter Kemala.
Dokter Danar langsung tertawa kecil melihat dokter Kemala yang begitu terkejut. Bahkan wajahnya sampai terperangah seperti itu.
"Kenapa kamu terkejut begitu. Aku sudah bilang kan jika aku sudah menikah. Lagipula untuk apa aku menunggu disini berdua bersama seorang gadis jika bukan istriku" jawab dokter Danar.
Sungguh demi apapun, dokter Kemala tidak habis fikir dengan kenyataan nya yang dia ketahui ini. Dokter Kemala berfikir jika dokter Danar menikahi wanita yang jauh lebih sempurna dari dirinya. Yang lebih indah dan lebih baik akhlaknya. Namun kenyataan nya, hanya gadis muda yang seperti ini? Bahkan sangat jauh dari ekspektasi dokter Kemala.
"Danar kamu serius?" gumam dokter Kemala lagi.
Dokter Danar tersenyum tipis dan mengangguk.
"Apa kamu kira istriku adalah orang yang sempurna? Tidak Kemala. Inilah istriku, gadis kecil yang baru dua bulan lebih aku nikahi. Yang masih harus aku bimbing untuk menjadi wanita yang sempurna untuk ku" ungkap dokter Danar.
"Aku masih tidak menyangka Danar" sungguh dokter Kemala benar benar tidak habis fikir.
Dokter Danar tersenyum memandang Maira. Mengusap lengan nya dengan lembut. Dan itu membuat dokter Kemala harus tahu jika ini memang benar.
"Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Dan aku harus bersenang hati menerima nya" ucap dokter Danar.
"Apa kamu mencintai nya?" tanya dokter Kemala terasa begitu berat.
"Insha Allah.. aku mencintainya " jawab dokter Danar, terdengar begitu yakin dan tulus.
Dokter Kemala mendengus senyum dan mengangguk. Meski hati nya begitu getir, namun dia sudah merelakan hatinya.
Selama ini dia begitu penasaran bagaimana rupa istri dari lelaki yang pernah menjadi idaman nya. Dan sekarang dia tahu, jika gadis inilah yang begitu beruntung mendapatkan lelaki sebaik dokter Danar.
"Dia gadis yang sangat beruntung" gumam dokter Kemala lagi.
"Justru aku yang beruntung mendapatkan nya Kemala" jawab dokter Danar.
Matanya masih fokus pada Maira.
"Karena dia, aku bisa lebih belajar untuk menjadi lebih baik. Menjaga hati dan agamaku secara bersamaan. Belajar untuk lebih bersabar dan bertanggung jawab. Allah sudah mentakdirkan yang terbaik untuk ku" ungkap dokter Danar begitu bijaksana.
Dokter Kemala sungguh mengagumi nya. Meski dia tahu, gadis ini bukanlah gadis yang bisa dibilang pantas dan layak, namun dokter Danar pasti bisa menjadikan nya seorang bidadari surga.
Ya Allah...
Apa masih ada lelaki seperti dokter Danar didunia ini????
__ADS_1