
Erika terus menggeliat dan menggigil kedinginan dalam balutan selimut tebal nya. Suhu tubuhnya sangat panas, bahkan keringat dingin mulai keluar membasahi wajah dan tubuhnya.
Bu Upeh sejak tadi terus mengompres kepala Erika, namun panas nya juga belum turun juga. Dan itu membuat Bu Upeh cukup khawatir. Gadis yang dibawa Ervan ini terlihat begitu lemah, tapi Bu Upeh juga tidak berani membangunkan Ervan dan Ciko yang sudah masuk kekamar mereka masing masing. Apalagi hari sudah begitu larut bahkan sudah hampir pagi seperti ini.
Erika mulai membuka matanya, dia memandang bu Upeh yang masih mengompres keningnya. Memandang heran wanita tua yang tidak dikenal nya ini.
"Bu saya dimana?" tanya Erika dengan kening yang berkerut dan tubuh yang masih menggigil.
"Non dirumah den Ciko. Tadi mas Ervan yang bawa non kemari" jawab Bu Upeh.
Erika menghela nafasnya dan memejamkan matanya sejenak.
Untung saja Ervan tidak membawa dia kerumah nya. Jika tidak, mungkin Ervan akan tahu jika dia sudah menjadi anak yang terbuang sekarang.
Masih dengan ringisan diwajahnya, Erika beranjak untuk duduk dan bersandar ditempat tidur itu. Kepalanya pusing, pinggangnya berdenyut, dan juga tubuhnya yang menggigil membuat dia benar benar tidak nyaman.
"Non jangan bangun dulu. Tiduran aja, biar gak lemes" ujar Bu Upeh
Namun Erika menggeleng dan memandangi kamar itu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Dan dia membuat orang asing kerepotan karena dia malam ini.
"Bu tas saya dimana ya?" tanya Erika seraya menaikkan selimut ketubuhnya. Dia kedinginan, tapi dia sungguh tidak ingin merepotkan orang lagi. Sebisa mungkin Erika harus bisa menahan sakitnya, jangan manja. Dia harus bisa kuat.
"Ada non, ibu taruh disana" Bu Upeh menunjuk tas Erika yang ternyata ada di meja sofa.
"Bisa minta tolong ambilkan bu. Obat saya ada disana" ujar Erika.
Bu Upeh tersenyum dan mengangguk. Dia segera beranjak dan berjalan mengambil obat Erika. Sementara Erika kembali memejamkan matanya dan bersandar lemas ditempat tidur.
"Ini non" ujar Bu Upeh.
"Terimakasih Bu" ucap Erika. Dengan cepat dia mengambil obat nya didalam tas. Tas nya basah, dan tentu barang barang nya juga basah didalam sana. Tapi beruntung nya obat Erika berada didalam botol, hingga obat itu bisa terselamatkan.
Bu Upeh langsung menyerahkan segelas air putih pada Erika untuk Erika meminum obatnya.
"Terimakasih ya Bu. Ibu bisa istirahat aja sekarang. Maaf, saya ngerepotin jadinya" ucap Erika
Bu Upeh tersenyum dan menggeleng.
"Enggak apa apa non. Non lagi demam. Biar ibu temanin aja disini" jawab Bu Upeh
"Jangan Bu, saya enggak apa apa kok. Setelah minum obat, saya juga sembuh. Ibu istirahat aja. Saya sudah biasa seperti ini. Mungkin ini juga bertambah parah karena kena hujan tadi" ungkap Erika.
"Beneran non? tapi non masih pucat begitu Lo" Bu Upeh terlihat begitu khawatir. Tapi Erika malah menggeleng dan tersenyum.
"Enggak apa apa bu. Ibu tidur aja ya, istirahat" ujar Erika lagi.
"Yasudah, tapi kalau ada apa apa. Kasih tahu ibu ya non. Nanti mas Ervan marah lagi temen nya ibu tinggal" ungkap Bu Upeh terlihat ragu.
"Enggak apa apa. Saya udah baik baik aja Bu" jawab Erika
"Yasudah, kalau gitu ibu keluar dulu non" pamit Bu Upeh.
Erika mengangguk seraya tersenyum tipis dan membiarkan Bu Upeh keluar dari kamar itu. Setelah Bu Upeh keluar, Erika kembali terbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1
Meringis dan menahan sakit yang kembali datang. Dia benar benar tidak ingin menyusahkan orang lain. Ervan sudah begitu baik membawanya kemari dan membiarkan nya tidur dirumah Ciko. Setidaknya untuk malam ini Erika bisa beristirahat sejenak. Dan semoga saja besok pagi rasa sakit ini sudah berkurang, agar dia bisa pergi dari sini.
Erika meringkuk menahan dingin dan sakit. Matanya kembali meneteskan air mata.
Tempat tidur empuk dan nyaman ini cukup membuatnya nyaman, tapi hatinya yang sakit.
Disaat sakit seperti ini, ingin sekali ada yang merawat, ada yang memperhatikan. Tapi sejak dulu, dia memang selalu sakit sendirian. Bahkan yang merawat nya juga hanya pembantu dirumah. Bukan mamanya.
Ya Allah...
Tolong, jangan biarkan dia menyusahkan orang lain.
Lama Erika menahan sakit dan demam nya, hingga hampir satu jam kemudian, barulah dia bisa tertidur kembali disaat obat yang dia minum sudah bereaksi.
..
Pagi hari...
Diruang makan rumah Ciko. Ervan sudah duduk sembari menikmati kopi hangat nya bersama Ciko. Mata mereka masih sayu dan sembab karena baru saja bangun dari tidur.
"Jadi Lo Nemu Erika dipinggir jalan?" tanya Ciko. Malam tadi dia belum sempat bertanya pada Ervan. Hari sudah cukup larut, dan mereka sudah sama sama kelelahan.
Ervan hanya mengangguk dan memakan rotinya.
"Dia dimana sekarang, bisa berubah banget kayak gitu." tanya Ciko lagi.
"Gak tahu" jawab dengan acuh.
Ervan hanya berdecak jengah mendengar nya. Meski dia juga penasaran sebenarnya kemana Erika selama ini.
Beberapa kali kerumah sakit, Ervan tidak pernah melihat Erika menemani ayahnya yang sedang dirawat disana. Dan Ervan malah lebih sering melihat Erika berada dijalanan seperti malam tadi.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh gadis itu?
Ck... kenapa dia jadi penasaran seperti ini.
"Kenapa gak Lo anterin aja coba kerumah nya malam tadi. Malah di bawa kemari" tanya Ciko.
"Dia udah pingsan, susah gue bawanya pakek motor" jawab Ervan.
"Wajahnya pucat banget lagi. Apalagi kata Bu Upeh dia demam malam tadi" adu Ciko.
Ervan langsung memandang Ciko dengan heran.
"Demam? terus sekarang gimana?" tanya Ervan lagi
"Gak tahu gue" jawab Ciko. Gantian acuh. Membuat Ervan ingin sekali menggetok kepala nya dengan gelas kopi ini.
"Udah ah, gue mau lihat dia dulu" Ervan langsung beranjak dari kursinya. Membuat Ciko terkesiap kaget.
"Widih... perhatian amat" goda Ciko. Dia juga langsung beranjak dan mengikuti Ervan menuju kamar Erika.
"Kalau dia kenapa kenapa gue yang disalahin. Gue yang bawa dia" jawab Ervan, terdengar ketus.
__ADS_1
"Ya salah sendiri Lo mau. Ngakunya benci, tapi masih di bawa bawa" sindir Ciko.
"Berisik deh cik. Ya kali gue tinggalin dia dipinggir jalan. Gue juga masih punya hati" gerutu Ervan.
Ciko langsung terkekeh mendengar itu.
Hingga tiba tiba langkah mereka terhenti, saat Erika sudah keluar dari kamar nya dan memandang mereka dengan wajahnya yang masih pucat.
"Kirain Lo belum bangun Rik " ucap Ciko.
Dan bisa Ervan lihat, jika Erika tersenyum tipis dan sangat lemah. Dia memakai pakaian basahnya semalam. Bahkan hijab itu terlihat lepek dan kusut .
"Aku mau pamit. Terimakasih sudah membiarkan aku menginap disini" jawab Erika.
"Yah, terpaksa. Kan Ervan yang bawa" sahut Ciko dengan begitu teganya.
Erika hanya tersenyum getir dan mengangguk pelan.
"Van... terimakasih sudah menolong ku malam tadi. Aku pamit pulang dulu" kini Erika beralih pada Ervan.
"Yakin udah mau pulang?" tanya Ciko.
"Iya. Assalamualaikum" pamit Erika
Dia memandang Ervan dan Ciko bergantian, dan setelah itu langsung membalikkan tubuhnya.
"Waalaikumsalam" jawab Ciko.
"Wah kesambet setan baik tuh anak. Berubah banget emang. Biasanya kalau dipancing dikit aja langsung nyolot. Sekarang malah dieman" gumam Ciko.
Namun Ervan masih diam dan memandang kepergian Erika.
Gadis itu nampak begitu lemah, bahkan wajah nya masih begitu pucat.
Kenapa dia mau pulang cepat?
Bahkan hanya dengan melihat nya saja, Ervan bisa tahu jika Erika masih tidak baik baik saja.
"Woi... yaelah, ngeliatin nya begitu amat" ucap Ciko yang langsung menepuk bahu Ervan.
Ervan terkesiap dan menghela nafasnya dengan pelan.
"Lo gak lihat wajahnya pucat begitu. Kalau dia pingsan lagi dijalan gimana. Lagian bukan nya nunggu sehat malah udah main pergi aja" gerutu Ervan.
"Gimana dia mau nunggu sembuh. Wajah datar sama dingin Lo itu udah bikin dia takut" sahut Ciko.
Ervan hanya berdecak dan langsung pergi meninggalkan Ciko.
"Lah, mau kemana Lo" tanya Ciko.
"Pulang" jawab Ervan.
"Pulang.... udah kayak jailangkung aja tuh kelakuan" gerutu Ciko.
__ADS_1