
Maira sedang duduk disofa belakang rumah pagi ini. Ditangan nya memegang satu cup salad buah buatan ibu mertua nya.
Sudah hampir sebulan ibu mertua Maira tinggal disini. Dia sama sekali tidak ingin membiarkan Maira sendirian disaat dokter Danar bekerja. Apalagi sekarang dokter Danar sedang memiliki pasien yang menjadi tanggung jawab nya. Jadi dokter Danar sudah jarang ada dirumah. Meskipun dia tetap selalu ada dirumah jika hari libur, ataupun setelah tidak ada yang diperiksa, dokter Danar akan mengusahakan untuk pulang cepat kerumah.
Bulan ini usia kandungan Maira sudah memasuki bulan kesembilan. Dan jadwal melahirkan masih ada satu Minggu lagi.
Maira sebenarnya takut akan menghadapi hari itu nanti. Tapi dia juga tidak sabar untuk bertemu dengan anak nya. Anak perempuan yang akan menjadi kesayangan mereka nantinya.
Ya, Maira sudah mengetahui jenis kelamin anak yang dia kandung, rasanya senang sekali karena dia akan segera menjadi seorang ibu. Tapi tetap saja, rasa takut untuk melahirkan itu pasti ada.
Apalagi dia harus operasi nanti, karena posisi bayi dan juga tubuh nya yang lemah membuat Maira tidak bisa melahirkan normal.
Tapi meskipun begitu, dokter Danar dan ibu mertuanya selalu memberikan dukungan dan nasehat nasehat yang membuat hati nya menjadi tenang.
Mama Maira yang kini masih ada di Malaysia juga sering menghubungi nya hanya untuk memberi Maira semangat. Dia tidak bisa menemui Maira sekarang, karena ayah tiri Maira sedang sakit dan tidak bisa ditinggal. Mungkin nanti, jika Maira sudah melahirkan barulah dia akan datang.
Sedih memang...
Karena mau bagaimanapun Maira tetap membutuhkan ibu untuk mendampingi nya. Tapi mau bagaimana lagi, ibu nya tidak bisa hadir. Dan Maira juga sudah terbiasa sendiri sejak dulu.
Ada ibu dokter Danar, sudah cukup sekarang. Karena meskipun terkadang cukup cerewet, tapi Maira tahu jika ibu ingin yang terbaik untuk cucunya.
"Mai..."
Suara ibu membuat Maira terkesiap. Baru saja dilamunkan, sudah muncul saja kan.
Maira langsung menoleh kearah ibu yang datang dengan susu ditangan nya.
"Kenapa gak diminum susu nya" tanya ibu seraya menyerahkan gelas susu itu pada Maira.
"Lupa Bu" jawab Maira dengan tawa kecilnya, seraya dia yang mengambil gelas itu dan meneguk susu nya sedikit.
"Mau makan bubur, ibu buat bubur ayam untuk ayah?" tawar ibu. Namun Maira malah menggeleng
"Enggak, Maira udah kenyang ngunyahin ini dari tadi" jawab Maira sembari mengangkat sedikit mangkuk salad buah nya.
"Wajah kamu pucat dan udah mulai sembab. Ada tanda tanda gak?" tanya Ibu yang langsung duduk disamping Maira.
"Tanda tanda Bu?" tanya Maira dengan heran.
"Iya, kayak sakit perut atau keluar flek gitu" jawab ibu.
Maira terdiam sejenak, dan beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.
"Malam tadi perut Maira terasa sakit, kayak mules mules gitu. Tapi gak lama, datang nya sebentar sebentar aja. Maira fikir karena Maira yang makan pedas sore semalam" ungkap Maira
"Terus kamu gak bilang Danar?" tanya ibu.
Maira menggeleng pelan.
"Masih bisa di tahan Bu. Lagian kasihan mas Danar, dia capek banget kelihatan nya. Setiap malam jarang tidur karena ngurusin Maira" jawab Maira.
"Jangan begitu, apapun yang kamu rasain, Danar wajib tahu. Dia capek karena itu memang udah tugas dia. Kamu lebih susah karena harus mengandung seperti ini. Apalagi udah masuk bulan nya, pasti udah makin gak enak" ujar ibu.
Maira mengangguk pelan.
"Iya Bu, pinggang Maira sakit banget tiap malam. Mana bawaan nya gerah " jawab Maira.
"Minta pijat Danar." ujar ibu.
"Iya Bu. Maira cuma takut, bentar lagi mau lahiran" ungkap Maira.
"Jangan ingat itu. Kamu cuma harus bayangin, kalau anak kamu udah lahir, kebahagiaan kamu sama Danar pasti semakin bertambah. Jangan bawa stress, takut pengaruh sama kesehatan kamu" jawab Ibu.
Maira hanya mengangguk pasrah dan mengusap perutnya, seraya dia yang bersandar dan sedikit melemparkan kaki nya diatas sofa itu.
"Ibu juga udah gak sabar pengen gendong cucu. Pokoknya kamu harus sehat sehat ya" ucap Ibu seraya mengusap perut Maira yang sudah begitu besar dan nampak turun. Bahkan untuk bernafas saja Maira sudah terlihat kesusahan.
Maira tersenyum dan mengangguk pelan.
Hingga tiba tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan tuan Beni yang mencari ibu.
"Bu... ayah cariin kemana, ternyata disini" ucap ayah
"Ada apa sih yah. Kan udah ibu bilang mau antar susu Maira" jawab Ibu.
__ADS_1
"Ayah mau nambah buburnya" ucap Ayah.
"Astaga ayah, kan bisa ambil sendiri. Udah ibu sediain juga didalam. Lagian ada Bu Ipeh juga" gerutu ibu terlihat begitu kesal. Namun itu membuat Maira tertawa kecil.
Ibu memang cerewet pada siapapun. Tidak padanya, pada ayah, bahkan pada dokter Danar juga.
Tapi jika tidak ada ibu, rumah ini akan sepi.
"Ayah kan mau di ambilin sama ibu. Masak Maira aja yang dilayani. Ayah juga dong" sahut ayah tak mau kalah.
Ibu mendengus dan langsung beranjak dari duduk nya.
"Lihat Mai, gak mau kalah ayah kamu ini. Badan masih sehat, masih bisa gerak biar gak makin buncit perutnya, masih juga malas" omel ibu seraya menampar sekilas perut buncit tuan Beni.
"Ibu ah, ayah minta bubur doang. Selagi gak ada Danar. Nanti perhatian ibu terbagi lagi" sahut Ayah yang ikut menyusul ibu Kedalam.
Maira tersenyum dan menggeleng pelan. Lucu sekali melihat kedua mertuanya ini. Mereka jarang akur, dan selalu saja ada yang diributkan, tapi dengan yang seperti itu membuat hubungan mereka malah terlihat harmonis dan manis. Membuat Maira benar benar iri.
Ibu yang suka mengomel dan ayah yang selalu membuat ulah. Cocok sekali.
Ah... andai saja ayah dan ibunya seperti orang tua dokter Danar. Pasti dia dan Rio akan sangat senang.
Dan sekarang, mereka pasti akan bersama sama menyambut kelahiran cucu pertama mereka.
Tapi apa mau dikata ...
Jalan takdir setiap orang pasti berbeda beda. Dan Maira harus merasakan ketidakharmonisan orangtuanya dulu. Tapi diganti dengan rasa bahagia melihat kedua mertua nya sekarang.
Yah ... sudah bersyukur Maira sekarang. Mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada dulu, apa yang dia inginkan sudah bisa tercapai. Tinggal dirumah mewah dengan segala fasilitas nya. Mempunyai suami yang sangat mencintai dia, dan berakhlak baik. Dan juga mempunyai mertua yang juga menyayangi Maira seperti anak mereka sendiri.
Maka, nikmat mana lagi yang Maira dustakan.
Masha Allah... Alhamdulillah...
Allah memang maha baik.
Maira tersenyum tipis dan menghela nafas seraya matanya yang memandang taman belakang rumah yang cukup menyegarkan mata. Taman yang menjadi tempat Maira menghabiskan waktu jika berada dirumah.
Maira meletakkan salad buah disamping nya, dia ingin beranjak dan berjalan jalan disekitar taman itu. Matanya selalu saja cepat mengantuk jika dibawa berdiam diri. Padahal hari masih pagi. Bahkan dokter Danar juga belum lama pergi kerumah sakit.
Tapi tiba tiba, Maira meringis dan memegangi perut bagian bawah nya yang terasa kram, sakit dan ah tidak bisa dijelaskan.
Maira mencoba menarik nafas dalam dalam dan mengembuskan nya perlahan, berharap rasa sakit itu akan menghilang sedikit, namun nihil. Rasanya malah semakin menggigit dan tiba tiba sesuatu keluar dari bagian intim nya.
"Aaahh ibu!!!" teriak Maira sekuat tenaga seraya tangan nya yang mencengkram sofa dengan kuat.
"Bu!!!" teriak Maira lagi. Dia memegangi perutnya dengan tangan yang bergetar menahan sakit. Karena demi apapun ini benar benar sakit. Wajah Maira bahkan sudah memucat.
"Ibu" panggil Maira lagi yang sudah menangis kesakitan.
"Ya Allah Maira. Kenapa nak?" tanya ibu yang panik melihat Maira yang kesakitan seperti ini.
"Perut Maira sakit Bu" jawab Maira dengan nafas yang terengah engah
"Kenapa Bu?" tanya ayah yang juga berlari dari dalam rumah mendekati Maira.
"Ayah, kayak nya Maira mau melahirkan. Kita bawa kerumah sakit" ujar ibu
"Ya Allah. Udah mau lahiran, yaudah, ibu hubungi Danar suruh siapkan semuanya disana. Biar ayah yang bawa Maira ke mobil" ujar ayah.
Ibu mengangguk dengan cepat. Dia langsung berlari kedalam untuk mengambil ponsel dan barang barang Maira.
Suara nya bahkan terdengar berteriak kuat memanggil supir Maira dan juga bu Ipeh.
"Ayo nak. Ayah bantu ya" ujar tuan Beni seraya membantu Maira untuk berdiri dan memapahnya berjalan kedalam rumah.
"Sakit ayah" ucap Maira dengan Isak tangis nya.
"Iya nak, banyak banyak istighfar. Ingat Allah terus" ujar ayah.
Maira mengangguk, mulut nya terus beristighfar seraya berjalan menuju luar rumah. Rasa sakit ini benar benar menggigit dan perutnya juga sangat mulas. Membuat Maira sudah lemas dan berasa tidak sanggup lagi untuk berjalan. Rasanya berjalan keluar rumah sungguh jauh sekali disaat seperti ini.
"Ayo... tahan bentar Mai" ujar Ibu yang juga berlari mendekat kearah Maira dan membantu ayah membawa Maira kedalam mobil.
Suasana rumah dokter Danar pagi itu benar benar risuh. Semua orang ikut panik melihat Maira yang kesakitan seperti itu. Apalagi dengan ibu yang juga panik dan meminta ini itu pada mereka. Padahal hanya butuh supir dan perlengkapan Maira untuk kerumah sakit.
__ADS_1
Ayah dan ibu membantu Maira masuk kedalam mobil. Ayah duduk didepan bersama supir, sedangkan ibu bersama Maira.
Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan Jakarta yang cukup padat pagi itu. Hingga membuat ayah dan ibu benar benar cemas. Apalagi ditambah Maira yang terus merintih kesakitan.
"Ibu, Maira gak kuat. Sakit banget. Ya Allah" ucap Maira seraya menggeliat dengan nafas yang mulai tersengal. Bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya.
"Sabar nak, istighfar terus ya" ujar ibu seraya mengusap punggung Maira terus menerus.
"Mas Danar dimana Bu" tanya Maira disela sela rasa sakit nya.
"Danar nunggu dirumah sakit, kamu harus kuat. Harus tahan dulu" ujar Ibu
Maira menarik nafasnya dalam dalam dan mengangguk pelan.
Rasanya benar benar sakit, apalagi dengan air ketuban nya yang memang sudah pecah. Rasanya benar benar mulas.
Dan hampir satu jam kemudian, akhirnya mereka tiba didepan rumah sakit.
Dokter Danar dengan sigap langsung berlari mendekat kearah mobil. Dan seorang perawat yang membawakan kursi roda untuk Maira.
"Mas" lirih Maira. Wajah nya sudah semakin pucat. Membuat dokter Danar yang melihat sungguh tidak tega.
"Iya sayang, sini mas bantu"
Dokter Danar memapah Maira duduk dikursi rodanya dan mendorong nya masuk kedalam.
Orang orang yang ada dilobi langsung memberi jalan pada dokter Danar, bahkan ada beberapa perawat yang juga ikut mengantar Maira kedalam ruangan nya.
Mereka juga sudah menantikan kelahiran anak dokter Danar. Dokter yang menjadi pujaan hati setiap kaum wanita yang ada dirumah sakit itu.
Dokter Kemala yang sudah menunggu dengan sigap langsung memeriksa Maira. Apalagi Maira yang terlihat lemas karena rasa sakitnya.
Tidak menunggu lama, karena dipagi itu juga setelah melakukan berbagai prosedur operasi, Maira langsung masuk keruang operasi untuk melahirkan bayinya.
Dokter Danar dengan setia menemani Maira. Apalagi dia yang tidak tega melihat Maira yang harus berjuang sendirian.
Mereka melakukan doa bersama demi kelancaran proses operasi ini.
Dokter Kemala bahkan terlihat begitu serius dalam melakukan tugasnya.
"Istighfar sayang, kamu kuat ya" bisik dokter Danar ditelinga Maira.
Maira mengangguk pelan. Dia takut, sangat takut, tapi karena ada dokter Danar, rasa takut dan rasa sakit yang dirasakan nya tadi mulai bisa terkendali. Apalagi ketika mendengar kata kata semangat dari dokter Danar, membuat Maira bisa sedikit lebih tenang.
Maira beristighfar dalam hati seraya membiarkan dokter Kemala yang berjuang mengeluarkan bayinya.
Sedangkan dokter Danar juga begitu, tidak henti hentinya dia berdoa demi keselamatan anak dan istrinya.
Jika biasanya dia yang membedah orang, maka kini dia harus menyaksikan sendiri istrinya yang dibedah.
Rasanya benar benar tidak bisa dijelaskan.
Tidak sampai satu jam kemudian, seorang bayi mungil telah berhasil dikeluarkan dari dalam perut Maira.
Membuat dokter Danar langsung meneteskan air mata harunya. Apalagi saat bayi itu sedang dibersihkan oleh dokter Kemala.
"Terimakasih sayang, Alhamdulillah putri kita lahir" ucap dokter Danar yang langsung mencium dahi Maira dengan penuh perasaan.
Membuat Maira begitu bahagia hingga tidak tahu harus berkata apa.
"Masha Allah... bayi yang sangat cantik" ucap dokter Kemala seraya menyerahkan bayinya kedada Maira.
Kebahagiaan yang tidak terhingga langsung menyergap hati Maira dan dokter Danar. Buah cinta mereka yang Allah anugerah kan telah lahir kedunia.
Bayi perempuan mungil nan cantik, yang masih begitu merah dan sangat halus.
Maira bahkan tidak bisa berhenti menangis, apalagi disaat dokter Danar mengazani putrinya untuk pertama kali. Air mata haru langsung memenuhi ruangan itu.
Bukan hanya dokter Danar dan juga Maira yang menangis haru, namun juga dokter Kemala dan para dokter lain nya.
Suara merdu dokter Danar langsung memenuhi ruangan itu. Bahkan air mata dokter Danar juga semakin menambah suasana ruangan menjadi haru biru yang penuh dengan rasa syukur dan juga kebahagiaan.
Akhirnya, putri yang selama ini dinantikan telah lahir kedunia.
Putri yang terlahir dari rahim Maira. Yang bahkan tidak menyangka akan menjadi ibu secepat ini.
__ADS_1
Rasa haru dan bahagia yang tidak terhingga, hingga mereka benar benar mengucap syukur beribu syukur pada sang pencipta, karena telah dipercayakan untuk memiliki buah hati, yang akan menjadi penolong mereka di akhirat kelak.
Aamiin ....