
Maira memandang ragu gedung kampus yang ada dihadapan nya. Dia baru saja tiba dikampus nya pagi ini, diantar oleh dokter Danar.
Maira menoleh kesana dan kemari menunggu kedua sahabatnya. Mereka sudah janjian diparkiran kampus. Tapi sampai saat ini Putri dan Nindi belum ada memunculkan batang hidung nya. Menyebalkan memang.
Maira menghela nafas perlahan dan mulai berjalan. Dia sudah seperti orang bodoh menunggu sejak lima belas menit yang lalu. Apa dia kepagian datangnya??
Tiba tiba seruan seseorang membuat langkah kaki Maira terhenti. Namun dia enggan untuk berpaling. Hatinya masih begitu kesal dengan lelaki ini.
"Maira!!!" panggil Ervan untuk yang kedua kali
Lelaki itu langsung berlari mendapati Maira dan berjalan mengikuti langkah Maira. Nafasnya masih tersengal dan memandang Maira dengan ragu.
"Mai, kenapa ponsel kamu gak bisa dihubungi sih. Aku nelfonin kamu berkali kali" ucap Ervan
Maira hanya mendengus dan tetap berjalan dengan wajah kesal nya.
"Kamu marah sama aku?" tanya Ervan lagi
"Pikir aja sendiri deh Van. Males aku sama kamu. Capek" jawab Maira begitu ketus
"Maira, maafin aku. Tapi aku bisa apa coba. Kamu kan tahu Erika gimana. Dia disayang banget sama mama, aku gak bisa apa apa" ungkap Ervan
"Ya,.dari dulu cuma gitu jawaban kamu. Aku terus yang ngalah. Kamu gak ada sedikit pun berjuang buat hubungan kita. Liat aja kemarin, muka aku bonyok gara gara dia tapi kamu lebih milih nolongin dia dan nganterin dia pulang. Kamu keterlaluan Van" ungkap Maira , matanya telah berair sekarang
"Padahal aku begitu juga karena kamu" tambah Maira lagi, bibir nya sudah menahan tangis
"Maira, maafin aku" pinta Ervan . Dia meraih tangan Maira, membuat langkah kaki Maira langsung terhenti dan memandang Ervan dengan mata yang benar benar ingin menangis
"Kasih aku waktu Mai, saat ini aku masih ngeyakini mama tentang pilihan aku, aku masih butuh waktu buat ngambil hati mama untuk Nerima kamu. Kamu tahu, aku tuh sayang nya sama kamu" ungkap Ervan begitu serius
"Tapi kamu ngebelain Erika terus. Aku sedih" kata Maira yang mulai menangis sekarang.
Ervan langsung mengusap air mata Maira dengan lembut. Wajahnya benar benar merasa bersalah karena telah mengabaikan kekasih nya ini.
"Aku janji, mulai sekarang aku akan lebih perhatian sama kamu. Jangan marah ya, maafin aku. Aku juga lagi berjuang buat hubungan kita Mai" Ervan memegang tangan Maira dengan erat. Seakan tidak perduli dengan tatapan mahasiswa yang lain. Mereka sudah terbiasa dengan pemandangan ini sejak dulu.
__ADS_1
"Kamu janji Van? Aku butuh kepastian saat ini. Kalau kamu kayak gini terus, aku....aku gak tahu apa yang harus aku lakuin lagi" ucap Maira yang langsung menangkup wajah nya untuk menyembunyikan tangis yang keluar lagi
"Aku janji Maira, aku janji. Aku mohon kamu sabar sedikit lagi ya" pinta Ervan. Dia meraih tangan Maira dan ingin memeluk gadis itu, namun tiba tiba....
"Heiii!!!!!" teriakan kedua sahabat Maira langsung membuat Ervan terkesiap, begitu pula dengan Maira
"Apaan sih pakek mau peluk pelukan segala" seru Ninda yang langsung berada diantara Ervan dan Maira.
"Tau nih, kayak gak inget tempat. Ini dikampus" sahut Putri pula
Mereka memandang kesal pada Ervan dan Maira.
"Kenapa sih, kayak gak biasanya aja" tanya Ervan yang masih terkejut
Sedangkan Maira langsung mengusap wajahnya dengan kasar dan memandang Nindi yang menatap nya dengan tajam
"Inget lakik lu dirumah" bisik Nindi
Maira langsung melebarkan matanya mendengar itu. Bisa bisanya Nindi berkata seperti itu. Tapi.... memang benar juga kan. Astaga, Maira melupakan itu.
"Jangan gitu dong. Gue juga tahu gue salah. Tapi kan gue terpaksa. Gue juga gak mau kayak gini" ungkap Ervan
"Bohong banget" dengus Nindi
"Beneran. Lagian Erika juga udah kena sanksi kan. Jadi seharusnya kalian senang. Untuk sebulan ini dia dirumahkan" ungkap Ervan
Ketiga gadis itu langsung melebarkan mata mereka memandang Ervan
"Serius Lo?" tanya Putri dan Nindi
"Iya, jadi kalian gak akan terganggu lagi selama sebulan ini, terutama kamu yank" ungkap Ervan pada Maira
"Kenapa bisa gitu?" tanya Maira masih benar benar bingung. Separah itu sanksi yang didapat, padahal dia berfikir dia yang akan tamat setelah berkelahi dengan Erika, namun nyatanya Erika lah yang terkena sanksi nya
"Kata nyokap gue ini ada sangkut pautnya sama pemegang saham terbesar dikampus ini. Lo tahu siapa Van?" tanya Nindi
__ADS_1
Namun Ervan langsung menggeleng
"Enggak tahu gue masalah itu" jawab Ervan
"Mustahil banget. Lo kan Deket sama orang tuanya Erika, harus nya Lo tahu kenapa bisa dia yang kena sanksi" sahut Putri pula
"Gue memang tahu kalau Erika kena sanksi dari nyokap nya. Cuma mereka bilang kalau salah satu dari kalian itu adalah kerabat dekat pemegang saham terbesar itu" jawab Ervan
"Salah satu dari kami?" tanya Nindi, dan Ervan langsung mengangguk
"Siapa Put, Nin?" tanya Maira memandang Putri dan Nindi bergantian
"Siapa?" tanya Nindi dan Putri pula
"Haiss malah balik nanyak. Kalau gue gak mungkin. Yang memungkin kan itu kalian berdua" sahut Maira
"Gue gak mungkin,.bokap gue kapten kapal yang jarang pulang, nyokap gue cuma kepala sekolah SMA, gak ada sangkut paut nya sama orang besar. Berarti elo Put" tuding Nindi pada Putri.
"Kok gue. Bokap gue aja cuma menejer diperusahaan Ervan, nyokap gue cuma irt. Ada ada aja Lo, mana mungkin bokap gue berteman sama orang besar begitu. Yang ada kalau dia tahu gue berantem dikampus, gue yang digantung" jawab Putri pula
"Lah jadi siapa dong kalau gak ada yang ngaku" tanya Maira pula
Mereka jadi tuding tudingan sekarang. Dan Ervan yang menjadi pusing.
"Ck, udah deh, kenapa jadi malah ribut coba. Kenapa nyokap Erika bisa bilang begitu, pasti salah satu dari bokap kalian berdua memang ada yang dekat sama bos besar itu" ujar Ervan
Putri dan Nindi terdiam dan menggeleng ragu. Mereka tahu batasan pertemanan orang tua mereka. Jika bukan orang tua mereka, berarti.... Maira???
Putri dan Nindi langsung memandang Maira dengan lekat, membuat Maira tampak bingung dan mengerjapkan matanya dengan heran
"Apa, kenapa begitu mandang gue. Bokap gue udah gak ada, emak gue juga entah dimana. Yakali bisa berteman dengan orang besar begitu" ungkap Maira
Namun Nindi dan Putri masih memandang nya dengan lekat, Ervan sampai bingung melihat kedua sahabat Maira ini.
Melihat pandangan mata kedua sahabat nya, Maira jadi teringat sesuatu. Apakah dokter Danar yang berteman dengan orang besar itu?????
__ADS_1
"Mustahil" gumam Maira