
Saat sedang asik bercengkrama, tiba tiba Putri dan Nindi langsung terdiam saat melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah Maira. Kebetulan, pagar rumah tidak ditutup kembali oleh Putri tadi. Maira melirik keluar dan dia tahu jika yang datang adalah dokter Danar.
"Mai, dokter Danar bukan tuh?" tanya Nindi yang langsung duduk dengan benar disofa. Maira yang sedang berbaring juga langsung duduk dan mengangguk
Putri memandang keluar, dan dapat dia lihat dari jendela jika seorang lelaki keluar dari dalam mobilnya.
"Duh, kok gue jadi takut ya" gumam Nindi
"Iya, gak enak gue jadinya. Dokter Danar kan orang nya dieman" sahut Putri pula
Maira juga ikut terdiam, dia juga sedikit was was dengan respon dokter Danar bagaimana jika dia tahu teman teman Maira ada disini. Dokter Danar tidak mungkin marah kan????
"Assalammualaikum" suara dokter Danar yang terdengar begitu merdu dan halus langsung membuat Nindi terpaku
"Walaikumsalam" jawab mereka bertiga
Putri dan Nindi langsung saling pandang canggung sekarang. Apalagi melihat dokter Danar yang tersenyum begitu ramah pada mereka. Dia terlihat menenteng sesuatu ditangan nya
"Ada teman Maira" sapa dokter Danar
"Eh iya dokter. Gak papa kan kami mampir" tanya Nindi yang paling bisa tersenyum ramah jika sudah didekat lelaki tampan
"Gak apa apa, sering sering juga gak apa apa. Biar Maira gak kesepian" jawab dokter Danar seraya melirik Maira yang masih diam dan memandang nya. Dokter Danar tidak marah ternyata??
"Aaahh makasih dokter. Saya pasti sering kesini kok. Tiap hari malah, hehe" jawab Nindi dengan senyum nya yang lebar
Maira dan Putri langsung mendengus melihat Nindi
"Yasudah, lanjutkan mengobrol nya. Saya kedalam dulu" ujar dokter Danar
"Maira sudah enakan?" sebelum pergi dokter Danar memandang Maira terlebih dahulu, wajah nya masih sedikit pucat, tapi sudah lebih baik dari pagi tadi
"Udah" jawab Maira dengan singkat
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk
"Kebetulan saya bawa makanan banyak, nanti kalian bisa makan dulu temenin Maira. Dia pasti belum minum obat kan" ujar dokter Danar
__ADS_1
"Iya dokter, aman. Kami sampai sorean juga gak apa apa nemenin Maira disini" sahut Nindi lagi, Putri langsung menyikut lengan nya dengan kesal. Sedangkan Nindi tampak acuh saja. Dia masih memandangi dokter Danar yang tersenyum dan segera berjalan kedapur rumah itu
"Gatel banget, suami orang tahu" dengus Putri
"Biarin, Maira nya aja cuek kok. Bukan salah gue kalau jadi pelakor" jawab Nindi
"Sembarangan kalau ngomong" dengus Maira memandang Nindi dengan kesal
"Kenapa marah? Lihat aja tuh dia perhatian banget sama lo. Kalau sempet lo nyia nyiain dokter Danar, gue yang bakal maju" bisik Nindi terdengar gila
Putri langsung menepuk dahi Nindi membuat gadis itu langsung meringis kesal
"Apaan sih Put, suka banget main kepala. Susah nih bokap gue bikin nya" ucap Nindi begitu kesal
"Bokap lu bikin nya pasti sambil merem, otak anak nya kebalik kayak gini. Emang gila lo. Di kampus Brian, disini dokter Danar yang lo gangguin" sewot Putri
Maira langsung tertawa melihat wajah kesal Putri. Sahabatnya ini jika sudah mengomel sudah seperti emak emak saja.
"Gak ada juga yang marah" sahut Nindi seraya menjulurkan lidah nya
"Lagian gue sedih, gak bisa lagi deh jumpa sama kak Brian" Nindi langsung merebahkan kepala nya dibahu Maira dengan wajah kesal dan sedih sekaligus
Namun Nindi langsung menggeleng
"Mana enak kuliah gak ada lo Mai. Gak seru, Putri kayak emak tiri" bisik Nindi pada Maira, membuat Maira langsung terkekeh geli mendengar nya
"Sebulan gue gak masuk kalian biasa aja tuh" sahut Maira
"Beda, dan memang gak enak. Makanya gue gak mau lagi kuliah kalau gak ada lo" sahut Nindi
"Lo ngejelekin gue mulu deh Put. Bilang aja lo memang males belajar" dengus Putri dan Nindi hanya tersenyum saja
"Hehe, mending gue main kerumah Maira tiap hari. Ada vitamin nya. Kak Brian dingin banget, takut gue ngedeketin nya" ucap Nindi
"Lo beneran mau jadi pelakor Nin?" tanya Maira
"Mana mau dokter Danar modelan lu begini, sama Maira aja mungkin dia terpaksa" ungkap Putri. Dan kini Maira dan Nindi yang langsung memandang nya dengan kesal. Putri jika sudah berbicara pasti tidak memakai filter lagi. Suka sekali berkata jujur
__ADS_1
"Lo kalau ngomong suka jujur Put, mana jujur nya nyakitin lagi" dengus Maira
"Tahu nih, dia begitu kan karena dia gak demen lakik Mai" ejek Nindi
"Enak aja lo. Gue demen ya, cuma belum ada aja yang cocok dimata gue. Modelan lakik gak ada yang bener. Menang tampang doang buat apa" ucap Putri begitu ketus
Namun tiba tiba mereka langsung terdiam saat dokter Danar yang baru keluar dari kamar dan masih memakai sarung dan baju kokoh nya. Wajahnya masih tampak lembab dan rambutnya juga masih basah. Sepertinya dia baru saja selesai shalat. Nindi bahkan sampai terperangah takjub melihat pemandangan ini
"Maira, shalat dulu ya" pinta dokter Danar begitu lembut. Dan sungguh Nindi merasa ingin meleleh mendengar nya. Dokter Danar sudah seperti malaikat sekarang. Bahkan Putri yang cuek dan tidak perdulian sampai ikutan terpesona melihat suami Maira ini.
Maira yang melihat kedua teman nya memandang dokter Danar tidak berkedip dan penuh pesona begitu entah kenapa jadi kesal sendiri
"Kalian kalau mau ikutan shalat juga silahkan didalam kamar" kini dokter Danar beralih pada Putri dan Nindi, namun kedua gadis itu malah masih terperangah dan memandang nya dengan lekat, membuat dokter Danar mengernyit bingung, sedangkan Maira semakin bertambah jengah
"Hei" Maira langsung memukul pundak kedua sahabatnya itu bersamaan, membuat mereka langsung terkesiap kaget
"Mau pada shalat gak, tuh disuruh" ujar Maira
Putri langsung mengerjapkan matanya dan mengembalikan kesadaran nya. Sialan, pesona dokter Danar meruntuhkan kesombongan nya selama ini
"Shalat?" gumam Nindi, dan Maira langsung mengangguk
"Iya, kalau mau shalat kedalem aja. Luas kok kamar nya. Saya mau kedapur dulu nyipain makanan" jawab dokter Danar yang langsung berlalu meninggalkan mereka
"Gila ya kalian, kayak liat hantu aja tahu gak, sampai gak kedip gitu" ucap Maira yang menggeleng kan kepalanya dan langsung beranjak dari duduk nya
"Ini sih malaikat tak bersayap yang sesungguhnya Mai" gumam Nindi
"Lo bakalan nyesel kalau nyia nyiain dia Mai" tambah Putri
Maira hanya mencebikkan bibirnya dan mulai berjalan masuk kedalam kamar, namun dia kembali memandang kedua sahabatnya
"Mau ikut shalat gak?" tanya Maira, dia sedikit aneh mengajak kedua sahabatnya shalat. Hal yang tidak pernah ada dalam list pertemanan mereka selama ini
"Lo mau shalat beneran Mai?" tanya Nindi
Maira langsung mengangguk lesu
__ADS_1
"Kalau gak shalat, bakal digentayangin gue tujuh hari tujuh malem. Bentar ya, kalian tunggu disini" ujar Maira, dia langsung beralih dan masuk kedalam kamar meninggalkan kedua sahabatnya yang masih saling pandang dengan wajah takjub mereka.
"Benar benar keajaiban dunia" gumam mereka