Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Harapan


__ADS_3

Erika terbaring dikasur tipis nya. Wajahnya pucat menahan sakit di pinggang yang terasa begitu menggigit. Saat selesai shalat isya tadi, Erika sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri apalagi berjalan. Jadi dia langsung terbaring diatas kasurnya.


Ayu terlihat memijat kaki Erika dengan lembut. Anak perempuan kecil ini terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan nya. Bahkan dia sampai ingin menangis saat melihat Erika meringis kesakitan tadi.


"Kak, ini air putih nya" ucap Akbar yang baru masuk kedalam kamar dengan segelas air putih di tangan nya.


"Iya, taruh disitu aja. Nanti kakak minum. Terimakasih ya" ucap Erika.


Akbar duduk disamping Ayu dan memperhatikan Erika dengan sedih.


"Kenapa kakak gak mau periksa aja. Kan uang nya masih ada" ujar Akbar


Erika tersenyum dan menggeleng


"Udah payah sembuh. Sayang uang nya, cuma habis gitu aja. Mending untuk sekolah kamu. Besok kalau sehat, kakak mau daftarin kamu sekolah" jawab Erika.


"Tapikan kakak kesakitan kayak gini. Akbar gak sekolah gak apa apa kak" ucap Akbar lagi. Namun Erika segera menggeleng.


"Kamu anak laki laki. Kamu harus sekolah. Kakak pengen lihat kamu sukses" sahut Erika.


"Tapi Akbar sedih lihat kakak kayak gini" ucap Akbar terdengar begitu lirih.


"Enggak apa apa. Sakit nya cuma sebentar. Besok pasti sembuh" jawab Erika.


"Apa sakit ginjal itu bahaya kak?" tanya Akbar


Erika kembali tersenyum dan menggeleng.


"Semua penyakit bahaya. Tapi dengan kita sakit, itu bisa mengurangi dosa kita sedikit demi sedikit" jawab Erika.


"Tapi kakak juga gak boleh sakit lama lama. Ayu masih mau main sama kakak" sahut Ayu.


"Iya... besok kakak udah sembuh. Jangan sedih lagi dong. Ayo sini kita tidur. Besok kamu belajar lagi ya" ujar Erika seraya menjulurkan tangan nya pada Ayu.


Ayu langsung berbaring disamping Erika, sedangkan Akbar langsung menyelimuti mereka berdua.


"Kalau butuh apa apa panggil Akbar ya kak" ujar Akbar.


"Iya, kamu juga tidur." balas Erika.


"Iya kak" jawab Akbar. Dan setelah itu dia langsung keluar kamar meninggalkan Erika dan adiknya.


Erika tersenyum dan mengusap kepala Ayu dengan lembut.


Dia benar benar beruntung Allah mengirimkan dua malaikat kecil ini padanya.


Hati Erika remuk redam saat pulang dari rumah sakit tadi. Apalagi jika mengingat bagaimana perlakuan orang tua nya yang sudah tidak ingin lagi melihat nya. Sungguh, Erika sangat bersedih.

__ADS_1


Tapi ketika pulang kerumah, dia kembali mengucap syukur. Karena ternyata dia tidak sendiri lagi sekarang. Dia sudah mempunyai Akbar dan Ayu yang membutuhkan dirinya saat ini.


Ya, meski tanpa keluarga. Setidaknya Erika punya Akbar dan Ayu yang akan menemani kesepian nya, kehancuran nya dan karma nya.


Semoga Allah mengambil nyawanya disaat dia sudah membuat kedua anak ini bisa berdiri sendiri. Atau sepaling tidak, sudah ada yang dia tinggalkan untuk biaya sekolah Akbar.


Ya, Erika ingin kedua anak ini tidak lagi hidup dijalanan. Terasa sakit hidup diluar seorang diri, apalagi ketika hidup dalam kebencian semua orang.


...


Sementara ditempat lain....


Nindi baru saja selesai mengaji setelah shalat isya tadi. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan rasanya dia sudah begitu mengantuk. Besok pagi dia sudah harus kuliah karena mereka akan ujian. Jadi sepertinya dia harus tidur sekarang agar besok tidak kesiangan. Siang nya Nindi juga akan menemani Putri untuk fitting baju pengantin bersama Maira juga tentunya.


Nindi melepaskan mukenah pink nya. Mukenah pemberian Brian.


Yah, sesekali Nindi memakai mukenah ini, dan setiap mengaji dia pasti memakai Al Qur'an pemberian Brian.


Ah... apa kabar dengan lelaki itu ya. Sudah dua bulan lebih tidak lagi ada kabarnya. Entah bagaimana dia disana sekarang.


Rindu...


Sangat rindu.


Tapi Nindi tidak mau berharap banyak. Dia takut jika Brian adalah jodoh orang lain yang bukan miliknya.


Nindi tersenyum dan mengusap mukenah ditangan nya.


'Semoga takdir kita baik kak' gumam Nindi.


...


Keesokan harinya...


Setelah selesai dari kuliah, Nindi langsung pergi bersama Putri menuju butik tempat mereka akan melakukan fitting baju pengantin.


Dan ternyata disana sudah ada Maira dan mama Putri. Maira sudah tidak lagi kuliah, dia hanya kuliah online saja dari rumah. Dokter Danar sudah tidak lagi memperbolehkan Maira kuliah, karena perutnya yang memang sudah membesar. Maira juga sudah susah untuk berjalan, sering kali kaki nya bengkak atau perutnya yang terasa kram.


"Wah udah pada ngumpul ternyata" sapa Nindi.


"Kalian aja yang lama. Aku udah sampai tidur tidur disini" jawab Maira. Mama putri langsung tertawa mendengar itu.


"Kamu kan emang begitu. Kerjaan nya tidur Mulu" sewot Putri.


Maira tertawa dan langsung merangkul lengan Putri.


"Udah ah yuk masuk. Aku udah gak sabar lihat kamu cobain gaun pengantin itu" ujar Maira.

__ADS_1


"Aku bahkan gak sabar lihat Putri nikah" sahut Nindi pula.


"Kak Dika nya mana?" tanya Maira


"Lagi dijalan, entar lagi juga sampai" jawab Putri.


"Papa gak ikut ma?" tanya Putri pada mama nya.


"Enggak, papa kan sibuk. Mana bisa libur" Jawab mama Putri yang sudah berjalan lebih dulu didepan mereka.


"Gimana ujian kalian. Lancar kan?" tanya Maira pada Putri dan Nindi


"Lancar dong, untuk aku udah belajar malam tadi" jawab Nindi.


"Pasti si Putri yang gak konsen" ledek Maira.


Putri mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Justru makin konsen dong. Berharap banget cepat lulus. Jadi nanti kalau udah nikah udah gak mikir ujian lagi" jawab Putri.


"Mikirnya udah langsung bulan madu ya put" goda Nindi


Putri dan Maira langsung tertawa mendengar itu.


"Bulan madu, entar aja deh mikirnya. Mikir mau nikah aja udah gugup kok" sahut Putri.


"Kamu ngerasain begitu juga gak Mai?" tanya Putri pada Maira.


Maira terdiam seraya bola matanya yang memutar sejenak. Namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng.


"Aku gak gugup waktu itu. Kan dijodohin. Malah kesel banget. Apalagi lihat wajah nya. Ya ampun, pengen marah aja rasanya" jawab Maira dengan tawanya.


"Iya, dulu benci, sekarang cinta. Sampai udah Belendung tuh perut" goda Nindi


Maira terbahak dan mengangguk.


"Iya,.cinta banget malah" jawab Maira.


"Jodoh gak ada yang tahu ya kan" ucap Putri. Maira langsung mengangguk setuju.


"Seperti aku, yang belum tahu bakalan jodoh sama siapa nantinya" ucap Nindi


Putri dan Maira langsung menoleh kearahnya.


"Semoga berjodoh dengan dia yang selalu kamu sebut dalam doa" sahut Maira.


Nindi mendengus senyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Aamiin semoga."


__ADS_2