
Teriakan histeris semua orang terasa begitu mengusik telinga. Apalagi ketika melihat tubuh Nindi yang jatuh dari atas tangga dan berguling kebawah.
Bahkan Maira dan Putri sampai tidak bisa lagi berkata apa apa, begitu pula dengan Erika yang menjadi dalang utama. Dia ingin mendorong Maira tadinya, tapi kenapa malah Nindi yang bisa terjatuh kebawah sana. Bahkan tubuhnya terhempas begitu saja kebawah.
Brian yang ada disana nampak mematung ketika nama Nindi diteriakkan oleh para mahasiswi yang ada disana.
Seketika kaki nya langsung berlari mendekat keujung tangga. Menerobos banyak nya mahasiswi yang sudah berdiri mematung memandang pemandangan yang begitu mengerihkan ini.
Kaki Brian seketika lemas, saat begitu dia tiba, disitu pula tubuh Nindi terguling dihadapan nya.
"Nindi..." lirih Brian dengan jantung yang terasa berdenyut ngilu.
Dia langsung jatuh berlutut dihadapan Nindi yang sudah terkulai lemah dengan hijab nya yang sudah dipenuhi oleh linangan darah.
"Nindi, ya Allah" tangan Brian gemetar meraih kepala Nindi dan memangku nya.
Sungguh demi apapun, Brian benar benar tidak tega melihat Nindi yang seperti ini. Para mahasiswi yang ada disana langsung berkerumun memandang Nindi yang sudah tidak lagi berdaya.
"Nindi, bangun" ucap Brian dengan suara yang terasa begitu mencekat di kerongkongan nya.
Mata Nindi terbuka perlahan, namun nampak begitu sayu, sebagian wajah nya sudah dialiri oleh darah yang keluar dari kepala nya yang entah seperti apa sekarang.
"Nindi ... kita kerumah sakit" ajak Brian yang mencoba untuk mengangkat tubuh Nindi. Dia benar benar lemas dan tidak berdaya. Hati nya benar benar hancur melihat Nindi yang seperti ini.
Apalagi ketika Nindi tidak lagi bersuara dan hanya memandang wajahnya dengan pandangan kesakitan yang luar biasa.
Mulutnya hanya bergumam, seraya darah yang mulai keluar dari hidung nya.
Sungguh, Brian benar benar tidak bisa berkata apapun lagi. Matanya bahkan sudah berair sekarang.
"Kamu kuat ya, kamu harus kuat" bisik Brian.
Dengan sekuat tenaga nya, Brian mengangkat tubuh Nindi untuk membawa nya kerumah sakit. Mengabaikan pandangan para mahasiswi yang memandang Nindi dengan pandangan iba dan cemas.
Nindi hanya tersenyum tipis saat Brian membawa tubuhnya, dan setelah itu dia langsung terkulai dan tidak lagi sadarkan diri.
Maira dan Putri turun perlahan dari atas, karena tiba tiba perut Maira yang juga terasa kram.
"Lo harus tanggung jawab atas semua ini sialan" seru Putri pada Erika yang nampak mematung.
Putri memandang Brian yang sudah membawa Nindi pergi, bersamaan dengan beberapa dosen yang langsung datang kelokasi yang masih dipenuhi oleh para mahasiswi, yang kini malah semakin banyak.
"Aduh Put .. perut gue sakit banget" rintih Maira seraya memegang perut bagian bawah nya.
__ADS_1
Putri panik, dia juga tidak tahu harus bagaimana. Ini pasti karena Maira yang terjatuh tadi.
"Kita turun pelan pelan ya, bisa kan" ujar Putri.
Maira hanya meringis dan terus berjalan menuruni anak tangga dibantu oleh Putri. Dia benar benar merasa jika perut nya memang sangat sakit. Jangan sampai terjadi sesuatu pada anak nya.
Jika tadi orang orang disana memandang Nindi dengan pandangan iba, maka kini mereka memandang Maira dengan pandangan sinis nya. Karena sudah jelas terbukti jika ternyata Maira memang hamil.
Tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Putri membawa Maira, hingga para dosen dan rektor yang datang tadi lah yang langsung dengan cepat membantu Putri. Apalagi ketika melihat Maira yang terlihat meringis kesakitan. Mereka juga panik.
Mr Petro datang dan langsung membantu memapah Maira yang sudah tidak kuat jalan, sedangkan dua orang dosen langsung mengamankan Erika yang menjadi terduga penyebab jatuh nya Nindi.
Bahkan terdengar suara Erika diatas sana yang berteriak kesal.
"Saya cuma mau buktiin kalau Maira itu hamil buk. Lihat kan sekarang, sudah jelas" sahut Erika seraya ditarik kebawah oleh dosen itu.
"Tapi kamu gak bisa berbuat seenak nya begini Erika. Kamu lihat akibat perbuatan kamu, Nindi celaka" bentak dosen itu.
"Bukan salah saya buk, dia jatuh sendiri" sahut Erika pula.
"Auh Mr, saya gak kuat lagi. Sakit sekali" ucap Maira yang langsung jatuh terduduk diatas lantai. Mr Petro dan Putri juga ikut berlutut disamping Maira.
"Kamu memang hamil Maira?" tanya Mr Petro
Maira mengangguk dengan air mata yang mulai berlinang.
"Kita kerumah sakit, kamu harus menjelaskan ini nanti" ucap Mr Petro.
Maira tidak dapat lagi bersuara, rasanya perut nya benar benar sakit.
"Menjelaskan apa Mr, sudah jelas dia hamil diluar nikah" sahut Erika yang baru turun dari atas. Semua orang memandang Maira dengan pandangan aneh nya.
Mr Petro hanya diam dan ingin mengangkat tubuh Maira, karena dia takut terjadi sesuatu pada mahasiswi nya ini.
Namun tiba tiba...
Mereka semua dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
"Jaga mulut kamu. Maira istri saya" ucap seorang lelaki dengan suara berat nya yang terdengar begitu marah.
Semua mata langsung menoleh kearah nya, mata mereka langsung terbelalak sempurna ketika melihat seorang pria berjas putih yang datang dengan raut wajah datar namun terkesan dingin dan tajam.
Putri langsung menghela nafas lega disaat semua orang begitu terkejut.
__ADS_1
Maira istri dokter Danar????
Semua orang nampak begitu terperangah tidak percaya. Semua nya tanpa terkecuali. Siapa yang tidak mengenal dokter Danar. Dokter muda yang selalu datang untuk memberi bimbingan pada mereka. Dan dokter muda yang hanya Mr Petro yang tahu, jika dia adalah....... pemegang saham terbesar dikampus ini.
Dan sekarang, dia mengaku jika Maira adalah istrinya?
Benarkah ini.
"Saya tidak terima dengan kalian semua yang sudah memperlakukan istri saya seperti ini. Terutama kamu." ucap dokter Danar begitu tajam, memandang Erika yang masih berdiri mematung ditempatnya.
" Saya sudah cukup baik untuk berbelas kasih pada kamu kemarin, dan hanya merumah kan kamu saja. Tapi sepertinya itu tidak membuat kamu jera. Sekarang, jangan harap kamu bisa tenang setelah kamu menghina istri saya" tambah dokter Danar lagi.
Erika langsung lemas mendengar ini. Putri juga begitu. Kenapa dokter Danar bisa berbicara seperti itu? Apakah dia???
"Mr Petro, urus semuanya. Besok pagi adakan rapat untuk para pemegang saham dikampus ini. Terutama orang tuanya" ujar dokter Danar pada Mr Petro.
"Baik tuan. Maafkan kami, sungguh saya tidak tahu jika Maira adalah istri anda." jawab Mr Petro.
"Istri saya atau bukan, tidak sepantasnya kalian memperlakukan seseorang seperti ini" jawab dokter Danar.
Tidak ada lagi wajah tenang nya, atau pun senyum teduh nya seperti biasa. Yang ada kini hanyalah wajah penuh amarah dan emosi. Apalagi ketika melihat Maira yang terduduk kesakitan seperti ini, dan juga ketika melihat Brian yang membawa Nindi yang sudah terluka parah. Sungguh, emosi dokter Danar sudah sangat memuncak.
Maira yang sejak tadi terdiam kini bisa bernafas dengan lega saat dokter Danar datang diwaktu yang tepat.
"Mas... sakit" ucap Maira begitu lirih, bahkan wajah nya sudah begitu memucat sekarang.
Mr Petro langsung beralih dan menjauh. Membiarkan dokter Danar mengangkat tubuh Maira yang sudah tidak lagi berdaya karena rasa sakit nya.
"Jika terjadi sesuatu pada istri saya, saya tidak akan mengampuni kamu" ancam dokter Danar pada Erika. Dan setelah itu dia langsung membawa Maira pergi dari kerumunan orang orang yang masih memandang nya tidak percaya.
Putri langsung memandang Erika dengan sinis.
"Lo bakalan nyesel seumur hidup setelah ini" tuding Putri. Dan setelah itu dia langsung pergi mengikuti dokter Danar.
Mr Petro mengusap wajah nya dengan kasar memandang kepergian dokter Danar yang membawa Maira. Dia tidak menyangka jika ternyata Maira adalah istrinya.
Mr Petro hanya mengira jika Maira merupakan kenalan dokter Danar saja, hingga dokter Danar mau membela nya ketika dia terlibat pertengkaran dengan Erika waktu itu. Tapi ternyata, Maira adalah istrinya.
Astaga...
"Mr, apakah dokter Danar??" perkataan seorang dosen langsung terhenti ketika Mr Petro mengangguk.
"Ya, dia adalah pemegang saham terbesar dikampus ini. Dan saya pastikan, jika setelah ini, kamu, bahkan ayahmu juga tidak akan selamat" ucap Mr Petro pada Erika.
__ADS_1
Erika langsung jatuh terduduk diatas lantai. Begitu pula dengan mahasiswi yang lain. Mereka benar benar tidak percaya dengan kenyataan ini. Ternyata orang yang mereka bully adalah istri dari bos besar kampus???
Sungguh, mereka langsung lemas tidak berdaya.