Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Tidak Membenci


__ADS_3

Brian terduduk dengan lemas dikursi tunggu. Masih didepan ruangan Nindi. Wajahnya pucat, karena dia baru saja mendonorkan darah nya hingga hampir dua kantung. Tidak ada lagi yang dia fikirkan, golongan darah nya cukup langka, dan jika harus mencari keluar , tentu akan memakan waktu yang lama.


"Kak, minum dulu. Wajah kakak pucat banget" ujar Putri seraya menyerahkan sebotol air mineral pada Brian.


Brian mengangguk dan langsung meraih botol itu. Menenggak air nya hingga separuh dengan beberapa kali teguk.


"Terimakasih ya kak, udah mau donorin darah untuk Nindi" ucap Putri.


Brian menoleh kearah Putri sejenak dan kembali tertunduk.


"Sudah sepantasnya ini aku lakukan" jawab Brian


Putri juga ikut tertunduk, memandang lantai rumah sakit yang bersih dan sedikit berpasir.


Wajahnya terlihat begitu sedih, apalagi dokter berkata jika kondisi Nindi masih sangat lemah. Dia memang sudah dipindahkan keruang perawatan, dan hanya boleh satu orang saja yang menjenguk nya. Dan sekarang, mama Nindi lah yang menjenguk Nindi terlebih dahulu.


"Kalau Nindi tahu kakak udah berbuat baik begini, dia pasti senang" gumam Putri. Dan masih terdengar jelas ditelinga Brian.


"Dia sedih banget ketika tahu kalau kakak benci dia karena dia yang berubah kayak gini" ungkap Putri.


Brian tertegun, hati nya terasa tertohok mendengar penuturan Putri.


"Kak.... bukan karena untuk ngedapetin perhatian kakak dia berubah. Tapi karena kakak adalah perantara dia dapetin hidayah untuk berubah" ungkap Putri. Dia memandang Brian dengan lekat. Brian masih tertunduk dan hanya memandang kaki nya. Namun wajahnya nampak begitu terpukul dan penuh dengan penyesalan.


"Kakak pasti tahu maksud aku kan" kata Putri lagi.


Brian menghela nafas pelan dan memandang ruang perawatan Nindi. Bibirnya tersenyum tipis, tapi dapat Putri lihat jika mata tajam itu nampak berair.


Brian menangis?


"Aku tidak pernah membenci dia." ucap Brian, setelah terdiam cukup lama.


Dan kini gantian Putri yang tertegun.


"Aku hanya membantu nya untuk Istiqomah dan memantapkan niatnya" jawab Brian akhirnya.


"Mungkin selain orang tua nya. Aku adalah orang yang paling berbahagia melihat dia berubah seperti itu" ungkap Brian dengan senyum nya yang terlihat getir.


Bahkan dia menggeleng pelan dan tertunduk, seraya menahan agar air mata tidak keluar dari kelopak mata itu.


Putri memandang Brian tidak percaya. Benarkah yang dia katakan itu?


Jadi selama ini Brian menjauhi Nindi karena ingin membuat Nindi yakin dalam pilihan nya? Brian hanya ingin Nindi Istiqomah tanpa ada bayang bayang dirinya??


ya Allah...

__ADS_1


Jadi selama ini mereka telah salah sangka.


Putri tidak dapat lagi menyanggah atau membalas perkataan Brian. Mereka sama sama terdiam dengan fikiran mereka masing masing.


Hingga tiba tiba kedatangan dokter Danar ketempat itu membuat mereka sama sama menoleh.


"Bagaimana keadaan Nindi?" tanya Dokter Danar.


"Cukup buruk dokter. Dia baru saja selesai Nerima donor darah dari kak Brian" jawab Putri. Brian hanya diam dan kembali memandang nanar pintu ruangan yang masih tertutup itu.


Dokter Danar memandang Brian yang terlihat menyedihkan. Wajahnya pucat, penampilan nya kusut. Bahkan pakaian nya juga masih dipenuhi oleh bercak darah Nindi.


"Sebaiknya kamu pulang dan membersihkan diri mu dulu Brian" ujar dokter Danar.


Brian menoleh pada dokter Danar sekilas, dan kembali memandang dirinya sendiri.


"Kamu perlu istirahat dan membersihkan diri. Kamu terlihat tidak baik baik saja" kata dokter Danar lagi.


"Saya istirahat diruangan mbak Kemala saja mas" jawab Brian.


Dokter Danar menghela nafasnya perlahan dan mengangguk pasrah.


"Yasudah, nanti kamu pakai kemeja saya saja. Ada banyak diruangan saya. Kamu bisa minta Kemala untuk mengambil nya" ujar dokter Danar.


Brian mengangguk dan langsung beranjak dari duduk nya. Namun sebelum pergi, dia kembali menoleh kearah ruangan Nindi.


"Saya pamit dulu mas." ucap Brian pada dokter Danar.


"Kabari jika terjadi sesuatu pada Nindi" kini Brian beralih pada Putri yang masih duduk dikursi nya.


"Iya kak" jawab Putri.


Setelah Brian pergi dari sana, kini dokter Danar yang duduk dikursi tempat Brian tadi.


"Maira gimana dok?" tanya Putri.


"Tidak apa apa, dia masih tidur" jawab dokter Danar.


"Kenapa bisa terjadi kejadian seperti ini? kalian berkelahi lagi?" tanya dokter Danar.


Putri menghela nafas sejenak dan mengangguk pelan. Dia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada dokter Danar. Tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun. Bahkan Putri juga melaporkan tentang perkataan Erika yang berkata jika Maira hamil duluan. Bahkan karena perkataan nya mahasiswi satu kampus juga mengira Maira hamil duluan dan menghujat jika Maira berubah karena menutupi aib nya ini.


Dokter Danar terlihat menghela nafas dengan berat, didalam hati nya dia berucap banyak banyak istighfar mendengar perkataan Putri.


Sudah cukup, dia tidak akan membiarkan istri kecil nya itu difitnah dengan begitu kejam. Besok dokter Danar memang harus menyelesaikan semua nya dan memberi sanksi pada gadis itu. Sepertinya dia memang harus bersikap tegas saat ini.

__ADS_1


Gadis itu memang tidak bisa dianggap remeh.


"Dokter" panggil Putri.


Dokter Danar langsung menoleh pada Putri.


"Dokter pemegang saham terbesar dikampus kami kan" tanya Putri.


"Kenapa memangnya?" tanya dokter Danar pula.


"Jika itu memang benar, untuk kali ini demi kedua sahabat saya. Dokter harus bisa memberikan sanksi yang berat untuk Erika atas perlakuan nya selama ini. Kalau gak ada Nindi, mungkin Maira yang ada didalam sana sekarang" ungkap Putri.


Dokter Danar tertegun sejenak dan langsung mengangguk pelan. Ya, itu memang benar, jika tidak ada Nindi yang menolong Maira, mungkin istri dan anak nya pasti tidak akan baik baik saja sekarang.


"Kamu jangan khawatir, saya pasti akan memberi sanksi yang tegas untuk gadis itu." jawab dokter Danar.


"Sekarang kamu temani Nindi saja, Maira sepertinya sebentar lagi bangun. Saya harus menemani nya disana" ujar dokter Danar.


"Iya dokter" jawab Putri.


"Orang tua Nindi sudah datang?" tanya dokter Danar lagi seraya dia yang beranjak dari duduk nya.


"Sudah, mama nya sudah ada didalam. Tapi ayah Nindi sedang berlayar diluar negeri" jawab Putri.


Dokter Danar mengangguk pelan.


"Saya tinggal dulu. Nanti saya dan Maira akan kemari lagi" pamit dokter Danar.


Putri hanya mengangguk dan tersenyum tipis memandang kepergian dokter Danar.


Dan setelah dokter Danar pergi, Putri kembali menoleh pada pintu ruangan yang terbuka. Dan ternyata mama Nindi yang keluar dengan matanya yang sembab.


"Tante" sapa Putri yang langsung menarik mama Nindi untuk duduk dikursi nya.


"Mudah mudahan Nindi gak kenapa kenapa ya Put" ucap mama Nindi.


"Nindi pasti baik baik aja Tante" jawab Putri seraya mengusap lembut bahu mama Nindi.


"Brian kemana, Tante belum sempat bilang terimakasih sama dia" tanya mama Nindi.


"Kak Brian kelantai atas Tante. Dia mau ganti baju dan istirahat" jawab Putri.


Mama Nindi mengangguk pelan seraya mengusap wajah nya dengan pelan.


"Dia Brian yang disukai Nindi kan?" tanya mama Nindi.

__ADS_1


"Tante tahu?" tanya Putri sedikit terkejut. Pasal nya Nindi tidak suka berbagi cerita dengan orang tuanya.


"Tahu, Tante pernah baca buku diary nya" jawab mama Nindi dengan senyum getir nya.


__ADS_2