Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Teman Baru (Erika)


__ADS_3

Erika duduk disebuah kursi taman kota dengan wajah sendu nya. Duduk sendirian dengan hati yang benar benar gelisah dan takut. Air mata baru saja mengering setelah hampir satu jam dia menangis disana.


Erika tidak tahu harus apa sekarang, dia ingin berobat, tapi uang dari mana?


Haruskah dia pulang dan minta pada orang tuanya?


Erika langsung tersenyum getir dan menggeleng pelan. Matanya kembali berair dan membendung air jika mengingat orang tuanya.


Erika rindu, tapi rindunya tidak terbalaskan. Erika ingin pulang, tapi dia sudah diusir dari rumah, bahkan sudah tidak lagi di anggap sebagai anak.


Lalu kemana Erika akan mengadu? Kemana dia akan berbagi rasa sakit ini?


Meski rasa sakit ini juga datang dan berasal dari keluarga nya sendiri. Ginjal nya yang di ambil paksa dan juga kejahatan yang mereka minta untuk dia lakukan.


Dan sekarang, untuk kembali meminta sedikit rasa iba, apa itu mungkin?


Bahkan untuk sekedar meminta kuliah saja mereka sudah begitu murka. Apalagi meminta uang untuk biaya pengobatan untuk penyakit nya. Yang sudah pasti tidak akan murah.


Seminggu sekali harus cuci darah, itu memerlukan uang yang banyak, dari mana Erika mendapatkan nya. Sedangkan gajinya sebulan hanyalah dua juta saja. Itu juga hanya cukup untuk kebutuhan nya sehari hari. Meski dirumah ada dapur, tapi Erika sama sekali tidak tahu memasak. Jadi semua mengandalkan hasil kerja nya yang sedikit itu untuk makan.


Dan sekarang dia harus berobat, dari mana uang nya.


Dan jika tidak berobat, ginjalnya akan semakin parah. Dan mungkin dia juga bisa mati.


Ya Allah...


Erika bingung.


Jika terus hidup, dia hanya akan hidup dalam kebencian semua orang. Tapi jika dia mati? Apa mereka semua akan senang??? Terutama ayah dan ibunya.


Tes


Tes


Tes


Air mata Erika kembali tumpah diwajahnya. Kenapa sesakit ini ya Allah.


Sakit sekali...


Erika tidak apa apa jika memang dia dipanggil secepat ini.


Erika hanya berharap jika dia mati sudah dalam keadaan yang termaafkan.


Tapi apa bisa begitu, jika semua orang membencinya. Apa Allah akan menerima taubatnya ini?


Dan lagi, jika dia mati, apa dia akan mati dalam kesendirian?


Apa ada yang mau merawat jenazahnya???


Astaghfirullah...


Erika langsung berucap istighfar berkali kali dan mengusap air matanya kembali.


Kenapa dia jadi meragukan Allah seperti ini.


"Ya Allah... Maaf ... Maaf" gumam Erika yang masih terisak perih.


Sudahlah...


Pasrah, biar semua Allah yang menentukan. Tidak apa apa dipanggil cepat, bukan kah itu lebih baik.


Yang terpenting sekarang, Erika harus lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu.

__ADS_1


Semoga ketika Allah mengambil nyawanya nanti, dia sudah dalam keadaan baik dan diterima.


Aamiin...


"kakak.. kenapa kakak nangis?"


Pertanyaan seorang anak kecil membuat Erika terkesiap. Dia langsung menoleh kearah samping dan memandang seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun dengan wajah cemong dan baju dekilnya.


"Kakak lagi sedih ya?" Tanya anak perempuan itu.


Erika tersenyum dan menggeleng.


"Jangan sedih, nanti kalau sedih ditangkap om om jahat" ujar nya dengan suara yang menggemaskan.


"Kamu ngapain disini? Gak sekolah?" Tanya Erika seraya mengusap air mata diwajahnya. Suaranya masih terdengar sengau dan serak. Bahkan Isak tangis nya masih terdengar sesekali. Namun kedatangan gadis kecil ini ternyata bisa mengalihkan kesedihan nya.


"Aku enggak sekolah, lagi nungguin Abang ngamen. Tuh" tunjuk nya pada perempatan lampu merah, membuat Erika juga langsung menoleh kesana. Dimana ada seorang anak lelaki kecil yang sedang menyanyi dengan alat seadanya.


Erika memandang anak lelaki kecil itu dengan lekat. Dia menyanyi dari satu mobil kemobil lain nya.


"Kalian gak sekolah. Orang tua kalian dimana?" Tanya Erika lagi


"Kami udah gak punya orang tua kak. Mau sekolah enggak ada uang" jawab gadis kecil ini begitu polosnya.


Erika langsung merasa tersentuh mendengar nya.


"Gak punya saudara?" Tanya Erika lagi.


Dan gadis kecil itu langsung menggeleng.


Erika tertegun, dia kembali memandangi anak lelaki kecil itu yang masih mengamen disana. Dan entah kenapa tiba tiba hati Erika menjadi sedih kembali.


Jika dulu dia hanya memandang rendah pada mereka, kini Erika tahu kenapa mereka ada disana.


Ya Allah...


Disaat seperti ini Engkau malah mengirimkan anak anak ini padanya. Apa itu berarti Erika harus bisa bersyukur. Jika bukan hanya dia saja yang malang didunia ini..Masih ada yang jauh lebih susah lagi.


Lihatlah anak anak ini, mereka tidak bersekolah, mereka tidak punya orang tua. Dan harus bekerja demi untuk bertahan hidup. Diusia sekecil ini.


Erika harus tahu dan lebih banyak bersyukur untuk hidupnya kan. Meski dia sedang berada di keadaan terburuk nya saat ini. Tapi sepaling tidak dia sudah pernah merasakan kemewahan dulu, meski hanya sebatas kepalsuan.


Air mata kembali menetes diwajahnya, membuat anak perempuan itu kembali menangis lagi.


"Kakak kok nangis lagi?" Tanya anak itu.


"Enggak, kakak gak nangis lagi" Jawab Erika.


"Nama kamu siapa?" Tanya Erika. Berusaha untuk menutupi kesedihan nya lagi.


"Aku Ayu kak" jawab anak itu.


"Kamu tinggal dimana?" Tanya Erika lagi


"Dimana mana, kadang diemperan, kadang dibawah jembatan sana" ungkap anak itu lagi.


Ya Allah...


Menyedihkan sekali mendengar nya.


"Ayu....!!" Seruan anak lelaki yang berlari kearah mereka membuat Erika menoleh kearahnya.


"Jangan suka Deket Deket sama orang. Kamu pasti ganggu kakak ini kan?" Ucap anak lelaki itu seraya menarik ayu menjauh.

__ADS_1


"Enggak kak, Ayu cuma nanyak, kenapa kakak ini menangis" jawab Ayu.


Anak lelaki itu langsung memandang Erika.


"Ayu gak nakal kan kak. Maafin adik saya ya" ucapnya terdengar begitu dewasa, padahal usianya masih sangat kecil. Mungkin sepuluh tahun lebih saja.


"Enggak apa apa. Adik kamu gak nakal kok" jawab Erika.


"Kakak udah dapet uang?" Tanya Ayu, namun anak lelaki itu tersenyum dan mengangguk


"Udah, lihat dapat empat ribu. Nanti kita beli roti ya" jawab nya.


Uhhh lagi lagi hati Erika teriris mendengar ini.


"Kalian belum makan?" Tanya Erika


"Belum kak, dari semalam. Kakak gak dapet uang banyak, jadi gak bisa beli nasi. Cuma beli roti aja" ungkap Ayu


"huss, harus bersyukur. Gak boleh gitu" ucap anak lelaki itu.


"Kakak juga belum makan, kita makan bareng bareng yuk" ajak Erika.


"Gak usah lah kak, kami bisa beli roti aja" tolak anak lelaki itu. Dan bisa Erika lihat jika Ayu langsung tertunduk sedih.


"Enggak apa apa. Kalian bisa kasih tahu kakak dimana tempat makan yang enak tapi murah, biar kita bisa makan banyak" ajak Erika lagi. Matanya berkaca kaca terus melihat kedua anak ini. Dia merasa jika nasib mereka tidak lah berbeda jauh.


"Tapi saya gak enak kak" anak lelaki itu tertunduk sedih. Dia seperti memendam beban yang begitu berat diusianya yang sekecil ini.


"Enggak apa apa. Kakak juga sama seperti kalian. Kakak gak punya siapa siapa lagi. Kalian juga gak mau temenan sama kakak ya?" Tanya Erika. Wajah sedihnya itu memang tidak bohong. Dan itu membuat anak lelaki itu memandang adiknya yang memandang Erika dengan iba.


"Kakak gak punya teman?" Tanya Ayu.


"Gak ada yang mau berteman sama kakak" jawab Erika.


"Kasihan kak" ujar Ayu pada kakak nya.


"Nama kakak Erika" Erika langsung menjulurkan tangan nya pada anak lelaki itu.


"Akbar kak" jawab anak lelaki itu, dia benar benar ragu menjabat tangan Erika.


"Kita berteman ya, hari ini aku lagi sedih, dan aku butuh teman. Mau kan" pinta Erika dengan wajah memelasnya.


"Kakak gak malu temenan sama kami?" Tanya Akbar.


"Enggak" jawab Erika


"Yuk kita pergi" ajak Erika yang langsung beranjak dari duduknya.


"hore.. punya teman kakak cantik" seru Ayu begitu girang. Akbar yang tadinya ragu kini mulai tersenyum, bahkan dia membiarkan Erika menggenggam tangan nya dan beriringan berjalan menuju warung makan kaki lima dipinggir jalan.


Erika sangat senang bertemu dengan kedua anak ini. Selain bisa memberinya perjalanan hidup. Mereka juga bisa mengalihkan kesedihan dan ketakutan Erika tentang kondisinya.


Dan akhirnya, siang itu Erika makan bersama kedua anak itu dipinggir jalan. Dia sudah tidak lagi canggung, karena selama dua bulan ini Erika memang hanya makan makanan murah seperti ini.


Mereka makan dengan lahap, bahkan Erika tidak lagi mengindahkan makanan sehat yang harus dia makan. Dia tidak punya cukup uang untuk itu. Mungkin sekarang, dia hanya ingin berbagi dengan anak anak ini setiap kali dia punya uang. Ya itu lebih baik dari pada mengumpulkan uang untuk pengobatan nya yang belum jelas dia bisa sembuh atau tidak.


Dan tanpa Erika sadari, jika sejak tadi, ada seseorang yang memperhatikan dia dari jauh. Tidak berani mendekat, hanya berani menatap.


Memandang heran, kenapa Erika sudah bisa berubah.


Ervan..


Dia masih tidak menyangka dengan apa yang dia lihat hari ini.

__ADS_1


__ADS_2